Tuesday, February 17, 2026

Pendalaman Alkitab: 5 Bahasa Kasih bagi Remaja

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Tujuan

  • Remaja memahami bahwa kasih adalah inti kehidupan Kristen (1 Korintus 13:1-3).
  • Remaja mengenali bahasa kasih yang paling menyentuh dirinya.
  • Remaja belajar mengekspresikan kasih Kristus kepada sesama dengan cara yang nyata.

 

1. Kata-Kata Penguatan (Words of Affirmation)

  • Ayat dasar: Amsal 16:24 – Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan menyembuhkan bagi tulang-tulang.
  • Contoh praktik: Memberi pujian tulus, mengucapkan terima kasih, menguatkan teman yang sedang sedih.
  • Diskusi: Bagaimana kata-kata kita bisa menjadi berkat, bukan luka?

 

2. Waktu Berkualitas (Quality Time)

  • Ayat dasar: Markus 3:14 – Yesus memanggil murid-murid-Nya “untuk menyertai Dia.”
  • Contoh praktik: Meluangkan waktu mendengarkan teman, ikut kegiatan rohani bersama, tidak sibuk dengan gadget saat berbicara.
  • Diskusi: Mengapa kehadiran lebih penting daripada sekadar hadiah?


3. Tindakan Melayani (Acts of Service)

  • Ayat dasar: Galatia 5:13 – Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
  • Contoh praktik: Membantu teman mengerjakan tugas, menolong orang tua di rumah, ikut pelayanan di gereja.
  • Diskusi: Apa bedanya melayani karena terpaksa dengan melayani karena kasih?

 

4. Hadiah (Receiving Gifts)

  • Ayat dasar: Yakobus 1:17 – Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas.
  • Contoh praktik: Memberikan kartu ucapan, hadiah kecil, atau kejutan sederhana.
  • Diskusi: Bagaimana hadiah bisa menjadi simbol kasih, bukan sekadar materi?

 

5. Sentuhan Fisik (Physical Touch)

  • Ayat dasar: Markus 10:16 – Yesus memeluk anak-anak dan memberkati mereka.
  • Contoh praktik: Jabat tangan, pelukan hangat, tepukan bahu untuk menguatkan.
  • Diskusi: Bagaimana sentuhan sederhana bisa membawa rasa aman dan kasih?

 

Aktivitas Pendalaman

  • Icebreaker: Remaja menebak bahasa kasih utama masing-masing lewat cerita singkat.
  • Diskusi kelompok: Bagikan pengalaman kapan merasa paling dikasihi.
  • Refleksi pribadi: Tuliskan satu tindakan kasih yang akan dilakukan minggu ini sesuai bahasa kasih teman terdekat.
  • Doa penutup: Memohon agar kasih Kristus nyata dalam setiap bahasa kasih kita.

 

Kerjakan kuis: Apa itu 5 Bahasa Kasih? ~ BELAJAR, BUKAN SUPAYA PINTAR

Continue reading Pendalaman Alkitab: 5 Bahasa Kasih bagi Remaja

Apa itu 5 Bahasa Kasih?

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Konsep 5 Bahasa Kasih diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman, seorang pendeta, konselor pernikahan, dan penulis buku The Five Love Languages (1992).

Ia mengamati bahwa setiap orang memiliki cara utama untuk merasakan dan mengekspresikan cinta. 

Seperti bahasa komunikasi, jika pasangan atau orang terdekat tidak “berbicara” bahasa kasih yang kita pahami, kita bisa merasa tidak dicintai meskipun sebenarnya mereka sedang berusaha menunjukkan kasih.


Lima Bahasa Kasih

Bahasa Kasih

Bentuk Ekspresi

Contoh Praktis

Words of Affirmation (Kata-kata peneguhan)

Pujian, ucapan sayang, dorongan

“Aku bangga padamu”, “Terima kasih atas kerja kerasmu”

Acts of Service (Tindakan melayani)

Membantu, melakukan sesuatu untuk orang lain

Menyiapkan makanan, membantu pekerjaan rumah

Receiving Gifts (Menerima hadiah)

Memberikan tanda kasih berupa benda

Memberi bunga, hadiah ulang tahun

Quality Time (Waktu berkualitas)

Memberi perhatian penuh, hadir bersama

Jalan bersama, ngobrol tanpa gangguan

Physical Touch (Sentuhan fisik)

Sentuhan penuh kasih

Pelukan, genggaman tangan, tepukan lembut

 

Apakah konsep ini Alkitabiah?

