Thursday, March 4, 2021

BERHARAP DALAM KEKUDUSAN

 

grefer pollo
oleh Grefer E. D. Pollo, S.P.,M.Pd

Keluaran 3:5

Lalu Ia berfirman: Janganlah datang dekat-dekat:  tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."


Musa menuliskan bagian ini bagi bangsa Israel yang mengerti betul suasana pergumulan mereka di padang gurun. Bangsa Israel tahu pasti tentang semak duri dan sifat-sifatnya. 

Kata semak duri muncul pertama kali dalam Alkitab di kitab Kejadian 3:18, yakni setelah manusia berdosa dan tanah dikutuk oleh Tuhan. tanah hanya akan menghasilkan semak duri. Semak duri memiliki konotasi dosa. 

Dalam Ibrani 6:8, semak duri dekat kepada kutuk dan pembakaran. Dalam bacaan di atas, dikisahkan bahwa Allah menampakkan diri dalam nyala api di tengah-tengah semak duri. 

Sekali lagi, semak duri ini mengingatkan kepada kutukan Tuhan terhadap tanah akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3:18). 

Israel digambarkan seperti semak duri. Penuh dosa dan sudah dekat kepada kehancuran. Tetapi Allah muncul dari tengah-tengah mereka dan memakai hidup mereka yang lemah ini untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Allah memanggil Musa untuk tujuan ini.

Kata kudus dalam Alkitab, pertama kali muncul dalam ayat ini. Yesus adalah Pribadi yang kudus. Dalam keadaan sebagai manusia, dia dilahirkan sebagai dari keturunan Daud, kelompok yang lemah, terjajah, dan tak berdaya, seolah tidak memiliki harapan hidup ibarat semak duri yang telah dekat kepada kehancurannya.


 pengharapan akan kemuliaan

Di akhir hidup-Nya, Dia tergantung di kayu salib, semak duri. Namun, dari semak duri ini lahirlah pengharapan akan kemuliaan melalui iman kepada Kristus. 

Seperti Yohanes 3:16 berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” 

Oleh karena dan hanya melalui Kristus sajalah, kita semua memiliki keberanian untuk datang menghampiri takhta Allah yang mahakudus (Ibrani 4:15-16).


Allah turut bekerja dalam segala sesuatu

Roma 8:28 menyatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu. 

Dalam kondisi manusia yang sangat terbatas dan di luar harapanpun Allah dapat turut bekerja. Allah menyatakan diri kepada Musa dalam penampakan yang luar biasa dan setelahnya Tuhan memakai hidup 

Musa dalam mujizat demi mujizat bagi kemuliaan-Nya, secara khusus pemanggilan Musa untuk membawa bangsa Israel, umat pilihan Tuhan keluar dari tanah perbudakan di Mesir menuju dan memasuki Tanah Perjanjian di Tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madu.

Dalam hidup kita, Allah dapat memulihkan dan memakai kita dalam segala kondisi yang terbatas dari kita bagi rencana dan janji-Nya. 

Kudus berarti berbeda. Melalui Keluaran 3:5, memberi tanda bahwa kekudusan Allah ada dalam kuasa Allah untuk menyatakan diri-Nya dalam nyala api yang muncul dari tengah-tengah semak duri tetapi semak itu tidak terbakar. 

Setiap kita merupakan orang-orang yang telah berdosa dan gagal dalam hidup ini. Seperti semak duri yang sudah dekat kepada kehancurannya, segera dibakar dan binasa. 

Jika kita duduk berdiam diri lalu mencatat semua dosa yang telah kita lakukan di masa lalu berikut kegagalan demi kegagalan kita, maka takkan cukup sekian lembar kertas menampungnya. Tetapi, syukurlah kepada Allah di dalam Kristus, yang telah memberikan kepada kita pengharapan akan keselamatan dan kemuliaan di dalam nama-Nya. 


Sudahkah Saudara menerima Kristus dalam hidupmu? Jika belum, maukah Saudara menerimanya sekarang?




Continue reading BERHARAP DALAM KEKUDUSAN

Wednesday, March 3, 2021

HINENI HE'ANI MIMA'AS

 

grefer pollo
oleh Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd

Matius 5:3
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga


Bangsa Israel mencapai kejayaannya pada masa Salomo menjadi raja. Dia berkuasa atas segala kerajaan mulai dari sungai Efrat sampai negeri orang Filistin, dan sampai ke tapal batas Mesir. 

Bangsa-bangsa ini menyampaikan upeti, dan tetap takluk kepada Salomo seumur hidupnya. 

Salomo membuat banyaknya emas, dan perak di Yerusalem sama seperti batu, dan banyaknya pohon kayu aras sama seperti pohon ara yang tumbuh di Daerah Bukit. 

Kekayaan dan kemashyuran ini tak terasa membuat bangsa Israel dan rajanya menjadi begitu terkenal, bangga, dan sombong lalu membelakangi Tuhan Allah dan menyembah berhala dan patung-patung. 

Tuhan Allah begitu marahnya, lalu membuang Israel ke Babel pada tahun 586.

Nusantara pernah dijajah bangsa asing tetapi tetap hidup di tanah airnya. Israel bangsa kesayangan Tuhan Allah dibuang ke negeri orang selama 70 tahun (3 generasi). 

Bayangkanlah seorang anak kesayangan yang begitu jahatnya lalu diusir keluar rumah oleh bapa kandungnya sendiri. 

