Monday, May 11, 2026

Yesus Di Antara Mereka

ged pollo

oleh: grefer pollo

YESUS DI ANTARA MEREKA

Banyak pemimpin agama mengajarkan moralitas, tetapi Yesus berbicara tentang hidup.


Moralitas Tidak Selalu Menyelesaikan Problem Manusia

Secara filosofis, hampir semua sistem agama dan etika mencoba menjawab:

  • bagaimana manusia menjadi baik,
  • bagaimana masyarakat menjadi tertib,
  • bagaimana mengendalikan kejahatan.

Masalahnya, manusia bukan hanya bermasalah secara moral, tetapi juga secara eksistensial.

Artinya:

  • manusia takut mati,
  • kehilangan makna,
  • mengalami keterasingan,
  • kehampaan,
  • rasa bersalah,
  • keterpisahan relasional.

Søren Kierkegaard (seorang filsuf dan teolog asal Denmark yang hidup pada abad ke-19. Ia sering disebut “bapak eksistensialisme.”) melihat bahwa problem manusia bukan sekadar “tidak bermoral,” tetapi kehilangan diri sejati di hadapan Allah.

Sedangkan Martin Heidegger (filsuf Jerman abad ke-20) berbicara tentang manusia sebagai being-toward-death (manusia yang sadar dirinya menuju kematian). Dalam bahasa Jerman: Sein-zum-Tode. 

Dan kesadaran itu memengaruhi cara hidup, kecemasan, pilihan, identitas, dan makna hidup. Menurutnya, banyak orang mencoba melupakan kenyataan kematian dengan kesibukan, hiburan, keramaian, dan rutinitas sosial. 

Tetapi jauh di dalam, manusia tahu hidupnya terbatas. Artinya, moralitas tidak menghapus fakta maut. Seseorang bisa jujur, disiplin, religius, tetapi tetap takut mati, kosong, dan kehilangan makna hidup.

 

Keunikan Klaim Yesus

Banyak guru berkata “ini jalan menuju hidup.” Tetapi Yesus berkata “Akulah kebangkitan dan hidup.” Bukan hanya pengajar hidup, melainkan sumber hidup itu sendiri. Ini sangat radikal.


Fokus Yesus Bukan Sekadar Moralitas

Yesus sering melampaui hukum moral dan langsung menyentuh akar kematian manusia.

Contoh:

Lazarus: Yesus tidak memberi Lazarus seminar etika. Ia memanggil orang mati keluar dari kubur. Pesannya: Kerajaan Allah datang melawan maut.

Perempuan Samaria: Masalahnya bukan sekadar moral seksual. Yesus berbicara tentang air hidup. Artinya, haus eksistensial, kekosongan batin, dan kebutuhan akan hidup sejati.

Anak hilang: Fokus utama bukan kenakalan anak. Tetapi, anak yang “mati” menjadi hidup kembali. Lukas 15 berkata “Ia telah mati dan menjadi hidup kembali.” Ini bahasa kebangkitan relasional.

 

Dalam Tanakh (sebutan untuk Alkitab Ibrani dalam tradisi Yahudi) : Musuh utama manusia = maut.

Dalam pemikiran Ibrani, dosa dan maut sangat terkait. Bukan sekadar salah moral, tetapi terputus dari sumber hidup.

Di Eden:

  • dosa akibatkan pengusiran,
  • pengusiran akibatkan kematian.

Karena itu nubuat Mesianik sering berbicara:

  • tulang kering hidup kembali,
  • kubur dibuka,
  • bangsa dipulihkan.

 

Yesus tidak datang hanya membuat “orang jahat jadi baik”

Ini penting. Karena dalam Injil, Yesus justru paling keras terhadap orang yang merasa dirinya paling bermoral. Contoh: Farisi dan ahli Taurat. Mengapa? Karena moralitas bisa menghasilkan:

  • kesombongan spiritual,
  • identitas palsu,
  • ilusi hidup.