  • Alkitab menekankan kasih sebagai inti kehidupan iman: “Kasihilah Tuhan Allahmu… dan kasihilah sesamamu manusia” (Matius 22:37-39).
  • Walau istilah “5 bahasa kasih” tidak muncul dalam Alkitab, prinsipnya selaras dengan ajaran Kristen: kasih harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar perasaan.
  • Jadi, konsep ini bisa dipandang sebagai alat praktis untuk menghidupi kasih yang Alkitabiah.

Bagaimana mengetahui bahasa kasih utama?

  1. Refleksi diri: Perhatikan apa yang membuat Anda paling merasa dicintai.
  2. Observasi: Lihat bagaimana Anda biasanya mengekspresikan kasih kepada orang lain.
  3. Lakukan Tes Bahasa Kasih
  4. Diskusi: Tanyakan langsung pada pasangan/teman tentang apa yang membuat mereka merasa dihargai.

Cara menerapkannya

  • Dalam keluarga: Orang tua bisa mengekspresikan kasih sesuai bahasa anak (misalnya pelukan untuk anak yang suka sentuhan).
  • Dalam pernikahan: Pasangan belajar “berbicara” bahasa kasih satu sama lain.
  • Dalam komunitas: Pemimpin bisa memperhatikan bahasa kasih anggota untuk membangun kedekatan.

Hal penting yang perlu diketahui

  • Bahasa kasih bisa berubah sesuai fase hidup.
  • Setiap orang punya kombinasi, tapi biasanya ada satu yang dominan.
  • Kesalahpahaman sering terjadi bila kita mengekspresikan kasih dengan bahasa yang berbeda dari yang dipahami orang lain.

Contoh kasus sederhana

  • Kasus: Seorang istri sering menyiapkan makanan (Acts of Service), tapi suami merasa tidak dicintai karena ia butuh kata-kata peneguhan (Words of Affirmation).
  • Solusi: Istri mulai menambahkan ucapan “Aku bangga padamu” sambil tetap melayani. Suami pun merasa lebih dicintai.


Kisah nyata

  • Ada pasangan yang hampir bercerai karena merasa “tidak dicintai”. Setelah mengikuti konseling dan memahami bahasa kasih masing-masing, mereka mulai mengekspresikan kasih dengan cara yang tepat. Sang suami yang sebelumnya jarang berbicara mulai memberi pujian, dan sang istri yang tadinya merasa hampa mulai merasakan cinta kembali.
  • Ada pasangan yang mengikuti tes ini dan menemukan bahwa sang suami dominan di Acts of Service, sementara sang istri di Words of Affirmation. Sebelumnya, suami sering membantu pekerjaan rumah tapi istrinya tetap merasa kurang dicintai. Setelah tahu hasil tes, suami mulai menambahkan kata-kata pujian sederhana setiap hari. Hasilnya, hubungan mereka menjadi lebih hangat dan harmonis.


Tes Sederhana 5 Bahasa Kasih

Instruksi:
Baca setiap pertanyaan dan pilih jawaban yang paling sesuai dengan diri Anda. Catat huruf yang paling sering muncul; itulah indikasi bahasa kasih utama Anda.

 

Pertanyaan

  1. Saat seseorang menunjukkan kasih kepada saya, saya paling merasa dicintai ketika mereka…
    • A. Mengatakan kata-kata manis atau pujian.
    • B. Membantu saya melakukan sesuatu.
    • C. Memberikan hadiah kecil yang penuh makna.
    • D. Meluangkan waktu bersama saya tanpa gangguan.
    • E. Memberi pelukan atau sentuhan hangat.
  2. Jika saya sedang sedih, hal yang paling menghibur adalah…
    • A. Mendengar kata-kata penyemangat.
    • B. Ada yang membantu meringankan beban saya.
    • C. Diberi sesuatu yang menunjukkan perhatian.
    • D. Ditemani dan diajak bicara dengan penuh perhatian.
    • E. Dipeluk atau disentuh dengan penuh kasih.
  3. Dalam hubungan, saya paling kecewa jika pasangan/teman…
    • A. Tidak pernah memuji atau mengucapkan kata-kata positif.
    • B. Tidak mau membantu saya.
    • C. Tidak pernah memberi tanda perhatian berupa hadiah.
    • D. Jarang meluangkan waktu bersama saya.
    • E. Menghindari sentuhan fisik.
  4. Saat ingin menunjukkan kasih kepada orang lain, saya biasanya…
    • A. Memberi kata-kata dorongan.
    • B. Membantu mereka melakukan sesuatu.
    • C. Memberi hadiah kecil.
    • D. Mengajak mereka menghabiskan waktu bersama.
    • E. Memberi pelukan atau sentuhan.

