Sunday, February 15, 2026

Kisah Oel dan Lelo

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Dua Dunia

Oel hidup di kota panas, di mana matahari seperti penguasa tunggal. Siang hari terasa panjang, malam pun masih menyimpan gerah. Ia sering berkata, “Di sini, bahkan bayangan pun berkeringat.”

Lelo tinggal di pegunungan berkabut. Pagi selalu basah, embun menempel di rambut, dan langkah keluar rumah seperti memasuki dunia lain. Ia sering bergurau, “Di sini, bahkan matahari pun malu-malu.”

Dua dunia berbeda, tapi hati mereka saling mencari. Rindu tumbuh, meski tertutup kabut tebal.

 

Rindu yang Tertawa

Pesan singkat jadi jembatan mereka. Oel menulis: “Hari ini panas sekali, aku bisa goreng telur di atas kap mobil.” Lelo membalas: “Kalau begitu kirim saja ke sini, biar aku makan sambil duduk di kabut.”

Humor kecil itu jadi cara mereka menertawakan jarak. Namun di balik tawa, ada ayat yang mereka pegang: “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati” (1 Korintus 13:4). Rindu mereka diuji oleh jarak, tapi kasih membuat mereka bertahan.

 

Pertemuan Pertama

Suatu hari, Oel mendapat kesempatan menghadiri pertemuan komunitas di kota Lelo. Perjalanan panjang ditempuh. Bus yang ia naiki panas, kipas angin hanya berputar pelan. “Kalau Paulus bisa tahan kapal karam, aku harus tahan kipas bus ini,” gumamnya.

Sesampainya di kota Lelo, kabut tipis menyelimuti jalan. Oel menunggu di sebuah taman. Lelo datang dengan langkah cepat, wajahnya setengah gugup. Mereka berdua berdiri canggung, seperti dua orang yang sudah lama saling kenal tapi baru pertama kali bertemu.

“Jadi ini kamu?” kata Lelo sambil tersenyum. “Ya, ini aku. Tidak lebih tinggi dari bayanganmu, kan?” jawab Oel.

Tawa mereka pecah. Rindu yang selama ini samar akhirnya menemukan bentuk.

 

Konflik Kecil

Setelah pertemuan, hubungan mereka semakin erat. Namun jarak tetap jadi ujian. Suatu kali, Oel menulis panjang lebar tentang panas yang membuatnya lelah. Lelo membalas singkat: “Aku sibuk, nanti aku jawab.”

Oel merasa diabaikan. Lelo merasa Oel terlalu menuntut. Kesalahpahaman kecil itu membuat mereka diam beberapa hari.

Namun akhirnya, Lelo menulis: “Maaf, aku seperti Petrus yang tenggelam karena melihat badai. Aku lupa menatap Yesus. Aku sibuk dengan kabutku sendiri.” Oel membalas: “Aku juga salah. Aku seperti Yunus yang lari ke panasnya perut ikan. Mari kita kembali ke doa.”

Konflik kecil itu justru membuat mereka lebih dewasa. Mereka belajar bahwa kasih bukan hanya tentang tawa, tapi juga tentang sabar.

 

Ujian Iman

Jarak semakin terasa. Oel mulai bertanya-tanya: apakah rindu ini layak dipertahankan? Lelo pun kadang merasa kabut terlalu tebal untuk ditembus.

Namun mereka menemukan kekuatan dalam doa. Ayat yang mereka pegang kini adalah: “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16).

Doa mereka seperti dua aliran sungai yang bertemu di laut. Tidak terlihat, tapi nyata.

 

Pertemuan Kedua

Waktu berlalu. Oel kembali ke kota Lelo, kali ini bukan untuk urusan komunitas, tapi untuk bertemu Lelo. Pertemuan kedua lebih matang. Tidak ada lagi canggung, hanya kehangatan.

Mereka duduk di warung kecil, makan bakso bersama. Lelo berkata, “Kalau Yesus bisa memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, kira-kira kita bisa kenyang dengan satu bakso berdua?” Oel menjawab, “Bisa, asal kamu yang dapat baksonya, aku cukup kuahnya.”