Yesus berkata mereka itu “kuburan yang dilabur putih.” Secara moral tampak baik, tetapi tetap penuh kematian.

 

Konsep “Hidup” dalam bahasa Ibrani

Kata Ibrani חַיִּים (Chayyim), bukan sekadar bernapas. Tetapi, hidup utuh, relasi dengan Allah, shalom, dan keberadaan yang penuh. Karena itu Yesus berkata: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup.” Bukan sekadar aturan, sekadar perilaku baik, tetapi kehidupan yang dipulihkan.

 

Moralitas Saja Tidak Mengubah Dunia Dalam

Secara fakta dan realita:

  • orang berpendidikan tinggi tetap bunuh diri,
  • masyarakat maju tetap depresi,
  • orang religius tetap kosong,
  • orang baik tetap takut mati.

Mengapa? Karena problem manusia lebih dalam daripada etika. Modernitas membuktikan kemajuan moral dan teknologi tidak otomatis memberi makna hidup. Abad modern justru mengalami:

  • existential crisis,
  • loneliness epidemic,
  • nihilisme,
  • burnout,
  • kehilangan identitas.

Keunikan Kekristenan secara eksistensial

Inti Injil bukan “berusahalah naik kepada Allah.” Tetapi Allah turun masuk ke dalam kematian manusia. Ini unik. Salib bukan sekadar contoh moral pengorbanan, tetapi Allah masuk ke realitas maut manusia. Dan kebangkitan menjadi deklarasi maut bukan kata terakhir.

 

Kritik terhadap kekristenan modern

Ironisnya, banyak kekristenan modern justru mereduksi Injil menjadi:

  • sopan santun,
  • moralitas,
  • perilaku baik.

Padahal Yesus berbicara tentang:

  • kelahiran baru,
  • hidup baru,
  • ciptaan baru,
  • kebangkitan.

Kekristenan tanpa kehidupan mudah berubah menjadi agama moral tanpa transformasi batin.


Secara umum, banyak sistem agama membantu manusia menjadi lebih tertib dan banyak filsafat membantu manusia berpikir lebih bijak. 

Tetapi inti berita Yesus adalah hidup mengalahkan maut. Bukan sekadar memperbaiki perilaku, tetapi memulihkan keberadaan manusia.

Karena menurut Injil, musuh terbesar manusia bukan hanya dosa moral, melainkan:

  • keterpisahan dari Allah,
  • kehilangan identitas,
  • dan maut itu sendiri.

Maka, salib adalah Allah masuk ke penderitaan manusia. Kebangkitan adalah maut dikalahkan. Kenaikan adalah manusia dibawa kembali ke Rumah Bapa. 

Dan Injil bukan sekadar “jadilah orang baik,” tetapi “yang mati bisa hidup kembali.”




Continue reading Yesus Di Antara Mereka

Saturday, May 2, 2026

“Perempuan di Sumur: Injil yang Datang Lewat Jalan yang Dihindari”

ged pollo

oleh: grefer pollo


“Perempuan di Sumur: Injil yang Datang Lewat Jalan yang Dihindari”

(Injil Yohanes 4:1–42)

Yesus Tidak Tersesat, Dia Sengaja Menyimpang

Teks di atas mengatakan: “Ia harus melintasi Samaria.” Kata “harus” di sini bukan soal geografi tetapi soal misi. Secara historis, orang Yahudi punya jalur alternatif dari Yudea ke Galilea:

  • Mereka biasa memutar lewat wilayah timur Sungai Yordan
  • Menghindari Samaria karena konflik etnis dan teologis

Artinya, Yesus tidak memilih jalan tercepat, tapi jalan yang paling bermakna.

Banyak orang memilih jalan “aman” dalam hidup dan pelayanan. Tapi Yesus justru memilih jalan yang orang saleh hindari.

 

Sumur Yakub: Tempat Biasa, Pertemuan Luar Biasa

Yesus berhenti di Sumur Yakub waktu: tengah hari (jam ke-6). Waktu ini adalah waktu yang tidak normal untuk mengambil air. Artinya apa?