Cara Menilai

  • Hitung huruf yang paling sering muncul.
  • A = Words of Affirmation
  • B = Acts of Service
  • C = Receiving Gifts
  • D = Quality Time
  • E = Physical Touch

Bahasa kasih utama Anda adalah huruf dengan jumlah terbanyak. Jika ada dua huruf sama kuat, berarti Anda punya kombinasi bahasa kasih.


Contoh Kasus

  • Hasil Tes: Seorang anak remaja paling banyak memilih D (Quality Time).
  • Penerapan: Orang tua bisa meluangkan waktu khusus setiap minggu untuk ngobrol atau jalan bersama, bukan sekadar memberi hadiah. Anak akan merasa lebih dicintai.

 

Lembar Kerja Lengkap – Tes 5 Bahasa Kasih

Bagian 1: Kuis Pilihan

Instruksi:

  • Baca setiap pernyataan.
  • Pilih jawaban yang paling sesuai dengan diri Anda.
  • Beri tanda centang () pada kolom pilihan.
  • Hitung jumlah pilihan per huruf (A–E).
  • Bahasa kasih utama Anda adalah huruf dengan skor tertinggi.

No

Pernyataan

A (Words)

B (Service)

C (Gifts)

D (Time)

E (Touch)

1

Saya merasa paling dicintai ketika…

Mendengar kata-kata manis

Dibantu melakukan sesuatu

Diberi hadiah kecil

Ditemani tanpa gangguan

Dipeluk/digenggam

2

Saat sedih, saya paling terhibur jika…

Mendengar dorongan

Ada yang membantu

Diberi tanda perhatian

Ditemani ngobrol

Dipeluk hangat

3

Saya paling kecewa jika pasangan/teman…

Tidak pernah memuji

Tidak mau membantu

Tidak pernah memberi hadiah

Jarang meluangkan waktu

Menghindari sentuhan

4

Cara saya biasanya menunjukkan kasih adalah…

Memberi kata-kata positif

Membantu pekerjaan

Memberi hadiah

Mengajak bersama

Memberi pelukan

 

Skor:

Huruf

Bahasa Kasih

Jumlah

A

Words of Affirmation

B

Acts of Service

C

Receiving Gifts

D

Quality Time

E

Physical Touch

 

Bahasa kasih utama saya adalah: ____________

 

Bagian 2: Refleksi Naratif

Instruksi: Tuliskan jawaban singkat (1–3 kalimat) untuk setiap pertanyaan.

  1. Kapan terakhir kali Anda merasa sangat dicintai? Apa yang dilakukan orang lain sehingga Anda merasa demikian?
  2. Jika Anda sedang lelah atau sedih, hal apa yang paling cepat membuat Anda merasa diperhatikan?
  3. Bayangkan ulang tahun Anda. Apa yang paling membuat Anda bahagia: ucapan hangat, hadiah, waktu bersama, bantuan, atau pelukan?
  4. Dalam hubungan dengan orang lain, hal apa yang paling sering Anda lakukan untuk menunjukkan kasih?
  5. Apa hal kecil yang jika hilang dari hubungan, membuat Anda merasa kurang dicintai?


Analisis:

  • Cocokkan jawaban dengan kategori bahasa kasih.
  • Lihat pola dominan dari jawaban Anda.


Contoh Penerapan

  • Jika hasilnya D (Quality Time): Luangkan waktu khusus setiap minggu untuk bercakap-cakap/berbicara atau jalan bersama.
  • Jika hasilnya B (Acts of Service): Tunjukkan kasih dengan membantu pekerjaan rumah atau tugas sehari-hari.


Aktivitas Kelompok

  1. Bagikan hasil tes kepada pasangan/teman.
  2. Diskusikan: Apakah bahasa kasih Anda sama atau berbeda?
  3. Buat rencana kecil: bagaimana Anda bisa mengekspresikan kasih sesuai bahasa utama orang lain minggu ini.