Israel, anak kesayangan Tuhan (Keluaran 4:22-23, Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.") menjadi sangat miskin dan menderita karena dibuang keluar tanah airnya.


Mereka menderita secara fisik dan rohani. Secara fisik karena hidup di daerah jajahan dan bukan di tanah air sendiri, secara rohani karena tekanan dosa dan tidak dapat diampuni, tidak dapat pergi ke Yerusalem. 

Pada masa itu jika orang berbuat dosa maka dia harus membawa korban ke Yerusalem bertemu seorang imam untuk melakukan ibadah pengampunan dosa tetapi kini mereka di Babel jauh dari Yerusalem, mereka merindukan Sion (Mazmur 137). Mereka tidak bisa beribadah di Babel.

Orang Israel mulai berupaya bagaimana mereka bisa tetap beribadah di tanah pembuangan. Mulai saat itu, di saat mereka ibadah selalu ada pemimpin pujian yang mengawali ibadah dengan nyanyian HINENI HE'ANI MIMA'AS: ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani. 

Mereka belajar untuk merendahkan diri dan hati sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Siapakah yang akan dengar? Mereka berharap Tuhan mendengar. 

Mereka berperilaku seperti seorang pengemis, peminta-peminta yang sangat miskin dan tidak bisa hidup tanpa menerima sedekah dari yang menolong. Itulah nyanyian mereka selama kurang lebih 500 tahun. HINENI HE'ANI MIMA'AS yang berarti “ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani.”

Kurang lebih 500 tahun kemudian, Yesus (firman Allah yang berinkarnasi menjadi manusia), berkhotbah di atas bukit dengan ucapan bahagia yang pertama: Matius 5:3: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 

Dalam bahasa asli: miskin (bahasa Yunani: ptōchos, cara ucapa: pto-khos): sangat miskinnya sehingga hanya dapat hidup dari meminta-minta. 

Bukan miskin karena masih dapat makan sebulan dari gaji, dan lain-lain. Mereka adalah peminta-minta. Hidup dari meminta sedekah orang lain. Meminta sedekah dari Tuhan Allah. Mereka inilah yang diberkati dan empunya kerajaan Allah. Firman Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, datang ke dalam dunia lalu menjadi yang paling miskin supaya kita menjadi kaya di dalam-Nya (2 Korintus 8:9).

Karena itu, sebagai anak-anak muda, jauhilah “harta kekayaan” anak-anak muda, yakni angkuh, keras kepala, memberontak, tidak mau diatur dan diajar, sok tahu, tidak peduli pada Tuhan dan firman-Nya. 

Rasul Paulus menasihati Timotius anak rohaninya untuk menjauhi nafsu orang muda, mengejar keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Timotius 2:22).

Kiranya mulai hari ini, saat kita beribadah kita mengingat akan hal ini sungguh-sungguh dalam hati dan janganlah menyombongkan diri di hadapan Tuhan Allah karena alasan apapun, termasuk jerih lelah kita di hadapan Allah. Sebab kita tak dapat hidup tanpa belas kasihan Tuhan Yesus. 

HINENI HE'ANI MIMA'AS: ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani. 



Continue reading HINENI HE'ANI MIMA'AS

Sunday, February 28, 2021

Menjadi Kristen di Tengah-Tengah "Kristen"

 

grefer pollo
oleh Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd


Memulai tulisan ini, saya teringat kepada dua pernyataan berikut. Pertama, dari seseorang yang pernah berkata, "Tidak ada gunanya membuang garam di laut". Kedua, perkataan Yesus: "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang." (Matius 5:13). 


baca juga: 

https://halobelajarsesuatu.blogspot.com/2021/02/rapat-asosiasi-profesi-keahlian-sejenis.html


Ya, pernahkah air laut kehilangan asinnya sehingga perlu dibuang garam ke dalamnya? Air laut tidak pernah kehilangan asinnya. Meski demikian ikan yang hidup di dalam laut dagingnya tidak pernah terasa asin. Orang akan menambahkan garam ke dalam daging ikan sebelum daging tersebut dimasak.

Itulah keunikan air laut dan ikan. Selama hidup di dalam laut, ikan tidak pernah menjadi ikan asin. Namun, setelah ikan itu mati baru dia menjadi ikan asin.

Ya, ini sebuah ilustrasi awal. Semoga tidak membuat Anda yang membacanya menjadi bingung. Namun, ada baiknya jika Anda terus bertanya: WHY? Mengapa? Ada apa? Lalu, kenapa?


Mari kita mulai.............

Firman Allah yang menjadi daging (Yohanes 1:14) dalam rupa Yesus Kristus pada semasa hidupnya di dunia pernah berkata: "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah." (Matius 5:27). Di samping berbagai ucapan Yesus "Kamu telah mendengar firman" yang lainnya. 


baca juga: 

https://halobelajarsesuatu.blogspot.com/2020/11/guru-kurikulum-hidup.html


Ucapan ini Dia tujukan kepada orang-orang yahudi yang sudah pernah mendengar perkataan-perkataan itu yang dipercayai oleh mereka sebagai firman Allah. Yesus hidup di antara mereka yang sudah mendengar firman Allah. 

Tetapi, mengapa Yesus mengawali pemberitaan Injil dengan berkata: "Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 4:17).

Dan, Yohanes Pembaptis berkata: "Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu, ..." (Lukas 3:3)?