  • Perempuan ini menghindari orang lain
  • Ia hidup dalam stigma sosial

 

Kritik terhadap Label “Pelacur”

Banyak khotbah menyebut dia pelacur. Masalahnya, Alkitab tidak pernah mengatakan itu. Yang dikatakan teks adala ia punya 5 suami dan sekarang hidup dengan pria yang bukan suaminya. Alkitab tidak dikatakan “pelacur”. Tidak ada indikasi profesi seksual.

Bisa jadi ia korban perceraian berulang karena pada masa itu tidak biasa perempuan menceraikan. Dalam budaya Yahudi, perempuan tidak mudah menceraikan tapi lebih sering diceraikan. Atau, ia bisa jadi korban sistem patriarki, bukan pelaku moral rendah.

Gereja sering menambahkan dosa yang Alkitab tidak katakan, lalu mengabaikan luka yang sebenarnya.

 

Yesus Melanggar Tiga Tembok Sekaligus

Yesus berbicara dengan dia berarti menabrak:

  1. Tembok etnis: Yahudi vs Samaria
  2. Tembok gender: Pria tidak berbicara publik dengan perempuan asing
  3. Tembok moral: Ia berbicara dengan orang yang dianggap “tidak bersih”

Ini bukan sekadar percakapan, tapi ini dekonstruksi sosial.

 

Air Hidup: Dari Kebutuhan ke Penyembahan

Yesus mulai dari hal sederhana, air minum: haus fisik. Lalu naik ke air hidup yaitu kebutuhan spiritual. Dan akhirnya ke inti yaotu penyembahan dalam roh dan kebenaran.

Struktur percakapan sangat strategis:

  1. Kebutuhan nyata
  2. Luka pribadi
  3. Identitas Mesias

 

Transformasi: Dari Penghindar Jadi Penginjil

Perempuan Samaria ini datang sendiri tapi kemudian pulang membawa kota. Ia berkata: “Mari lihat seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” Perhatikan bahwa ia tidak berkhotbah teologi tinggi tapi bersaksi dari pengalaman. Dan hasilnya, satu kota percaya kepada Tuhan Yesus.

 

Mengapa Yesus Tidak Langsung Melayani Orang Samaria?

Fakta menariknya adalah dalam Injil Matius 10:5, Yesus pernah berkata: “Jangan pergi ke kota orang Samaria.” Namun di sini Ia justru memulai kebangunan di Samaria.

Orang Samaria sebagai kelompok menolak Yesus, tapi melalui satu orang yang dipulihkan,
mereka menjadi terbuka.

Ketika sistem menutup pintu, Tuhan memakai individu yang dipulihkan untuk membuka kota.

 

Reputasi yang Tidak Bisa Dibantah

Semua orang tahu siapa perempuan Samaria ini. Justru itu kekuatannya. Karena perubahan hidupnya tidak bisa dipalsukan maka kesaksian itu menjadi paling kuat melalui transformasi yang terlihat.

Penutup

Yesus tidak mencari orang terbaik, Dia mencari orang yang siap dipulihkan. Dia tidak menghindari wilayah konflik, Dia masuk ke sana dengan tujuan. Dan Dia tidak memilih saksi dengan reputasi bersih, Dia memilih bukti hidup dari anugerah.

 

Refleksi

  • Apakah kita seperti orang Yahudi yang memilih jalan aman? Atau, seperti Yesus yang masuk ke wilayah yang orang lain hindari?
  • Apakah kita memberi label seperti “pelacur” pada orang yang sebenarnya sedang terluka?
  • Apakah hidup kita punya perubahan yang tidak bisa dibantah orang lain?