Tawa mereka pecah, tapi kali ini lebih dalam. Ada rasa aman, ada keyakinan bahwa panas dan kabut bisa bertemu.

 

Romantis Reflektif

Mereka mulai melihat panas dan kabut sebagai metafora hidup. Oel berkata, “Panas mengajarkanku untuk bertahan, kabut mengajarkanmu untuk menunggu. Kalau kita bertemu, kita belajar saling melengkapi.” Lelo menjawab, “Ya, panas tanpa kabut terlalu keras, kabut tanpa panas terlalu dingin. Kita butuh satu sama lain.”

Mereka tahu perjalanan masih panjang. Tapi seperti matahari yang akhirnya menembus kabut, mereka percaya kasih akan menemukan jalan.

 

Epilog

Oel kembali ke kota panasnya, Lelo tetap di daerah kabut embun. Jarak tetap ada, tapi hati mereka sudah menemukan rumah.

Seperti ayat yang mereka pegang: “Segala sesuatu ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Mereka percaya, suatu hari nanti, panas dan kabut akan bertemu dalam satu ruang yang sama—tanpa lagi ada jarak, tanpa lagi ada rindu yang tertutup.


Continue reading Kisah Oel dan Lelo

Tuesday, February 10, 2026

Pikul Salib Gereja Masa Kini

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Lukas 9:23: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."

1. Mmakna literal

  • Menyangkal diri (παρνησάσθω αυτόν / aparnēsasthō heauton) Secara etimologis, kata Yunani aparneomai berarti “menolak, menyangkal, tidak mengakui.” ----à Seorang murid harus menolak hak egoisnya, tidak menempatkan diri sebagai pusat.
  • Memikul salib (ράτω τν σταυρόν / aratō ton stauron) Kata stauros berarti “tiang, salib” yang dalam konteks Romawi adalah alat eksekusi. -----à Kesiapan menghadapi penderitaan, bahkan kematian, sebagai konsekuensi mengikuti Yesus.
  • Mengikut Aku (κολουθείτω μοι / akoloutheitō moi) Kata akoloutheō berarti “mengiringi, berjalan bersama.” ----à Tindakan nyata mengikuti jejak Yesus, bukan sekadar pengakuan verbal.

2. Mmakna tafsir/kiasan

  • Menyangkal diri → bukan hanya menolak ego, tetapi juga meninggalkan identitas lama yang terikat dosa. Dalam tradisi rabinik, “menyangkal” bisa berarti teshuvah (pertobatan), kembali kepada Allah dengan meninggalkan jalan lama.
  • Memikul salib setiap hari → salib menjadi simbol penderitaan, tanggung jawab, dan panggilan. “Setiap hari” menekankan kontinuitas: bukan sekali, melainkan ritme hidup yang konsisten. Dalam tafsir patristik, ini berarti menerima kesulitan hidup sebagai bagian dari formasi rohani.
  • Mengikut Aku → perjalanan eksistensial: bukan sekadar mengikuti secara fisik, tetapi meneladani pola hidup Kristus (kerendahan hati, kasih, pengorbanan). Dalam tradisi gereja awal, ini dipahami sebagai imitatio Christi (peneladanan Kristus).

3. Etimologi sebagai jembatan

  • Aparneomai (menyangkal) → menolak klaim kepemilikan diri.
  • Stauros (salib) → dari akar kata yang menunjuk pada “tiang tegak,” menjadi lambang penderitaan dan kemenangan.
  • Akoloutheō (mengikut) → gabungan a- (bersama) dan keleuthos (jalan), artinya “berjalan di jalan yang sama.”

 

Refleksi

Ayat ini mengajak kita melihat iman bukan sekadar pengakuan, tetapi sebuah jalan yang menuntut penyangkalan diri, kesetiaan harian, dan kesediaan berjalan bersama Kristus dalam segala konsekuensi.