Dari bahasa aslinya (Yunani: metanoia), bertobat berarti perubahan pola pikir. Dari berita pertobatan ini kita dapat pahami bahwa meskipun orang-orang Yahudi pada masa itu sudah mendengar firman Allah berkali-kali tetapi hidup mereka tidak berubah. 

Mengapa hidup mereka tidak berubah?

Karena pola pikir mereka tidak berubah. Kita tahu bahwa pola pikir akan menentukan tindakan/perbuatan. Perbuatan membentuk kebiasaan. Kebiasaan membentuk karakter. Karakter membentuk budaya.

Mereka yang masa itu sudah berkali-kali mendengar firman Allah tetapi tidak merenungkannya siang dan malam. Firman itu hanya sampai kepada telinga yang mendengar. Tidak terus sampai ke pemikiran dan hati.

Mazmur 1:2

tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Matius 15:19

Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

Amsal 4:23

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.


Mereka tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah dengan membawa pola pikir dan kebiasaan duniawi. Kerajaan Allah memiliki peraturan dan etika tersendiri. Itulah yang Yesus ajarkan dalam khotbah di bukit (Matius 5-7). Khotbah di bukit berisi etika Kerajaan Allah.


Dan, seperti yang Yesus pernah katakan kepada Nikodemus (Yohanes 3) yang sudah berkali-kali mendengar dan mengajarkan firman Allah kepada orang-orang Yahudi, tidak mungkin masuk ke dalam Kerajaan Allah jika tidak dilahirkan kembali (menerima Yesus). Dan, setelah itu baru belajar hidup dalam etika Kerajaan Allah. Tanpa dilahirkan kembali di dlaam Kristus tidak mungkin seseorang dapat hidup dalam etika Kerajaan Allah.


Orang yang mendengar firman tidak selalu berarti hidup di dalam firman itu. Apalagi yang dia dengar bukanlah firman yang benar atau yang sejati. 

Tidak semua pemberita firman menyampaikan firman yang benar. Banyak juga yang menyampaikan hanya untuk enak didengar telinga. Ataupun yang sekedar ajaran moral semata dan bukannya memberitakan tentang Kristus dan Injil-Nya.

Matius 7: 26

Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.

2 Timotius 4:3

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.

Markus 8:35

Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.


Siapakah Kristen dan 

siapakah "Kristen" itu?

Kristen adalah mereka yang mau mengikut Yesus dengan menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Yesus (Lukas 9:23). Sedangkan, 

"Kristen" adalah mereka yang merasa dirinya, menganggap dirinya Kristen hanya karena terlibat dalam kegiatan-kegiatan rohani kristen, beribadah, berdoa, lahir dalam keluarga kristen, dan sebagainya. Mereka berpikir dan yakin bahwa mereka menjadi Kristen karena aktivitas-aktivitas atau status-status itu.


Menjadi Kristen di tengah-tengah "Kristen" bukan perkara mudah atau gampang. Menyampaikan Kabar Baik kepada orang-orang yang merasa dan menganggap diri Kristen merupakan tantangan tersendiri. 

Mungkin Anda pernah mendengar pernyataan ini: "Lebih mudah berbicara dengan orang bodoh dari pada dengan orang yang sok tahu".

Anda bisa melihat seberapa besar tantangannya dari kehidupan dan akhir kehidupan Yesus Kristus sebagai manusia. 

Orang-orang yang dipercayakan firman Allah, mereka yang telah mendengar firman Allah itulah yang kemudian menyalibkan dan membunuh Firman yang benar dan sejati itu. Meskipun mereka tidak menemukan satu kesalahanpun dalam diri-Nya.

Walaupun Dia diperhadapkan dengan pengadilan massa yang bermuatan sosial, budaya, politk, dan agama tidak ada satu kesalahanpun yang ditemukan pada-Nya. Pilatus yang adalah walinegeri yang memimpin pengadilan politis Romawi tidak dan kepala pasukan yang memimpin penyaliban Yesus pun tidak.

Yohanes 18:38

Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.

Lukas 23:47

Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: "Sungguh, orang ini adalah orang benar!"

Satu hal yang dapat dipelajari adalah hidup menjadi Kristen di tengah-tengah "Kristen" membutuhkan hikmat dan pengorbanan tersendiri. Tidak saja mendengar firman tetapi harus dan perlu menghidupi firman itu setiap hari di dalam diri dan tingkah laku. Dan, tentunya tidak menjadi serupa dengan dunia.

Roma 12:2

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.


Karena pada hakekatnya di dalam kekristenan (di dalam Kristus) kita diselamatkan dalam anugerah oleh iman untuk bekerja dan bukannya kita bekerja untuk diselamatkan.