 

 

 


Continue reading “Perempuan di Sumur: Injil yang Datang Lewat Jalan yang Dihindari”

Wednesday, April 29, 2026

STARTEGI MENYUSUN PROGRAM

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


DUA JENIS PROGRAM: REALITAS ORGANISASI

Dalam praktik organisasi (termasuk gereja dan pelayanan PPA), program hampir selalu jatuh ke dua kategori:

A. Program Berdampak (Transformasional)

  • Mengubah hidup, karakter, dan arah masa depan anak
  • Menghasilkan buah jangka panjang (nilai, iman, karakter, kompetensi hidup)
  • Biasanya tidak “instan terlihat”, tapi kuat secara akar

B. Program Seremonial (Kosmetik, Monumental, Kembang Api)

  • Sekadar “ada kegiatan”
  • Sekedar “wah dan megah”
  • Aman secara laporan dan anggaran
  • Fokus pada output (jumlah kegiatan), bukan outcome (perubahan hidup)

Banyak organisasi dan komunitas merasa “hidup” karena sibuk, padahal tidak bertumbuh. Aktivitas sering disalahartikan sebagai kemajuan.

 

LANDASAN FILOSOFIS: DAS SOLLEN vs DAS SEIN

Konsep ini berasal dari filsafat moral (khususnya pemikiran seperti Immanuel Kant):

  • Das Sollen (yang seharusnya) visi, nilai ideal, tujuan ilahi
  • Das Sein (yang nyata) kondisi faktual di lapangan

Prinsip Kunci:

Program yang benar selalu lahir dari ketegangan antara “yang seharusnya” dan “yang terjadi”.

Jika tidak ada ketegangan tidak ada urgensi program jadi formalitas.


MASALAH: JARAK YANG HARUS DIJEMBATANI

Masalah = Das Sollen – Das Sein

Masalah adalah kesenjangan antara kenyataan (Das Sein) dengan Harapan (Das Sollen)

Contoh konkret:

  • Das Sollen: Anak memiliki karakter Kristus, disiplin, mampu berpikir kritis
  • Das Sein: Anak mudah menyerah, tidak fokus, ketergantungan gadget

Maka “masalah” bukan: “Anak main HP terus” (ini gejala)

Tapi: “Tidak ada sistem pembentukan disiplin dan kontrol diri”

Kesalahan umum organisasi:

  • Menyelesaikan gejala, bukan masalah
  • Membuat program reaktif, bukan strategis

 

MENGGALI AKAR: METODE “5 WHY”

Gunakan pendekatan bertanya “mengapa” berulang:

Contoh:

  • Anak tidak fokus belajar
    Mengapa? Karena lebih tertarik gadget
    Mengapa? Karena tidak ada aktivitas alternatif yang menarik
    Mengapa? Karena program tidak dirancang sesuai kebutuhan anak
    Mengapa? Karena perancang program tidak memahami konteks anak
    Mengapa? Karena tidak ada proses observasi dan evaluasi

Akar masalah: Bukan gadget, tapi kegagalan desain sistem pembelajaran

 

POLA “JIKA – MAKA”: INTI PERUMUSAN PROGRAM

Ini bagian paling krusial. Setelah akar ditemukan, rumuskan: Jika (intervensi dilakukan), maka (perubahan terjadi)

Contoh:

  • Jika ada proses observasi dan evaluasi maka perancang program akan memahami konteks anak
  • Jika perancang program akan memahami konteks anak maka program akan dirancang sesuai kebutuhan anak
  • Jika program dirancang sesuai kebutuhan anak maka ada aktivitas alternatif yang menarik
  • Jika ada ada aktivitas alternatif yang menarik maka anak tidak lebih tertarik gadget

 

PROGRAM SEBAGAI PEMBENTUKAN HIDUP

Alkitab tidak pernah berbicara tentang “program”, tapi tentang proses pembentukan.

Amsal 22:6: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya...”

Kata “didik” di sini bersifat:

  • berulang
  • sistematis
  • kontekstual

Efesus 4:12–13: memperlengkapi orang kudus bagi pekerjaan pelayanan

Fokusnya: bukan kegiatan tapi pembentukan manusia

Banyak program gereja sibuk “mengisi waktu anak” tapi tidak membentuk “hidup anak”.

