YESUS DI ANTARA MEREKA
Banyak pemimpin agama mengajarkan moralitas, tetapi
Yesus berbicara tentang hidup.
Moralitas Tidak Selalu Menyelesaikan Problem Manusia
Secara filosofis, hampir semua sistem agama dan etika
mencoba menjawab:
- bagaimana manusia menjadi baik,
- bagaimana masyarakat menjadi tertib,
- bagaimana mengendalikan kejahatan.
Masalahnya, manusia bukan hanya bermasalah secara
moral, tetapi juga secara eksistensial.
Artinya:
- manusia takut mati,
- kehilangan makna,
- mengalami keterasingan,
- kehampaan,
- rasa bersalah,
- keterpisahan relasional.
Søren Kierkegaard (seorang filsuf dan teolog asal
Denmark yang hidup pada abad ke-19. Ia sering disebut “bapak eksistensialisme.”)
melihat bahwa problem manusia bukan sekadar “tidak bermoral,” tetapi kehilangan
diri sejati di hadapan Allah.
Sedangkan Martin Heidegger (filsuf Jerman abad ke-20) berbicara tentang manusia sebagai being-toward-death (manusia yang sadar dirinya menuju kematian). Dalam bahasa Jerman: Sein-zum-Tode.
Dan kesadaran itu memengaruhi cara hidup, kecemasan, pilihan, identitas, dan makna hidup. Menurutnya, banyak orang mencoba melupakan kenyataan kematian dengan kesibukan, hiburan, keramaian, dan rutinitas sosial.
Tetapi jauh di dalam, manusia tahu hidupnya terbatas. Artinya, moralitas tidak menghapus fakta maut. Seseorang bisa jujur, disiplin, religius, tetapi tetap takut mati, kosong, dan kehilangan makna hidup.
Keunikan Klaim Yesus
Banyak guru berkata “ini jalan menuju hidup.” Tetapi
Yesus berkata “Akulah kebangkitan dan hidup.” Bukan hanya pengajar hidup, melainkan
sumber hidup itu sendiri. Ini sangat radikal.
Fokus Yesus Bukan Sekadar Moralitas
Yesus
sering melampaui hukum moral dan langsung menyentuh akar kematian manusia.
Contoh:
Lazarus: Yesus tidak memberi Lazarus seminar etika. Ia
memanggil orang mati keluar dari kubur. Pesannya: Kerajaan Allah datang melawan
maut.
Perempuan
Samaria: Masalahnya bukan sekadar moral seksual. Yesus
berbicara tentang air hidup. Artinya, haus eksistensial, kekosongan batin, dan kebutuhan
akan hidup sejati.
Anak hilang: Fokus utama bukan kenakalan anak. Tetapi, anak yang
“mati” menjadi hidup kembali. Lukas 15 berkata “Ia telah mati dan menjadi hidup
kembali.” Ini bahasa kebangkitan relasional.
Dalam Tanakh (sebutan untuk Alkitab Ibrani dalam
tradisi Yahudi) : Musuh utama manusia = maut.
Dalam
pemikiran Ibrani, dosa dan maut sangat terkait. Bukan sekadar salah moral, tetapi
terputus dari sumber hidup.
Di Eden:
- dosa akibatkan pengusiran,
- pengusiran akibatkan kematian.
Karena itu nubuat Mesianik sering berbicara:
- tulang kering hidup kembali,
- kubur dibuka,
- bangsa dipulihkan.
Yesus tidak datang hanya membuat “orang jahat jadi
baik”
Ini
penting. Karena dalam Injil, Yesus justru paling keras terhadap orang yang
merasa dirinya paling bermoral. Contoh: Farisi dan ahli Taurat. Mengapa? Karena
moralitas bisa menghasilkan:
- kesombongan spiritual,
- identitas palsu,
- ilusi hidup.
Yesus berkata mereka itu “kuburan yang dilabur putih.”
Secara moral tampak baik, tetapi tetap penuh kematian.
Konsep “Hidup” dalam bahasa Ibrani
Kata Ibrani
חַיִּים (Chayyim), bukan sekadar bernapas. Tetapi, hidup utuh, relasi
dengan Allah, shalom, dan keberadaan yang penuh. Karena itu Yesus berkata: “Aku
datang supaya mereka mempunyai hidup.” Bukan sekadar aturan, sekadar perilaku
baik, tetapi kehidupan yang dipulihkan.
Moralitas Saja Tidak Mengubah Dunia Dalam
Secara fakta dan realita:
- orang berpendidikan tinggi tetap bunuh diri,
- masyarakat maju tetap depresi,
- orang religius tetap kosong,
- orang baik tetap takut mati.
Mengapa? Karena problem manusia lebih dalam daripada
etika. Modernitas membuktikan kemajuan moral dan teknologi tidak otomatis
memberi makna hidup. Abad modern justru mengalami:
- existential crisis,
- loneliness epidemic,
- nihilisme,
- burnout,
- kehilangan identitas.
Keunikan Kekristenan secara eksistensial
Inti Injil bukan “berusahalah naik kepada Allah.” Tetapi
Allah turun masuk ke dalam kematian manusia. Ini unik. Salib bukan sekadar
contoh moral pengorbanan, tetapi Allah masuk ke realitas maut manusia. Dan
kebangkitan menjadi deklarasi maut bukan kata terakhir.
Kritik terhadap kekristenan modern
Ironisnya, banyak kekristenan modern justru mereduksi
Injil menjadi:
- sopan santun,
- moralitas,
- perilaku baik.
Padahal Yesus berbicara tentang:
- kelahiran baru,
- hidup baru,
- ciptaan baru,
- kebangkitan.
Kekristenan tanpa kehidupan mudah berubah menjadi agama
moral tanpa transformasi batin.
Secara umum, banyak sistem agama membantu manusia menjadi lebih tertib dan banyak filsafat membantu manusia berpikir lebih bijak.
Tetapi inti berita Yesus adalah hidup
mengalahkan maut. Bukan sekadar memperbaiki perilaku, tetapi memulihkan
keberadaan manusia.
Karena
menurut Injil, musuh terbesar manusia bukan hanya dosa moral, melainkan:
- keterpisahan dari Allah,
- kehilangan identitas,
- dan maut itu sendiri.
Maka, salib adalah Allah masuk ke penderitaan manusia. Kebangkitan adalah maut dikalahkan. Kenaikan adalah manusia dibawa kembali ke Rumah Bapa.
Dan Injil bukan sekadar “jadilah orang baik,” tetapi “yang mati bisa hidup kembali.”
Amin
ReplyDeleteAmin
DeleteAmin.Tuhan Berkati slalu Pa Ged😇
ReplyDeleteAmin. Terima kasih
Delete