Continue reading Menjadi Kristen di Tengah-Tengah "Kristen"

Friday, February 26, 2021

Rapat Asosiasi Profesi Keahlian Sejenis (APKS) PGRI Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

 

grefer pollo

oleh Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd


Hari Senin, 15 Februari 2021, jam 10 pagi wita, bertempat di Aula lantai 2 SMA Negeri 3 Kupang, saya bersama beberapa rekan yang tergabung dalam APKS PGRI Provinsi NTT dilantik oleh Ketua Umum PGRI NTT Masa Bakti 2019-2024, Drs. Simon Petrus Manu dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P & K) Provinsi NTT, Linus Lusi, S.Pd., M.Pd.


grefer pollo

grefer pollo



grefer pollo

grefer pollo


baca juga: https://halobelajarsesuatu.blogspot.com/2021/01/mengejar-kehidupan-yang-bermakna-dan.html


Menindak lanjuti pelantikan ini, ketua APKS PGRI NTT, Ibu Mezra E. Pellondou, S.Pd, M.Hum mengajak kami yang tergabung dalam APKS PGRI NTT untuk mengadakan rapat persiapan program APKS yang akan segera disodorkan kepada Pengurus PGRI NTT.


grefer pollo

grefer pollo


Rapat dilakukan secara virtual via zoom dengan host sekretaris APKS PGRI NTT, Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd. Semua personil APKS PGRI NTT turut hadir yakni: Beny Mauko, S.Pd, M.Hum sebagai wakil ketua, dan anggota lainnya: Siti Aisyah Corebima, Isai Kause, Angela Elvira Hamapati,S.Pd, dan Dian Novita Maria Banunu, S.Pd.,Gr.


baca juga: https://halobelajarsesuatu.blogspot.com/2020/12/janganlah-lupakan-hal-ini-guru.html


Rapat yang awalnya direncanakan berlangsung selama 40 menit menjadi 3 jam karena begitu hangat dan akrabnya percakapan. Semua peserta rapat turut aktif dan proaktif memberikan konstribusi perhatian, ide, dan solusi atas berbagai permasalahan yang diangkat dalam rapat itu. Ibu ketua dan pak wakil ketua terlihat sangat bersemangat memberikan perhatian dan gagasan terhadap kemajuan guru di NTT. Ibu Dian Banunu yang menjadi notulis dengan telaten mencatat setiap tahapan perkembangan pembicaraan menggunakan fasilitas note pada fitur google sehingga peserta lain yang ingin menuliskan notulen pun dapat berkontribusi langsung.


baca juga: https://halobelajarsesuatu.blogspot.com/2020/10/sisi-lain-dari-literasi-teknologi-dan.html


Beberapa sorotan dalam rapat kali ini diarahkan kepada peningkatan kualitas kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi oleh guru dalam melakukan KBM, peningkatan kesejahteraan guru, peningkatan kompetensi menulis, kenaikan angka kredit dan golongan bagi guru PNS sesuai dengan arahan pak Kadis saat pelantikan lalu, serta distribusi informasi perlombaan yang mengikutsertakan guru.

Banyak harapan termuat dalam rapat perdana ini. Semoga ke depannya perbaikan kualitas kompetensi, kesejahteraan, karakter guru NTT dapat diemban secara amanah oleh APKS PGRI NTT pada periode ini.

Tak terasa 180 menit berlalu dan rapat sudah berlangsung selama 3 jam. Tetapi karena begitu akrabnya percakapan berlangsung sehingga semuanya belum mau segera “leave” dari zoom.

 


Continue reading Rapat Asosiasi Profesi Keahlian Sejenis (APKS) PGRI Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Saturday, February 13, 2021

Doa dan puasa

 

grefer pollo
oleh Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd


Mengapa Saudara tidak dapat melakukan apa yang seharusnya Saudara lakukan?

Mengapa Saudara sudah berjuang juga tetapi belum mendapatkan apa yang Saudara harapkan?


Ada sebuah pertanyaan yang masih relevan sampai saat ini, yakni: pertanyaan para murid Yesus kepada Yesus: “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?”


Saya mengajak saudara untuk melihat konteks atau alasan di balik pertanyaan para murid Yesus ini.


Suatu kali Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. 

Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. 

Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. 

Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. 

Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." 

Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. 

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka. Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. 

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?" Kata seorang dari orang banyak itu: "Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. 

Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat. "Maka kata Yesus kepada mereka: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? 

Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: "Sudah berapa lama ia mengalami ini?" 

Jawabnya: "Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami."

Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya! "Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"

Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: "Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi! 

"Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: "Ia sudah mati." Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.

“Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?" Jawab-Nya kepada mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa."

Menurut Matius 17:21 ada kalimat di dalam tanda kurung: (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.)"


mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?

Ya, mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu? Versi Matius 17:19 "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" Karena, jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.

 

Pada masa-masa sekarang ini kita banyak melihat kondisi gereja-gereja yang melemah. Terlihat begitu banyak masalah timbul dan timbul, datang dan datang lagi seolah tak habis-habisnya berbagai penderitaan mendera kehidupan orang percaya sehingga banyak yang bertanya: “Sampai kapan, Tuhan?” “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Namun, gereja seolah tak berdaya. Tak dapat berbuat apa-apa. 

Jumlah gedung gereja bertambah. Jumlah gedung gereja yang direnovasi dan terlihat semakin megah bertambah. Tumbuh denominasi gereja baru. Tetapi, kehidupan kekristenan tidak berubah secara nyata. Mereka yang disebut beragama Kristen semakin jauh dari persekutuan Kristen. Mereka itu masih tetap hidup dalam berbagai kejahatan. Baik yang terselubung dan tersembunyi maupun yang nyata.

 

Ya, biarkan jemaat Allah ... bertanya, ‘Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?’, ‘Mengapa ribuan orang tidak datang untuk mendengar Injil ketika khotbah di beritakan di gereja-geraja, di jalan-jalan, di lapangan-lapangan, di rumah-rumah jemaat, dan sebagainya?” 