 

Dalam studi organisasi modern:

  • Program yang berhasil selalu punya:
    • tujuan terukur
    • indikator perubahan
    • evaluasi berkala
  • Program gagal biasanya:
    • tidak punya baseline (das sein tidak jelas)
    • tidak punya target (das sollen kabur)
    • tidak punya metrik

Akibatnya, laporan ada tapi perubahan tidak ada.

 

STRUKTUR PRAKTIS MERUMUSKAN PROGRAM

Gunakan alur ini:

1. Tentukan DAS SOLLEN

  • Anak seperti apa yang ingin dibentuk?
  • Nilai apa yang ingin ditanamkan?

2. Analisis DAS SEIN

  • Data nyata (observasi, bukan asumsi)
  • Kondisi psikologis, sosial, spiritual anak

3. Rumuskan MASALAH

  • Fokus pada GAP, bukan gejala

4. Temukan AKAR MASALAH

  • Gunakan 5 WHY (mengapa)

5. Buat HIPOTESIS (Jika–Maka)

  • Jika X maka Y

6. Desain PROGRAM

  • Kegiatan hanyalah alat, bukan tujuan

7. Tentukan INDIKATOR

  • Apa tanda perubahan?

8. Evaluasi

  • Apakah gap (jarak atau kesenjangan) mengecil?

 

PERBANDINGAN DUA PROGRAM (INTI KRITIS)

Aspek

Program Berdampak

Program Seremonial

Dasar

Masalah nyata

Kalender kegiatan

Tujuan

Perubahan hidup

Laporan selesai

Fokus

Outcome

Output

Metode

Analitis & reflektif

Rutinitas

Evaluasi

Ada indikator

Tidak jelas

 

Program bukan sekadar aktivitas. Program adalah alat intervensi terhadap masa depan manusia.

Jika program salah, kita tidak hanya buang waktu tapi juga kehilangan generasi.

Jika program benar, maka kita tidak hanya mendidik tapi juga sedang membentuk sejarah hidup seseorang.

 

SALAH SATU MASALAH UTAMA ORGANISASI: SALAH MEMILIH MEDAN KONTROL

Dalam praktik:

  • Banyak program diarahkan ke hal yang tidak bisa dikendalikan
  • Sementara hal yang bisa dikendalikan justru diabaikan

Akibatnya, energi habis, hasil minim, frustrasi meningkat. Ini bukan sekadar kesalahan teknis, tapi kesalahan paradigma.

 

LOCUS OF CONTROL: KERANGKA DASAR

Konsep dari Julian Rotter:

A. Internal Locus (dapat dikendalikan)

Hal-hal yang berada dalam pengaruh langsung:

  • desain program
  • kualitas mentor
  • metode pembelajaran
  • budaya organisasi
  • sistem evaluasi

B. External Locus (tidak dapat dikendalikan langsung)

  • latar belakang keluarga anak
  • ekonomi
  • pengaruh media & gadget
  • budaya masyarakat
  • karakter bawaan anak

 

KAITAN DENGAN DAS SOLLEN – DAS SEIN

Das Sollen (ideal): sering berada di wilayah yang tidak sepenuhnya bisa dikontrol
(contoh: “anak jadi berkarakter Kristus”).

Das Sein (realitas): campuran: sebagian bisa dikontrol dan sebagian tidak. Maka, program yang bijak bukan mencoba mengontrol semua, tapi memaksimalkan yang bisa dikendalikan untuk mempengaruhi yang tidak bisa dikendalikan.

 

REDEFINISI MASALAH (KRITIS)

Kesalahan umum: “Masalah: anak kecanduan gadget”. Ini external locus.

“Masalah: tidak ada sistem pembelajaran yang menarik”. Ini internal locus.

Perubahan penting dari menyalahkan kondisi menjadi membangun sistem.

 


Continue reading STARTEGI MENYUSUN PROGRAM

Hanya Orang Yang tidak Ada Kerja yang Menulis?

ged pollo

oleh: grefer pollo

 

Menulis sama dengan tidak kerja?