Dengan format ini, peserta tidak hanya mendapat hasil kuis numerik, tetapi juga refleksi pribadi yang memperdalam pemahaman.

 

Continue reading Apa itu 5 Bahasa Kasih?

Sunday, February 15, 2026

Kisah Oel dan Lelo

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Dua Dunia

Oel hidup di kota panas, di mana matahari seperti penguasa tunggal. Siang hari terasa panjang, malam pun masih menyimpan gerah. Ia sering berkata, “Di sini, bahkan bayangan pun berkeringat.”

Lelo tinggal di pegunungan berkabut. Pagi selalu basah, embun menempel di rambut, dan langkah keluar rumah seperti memasuki dunia lain. Ia sering bergurau, “Di sini, bahkan matahari pun malu-malu.”

Dua dunia berbeda, tapi hati mereka saling mencari. Rindu tumbuh, meski tertutup kabut tebal.

 

Rindu yang Tertawa

Pesan singkat jadi jembatan mereka. Oel menulis: “Hari ini panas sekali, aku bisa goreng telur di atas kap mobil.” Lelo membalas: “Kalau begitu kirim saja ke sini, biar aku makan sambil duduk di kabut.”

Humor kecil itu jadi cara mereka menertawakan jarak. Namun di balik tawa, ada ayat yang mereka pegang: “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati” (1 Korintus 13:4). Rindu mereka diuji oleh jarak, tapi kasih membuat mereka bertahan.

 

Pertemuan Pertama

Suatu hari, Oel mendapat kesempatan menghadiri pertemuan komunitas di kota Lelo. Perjalanan panjang ditempuh. Bus yang ia naiki panas, kipas angin hanya berputar pelan. “Kalau Paulus bisa tahan kapal karam, aku harus tahan kipas bus ini,” gumamnya.

Sesampainya di kota Lelo, kabut tipis menyelimuti jalan. Oel menunggu di sebuah taman. Lelo datang dengan langkah cepat, wajahnya setengah gugup. Mereka berdua berdiri canggung, seperti dua orang yang sudah lama saling kenal tapi baru pertama kali bertemu.

“Jadi ini kamu?” kata Lelo sambil tersenyum. “Ya, ini aku. Tidak lebih tinggi dari bayanganmu, kan?” jawab Oel.

Tawa mereka pecah. Rindu yang selama ini samar akhirnya menemukan bentuk.

 

Konflik Kecil

Setelah pertemuan, hubungan mereka semakin erat. Namun jarak tetap jadi ujian. Suatu kali, Oel menulis panjang lebar tentang panas yang membuatnya lelah. Lelo membalas singkat: “Aku sibuk, nanti aku jawab.”

Oel merasa diabaikan. Lelo merasa Oel terlalu menuntut. Kesalahpahaman kecil itu membuat mereka diam beberapa hari.

Namun akhirnya, Lelo menulis: “Maaf, aku seperti Petrus yang tenggelam karena melihat badai. Aku lupa menatap Yesus. Aku sibuk dengan kabutku sendiri.” Oel membalas: “Aku juga salah. Aku seperti Yunus yang lari ke panasnya perut ikan. Mari kita kembali ke doa.”

Konflik kecil itu justru membuat mereka lebih dewasa. Mereka belajar bahwa kasih bukan hanya tentang tawa, tapi juga tentang sabar.

 

Ujian Iman

Jarak semakin terasa. Oel mulai bertanya-tanya: apakah rindu ini layak dipertahankan? Lelo pun kadang merasa kabut terlalu tebal untuk ditembus.

Namun mereka menemukan kekuatan dalam doa. Ayat yang mereka pegang kini adalah: “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16).

Doa mereka seperti dua aliran sungai yang bertemu di laut. Tidak terlihat, tapi nyata.

 

Pertemuan Kedua

Waktu berlalu. Oel kembali ke kota Lelo, kali ini bukan untuk urusan komunitas, tapi untuk bertemu Lelo. Pertemuan kedua lebih matang. Tidak ada lagi canggung, hanya kehangatan.

Mereka duduk di warung kecil, makan bakso bersama. Lelo berkata, “Kalau Yesus bisa memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, kira-kira kita bisa kenyang dengan satu bakso berdua?” Oel menjawab, “Bisa, asal kamu yang dapat baksonya, aku cukup kuahnya.”