Adanya pelacuran di jalan-jalan kota kita, di rumah-rumah, di tempat-tempat umum. Mengapa jemaat Allah tidak menyingkirkan itu semua? Begitu banyak dosa yang paling busuk sedang merajalela. 

Begitu busuk dan kejinya sehingga sangat malu jika dikatakan. Tetapi, bagaimana mungkin kita tidak bisa mengusirnya?... Kenapa kita tidak menengking dan melemparkan kekuatan-kekuatan jahat keluar? Mengapa ada juga banyak orang yang setelah bertahun-tahun berkhotbah, tetapi kehidupannya tetap sama seperti sebelumnya. Hidupnya tidak berubah. Setan apa yang telah merasuki mereka? Mengapa kita tidak bisa mengusirnya?


relevansi doa dan puasa

Di sinilah letak relevansi dari jawaban Yesus kepada murid-murid-Nya: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa” (Matius 17:21).

Di tengah-tengah dunia yang makin sibuk, makin gemerlap dengan berbagai aktivitas dan keramaian, justru memberi dampak kepada kesepiannya manusia. 

Berbagai depresi, kecanduan, keputusasaan, stres, perilaku agresif dan irasional merupakan wujud atau produk kesepian. Kesepian ini telah menjadi penyebab dan pemicu dari berbagai dosa yang kemudian muncul dalam budaya dan kebiasaan masyarakat masa kini. 

Jika saja gereja tidak segera memberi bantuan kepada mereka yang kesepian, maka sulit mengharapkan orang-orang yang kesepian itu akan datang dan menikmati ibadah bersama Tuhan Yesus dalam gereja.

Sama seperti rumah, keluarga, adalah tempat yang paling tepat dan nyaman untuk mengusir kesepian maka demikianlah gereja sudah seharusnya menjadi tempat yang penting dan rumah kedua bagi mereka yang kesepian dan terhilang agar kembali kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat mereka.

 

Ya, kesepian menjadi sarana yang tepat bagi setan untuk menghancurkan kehidupan orang-orang percaya kepada Tuhan. Dosa dan kejahatan begitu merajalela dan seolah sulit dibendung dan dihentikan. 

Demikian pula berbagai masalah hidup dan bencana seolah tak berhenti. Pandemi covid-19 telah melanda dunia kita lebih dari 1 tahun dan seolah-olah semakin sulit diatasi. Pandemi ini menambah kesulitan dan penderitaan panjang kehidupan manusia di bumi ini. Semua ini mulai menyesakkan dada dan hati anak-anak Tuhan dan orang-orang percaya.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama sering mengisahkan kisah berulang yakni bangsa Israel yang telah berdosa kepada Tuhan Allah, lalu Tuhan Allah mengijinkan masalah dan penderitaan datang menimpa mereka dan kemudian mereka mulai merendahkan diri dengan berpuasa, mengaku dosa, dan berdoa kepada Allah, maka Allah mendengarkan doa mereka lalu memulihkan negeri mereka. 

Demikianlah pada masa ini anak-anak Tuhan mulai menunjukkan kesadaran akan hal ini. Mereka mulai merendahkan diri dan berpuasa, mencari wajah Allah, dan berdoa memanggil nama Tuhan Allah semesta alam di dalam Yesus Kristus. Kiranya Allah menunjukkan rahmat-Nya.

 

Mengenai doa dan puasa ini, Saya teringat beberapa kisah.

Pertama, dari Lukas 2:36-38. Kisah tentang Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. 

Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat Yesus berusia 8 hari dan dibawa ke Bait Allah, Hana juga datang ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.


Kedua, Dr. Timothy Lin, pendeta di gereja Baptis Cina. Dia telah menghabiskan banyak waktu untuk berpuasa dan berdoa. Allah menunjukkan kepada Dr Lin pentingnya menyembuhkan kesepian sebagai sarana membawa orang-orang muda yang terhilang. 

Dia sering berkata, “Kita harus menyembuhkan kesepian orang-orang muda. Geraja harus dibuat menjadi rumah kedua bagi mereka. Pada tahun 1960 gereja itu melakukan apa yang dikatakan oleh Dr. Lin, dan ratusan orang muda datang dari dunia dan masuk ke dalam gereja.


Ketiga, Abraham Lincoln. Dia adalah presiden Amerika Serikat ke-16 yang dikenang sebagai orang yang jujur, berani dan baik hati. Dia dibesarkan di keluarga penganut gereja Baptis.

 

Dalam buku Doa dan Puasa Menentukan Masa Depan yang ditulis oleh Derek Prince, pada halaman-halaman awalnya mencatat sebuah pengumuman yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat Tentang Hari Nasional untuk Merendahkan Diri, Berpuasa dan Berdoa

Dokumen pengumuman ini ditandatangani dan dimeteraikan dengan meterai Negara Amerika Serikat oleh Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pada 30 Maret tahun 1863, yaitu tahun ke delapan puluh tujuh semenjak Kemerdekaan Amerika Serikat.