 

Gereja mula-mula pada 300-an tahun awal masehi

Selama 300-an tahun pertama, gereja mula-mula memang tidak memiliki rumah ibadah resmi, tidak punya kekuatan politik, bahkan sering ditekan dan ditindas. Namun, ada beberapa faktor kunci yang menjelaskan mengapa mereka justru bertumbuh pesat dan akhirnya “mengalahkan” Roma tanpa senjata:

Faktor Utama Pertumbuhan Gereja Mula-Mula

  • Kesaksian hidup dan kasih radikal Komunitas Kristen dikenal karena solidaritasnya: merawat orang miskin, janda, yatim, bahkan orang sakit saat wabah. Ini kontras dengan masyarakat Romawi yang cenderung individualis. Kasih praktis ini menarik banyak orang.
  • Martir sebagai saksi iman Darah para martir menjadi benih gereja. Keteguhan iman mereka di hadapan penganiayaan memberi kesaksian kuat bahwa iman Kristen lebih berharga daripada hidup itu sendiri. Hal ini menimbulkan rasa hormat dan ketertarikan.
  • Jaringan komunitas yang inklusif Gereja mula-mula membuka diri bagi semua golongan: budak, perempuan, orang miskin, bahkan bangsa non-Yahudi. Dalam dunia Romawi yang hierarkis, inklusivitas ini revolusioner.
  • Keyakinan eskatologis dan pengharapan Orang Kristen hidup dengan pengharapan akan kebangkitan dan kerajaan Allah. Ini memberi kekuatan menghadapi penderitaan, sekaligus menawarkan jawaban atas kegelisahan spiritual masyarakat Romawi.
  • Strategi misi dan penyebaran Mengikuti amanat Yesus (Great Commission), orang Kristen aktif menyebarkan Injil melalui jaringan sosial, perdagangan, dan perjalanan. Paulus dan para misionaris awal menggunakan kota-kota besar sebagai pusat penyebaran.
  • Kelemahan agama Romawi tradisional Kultus pagan Romawi mulai kehilangan daya tarik karena ritualnya formal dan kurang memberi jawaban eksistensial. Kristen menawarkan relasi pribadi dengan Allah dan etika hidup yang jelas.

baca juga: Di Rumah Yang Kudus Tapi Luka

 

Roma ditaklukkan bukan dengan pedang, melainkan dengan kesaksian hidup, kasih, dan pengharapan. Gereja mula-mula menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukanlah senjata atau kuasa politik, melainkan transformasi hati dan komunitas yang hidup dalam kasih Kristus.

 

Perbandingan Gereja Awal (300 Tahun Pertama) vs Gereja Masa Kini

Gereja Awal (±30–313 M)

  • Tanpa senjata, tanpa rumah ibadah resmi → ibadah di rumah-rumah, katakombe, atau tempat tersembunyi.
  • Ditindas dan dianiaya → namun tetap bertumbuh karena kesaksian iman, kasih, dan pengharapan.
  • Komunitas inklusif → menerima budak, perempuan, orang miskin, dan bangsa lain.
  • Spirit pengorbanan → martir menjadi teladan iman, penderitaan dianggap bagian dari mengikuti Kristus.
  • Kesederhanaan dan fokus pada misi → Injil disebarkan melalui relasi, perdagangan, dan perjalanan.

 

Gereja Masa Kini

  • Kebebasan beribadah → memiliki gedung megah, fasilitas lengkap, bahkan teknologi canggih.
  • Cenderung hedonis → sebagian gereja terjebak dalam budaya konsumtif, kemewahan, dan pencitraan.
  • Komunitas eksklusif → kadang lebih menekankan status sosial daripada inklusivitas.
  • Spirit kenyamanan → penderitaan dan pengorbanan sering dihindari, lebih fokus pada “berkat materi.”
  • Misi melemah → Injil kadang dikaburkan oleh agenda pribadi, popularitas, atau tren dunia.


 baca juga: Butuh 1000 Bulan Untuk Bangun Karakter


 Konsekuensi Perbedaan

  • Gereja Awal → meski ditekan, justru bertumbuh pesat karena kesaksian hidup yang autentik. Roma akhirnya “ditaklukkan” oleh kasih dan iman Kristen.
  • Gereja Masa Kini → jika terus terjebak hedonisme, ada risiko kehilangan daya rohani, kehilangan kesaksian, dan menjadi tidak relevan bagi dunia. Gereja bisa tampak kuat secara institusi, tetapi lemah secara spiritual.

