Ketika gereja kehilangan daya tarik Injil, biasanya bukan karena
Injilnya menjadi lemah. Injil tetap memiliki kekuatan yang sama sejak abad
pertama. Yang berubah adalah cara gereja memahaminya, menghidupinya, dan
menyampaikannya.
Ada beberapa fenomena yang sering terjadi.
Injil Diganti Dengan Moralitas
Banyak gereja tanpa sadar mengganti Injil tentang anugerah menjadi agama
tentang perilaku baik.
Padahal inti Injil bukan: “Jadilah orang baik.” Atau “Hiduplah lebih
bermoral.”
Inti Injil adalah: Allah menyelamatkan manusia berdosa melalui Yesus.
Ketika gereja hanya berbicara tentang: aturan, etika, kewajiban maka
yang tersisa hanyalah agama moral, bukan Injil.
Akibatnya:
- orang muda
merasa gereja hanya tempat menghakimi
- orang
berdosa merasa tidak punya tempat
- gereja
kehilangan daya tarik.
Injil Diganti Dengan Motivasi
Di banyak tempat, khotbah berubah menjadi:
- motivasi
hidup
- tips sukses
- psikologi
populer.
Injil berbicara tentang:
- dosa
- pertobatan
- salib
- penebusan
- kelahiran
baru.
Jika gereja hanya memberi motivasi, orang mungkin terhibur, tetapi tidak mengalami transformasi.
Injil Diganti Dengan Institusi
Sering kali gereja lebih sibuk dengan:
- struktur
organisasi
- jabatan
- rapat
- program
- pembangunan
gedung.
Di abad pertama, gereja tidak memiliki:
- gedung
- organisasi
besar
- anggaran
besar
tetapi Injilnya mengguncang dunia Romawi. Masalahnya bukan fasilitas,
tetapi fokus.
Injil Kehilangan Dimensi Salib
Salib adalah bagian yang paling tidak nyaman dari Injil.
Salib berbicara tentang:
- dosa
manusia yang serius
- kematian
diri
- penyerahan
hidup
- harga
mengikuti Kristus.
Namun banyak gereja lebih suka berbicara tentang:
- berkat
- kemenangan
- kemakmuran.
Injil Tidak Lagi Terlihat Dalam Hidup Jemaat
Daya tarik Injil sebenarnya bukan hanya pada kata-kata, tetapi pada kehidupan
komunitas.
Dalam gereja mula-mula orang berkata: “Lihatlah bagaimana mereka saling
mengasihi.”
Jika gereja dipenuhi oleh:
- konflik
- persaingan
- politik
internal
- ambisi
pribadi
- perpecahan
gereja ---- lahir jemaat baru karena perpecahan
maka dunia tidak melihat Injil yang hidup.
Gereja Kehilangan Imajinasi Kerajaan Allah
Injil Yesus sebenarnya adalah Injil Kerajaan Allah. Artinya:
- Injil
menyentuh kehidupan
- ekonomi
- keadilan
- relasi
- keluarga
- masyarakat.
Padahal Yesus mengubah: orang miskin, orang sakit, orang tersingkir, struktur sosial yang tidak adil.
Ironinya, masalah gereja hari ini bukan karena dunia tidak tertarik pada Injil. Justru banyak orang mencari makna hidup, pengampunan, harapan, komunitas. Tetapi yang sering mereka temukan di gereja adalah agama, aturan, institusi, program.
Bukan kabar baik yang membebaskan.
Tanda Gereja Yang Injilnya Masih Hidup
Jika Injil benar-benar hidup di sebuah gereja, biasanya terlihat dari
hal-hal ini:
- Orang berdosa merasa diterima tetapi dipanggil berubah
- Orang miskin memiliki tempat terhormat
- Orang muda menemukan makna hidup
- Komunitas gereja memiliki kasih yang nyata
- Kristus menjadi pusat, bukan manusia.
Akhirnya, supaya orang atau jemaat tetap ada di gereja maka gereja menggantikan Injil dengan materi, makanan dan minuman. Injil diganti dengan bonus, undian berhadiah, Injil diganti dengan fasilitas, glowing, flexing, pencitraan, mujizat palsu.
Mengapa Gereja Abad Pertama Sangat Menarik bagi Romawi, Tetapi Banyak
Gereja Modern Kehilangan Daya Tariknya?
Pada abad pertama, dunia Romawi tidak mengenal gereja sebagai institusi
megah dengan mimbar, gedung, dan program. Namun justru pada masa itu gerakan
Kristen berkembang paling cepat dan paling mengganggu tatanan dunia lama.
Dalam waktu sekitar tiga abad, sebuah kelompok kecil pengikut seorang
guru Yahudi yang disalibkan berhasil mengubah pusat kekaisaran Romawi.
Ironisnya, banyak gereja modern dengan sumber daya jauh lebih besar justru
semakin kehilangan daya tarik sosial dan spiritualnya. Mengapa?
Jawabannya bukan terutama soal teknologi, metode, atau budaya.
Masalahnya lebih dalam: perbedaan karakter antara gereja abad pertama dan
banyak gereja modern.