Penetapan pengumuman ini didasarkan atas permohonan dari Dewan Perwakilan (Senat) Negara-Negara Bagian Amerika Serikat dan sesuai dengan pandangan-pandangan yang telah dikemukakan oleh pihak Senat sebagai berikut:

 

Bahwasanya Dewan Perwakilan (Senat) Negara-Negara Bagian Amerika Serikat mengakui dengan penuh hormat bahwa Kedaulatan Tertinggi serta Pemerintahan yang Benar dan Adil atas kehidupan semua manusia dan segala bangsa di dunia berada di tangan Allah Yang Maha Kuasa

Karena itu, setiap orang harus akui bahwa mereka bergantung kepada Allah yang berdaulat atas segala sesuatu itu dan mengakui segala, dosa dan kesalahan mereka dengan penuh penyesalan dan kerendahan hati namun dengan harapan yang pasti bahwa orang yang sungguh-sungguh bertobat akan menerima belas kasihan dan pengampunan; untuk menyadari kebenaran yang mulia yang diajarkan oleh Kitab Suci dan yang telah dibuktikan oleh perjalanan sejarah, bahwa yang mendapatkan berkat hanyalah bangsa-bangsa yang Allahnya adalah Tuhan

Dalam hukum ilahi-Nya diketahui bahwa tidak saja manusia secara perorangan tetapi juga bangsa-bangsa secara keseluruhan dapat dihukum dan dihajar oleh Tuhan di dalam dunia.

Senat ini mengakui bahwa mereka harus kuatir akan adanya perang saudara yang sedang terjadi yang merupakan malapetaka menyedihkan yang dapat menghancurkan negeri ini. 

Perang saudara ini terjadi karena dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Mereka telah diberkati Allah dengan curahan berkat Surgawi penuh damai dan sejahtera yang begitu besar sekian tahun lamanya

Mereka telah mengalami pertambahan dalam jumlah penduduk,  harta kekayaan, dan kekuasaan, sebagaimana belum pernah dialami oleh bangsa yang lain. Tetapi kemudian kita melupakan Allah.

Dengan berbagai pertimbangan ini kemudian, Presiden Abraham Lincoln menetapkan secara khusus hari Kamis, tanggal 30 bulan April 1863 menjadi hari nasional untuk merendahkan diri, berpuasa, dan berdoa. 

Beliau meminta agar seluruh rakyat pada hari itu tidak melakukan kegiatan duniawi yang sehari-hari, tetapi berkumpul di berbagai rumah ibadah umum dan di rumah mereka masing-masing, untuk menguduskan hari itu bagi Tuhan, sehingga hari itu dipakai untuk melakukan kewajiban keagamaan yang semestinya dengan penuh kerendahan hati. 

Dengan rendah hati mereka berharap atas dasar pengajaran Ilahi, bahwa jerit tangis seluruh Bangsa yang bersatu ini akan didengar  di tempat yang maha tinggi, lalu dijawab dengan curahan berkat dan pengampunan segala dosa sebagai suatu bangsa, sehingga negri mereka dipulihkan dari perpecahan dan penderitaan, dan mencapai keadaan yang damai dan bersatu kembali seperti semula.

 

Apakah pengalaman bangsa Amerika Serikat Tentang Hari Nasional untuk Merendahkan Diri, Berpuasa dan Berdoa pada 158 tahun yang lalu itu menghasilkan sesuatu seperti yang mereka harapakan? Tdntunya sejarah pengalaman berbangsa dan bernegara Amerika Serikat menjadi saksi atas peristiwa hari itu.


Sebelum mengakhiri bagi ini, saya ingin menyampaikan bahwa meski demikian, kita harus berhati-hati dan bijaksana untuk tidak salah berpikir dan beriman. 

Kita tidak boleh berpikir bahwa doa dan puasa secara otomatis akan menghasilkan kebangunan rohani - atau pertobatan. Doa dan puasa jangan dijadikan sebagai mesin untuk menghasilkan produk yang kita kehendaki atau memuaskan keinginan kita.

Janganlah berpikir dan beriman bahwa Allah sebagai “kuasa” yang dapat kita manipulasi. 

Ingatlah apa yang telah dilakukan oleh Simon si penyihir itu seperti yang tertulis dalam Kisah Para rasul 8:18-20 “Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus." Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. ..”

Berhati-hatilah! Jika kita terjebak dalam pemikiran bahwa kuasa Allah dapat dibeli dan dipermainkan maka kemudian kita akan memanipulasi dan menjadikan doa dan puasa sebagai sebuah sarana untuk mendapatkan kuasa itu demi memuaskan hawa nafus kita. Dan, itu menyesatkan.

 Allah adalah roh. Dan, Roh Allah adalah suatu pribadi yang tidak bisa dan tidak boleh “diperintah” ataupun “diperalat” dengan mengucapkan kata-kata tertentu atau ritual tertentu bahkan ritual doa dan puasa.

Pada 2 Samuel 12:16-20, dikisahkan tentang doa puasa yang Raja daud lakukan demi anaknya yang ditulahi Allah dengan sakit. Daud memohon kepada Allah dan berpuasa demi anak itu, tetapi anak itu kemudian mati. 

Allah memiliki rencana-Nya sendiri. Doa dan puasa seharusnya dilakukan demi mendukung rencana Allah dan program Kerajaan Allah seperti yang dinyatakan dalam Doa Bapa kami: “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

Karena itu, ketika berdoa dan berpuasa demi seuatu yang telah digumuli dan diperjuangkan, demi masalah, bencana, penyakin, mengatasi pandemi covid-19, dan sebagainya maka kita harus berhati-hati untuk menyadari bahwa Dia adalah Allah yang kudus. 