 

Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan gereja bukan pada gedung, senjata, atau fasilitas, melainkan pada kesaksian hidup yang radikal dalam kasih dan pengorbanan. Gereja masa kini perlu bercermin pada gereja awal: apakah kita masih hidup dengan semangat menyangkal diri dan memikul salib, atau justru lebih sibuk mengejar kenyamanan?

 

Continue reading Pikul Salib Gereja Masa Kini

Sunday, February 8, 2026

Butuh 1000 Bulan Untuk Bangun Karakter

 

ged pollo


Malam itu, langit kerajaan masih kosong dari cahaya menara. Hanya obor kecil yang berderet di sepanjang jalan tanah, menuntun langkah para pekerja yang pulang dengan tubuh letih. 

Di atas bukit, sang raja berdiri memandang ke arah pondasi istana yang belum selesai. Batu-batu besar tersusun, namun dindingnya masih retak, seakan menunggu kesabaran untuk menyatukan mereka.

“Kerajaan tidak bisa dibangun dalam semalam,” bisiknya, seolah berbicara kepada bintang. “Sebagaimana karakter manusia tidak bisa dibentuk dalam sehari.”

Keesokan harinya, rakyat kembali bekerja. Palu menghantam besi, keringat bercampur dengan debu, dan suara doa bergema di antara mereka. 

Anak-anak berlari di sekitar pondasi, menyaksikan bahwa kesabaran adalah pelajaran pertama yang diwariskan oleh tanah ini.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Setiap batu yang ditambahkan bukan hanya bagian dari bangunan, melainkan bagian dari jiwa bersama. 

Para tetua berkata, “Kerajaan ini bukan sekadar dinding dan menara. Ia adalah cermin dari hati kita. Bila hati rapuh, dinding akan runtuh. Bila hati teguh, menara akan menjulang.”

Dan benar adanya. Ketika badai datang, pondasi tetap berdiri. Ketika kelaparan melanda, rakyat saling berbagi. Kerajaan itu tumbuh bukan karena kecepatan, melainkan karena ketekunan, doa, dan pengorbanan.

Pada akhirnya, ketika lonceng besar berdentang di menara utama, rakyat bersorak bukan hanya karena kerajaan selesai, tetapi karena mereka telah belajar arti sejati dari pembangunan: membangun iman, membangun karakter, membangun kehidupan yang tidak runtuh oleh badai.

Narasi ini bukan sekadar kisah tentang kerajaan, melainkan tentang perjalanan rohani manusia. Bahwa setiap jiwa adalah kerajaan kecil yang sedang dibangun—batu demi batu, hari demi hari, dengan kesabaran, doa, dan cinta.

Namun, membangun karakter jauh lebih rumit daripada menyusun dinding istana. Batu bisa dipahat dalam sehari, tetapi hati manusia ditempa oleh waktu yang panjang. 

Karakter lahir dari luka yang disembuhkan, dari kegagalan yang diterima, dari pilihan-pilihan kecil yang diulang hingga menjadi kebiasaan.

Seorang prajurit muda dalam kerajaan itu pernah berkata, “Aku ingin menjadi gagah seperti panglima.” Tetapi panglima menatapnya dengan senyum bijak: “Keberanian tidak tumbuh dari satu pertempuran. Ia tumbuh dari seribu ketakutan yang kau hadapi, dari seribu kali kau memilih untuk tetap berdiri.”

Begitu pula seorang gadis desa yang ingin menjadi bijak seperti para tetua. 


baca juga: Mengapa Memberitakan Firman Tuhan Sebelum Engkau Mempelajarinya?


Ia belajar bahwa kebijaksanaan bukanlah hadiah instan, melainkan buah dari mendengar lebih banyak daripada berbicara, dari menahan diri lebih sering daripada melampiaskan, dari menimbang sebelum bertindak.

