Ungkapan
“Eli, Eli, lama sabaktani?” (Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku)
sering terdengar seperti jeritan putus asa. Tapi kalau kita berhenti di
permukaan itu saja, kita kehilangan kedalaman yang justru penuh harapan.
Bukan Kalimat Putus Asa Biasa
Kalimat
ini dikutip oleh Yesus Kristus dari Mazmur 22. Dan ini penting, Mazmur 22 tidak
berakhir dengan keputusasaan, tapi dengan kemenangan dan pemulihan.
Jadi,
ini bukan sekadar “Aku ditinggalkan.” Tapi lebih seperti “Aku sedang masuk ke
cerita yang akan berakhir dengan pemulihan.” Seperti seseorang yang
membaca awal novel sedih, tapi dia sudah tahu ending-nya bahagia.
Pola “3 Hari”: Sunyi → Gelap → Hidup
Alkitab
penuh pola ini:
- Kitab Ester: Ester puasa 3
hari, lalu pembalikan nasib terjadi.
- Yesus Kristus: kematian 3
hari lalu kebangkitan.
- Banyak kisah lain: selalu
ada fase “diamnya Tuhan” sebelum perubahan.
Secara
filosofis, makna tidak hilang. Ia sedang diproses dalam diam. Jadi
“ditinggalkan” itu bukan akhir, tapi ruang tunggu transformasi.
Ulat Kirmizi: Simbol yang Aneh tapi Dalam
Dalam
tradisi Ibrani ada gambaran tentang ulat kirmizi (tola):
- Menempel di kayu
- Mengorbankan diri untuk
memberi warna merah
- Setelah mati,
meninggalkan warna yang menetap
Ini
paralel dengan:
- penderitaan
- pengorbanan
- lalu menghasilkan sesuatu
yang baru
Dan
menariknya, Mazmur 22 juga menyebut “Aku ini ulat, bukan manusia”. Artinya? Kehinaan
yang terlihat justru bagian dari proses kemuliaan yang tersembunyi.
“Nyanyian Rusa di Kala Fajar”
Mazmur
22 diberi judul “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar”
Fajar
adalah batas antara gelap dan terang.
Rusa
adalah makhluk yang peka, sering digambarkan mencari air (kehidupan).
Jadi
ini bukan lagu kematian. Ini lagu yang dinyanyikan tepat sebelum terang muncul.
Perspektif Kitab Ester: Tuhan yang “Diam”
Uniknya,
dalam Kitab Ester:
- Nama Tuhan bahkan tidak
disebut
- Tapi justru di situlah Ia
bekerja paling nyata
Ini
paralel dengan “lama sabaktani”: Tuhan terasa absen, tapi sebenarnya sedang
menyusun pembalikan terbesar.
Kritik Filosofis: Apakah Tuhan Benar-Benar Meninggalkan?
Kalau
dikritisi secara tajam:
- Jika benar ditinggalkan maka
tidak ada harapan
- Tapi faktanya: ada
kebangkitan, ada pemulihan
Jadi
kemungkinan besar yang berubah bukan kehadiran Tuhan, tapi persepsi manusia
dalam penderitaan.
Dalam bahasa sederhana saat
gelap, bukan berarti matahari hilang, kita saja yang tidak melihatnya.
Dari Ratapan ke Pengharapan
Mazmur
22 bergerak:
- awal: “mengapa Engkau
meninggalkan aku”
- akhir: “Ia tidak
menyembunyikan wajah-Nya”
Itu perubahan drastis. Jadi “Eli Eli lama sabaktani?” adalah awal lagu bukan kesimpulan.
Bayangkan kamu nonton film, di tengah film: tokohnya kalah, sendirian, semua gelap. Kamu katakan “ini film sedih sekali”. Tapi ternyata kamu belum lihat ending-nya.
“Eli Eli lama sabaktani?” itu “adegan tengah film”. Dan pesan besarnya: Ini bukan nyanyian kekalahan. Ini nyanyian yang dinyanyikan tepat sebelum kemenangan terlihat.
Makna
“Eli, Eli, lama sabaktani?” bukan hanya sebagai teks rohani, tapi sebagai pola
yang benar-benar terlihat dalam kehidupan postmodern terutama di tengah banyak
orang yang stres, depresi, dan merasa Tuhan diam.