Kalau “hanya orang yang tidak ada kerja yang bisa menulis”, maka Rasul seperti Paulus itu pengangguran? Atau filsuf seperti Socrates itu kebanyakan waktu luang?

Padahal faktanya justru sebaliknya. Banyak tulisan besar lahir dari orang yang terlalu sibuk hidup, bukan terlalu kosong.

 

Kerja vs Menulis

Kalimat itu mengandung asumsi tersembunyi Kerja sama dengan aktivitas fisik. Menulis sama dengan aktivitas santai. Padahal secara empiris menulis adalah kerja kognitif tingkat tinggi. Membutuhkan fokus, refleksi, dan sintesis pengalaman.

Dalam dunia modern, CEO menulis strategi, peneliti menulis jurnal, pendeta menulis khotbah.

Jadi menulis bukan lawan dari kerja. Menulis itu bentuk kerja yang tidak kelihatan capeknya.

 

Fakta yang Lebih Menyakitkan

Orang yang sibuk memang sering tidak menulis. Tapi bukan karena tidak bisa, melainkan karena tidak sempat berhenti berpikir tentang apa yang dia lakukan. Ini masalahnya. Banyak orang bekerja terus, bergerak terus, tapi tidak pernah refleksi. Akhirnya hidupnya penuh aktivitas, tapi miskin makna.

 

Alkitab Lebih Tajam Lagi

Tokoh seperti Musa memimpin bangsa, tapi juga menulis hukum. Tokoh seperti Daud berperang, tapi juga menulis mazmur. Kitab Mazmur bukan ditulis di sofa santai. Itu ditulis di padang gurun, medan perang, krisis eksistensial. Artinya, menulis bukan tanda tidak kerja. Menulis adalah cara mengolah kerja menjadi hikmat.

 

Sibuk Itu Kadang Pelarian

Sekarang kita balik kalimatnya: “Banyak orang tidak menulis karena terlalu sibuk bekerja.” Kelihatannya mulia. Tapi kadang itu cuma alasan elegan untuk tidak berpikir dalam, tidak mengevaluasi hidup, tidak berhadapan dengan diri sendiri.

Menulis itu berbahaya. Karena saat menulis, kita tidak bisa lari.

 

Menulis adalah Jeda yang Produktif

Dalam filsafat, berpikir itu butuh jarak. Menulis adalah jeda dari aktivitas tapi bukan berhenti bekerja melainkan naik level dari kerja ke kesadaran. Orang yang hanya bekerja tanpa menulis seperti orang yang lari tanpa tahu arah. Orang yang menulis tanpa bekerja seperti orang yang menggambar peta tanpa pernah jalan.

 

Kesimpulan yang Sedikit Menampar

Bukan “orang tidak ada kerja yang bisa menulis.” Yang lebih tepat adalah orang yang tidak mau berhenti dari kesibukannya, tidak akan pernah menulis. Orang yang tidak pernah menulis, berisiko bekerja tanpa mengerti hidupnya sendiri.


Penutup

Kalau kamu merasa terlalu sibuk untuk menulis, hati-hati. Bisa jadi kamu bukan terlalu sibuk tapi terlalu takut untuk tahu apa sebenarnya yang sedang kamu jalani.


Continue reading Hanya Orang Yang tidak Ada Kerja yang Menulis?

Sunday, April 5, 2026

Mungkinkah Daerah Kristen di Dunia ini Tanpa Kejahatan?

 

ged pollo

oleh: grefer pollo

Seringkali pertanyaan ini muncul dalam berbagai percakapan ringan sampai serius: Mengapa di daerah mayoritas Kristen justru sering banyak masalah dan kejahatan?

Mungkin pertanyaan ini disampaikan dengan nada canda atau mungkin serius. Tetapi, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tajam dan justru membongkar ilusi yang sering tidak disadari: kita ingin “daerah Kristen” tanpa kejahatan, tapi lupa bahwa Injil justru lahir di tengah kejahatan.


Berikut beberapa pemikiran penting mengenai hal tersebut.