Kerajaan itu mengajarkan bahwa karakter adalah bangunan rohani:

  • Kesabaran adalah pondasi. Tanpa kesabaran, dinding runtuh sebelum selesai.
  • Doa adalah tiang penopang. Ia menjaga agar bangunan tetap tegak meski badai datang.
  • Cinta adalah atap yang melindungi semua yang ada di dalamnya. Tanpa cinta, kerajaan hanyalah batu dingin tanpa kehidupan.

Maka setiap jiwa, seperti kerajaan itu, membutuhkan waktu panjang untuk berdiri kokoh. Tidak ada jalan pintas. 

Tidak ada kemenangan instan. Yang ada hanyalah perjalanan panjang, di mana setiap hari adalah satu batu yang ditambahkan, satu doa yang dipanjatkan, satu kesalahan yang diperbaiki.

Dan ketika akhirnya jiwa itu berdiri tegak, ia bukan hanya menjadi kerajaan yang indah, melainkan menjadi saksi bahwa karakter sejati lahir dari proses panjang yang penuh kesetiaan.

 


Continue reading Butuh 1000 Bulan Untuk Bangun Karakter

Monday, February 2, 2026

,

Bulan Ini Tidak Akan Terulang Lagi !!!

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Februari 2026 berdiri seperti sebuah panggung yang unik: bulan singkat dengan simetri yang jarang terjadi, di mana setiap hari—Minggu hingga Sabtu—muncul tepat empat kali.

Kalender ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah drama kosmik yang menegur manusia.

Waktu berbaris rapi, seolah Tuhan Semesta Alam sedang menunjukkan bahwa Ia mampu menata keteraturan, sementara kita sering hidup dalam kekacauan.

Ada humor yang menyelinap di baliknya: mereka yang selalu mengeluh “terlalu banyak Senin”, “I Hate Monday”, “I Love Friday”, kini benar-benar mendapat empat Senin penuh, lengkap dengan rapat, tugas, dan rutinitas.

Seakan-akan surga sedang tersenyum, mengingatkan kita bahwa keluhan kecil bisa menjadi cermin kelemahan kita.

Namun di balik humor itu, ada gema firman: “Untuk segala sesuatu ada waktunya, untuk setiap perkara di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1).

Kalender ini menjadi simbol keadilan waktu—setiap hari diberi kesempatan yang sama. Pertanyaannya: apakah kita memberi kesempatan yang sama bagi setiap hari untuk menjadi kudus, produktif, dan penuh makna?

Atau kita hanya menunggu Minggu untuk beribadah, Jumat untuk bersantai, dan membiarkan hari-hari lain berlalu tanpa kesadaran rohani dan pengembangan akal budi, moralitas, dan spiritual?

Narasi ini menyingkap kenyataan: hidup kita singkat, dan kesempatan unik seperti Februari 2026 mungkin tidak akan terulang sepanjang hidup kita.

Sama seperti hidup itu sendiri—sekali lewat, tidak bisa diulang. Maka kalender ini adalah panggilan untuk bertobat.

Bertobat dari kemalasan yang membiarkan waktu terbuang. Bertobat dari rutinitas kosong yang membunuh rasa kagum.

Bertobat dari hati yang hanya mencari kenyamanan, bukan kedalaman.

Jika setiap hari dalam bulan ini diberi giliran yang sama, maka setiap hari dalam hidup kita pun layak diberi makna yang sama.

Jangan biarkan Senin menjadi hari keluhan, Selasa menjadi hari terburu-buru, Rabu menjadi hari hambar.

Jadikan setiap hari altar kecil: tempat syukur, doa, kerja yang jujur, dan kasih yang nyata.

Kalender ini menantang kita: apakah kita akan terus hidup dalam pola lama, atau berani menata ulang hidup dengan disiplin, refleksi, dan spiritualitas yang segar?

Februari 2026 adalah puisi kalender, tetapi juga panggilan pertobatan.