Gereja Abad Pertama Menghidupi Injil Radikal, Gereja Modern Sering
Melunakkannya
Pesan para rasul sangat radikal. Mereka memberitakan bahwa Yesus
adalah Tuhan, sebuah pernyataan yang secara politis berbahaya di dunia
Romawi karena gelar itu secara resmi milik Kaisar.
Tokoh seperti Yesus Kristus dan para rasul seperti Rasul Paulus tidak
menawarkan agama yang nyaman. Mereka menawarkan kerajaan baru yang menuntut
pertobatan total.
Paulus menulis: “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan.” (1 Korintus
1:23)
Dalam budaya Romawi, penyaliban adalah hukuman paling memalukan. Namun
gereja awal justru menjadikan simbol itu pusat imannya.
Sebaliknya, banyak gereja modern cenderung mengganti pesan salib dengan
pesan kenyamanan: kesuksesan, motivasi, atau kebahagiaan pribadi.
Injil yang dulunya mengguncang sistem kini sering dipresentasikan
seperti seminar pengembangan diri.
Akibatnya, dunia tidak lagi merasa tertantang.
Gereja Abad Pertama Komunitas Hidup, Gereja Modern Sering Menjadi Acara
Mingguan
Gereja mula-mula bukan organisasi, melainkan cara hidup bersama.
Kitab Kisah Para Rasul menggambarkan kehidupan mereka:
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan… dan
segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.” (Kisah 2:42–44)
Orang-orang Romawi melihat sesuatu yang tidak biasa:
- Budak
dan tuan makan bersama
- Orang
kaya berbagi dengan miskin
- Wanita
dihargai sebagai bagian komunitas
- Orang
asing diterima sebagai keluarga
Ini sangat kontras dengan struktur sosial Romawi yang kaku.
Sebaliknya, banyak gereja modern berubah menjadi kegiatan dua jam
setiap minggu. Komunitas digantikan oleh program.
Dunia tidak terkesan oleh program. Dunia terkesan oleh kehidupan yang
berbeda.
Gereja Abad Pertama Berani Mati, Gereja Modern Sering Takut Tidak
Disukai
Pertumbuhan gereja awal terjadi di bawah penganiayaan.
Tokoh seperti Nero dan kemudian Diocletian melakukan penindasan brutal
terhadap orang Kristen.
Namun sesuatu yang aneh terjadi: penganiayaan justru mempercepat
pertumbuhan gereja. Sejarawan gereja awal Tertullian menulis kalimat terkenal: “Darah
para martir adalah benih gereja.”
Orang Romawi melihat keberanian yang tidak masuk akal. Mengapa orang
rela mati demi seorang Mesias yang disalibkan? Keberanian itu menimbulkan rasa
ingin tahu.
Sebaliknya, banyak gereja modern sering lebih takut kehilangan reputasi
sosial daripada kehilangan kesetiaan pada Injil.
Gereja Abad Pertama Mengasihi Secara Praktis
Di tengah wabah dan kemiskinan, gereja awal melakukan sesuatu yang
jarang dilakukan orang Romawi: mereka merawat orang sakit dan miskin.
Bahkan penulis non-Kristen seperti Julian the Apostate mengeluh bahwa
orang Kristen: tidak hanya menolong orang mereka sendiri, tetapi juga
orang-orang pagan.
Kasih yang nyata menjadi kesaksian paling kuat.
Sebaliknya, ketika gereja modern lebih dikenal karena konflik internal
atau politik daripada pelayanan kepada orang lemah, daya tarik moralnya
menurun.
Gereja Abad Pertama Bergantung pada Roh Kudus, Gereja Modern Sering
Bergantung pada Sistem
Gereja awal tidak memiliki:
- gedung
gereja
- struktur
organisasi besar
- strategi
pemasaran
Namun mereka memiliki keyakinan kuat akan kuasa Allah.
Dalam Kisah Para Rasul, gereja bertumbuh karena doa, mukjizat,
keberanian, dan penginjilan spontan.
Sebaliknya, banyak gereja modern sangat terorganisir tetapi kadang
kehilangan dinamika spiritual yang sama.
Efisiensi organisasi tidak selalu menghasilkan transformasi spiritual.
Kesimpulan
Masalah utama gereja modern mungkin bukan kurang relevan dengan dunia. Justru
sebaliknya.
Banyak gereja menjadi terlalu mirip dengan dunia sehingga dunia
tidak lagi melihat sesuatu yang berbeda.
Gereja abad pertama menarik bukan karena mereka menyesuaikan diri dengan
budaya Romawi, tetapi karena mereka menghadirkan budaya alternatif:
kerajaan Allah.
Dan paradoksnya, justru karena mereka berbeda bahkan dianggap aneh, maka
dunia mulai memperhatikan.
Pertanyaannya bagi gereja hari ini bukan: “Bagaimana kita membuat gereja
lebih menarik?”
Melainkan: “Apakah kita masih hidup seperti gereja yang diceritakan
dalam Kisah Para Rasul?”
Jika jawabannya tidak, maka kehilangan daya tarik mungkin bukan masalah
strategi.
Melainkan masalah identitas.