Pola “Merasa Ditinggalkan” Itu Nyata Secara Psikologis
Dalam
psikologi modern, orang yang mengalami depresi sering melaporkan hal yang
mirip:
- merasa sendirian padahal
tidak
- merasa tidak ada yang
peduli
- merasa “Tuhan diam”
Ini bukan sekadar perasaan “berlebihan”. Otak memang sedang menurunkan hormon kebahagiaan dan meningkatkan rasa ancaman dan kesepian. Artinya, “ditinggalkan” sering kali adalah pengalaman subjektif yang sangat nyata meski tidak selalu objektif.
Mirip
dengan Mazmur 22: realitas terasa gelap tapi cerita belum selesai.
Contoh Nyata: Fase Gelap → Pemulihan
Banyak kisah nyata mengikuti pola “3 hari” (fase sementara sebelum pulih):
a.
Burnout kerja. Orang yang kerja berlebihan dan merasa tidak dihargai biasanya
masuk fase: “mengapa saya hidup begini?”. Tapi setelah:
· istirahat,
· refleksi,
· perubahan
arah
sering
muncul energi baru, tujuan baru. Maka terjadilah: Gelap → jeda → hidup lagi
b.
Kehilangan / duka. Orang yang kehilangan orang terdekat merasa kosong
dan merasa Tuhan tidak adil. Tapi penelitian menunjukkan:
- setelah waktu tertentu,
banyak orang menemukan makna baru
- hubungan sosial jadi
lebih dalam
- hidup lebih reflektif
Ini
disebut: post-traumatic growth
Kisah publik figur
Tokoh
seperti Dwayne Johnson pernah mengalami depresi berat setelah gagal di awal
karier. Dia menggambarkan fase itu seperti “tidak ada arah, tidak ada suara,
kosong”
Tapi justru dari situ dia membangun ulang hidupnya dan
menemukan jalan baru.
“Tuhan Diam” vs Proses yang Tidak Terlihat
Dalam Kitab Ester, nama Tuhan tidak disebut tapi
peristiwa tersusun rapi menuju keselamatan. Dalam hidup modern kita tidak
melihat “alur besar” dan kita hanya melihat potongan kecil saja dari kehidupan.
Secara filosofis diam bukan berarti tidak bekerja. Bisa
jadi bekerja di level yang tidak kita lihat. Seperti benih di tanah terlihat
mati, padahal sedang tumbuh. Dan, proses penyembuhan terasa lambat,
tapi nyata
Simbol “Ulat Kirmizi” di Kehidupan Sekarang
Ulat kirmizi adalah sesuatu yang tampak lemah tapi
menghasilkan warna yang menetap. Contoh modern pengalaman pahit menjadi empati
untuk orang lain. Kegagalan jadi kebijaksanaan. Banyak konselor terbaik justru pernah
hancur dan pernah merasa “ditinggalkan”
Pola “3 Hari” = Ritme Pemulihan
Tidak harus literal 3 hari, tapi pola krisis, diam / tidak jelas, pemulihan
/ arah baru ini terlihat di terapi psikologis, proses berduka, perubahan hidup.
Masalahnya, kebanyakan orang berhenti di tahap diam/tidak jelas dan mengira itu akhir.
Penting juga jujur tidak semua orang langsung
pulih dan otomatis menemukan makna. Beberapa butuh bantuan profesional, komunitas,
dan waktu yang panjang. Jadi “pengharapan” bukan berarti duduk diam menunggu
keajaiban. Tapi, tetap bergerak walau pelan, sambil percaya prosesnya belum
selesai.
Bayangkan kamu sedang di malam hari, gelap sekali. Kamu
berpikir matahari hilang. Padahal matahari tidak hilang. Hanya kamu belum
sampai pagi.
“Eli,
Eli, lama sabakhtani” dalam hidup sekarang bisa terlihat sebagai:
- fase ketika perasaan
tidak sinkron dengan realitas
- masa transisi sebelum
perubahan
- titik paling gelap
sebelum arah baru muncul
Dan kalau dikaitkan dengan Mazmur 22 maka akhirnya dengan pemulihan. Dikaitkan dengan Kitab Ester bahwa Tuhan bekerja dalam diam. Dan, pola “3 hari” berarti hidup kembali. Maka pesannya tetap sama ini bukan
akhir cerita. Ini bagian paling gelap sebelum terang mulai kelihatan.