Ia berkata dengan suara yang tegas: “Waktu tidak menunggumu. Bertobatlah, gunakanlah setiap hari dengan bijak, dan jadilah manusia yang bertumbuh—produktif dalam kerja, kudus dalam hati, dan penuh kasih dalam komunitas.”

 

Efesus 5:16 (BIS) Gunakanlah sebaik-baiknya setiap kesempatan yang ada padamu, karena masa ini adalah masa yang jahat.


Continue reading Bulan Ini Tidak Akan Terulang Lagi !!!

Sunday, February 1, 2026

Wedding March: Selamat Berperang

 

ged pollo

oleh: grefer pollo



Di sebuah gereja tua yang berdiri kokoh di tengah kota, jemaat berkumpul untuk ibadah Minggu. Pendeta Samuel, sosok yang dikenal bijak namun penuh kejutan, berdiri di mimbar. Suaranya bergetar, bukan karena gugup, melainkan karena ia hendak membuka sebuah kisah yang jarang ia ceritakan.

“Saudara-saudara,” katanya, “ada satu peristiwa yang tak pernah saya lupakan. Hari itu saya memimpin pemberkatan nikah kudus sepasang pengantin muda. Semua berjalan indah—doa, janji suci, dan berkat Tuhan turun dengan damai.”

Pendeta berhenti sejenak, menatap jemaat dengan sorot mata penuh misteri. “Namun setelah ibadah selesai, saya menjabat tangan kedua mempelai dan berkata: Selamat berperang.

Ruangan hening. Jemaat menatapnya dengan bingung. Bahkan dalam kisahnya, pengantin yang ia ceritakan pun sempat terkejut, wajah mereka pucat, seolah kata-kata itu adalah nubuat yang menakutkan.

Pendeta Samuel tersenyum tipis. “Mereka bertanya, mengapa saya berkata begitu? Saya menjawab: karena tadi, saat kalian masuk, kalian diiringi lagu perang.”

Jemaat mulai berbisik. Lagu perang? Bukankah itu Bridal Chorus yang megah?

Pendeta melangkah turun dari mimbar, suaranya semakin dalam. “Tahukah kalian, Bridal Chorus karya Wagner bukan sekadar musik romantis. Dalam operanya, lagu itu mengiringi Elsa menuju kamar pengantin—sebuah prosesi yang sarat simbol perjuangan. 

Bukan sekadar cinta, melainkan pertempuran mempertahankan kesetiaan, melawan godaan, melawan dunia yang ingin merobek janji suci.”

Tiba-tiba, pintu gereja berderit keras. Seorang jemaat muda berlari masuk, wajahnya panik. “Pendeta! Ada keributan di luar, sekelompok orang bersenjata datang!”

Suasana berubah tegang. Jemaat berdiri, beberapa berdoa dengan suara gemetar. Pendeta Samuel menatap mereka dengan tenang. “Inilah maksud saya. Pernikahan, iman, hidup—semuanya adalah medan perang. 

Bukan dengan senjata, melainkan dengan keberanian, kesetiaan, dan kasih.”

Ia mengangkat Alkitab tinggi-tinggi. “Hari itu saya berkata selamat berperang kepada pengantin. Hari ini saya berkata hal yang sama kepada kalian semua. Karena setiap orang yang berjanji setia pada Tuhan dan sesamanya, sedang berperang melawan kegelapan.”

Di luar, suara gaduh semakin dekat. Jemaat menahan napas. Namun di dalam gereja, kata-kata pendeta itu berubah menjadi api semangat. Mereka sadar: kisah pernikahan itu bukan sekadar cerita, melainkan panggilan.

Dan sejak hari itu, jemaat mengenang ucapan sang pendeta bukan sebagai keanehan, melainkan sebagai deklarasi perang rohani.

 

Wedding march adalah musik prosesi pernikahan. Biasanya dimainkan saat: pengantin masuk (processional), atau pengantin keluar gereja (recessional)

Yang paling terkenal:

      a. Bridal Chorus – Richard Wagner (Here Comes the Bride)

      b. Wedding March” – Felix Mendelssohn

Ciri khasnya:

   o   ritme tegas dan teratur

   o   tempo maju ke depan

   o   nuansa agung, khidmat, dan penuh kemenangan

 

Lalu, kenapa disebut “lagu perang”?