Tawa mereka pecah, tapi kali ini lebih dalam. Ada rasa aman, ada keyakinan bahwa panas dan kabut bisa bertemu.

 

Romantis Reflektif

Mereka mulai melihat panas dan kabut sebagai metafora hidup. Oel berkata, “Panas mengajarkanku untuk bertahan, kabut mengajarkanmu untuk menunggu. Kalau kita bertemu, kita belajar saling melengkapi.” Lelo menjawab, “Ya, panas tanpa kabut terlalu keras, kabut tanpa panas terlalu dingin. Kita butuh satu sama lain.”

Mereka tahu perjalanan masih panjang. Tapi seperti matahari yang akhirnya menembus kabut, mereka percaya kasih akan menemukan jalan.

 

Epilog

Oel kembali ke kota panasnya, Lelo tetap di daerah kabut embun. Jarak tetap ada, tapi hati mereka sudah menemukan rumah.

Seperti ayat yang mereka pegang: “Segala sesuatu ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Mereka percaya, suatu hari nanti, panas dan kabut akan bertemu dalam satu ruang yang sama—tanpa lagi ada jarak, tanpa lagi ada rindu yang tertutup.


Continue reading Kisah Oel dan Lelo

Tuesday, February 10, 2026

Pikul Salib Gereja Masa Kini

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Lukas 9:23: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."

1. Mmakna literal

  • Menyangkal diri (παρνησάσθω αυτόν / aparnēsasthō heauton) Secara etimologis, kata Yunani aparneomai berarti “menolak, menyangkal, tidak mengakui.” ----à Seorang murid harus menolak hak egoisnya, tidak menempatkan diri sebagai pusat.
  • Memikul salib (ράτω τν σταυρόν / aratō ton stauron) Kata stauros berarti “tiang, salib” yang dalam konteks Romawi adalah alat eksekusi. -----à Kesiapan menghadapi penderitaan, bahkan kematian, sebagai konsekuensi mengikuti Yesus.
  • Mengikut Aku (κολουθείτω μοι / akoloutheitō moi) Kata akoloutheō berarti “mengiringi, berjalan bersama.” ----à Tindakan nyata mengikuti jejak Yesus, bukan sekadar pengakuan verbal.

2. Mmakna tafsir/kiasan

  • Menyangkal diri → bukan hanya menolak ego, tetapi juga meninggalkan identitas lama yang terikat dosa. Dalam tradisi rabinik, “menyangkal” bisa berarti teshuvah (pertobatan), kembali kepada Allah dengan meninggalkan jalan lama.
  • Memikul salib setiap hari → salib menjadi simbol penderitaan, tanggung jawab, dan panggilan. “Setiap hari” menekankan kontinuitas: bukan sekali, melainkan ritme hidup yang konsisten. Dalam tafsir patristik, ini berarti menerima kesulitan hidup sebagai bagian dari formasi rohani.
  • Mengikut Aku → perjalanan eksistensial: bukan sekadar mengikuti secara fisik, tetapi meneladani pola hidup Kristus (kerendahan hati, kasih, pengorbanan). Dalam tradisi gereja awal, ini dipahami sebagai imitatio Christi (peneladanan Kristus).

3. Etimologi sebagai jembatan

  • Aparneomai (menyangkal) → menolak klaim kepemilikan diri.
  • Stauros (salib) → dari akar kata yang menunjuk pada “tiang tegak,” menjadi lambang penderitaan dan kemenangan.
  • Akoloutheō (mengikut) → gabungan a- (bersama) dan keleuthos (jalan), artinya “berjalan di jalan yang sama.”

 

Refleksi

Ayat ini mengajak kita melihat iman bukan sekadar pengakuan, tetapi sebuah jalan yang menuntut penyangkalan diri, kesetiaan harian, dan kesediaan berjalan bersama Kristus dalam segala konsekuensi.