Dia adalah pribadi yang nyata, yang harus diperlakukan dengan hormat, dan rasa hormat. Berdoa dan berpuasa yang dilakukan dengan baik dan bijak dapat memberi dampak kepada keinginan, perasaan untuk lebih intens dari jiwa untuk terus mencari dan bersekutu dengan Allah dalam kemuliaan dan kekudusan-Nya lebih daripada yang pernah dilakukan pada waktu lainnya.

 

Mari kita semua sungguh-sungguh berdoa agar kiranya Allah menarik orang-orang yang kesepian itu ke dalam gereja. 

Kiranya Allah menggerakkan gereja-Nya untuk menyatakan kemuliaan Allah demi jani-janji Allah. Kiranya Allah memberi “perasaan membutuhkan” Allah bagi mereka yang kesepian sehingga mendatangkan pertobatan yang nyata.

Ada kabar baik bagi saudara yang belum bertobat, yaitu Yesus mengasihi saudara. Dia telah mati di kayu Salib untuk membayar penghukuman dosa kita. 

Darah-Nya dicurahkan di kayu Salib itu untuk menyucikan kita dari segala dosa. Dia telah bangkit secara fisik dari antara orang mati untuk memberikan hidup kekal kepada saudara. Jangan sia-siakan kesempatan ini. 

Jangan remehkan kabar baik yang saudara dengar saat ini. Karena bukanlah kebetulan jika saudara telah mendengar kabar baik ini. Allah punya rencana dan tujuan atas hidupmu. 

“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kisah Rasul 16:31). Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

 

Sekarang bagaimana dengan keadaan kita ditengah pandemi covid-19 dan berbagai masalah bangsa dan negara maupun gereja. Apakah kita akan bergerak atau digerakkan untuk melakukan hari Merendahkan Diri, Berpuasa dan Berdoa demi keselamatan gereja, bangsa dan negara? Tentu saudara sudah mengetahui jawabannya.


Apakah Saudara sudah pernah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Saudara? Mengapa penting melakukan ini? Dalam Alkitab pada kitab Injil Yohanse 1:12 berkata : "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;" Juga dalam Yohanes 3:16 berkata "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." 

Jika Saudara belum pernah menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Saudara, Saudara dapat berdoa seperti ini:

"Tuhan Yesus, saya mengaku bahwa saya adalah orang berdosa. Saya memohon belas kasihan dan pengampunan-Mu. Ampuni saya Tuhan. Saya membuka hati saya bagi-Mu. Masuklah dalam hati saya. Jadilah Tuhan, Juruselamat, dan raja saya selama-lamanya. Roh Kudus, didiklah saya menjadi dewasa di dalam Tuhan. Bapa di sorga, terima kasih telah mengangkat saya menjadi anak-anak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.


Sumber bacaan:

Doa dan puasa menentukan masa depan oleh Derek Prince

http://asset-mel-1.airsquare.com/dpmid/library/free_mp3_and_books/shaping-history-through-prayer-fasting.pdf?201901182257

 

DOA DAN PUASA UNTUK MENYELAMATKAN ZAMAN KITA (KHOTBAH NO 3 TENTANG KEBANGUNAN ROHANI)

https://www.rlhymersjr.com/Online_Sermons_Indonesian/2014/080314PM_PrayerAndFasting.html

 


Continue reading Doa dan puasa

Monday, January 18, 2021

Apa Kabar Natal?

grefer pollo

Apa Kabar Natal?

Oleh: Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd


Dunia teologi Kristen mengenal Kejadian 3:15 sebagai "πρῶτοεὐαγγέλιον - prôtoeuanggelion" yang berarti "Injil yang Pertama" atau "Kabar Baik yang pertama". 

Isi kabar baik ini adalah pernyataan Allah tentang rencana keselamatan. 

Rencana keselamatan ini menjadi nyata dalam Injil Yohanes 1:1 dan 14 bahwa firman yang bersama-sama dengan Allah itu telah menjadi manusia dan diam bersama manusia. 

Misi dari firman Allah itu adalah keselamatan manusia dari hukuman dosa yaitu maut. Karena, manusia telah tergoda oleh Iblis lalu memakan buah pohon yang dilarang oleh Allah untuk manusia memakannya. 


Puncak karya keselamat ini ada pada firman Allah dalam wujud manusia yakni Yesus Kristus yang kelahiran-Nya sebagai manusia dikenal sebagai peristiwa natal.


Kata "natal" berasal dari bahasa Latin yang berarti kelahiran. Dalam bahasa Inggris disebut "Christmas". Kata Christmas itu sendiri berasal dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse  yang berarti Misa Kristus.  

Dengan demikian, memperingati peristiwa natal berarti memperingati kelahiran Yesus Kristus. 

Alkitab tidak secara eksplisit memerintahkan kita untuk merayakan natal. Tetapi, mengingat. 2 Timotius 2:8 berbunyi: "Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.” 

Rasul Paulus melakukan 2 hal penting ini dalam pelayanannya, yakni, memberitakan "kebangkitan dari kematian" dan "kelahiran" Yesus Kristus.

Kata "ingatlah" dalam teks Alkitab berbahasa Yunani menggunakan kata 'μνημονευε - mnêmoneue' dari kata dasar 'μναομαι - mnaomai', artinya meletakkan sesuatu di dalam pikiran. 

Akar kata yang sama dengan ini juga dijumpai dalam ayat Lukas 22:19, “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: 'Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” 

Kata “peringatan” dalam teks Alkitab berbahasa Yunani menggunakan kata 'αναμνησιν - anamnêsin' yang juga berasal dari kata yang sama 'μναομαι - mnaomai'.

