"Suatu hari nanti, hal yang hari ini membuatmu tertawa
terbahak-bahak dan menangis tersedu-sedu, akan duduk bersama di album kenangan
yang sama."
Pernahkah kamu menemukan foto lama di galeri ponsel? Awalnya hanya berniat mencari screenshot rekening atau foto dokumen penting.
Namun entah
bagaimana, jari ini tersesat ke tahun-tahun yang lalu. Lalu muncul foto-foto
yang membuat kita tersenyum sendiri.
Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah foto lama.
Bukan foto wisuda.
Bukan foto pekerjaan.
Bukan foto saat menerima penghargaan.
Hanya foto sederhana setelah makan bakso bersama teman-teman.
Kalau dipikir-pikir, fotonya bahkan tidak istimewa.
Di depan sebuah warung.
Banyak motor dan mobil parkir asal saja.
Ada kendaraan lalu lalang.
Saya melihat foto itu cukup lama.
Lalu tanpa sadar tersenyum sendiri.
Bukan karena baksonya.
Jujur saja, saya bahkan sudah lupa rasa baksonya.
Yang saya ingat justru candaannya.
Saya ingat bagaimana salah satu teman mencari rokoknya yang jatuh.
Ada juga yang meminta seseorang duduk di sampingnya.
Ada yang membagi-bagi minyak untuk legakan diri karena lelah.
Ada yang duduk termenung saja lalu yang lain usil mengganggu.
Kami tertawa sampai hampir tersedak.
Lalu ada teman lain yang begitu lapar sampai memesan porsi jumbo.
Kami kembali tertawa.
Saat itu semuanya terasa biasa.
Tidak ada yang menyangka bahwa bertahun-tahun kemudian, justru momen
itulah yang masih diingat.
Bukan baksonya.
Bukan tempat makannya.
Bukan harga menunya.
Tetapi kebersamaannya.
Mungkin memang begitu cara kerja hidup.
Ketika kita sedang menjalaninya, momen-momen kecil tampak biasa saja.
Kita berpikir bahwa kenangan besar hanya lahir dari peristiwa besar.
Padahal sering kali kenangan paling berharga justru lahir dari meja
plastik sederhana, mangkuk bakso murah, dan orang-orang yang membuat kita
tertawa sampai lupa masalah.
Lucunya, saat foto itu diambil, kami semua sedang memiliki pergumulan
masing-masing.
Ada yang sedang pusing mengurus pekerjaan yang disebut RGM.
Ada yang sedang berjuang menata kembali hati yang gundah.
Ada yang sedang memikirkan keluarganya.
Ada yang sedang bingung menentukan masa depan.
Tetapi selama satu jam di depan semangkuk bakso, semua beban itu seperti
mengambil cuti sementara.
Yang ada hanya tawa.
Hanya cerita.
Hanya persahabatan.
Hari ini keadaan kami sudah berbeda.
Sebagian akan bekerja di tempat lain.
Sebagian masih sibuk dengan pekerjaannya.
Sebagian mencari kesibukan lain.
Sebagian bahkan sudah sangat jarang bertemu.
Namun foto itu tetap ada.
Diam.
Tidak berubah.
Menjadi saksi bahwa pernah ada masa ketika hidup terasa lebih sederhana.
Lalu saya menyadari sesuatu.
Mungkin saat itu kami mengira kami sedang makan bakso.
Padahal sebenarnya kami sedang membuat kenangan. Momen menjadi momentum.
Kata teman saya: Mencari Esensi.
Kita sering tidak sadar bahwa kenangan sedang diproduksi secara
diam-diam.
Saat bicara di teras rumah.
Saat minum kopi bersama.
Saat perjalanan jauh naik motor.
Saat bercanda di grup WhatsApp.
Saat sibuk dengan Kutara XFAR.
Kita mengira itu hanya aktivitas biasa.
Padahal bertahun-tahun kemudian, semua itu bisa menjadi harta yang tak
ternilai.
Karena pada akhirnya manusia tidak hidup dari makanan saja.
Manusia juga hidup dari cerita.
Dari relasi.
Dari tawa yang pernah dibagikan bersama.
Bakso hari itu sudah lama dicerna tubuh.
Kuahnya sudah hilang.
Tetapi kenangannya masih tersimpan.
Dan mungkin akan tetap tersimpan sampai rambut kami memutih.
Itulah sebabnya saya menyukai kalimat sederhana ini:
IAJK — Inipun Akan Jadi Kenangan.
Saat sedang makan bersama teman, IAJK.
Saat sedang bercanda tanpa arah, IAJK.
Saat sedang tertawa sampai pegang perut, IAJK.
Saat sedang mengeluh tentang hidup sambil menyeruput kuah bakso, IAJK.
Karena suatu hari nanti kita akan melihat foto-foto itu lagi.
Dan kita akan berkata,
"Ternyata saat itu kami sedang berada di masa-masa yang baik."
Bukan karena hidup kami sempurna.
Tetapi karena kami menjalaninya bersama.
Mungkin itulah rahasia kebahagiaan yang sering terlupakan.
Bukan tentang memiliki segalanya.
Tetapi memiliki seseorang untuk diajak tertawa atas hal-hal sederhana.
Bahkan jika itu hanya tentang satu bakso yang bersembunyi di bawah
sendok dan garpu.
Ada yang bilang: Mengenalmu adalah anugerah. Memiliki seseorang yang
selalu mendukung dan menguatkan seperti dirimu adalah karunia. Memiliki sahabat
sepertimu adalah kebahagiaan tersendiri.
"Kadang yang kita kenang bukan makanannya, melainkan orang-orang
yang duduk di meja yang sama."
"Semangkuk bakso bisa habis dalam lima belas menit, tetapi cerita
di sekitarnya bisa bertahan seumur hidup."
"Kenangan terbaik sering lahir dari acara yang tidak pernah
direncanakan menjadi istimewa."
"Suatu hari nanti, foto yang hari ini hanya lewat di galeri akan
menjadi jendela menuju masa yang dirindukan."
“Rindu artinya kamu tidak sedang bersamanya.”
"Persahabatan bukan tentang seberapa mewah tempat berkumpulnya,
tetapi seberapa tulus tawa yang dibagikan."
"Mungkin kita tidak sedang makan bakso; mungkin kita sedang
menciptakan kenangan."
"Waktu tidak
selalu menghapus luka, tetapi waktu mengajarkan cara tersenyum saat
melihatnya."
"Kenangan terbaik sering lahir dari momen yang tidak pernah
direncanakan."
"Jika kebahagiaan tidak bisa disimpan selamanya, setidaknya
nikmatilah sepenuhnya."
"IAJK: Inipun Akan Jadi Kenangan. Maka jalani dengan syukur, hadapi
dengan berani, dan lepaskan dengan damai."
"IAJK — Inipun Akan Jadi Kenangan. Maka tertawalah selagi bisa,
bersyukurlah selagi bersama, dan nikmatilah momen dan momentum sebelum ia
berubah menjadi hanya sebuah cerita."