Dua Dunia
Oel hidup di kota panas, di mana matahari seperti
penguasa tunggal. Siang hari terasa panjang, malam pun masih menyimpan gerah.
Ia sering berkata, “Di sini, bahkan bayangan pun berkeringat.”
Lelo tinggal di pegunungan berkabut. Pagi selalu
basah, embun menempel di rambut, dan langkah keluar rumah seperti memasuki
dunia lain. Ia sering bergurau, “Di sini, bahkan matahari pun malu-malu.”
Dua dunia berbeda, tapi hati mereka saling mencari.
Rindu tumbuh, meski tertutup kabut tebal.
Rindu yang Tertawa
Pesan singkat jadi jembatan mereka. Oel menulis: “Hari
ini panas sekali, aku bisa goreng telur di atas kap mobil.” Lelo membalas: “Kalau
begitu kirim saja ke sini, biar aku makan sambil duduk di kabut.”
Humor kecil itu jadi cara mereka menertawakan jarak.
Namun di balik tawa, ada ayat yang mereka pegang: “Kasih itu sabar, kasih
itu murah hati” (1 Korintus 13:4). Rindu mereka diuji oleh jarak, tapi
kasih membuat mereka bertahan.
Pertemuan Pertama
Suatu hari, Oel mendapat kesempatan menghadiri
pertemuan komunitas di kota Lelo. Perjalanan panjang ditempuh. Bus yang ia
naiki panas, kipas angin hanya berputar pelan. “Kalau Paulus bisa tahan kapal
karam, aku harus tahan kipas bus ini,” gumamnya.
Sesampainya di kota Lelo, kabut tipis menyelimuti
jalan. Oel menunggu di sebuah taman. Lelo datang dengan langkah cepat, wajahnya
setengah gugup. Mereka berdua berdiri canggung, seperti dua orang yang sudah
lama saling kenal tapi baru pertama kali bertemu.
“Jadi ini kamu?” kata Lelo sambil tersenyum. “Ya, ini
aku. Tidak lebih tinggi dari bayanganmu, kan?” jawab Oel.
Tawa mereka pecah. Rindu yang selama ini samar
akhirnya menemukan bentuk.
Konflik Kecil
Setelah pertemuan, hubungan mereka semakin erat. Namun
jarak tetap jadi ujian. Suatu kali, Oel menulis panjang lebar tentang panas
yang membuatnya lelah. Lelo membalas singkat: “Aku sibuk, nanti aku jawab.”
Oel merasa diabaikan. Lelo merasa Oel terlalu
menuntut. Kesalahpahaman kecil itu membuat mereka diam beberapa hari.
Namun akhirnya, Lelo menulis: “Maaf, aku seperti
Petrus yang tenggelam karena melihat badai. Aku lupa menatap Yesus. Aku sibuk
dengan kabutku sendiri.” Oel membalas: “Aku juga salah. Aku seperti
Yunus yang lari ke panasnya perut ikan. Mari kita kembali ke doa.”
Konflik kecil itu justru membuat mereka lebih dewasa.
Mereka belajar bahwa kasih bukan hanya tentang tawa, tapi juga tentang sabar.
Ujian Iman
Jarak semakin terasa. Oel mulai bertanya-tanya: apakah
rindu ini layak dipertahankan? Lelo pun kadang merasa kabut terlalu tebal untuk
ditembus.
Namun mereka menemukan kekuatan dalam doa. Ayat yang
mereka pegang kini adalah: “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan,
sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16).
Doa mereka seperti dua aliran sungai yang bertemu di
laut. Tidak terlihat, tapi nyata.
Pertemuan Kedua
Waktu berlalu. Oel kembali ke kota Lelo, kali ini
bukan untuk urusan komunitas, tapi untuk bertemu Lelo. Pertemuan kedua lebih
matang. Tidak ada lagi canggung, hanya kehangatan.
Mereka duduk di warung kecil, makan bakso bersama.
Lelo berkata, “Kalau Yesus bisa memberi makan lima ribu orang dengan lima roti
dan dua ikan, kira-kira kita bisa kenyang dengan satu bakso berdua?” Oel
menjawab, “Bisa, asal kamu yang dapat baksonya, aku cukup kuahnya.”
Tawa mereka pecah, tapi kali ini lebih dalam. Ada rasa
aman, ada keyakinan bahwa panas dan kabut bisa bertemu.
Romantis Reflektif
Mereka mulai melihat panas dan kabut sebagai metafora
hidup. Oel berkata, “Panas mengajarkanku untuk bertahan, kabut mengajarkanmu
untuk menunggu. Kalau kita bertemu, kita belajar saling melengkapi.” Lelo
menjawab, “Ya, panas tanpa kabut terlalu keras, kabut tanpa panas terlalu
dingin. Kita butuh satu sama lain.”
Mereka tahu perjalanan masih panjang. Tapi seperti
matahari yang akhirnya menembus kabut, mereka percaya kasih akan menemukan
jalan.
Epilog
Oel kembali ke kota panasnya, Lelo tetap di daerah
kabut embun. Jarak tetap ada, tapi hati mereka sudah menemukan rumah.
Seperti ayat yang mereka pegang: “Segala sesuatu
ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Mereka percaya, suatu hari nanti, panas
dan kabut akan bertemu dalam satu ruang yang sama—tanpa lagi ada jarak, tanpa
lagi ada rindu yang tertutup.