"Merayakan" berbeda dengan "memperingati" atau "mengingat". Kecenderungan dari “merayakan” sesuatu adalah berpesta bahkan ada yang sampai berhura-hura. 


"Mengingat" lawan katanya adalah "melupakan". Tentunya seorang Kristen yang sejati tidak akan melupakan peristiwa dan makna natal yang sesungguhnya. 


Akan tetapi, bagaimana kebiasaan gereja dalam hal peristiwa natal pada masa kini? Kecenderungan umat Kristen dalam momentum natal adalah menyiapkan pernak-pernik dan ornamen natal. 

Ada banyak pernak-pernik dan ornamen dikaitkan dengan natal. Salah satunya adalah santa claus. Siapakah dia sebenarnya? 

Ada banyak kisah seputar santa claus. International Journal of Heritage Studies menyebutkan bahwa Sinterklas terilhami dari Saint Nicolas, seorang uskup asal Myra, sebuah kota kecil yang menjadi bagian Imperium Romawi, tepatnya di wilayah Turki sekarang. 

Dia hidup sekitar abad ke-3 Masehi. Dia digambarkan sebagai pribadi dermawan dan suka berbagi kepada orang-orang miskin. 

Adolf Heuken, penulis buku berjudul Ensiklopedia Gereja (2005), menceritakan bahwa sosok sinterklas yang membawa hadiah pada malam natal merupakan sekularisasi tokoh santo Nicholas yang sebenarnya. 

Ia pernah dipenjarakan di bawah pemerintahan Kaisar Dioklesianus dan dilepaskan ketika raja Konstantin berkuasa. Nikolas adalah santo pelindung Rusia, para pelaut, dan anak-anak. 

Santo Nikolas menjadi sangat terkenal karena kebaikan hatinya suka menolong anak-anak dan orang miskin. Kebaikan hati ini dibumbui dengan berbagai mujizat dan legenda yang menyebar ke seluruh Eropa. 

Orang Belanda menyebut Santo Nikolas dengan nama Sinterklaas dan menggambarkannya sebagai orang tua berjanggut putih panjang, berpakaian uskup, dan menaiki kuda yang bisa terbang ke atap rumah dibantu Swarte Piet. 

Menjelang natal Sinterklaas datang ke rumah-rumah untuk memberi hadiah bagi anak-anak yang baik melalui cerobong asap.

Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan untuk mengingat Santo Nikolas adalah tradisi membagikan hadiah natal kepada anak-anak oleh orangtua mereka pada waktu Pesta Natal melalui sosok 'Sinterklas'. 

Kebiasaan ini mulai diperkenalkan kepada umat Kristen Amerika oleh orang-orang Belanda Protestan, yang menobatkan Santo Nikolas sebagai tukang sulap bernama Santa Claus.

Berbagai versi kisah Santa Claus lebih bersifat legenda atau dongeng. Namun, kisah ini terasa mendominasi kisah kelahiran Kristus itu sendiri. 

Ini terlihat dari pernak-pernik natal, syair lagu-agu natal, hingga berbagai kegiatan yang melibatkan ikon santa claus. Di manakah Yesus Kristus yang natal-Nya diperingati?


Kalau begitu, bagaimana respon gereja? Apakah gereja akan terus tergerus dengan degradasi esensi makna kehadiran firman Allah yang menjadi manusia dan pesan keselamatan dari Allah bagi manusia yang dibawa oleh Yesus Kristus? 


Bagaimana gereja menyikapi hal ini sangat penting agar gereja tidak terjerumus kepada liberalisasi dan sekularisasi. 

Sangat perlu dilakukan penjemaatan dan pengajaran yang benar tentang makna natal dimulai dari pelayan PAR kepada anak-anak PAR, guru katekisasi kepada para katekumen, para pemuda, para presbiter bahkan seluruh komponen jemaat. 

Salam damai natal 2020 dan tahun baru 2021. Tuhan Yesus memberkati. 


Referensi

Agung, P. (2019, Desember 24). Hari Raya Natal, Siapakah Sebenarnya Sinterklas? Retrieved from Cek n Ricek: https://ceknricek.com/a/hari-raya-natal-siapakah-sebenarnya-sinterklas/13797

BP. (2008, November 20). Kejadian 3:15: SIAPA YANG MEREMUKKAN KEPALA ULAR? Retrieved from SarapanPagi Biblika MInistry: http://www.sarapanpagi.org/kejadian-3-15-siapa-yang-meremukkan-kepala-ular-vt2442.html

BP. (2008, NOvember 29). Apakah Natal Itu Diperintahkan Untuk Diperingati? Retrieved from SarapanPagi Biblikka: http://www.sarapanpagi.org/apakah-natal-itu-diperintahkan-untuk-diperingati-vt2458.html

Siapa Sebenarnya Sinterklas dan Bagaimana Sejarahnya? (2016, Desember 24). Retrieved from IDN Times: https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/francisca-christy/siapa-sebenarnya-sinterklas-bagaimana-sejarahnya/5

Siapa Sebenarnya Sinterklas dan Bagaimana Sejarahnya? (2016, Desember 24). Retrieved from IDN Times: https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/francisca-christy/siapa-sebenarnya-sinterklas-bagaimana-sejarahnya/5

Continue reading Apa Kabar Natal?