Seringkali pertanyaan ini muncul dalam berbagai percakapan ringan sampai serius: Mengapa di daerah mayoritas Kristen justru sering banyak masalah dan kejahatan?
Mungkin pertanyaan
ini disampaikan dengan nada canda atau mungkin serius. Tetapi, pertanyaan ini
adalah pertanyaan yang tajam dan justru membongkar ilusi yang sering tidak
disadari: kita ingin “daerah Kristen” tanpa kejahatan, tapi lupa bahwa Injil
justru lahir di tengah kejahatan.
Berikut beberapa
pemikiran penting mengenai hal tersebut.
“Daerah
Kristen” tidak sama dengan “Daerah Tanpa Dosa”
Secara data
sosial dan sejarah, negara/daerah dengan mayoritas Kristen (misalnya di Amerika
Serikat, Brasil, bahkan sebagian wilayah Indonesia seperti NTT) tetap memiliki
kriminalitas, korupsi, kekerasan, dan ketidakadilan.
Bahkan
sepanjang sejarah Gereja ada Perang Salib, Inkuisisi (memerangi ajaran sesat) dilakukan
oleh orang yang mengaku membawa Tuhan.
Label “Kristen”
tidak otomatis mengubah natur manusia. Karena masalahnya bukan agama di KTP,
tapi hati yang belum diperbarui.
Manusia Itu
Ambigu — Religius Sekaligus Rusak
Filsafat sejak
Plato sampai Friedrich Nietzsche melihat manusia sebagai makhluk kontradiktif: Punya
rasio sehingga bisa tahu yang baik. Punya
hasrat karenanya
bisa tetap
melakukan yang jahat. Dalam konteks ini, agama bisa menjadi alat transformasi atau
justru topeng moral. Daerah “Kristen” sering jatuh pada bahaya ini, yakni secara
budaya Kristen, tapi secara eksistensial: tetap egois, rakus, penuh kuasa.
Itulah ironi: semakin
religius suatu daerah, semakin canggih cara menyembunyikan dosa.
Injil Tidak
Dikirim ke Orang Baik
Yesus sendiri
tidak pernah punya misi membuat “zona steril dosa”. Justru, Ia lahir di bawah
kekuasaan Herodes Agung yang membunuh bayi. Ia melayani di tengah pemungut
cukai (koruptor zaman itu), pelacur, orang sakit, najis, tertolak.
Dan pernyataan paling keras dari Yesus adalah “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa.” (Markus 2:17).
Bahkan pusat
Injil terjadi di Golgota. Tempat eksekusi kriminal. Orang yang pertama kali
bersama Yesus di Firdaus adalah penjahat yang tersalib bersama Yesus. Artinya, Injil
tidak takut kejahatan. Injil justru berfungsi di tengah kejahatan.
“Daerah
Kristen Tanpa Kejahatan” Itu Mitos Berbahaya
Kalau suatu
daerah terlihat “bersih”, bisa jadi karena dosa disembunyikan, bukan
dihilangkan. Orang berdosa disingkirkan, bukan diselamatkan. Gereja jadi klub
orang baik, bukan rumah orang berdosa.
Yesus justru dikritik karena “Ia makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa.” Lukas 15:1-2 berbunyi: Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.
Kalau Yesus datang ke banyak “daerah
Kristen” hari ini, kemungkinan Dia akan dianggap mengganggu moral publik. Karena
terlalu dekat dengan orang “bermasalah”
Paradoks
Injil
Ini inti yang
sering tidak dipahami: kalau tidak ada kejahatan maka Injil tidak relevan. Tapi kalau
Injil hadir maka kejahatan seharusnya
berkurang. Jadi yang benar bukan “Daerah Kristen tanpa kejahatan” tapi, daerah
di mana kejahatan dihadapi, diakui, dan ditransformasi oleh Injil.
Kesimpulan
Dunia tanpa
kejahatan adalah utopia (belum terjadi, bahkan dalam sejarah gereja). Injil
bukan alat menciptakan citra sosial bersih. Injil adalah kekuatan untuk membongkar
dosa, memanggil orang kepada pertobatan, memulihkan manusia. Gereja bukan
museum orang suci, tapi rumah sakit bagi orang berdosa.
Pertanyaan
Balik
Pertanyaan yang
mengganggu tapi penting adalah kalau suatu daerah tidak ada orang jahat yang
datang ke gereja, tidak ada pertobatan nyata, hanya orang “baik-baik” berkumpul,
apakah itu tanda Injil bekerja atau justru tidak bekerja?