 

“Daerah Kristen” tidak sama dengan “Daerah Tanpa Dosa”

Secara data sosial dan sejarah, negara/daerah dengan mayoritas Kristen (misalnya di Amerika Serikat, Brasil, bahkan sebagian wilayah Indonesia seperti NTT) tetap memiliki kriminalitas, korupsi, kekerasan, dan ketidakadilan.

Bahkan sepanjang sejarah Gereja ada Perang Salib, Inkuisisi (memerangi ajaran sesat) dilakukan oleh orang yang mengaku membawa Tuhan.

Label “Kristen” tidak otomatis mengubah natur manusia. Karena masalahnya bukan agama di KTP, tapi hati yang belum diperbarui.

 

Manusia Itu Ambigu — Religius Sekaligus Rusak

Filsafat sejak Plato sampai Friedrich Nietzsche melihat manusia sebagai makhluk kontradiktif: Punya rasio sehingga bisa tahu yang baik. Punya hasrat karenanya bisa tetap melakukan yang jahat. Dalam konteks ini, agama bisa menjadi alat transformasi atau justru topeng moral. Daerah “Kristen” sering jatuh pada bahaya ini, yakni secara budaya Kristen, tapi secara eksistensial: tetap egois, rakus, penuh kuasa.

Itulah ironi: semakin religius suatu daerah, semakin canggih cara menyembunyikan dosa.

 

Injil Tidak Dikirim ke Orang Baik

Yesus sendiri tidak pernah punya misi membuat “zona steril dosa”. Justru, Ia lahir di bawah kekuasaan Herodes Agung yang membunuh bayi. Ia melayani di tengah pemungut cukai (koruptor zaman itu), pelacur, orang sakit, najis, tertolak.

Dan pernyataan paling keras dari Yesus adalah “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa.” (Markus 2:17).

Bahkan pusat Injil terjadi di Golgota. Tempat eksekusi kriminal. Orang yang pertama kali bersama Yesus di Firdaus adalah penjahat yang tersalib bersama Yesus. Artinya, Injil tidak takut kejahatan. Injil justru berfungsi di tengah kejahatan.

 

“Daerah Kristen Tanpa Kejahatan” Itu Mitos Berbahaya

Kalau suatu daerah terlihat “bersih”, bisa jadi karena dosa disembunyikan, bukan dihilangkan. Orang berdosa disingkirkan, bukan diselamatkan. Gereja jadi klub orang baik, bukan rumah orang berdosa.

Yesus justru dikritik karena “Ia makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa.” Lukas 15:1-2 berbunyi: Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka

Kalau Yesus datang ke banyak “daerah Kristen” hari ini, kemungkinan Dia akan dianggap mengganggu moral publik. Karena terlalu dekat dengan orang “bermasalah”

 

Paradoks Injil

Ini inti yang sering tidak dipahami: kalau tidak ada kejahatan maka Injil tidak relevan. Tapi kalau Injil hadir maka kejahatan seharusnya berkurang. Jadi yang benar bukan “Daerah Kristen tanpa kejahatan” tapi, daerah di mana kejahatan dihadapi, diakui, dan ditransformasi oleh Injil.

 

Kesimpulan

Dunia tanpa kejahatan adalah utopia (belum terjadi, bahkan dalam sejarah gereja). Injil bukan alat menciptakan citra sosial bersih. Injil adalah kekuatan untuk membongkar dosa, memanggil orang kepada pertobatan, memulihkan manusia. Gereja bukan museum orang suci, tapi rumah sakit bagi orang berdosa.

 

Pertanyaan Balik

Pertanyaan yang mengganggu tapi penting adalah kalau suatu daerah tidak ada orang jahat yang datang ke gereja, tidak ada pertobatan nyata, hanya orang “baik-baik” berkumpul, apakah itu tanda Injil bekerja atau justru tidak bekerja?

 


Continue reading Mungkinkah Daerah Kristen di Dunia ini Tanpa Kejahatan?