Hari itu menjadi hari yang sunyi bagi komunitas kecil di lereng bukit. Hena, sosok yang selama bertahun-tahun memimpin mereka, harus berpindah kota karena panggilan pelayanan.
Tidak ada perpisahan yang mewah,
hanya pelukan hangat, pembasuhan kaki, dan doa sederhana. "Suatu hari
nanti kalian akan menemukan pemimpin yang lebih baik," katanya sambil
tersenyum.
Beberapa bulan berlalu. Komunitas itu mulai menghadapi masalah. Kesalahpahaman muncul di antara para sahabat. Program pelayanan mulai berantakan. Beberapa orang saling menyalahkan, bahkan ada yang memilih pergi.
Anehnya, di tengah kekacauan itu, seseorang tiba-tiba berkata, "Kalau Pak Hena
masih di sini, beliau pasti mengajak kita duduk bersama sebelum mengambil
keputusan."
Kalimat itu membuat semua terdiam.
Tidak ada telepon yang diangkat. Tidak ada pesan yang
dibalas. Hena sedang melayani di tempat yang jauh dan sulit dijangkau. Namun,
tanpa disadari, cara berpikirnya masih hidup di tengah mereka.
Mereka mulai melakukan apa yang dahulu selalu diajarkan. Mereka mendengar sebelum berbicara. Mereka berdoa sebelum berdebat.
Mereka mencari solusi sebelum mencari siapa yang salah. Sedikit demi sedikit,
hubungan yang retak mulai dipulihkan.
Di situlah mereka memahami sesuatu yang selama ini
luput disadari.
"Kualitas seorang pemimpin tidak diuji ketika ia
masih berada di tengah pengikutnya, tetapi ketika ia telah pergi dan
nilai-nilai hidupnya tetap menjadi pilihan mereka."
Seorang pemimpin dapat meninggalkan jabatan dalam
sehari, tetapi ia membutuhkan bertahun-tahun untuk meninggalkan karakter di
dalam hati orang lain. Jabatan memiliki masa berlaku, sedangkan keteladanan
memiliki daya hidup tanpa due date.
Dalam dunia kepemimpinan modern, berbagai penelitian tentang organisasi menunjukkan bahwa budaya kerja yang kuat bertahan bukan karena pengawasan yang terus-menerus, melainkan karena nilai-nilai yang telah diinternalisasi oleh anggotanya.
Organisasi yang sehat tetap berjalan sekalipun
pemimpinnya berganti, sebab yang diwariskan bukan sekadar aturan, melainkan
cara berpikir dan cara hidup.
Yesus melakukan hal yang sama. Setelah Ia naik ke surga, para murid tidak lagi dapat berjalan bersama-Nya secara fisik. Namun mereka tetap menghidupi ajaran-Nya, mengampuni seperti Dia mengampuni, melayani seperti Dia melayani, dan mengasihi seperti Dia mengasihi.
Dunia berubah bukan
karena Yesus selalu hadir secara fisik, tetapi karena kehidupan-Nya tertanam
dalam kehidupan para murid.
Persahabatan sejati pun demikian. Sahabat terbaik
bukanlah yang selalu hadir di samping kita, melainkan yang meninggalkan
pengaruh sehingga ketika ia tidak lagi dapat dihubungi, nasihatnya masih
terdengar dalam setiap keputusan yang kita ambil.
"Warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah
organisasi yang ia bangun, melainkan karakter yang terus hidup ketika namanya
tidak lagi disebut."
Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan tidak diukur
dari seberapa lama seseorang memimpin, tetapi dari seberapa lama nilai-nilai
yang ia tanamkan tetap bertumbuh setelah dirinya tidak lagi bersama.