 

Gereja mula-mula pada 300-an tahun awal masehi

Selama 300-an tahun pertama, gereja mula-mula memang tidak memiliki rumah ibadah resmi, tidak punya kekuatan politik, bahkan sering ditekan dan ditindas. Namun, ada beberapa faktor kunci yang menjelaskan mengapa mereka justru bertumbuh pesat dan akhirnya “mengalahkan” Roma tanpa senjata:

Faktor Utama Pertumbuhan Gereja Mula-Mula

  • Kesaksian hidup dan kasih radikal Komunitas Kristen dikenal karena solidaritasnya: merawat orang miskin, janda, yatim, bahkan orang sakit saat wabah. Ini kontras dengan masyarakat Romawi yang cenderung individualis. Kasih praktis ini menarik banyak orang.
  • Martir sebagai saksi iman Darah para martir menjadi benih gereja. Keteguhan iman mereka di hadapan penganiayaan memberi kesaksian kuat bahwa iman Kristen lebih berharga daripada hidup itu sendiri. Hal ini menimbulkan rasa hormat dan ketertarikan.
  • Jaringan komunitas yang inklusif Gereja mula-mula membuka diri bagi semua golongan: budak, perempuan, orang miskin, bahkan bangsa non-Yahudi. Dalam dunia Romawi yang hierarkis, inklusivitas ini revolusioner.
  • Keyakinan eskatologis dan pengharapan Orang Kristen hidup dengan pengharapan akan kebangkitan dan kerajaan Allah. Ini memberi kekuatan menghadapi penderitaan, sekaligus menawarkan jawaban atas kegelisahan spiritual masyarakat Romawi.
  • Strategi misi dan penyebaran Mengikuti amanat Yesus (Great Commission), orang Kristen aktif menyebarkan Injil melalui jaringan sosial, perdagangan, dan perjalanan. Paulus dan para misionaris awal menggunakan kota-kota besar sebagai pusat penyebaran.
  • Kelemahan agama Romawi tradisional Kultus pagan Romawi mulai kehilangan daya tarik karena ritualnya formal dan kurang memberi jawaban eksistensial. Kristen menawarkan relasi pribadi dengan Allah dan etika hidup yang jelas.

baca juga: Di Rumah Yang Kudus Tapi Luka

 

Roma ditaklukkan bukan dengan pedang, melainkan dengan kesaksian hidup, kasih, dan pengharapan. Gereja mula-mula menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukanlah senjata atau kuasa politik, melainkan transformasi hati dan komunitas yang hidup dalam kasih Kristus.

 

Perbandingan Gereja Awal (300 Tahun Pertama) vs Gereja Masa Kini

Gereja Awal (±30–313 M)

  • Tanpa senjata, tanpa rumah ibadah resmi → ibadah di rumah-rumah, katakombe, atau tempat tersembunyi.
  • Ditindas dan dianiaya → namun tetap bertumbuh karena kesaksian iman, kasih, dan pengharapan.
  • Komunitas inklusif → menerima budak, perempuan, orang miskin, dan bangsa lain.
  • Spirit pengorbanan → martir menjadi teladan iman, penderitaan dianggap bagian dari mengikuti Kristus.
  • Kesederhanaan dan fokus pada misi → Injil disebarkan melalui relasi, perdagangan, dan perjalanan.

 

Gereja Masa Kini

  • Kebebasan beribadah → memiliki gedung megah, fasilitas lengkap, bahkan teknologi canggih.
  • Cenderung hedonis → sebagian gereja terjebak dalam budaya konsumtif, kemewahan, dan pencitraan.
  • Komunitas eksklusif → kadang lebih menekankan status sosial daripada inklusivitas.
  • Spirit kenyamanan → penderitaan dan pengorbanan sering dihindari, lebih fokus pada “berkat materi.”
  • Misi melemah → Injil kadang dikaburkan oleh agenda pribadi, popularitas, atau tren dunia.


 baca juga: Butuh 1000 Bulan Untuk Bangun Karakter


 Konsekuensi Perbedaan

  • Gereja Awal → meski ditekan, justru bertumbuh pesat karena kesaksian hidup yang autentik. Roma akhirnya “ditaklukkan” oleh kasih dan iman Kristen.
  • Gereja Masa Kini → jika terus terjebak hedonisme, ada risiko kehilangan daya rohani, kehilangan kesaksian, dan menjadi tidak relevan bagi dunia. Gereja bisa tampak kuat secara institusi, tetapi lemah secara spiritual.

 

Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan gereja bukan pada gedung, senjata, atau fasilitas, melainkan pada kesaksian hidup yang radikal dalam kasih dan pengorbanan. Gereja masa kini perlu bercermin pada gereja awal: apakah kita masih hidup dengan semangat menyangkal diri dan memikul salib, atau justru lebih sibuk mengejar kenyamanan?

 

Continue reading Pikul Salib Gereja Masa Kini