Secara sejarah musik, march (mars) bukan lagu cinta, tapi: berasal dari musik militer dan dipakai untuk:

·       mengiringi pasukan berjalan

·       menaikkan keberanian

·       menandai *kemenangan setelah pertempuran*

 

Ciri musik perang/mars:

·       ketukan kuat (2/4 atau 4/4)

·       ritme stabil → untuk langkah kaki

·       nada megah → simbol kekuasaan & kemenangan

 

Jadi secara asal-usul, wedding march memang berakar dari musik perang / kemenangan.

 

Di sinilah makna simboliknya dalam pernikahan jadi dalam (dan indah) bahwa pernikahan dipandang sebagai:

·       bukan akhir dongeng, tapi awal perjuangan

·       dua orang masuk ke dalam perjanjian

dan siap menghadapi:

·       konflik

·       pengorbanan

·       tanggung jawab

·       kesetiaan jangka panjang

 

Maka wedding march melambangkan:

   Ø  “Kami melangkah maju—bukan mundur.

   Ø  Kami siap berjuang bersama.”

 

Dalam konteks iman Kristen:

·       pernikahan = perjanjian (covenant), bukan sekadar perasaan

·       musik mars = keseriusan, tekad, dan kemenangan yang diharapkan

 

Jadi… pantaskah wedding march dipakai dalam ibadah pemberkatan nikah kudus?

Bukan soal “lagu perang = salah”, tapi soal makna yang dipahami.

 

Wedding march bukan:

romantis manis

lagu perasaan

 

Melainkan:

lagu komitmen

lagu keberanian

lagu *perjalanan hidup*

 

Wagner- Bridal Chorus from Lohengrin

Lirik Asli (Bahasa Jerman)

Treulich geführt ziehet dahin,

wo euch der Segen der Liebe bewahr'!

Siegreicher Mut, Minnegewinn

eint euch in Treue zum seligsten Paar.

 

Streiter der Tugend, schreite voran!

Zierde der Jugend, schreite voran!

Rauschen des Festes seid nun entronnen,

Wonne des Herzens sei euch gewonnen!

 

Duftender Raum, zur Liebe geschmückt,

nehm' euch nun auf, dem Glanze entrückt.

Treulich geführt ziehet nun ein,

wo euch der Segen der Liebe bewahr'!

 

Siegreicher Mut, Minne so rein

eint euch in Treue zum seligsten Paar.

Wie Gott euch selig weihte,

zu Freude weihn euch wir.

In Liebesglücks Geleite

denkt lang’ der Stunde hier!

 

Treulich bewacht bleibet zurück,

wo euch der Segen der Liebe bewahr'!

 

Terjemahan Bahasa Inggris

Faithfully guided, draw near

where the blessing of love shall preserve you!

Victorious courage, love’s reward

unites you in faithfulness as the happiest pair.

 

Champion of virtue, step forward!

Adornment of youth, step forward!

The noise of the feast is now behind you,

the bliss of the heart be now yours!

 

Fragrant chamber, adorned for love,

receives you now, away from the splendor.

Faithfully guided, enter therein,

where the blessing of love shall preserve you!

 

Victorious courage, love so pure

unites you in faithfulness as the happiest pair.

As God has blessed you,

so do we consecrate you to joy.

In the escort of love’s happiness

remember long this hour here!

 

Faithfully guarded, remain behind,

where the blessing of love shall preserve you!

 

 Penting untuk Dipahami

 

Banyak versi lirik Here Comes the Bride yang beredar, tetapi *tidak ada lirik resmi yang universal* — karena ini pada awalnya *musik instrumental atau paduan suara dalam opera*, bukan lagu pop dengan lirik populer.



Bridal Chorus / Here Comes the Bride (Wagner)








Continue reading Wedding March: Selamat Berperang

Sunday, January 25, 2026

Kamu Wasit Bola atau Wasit Tinju

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Dentuman dan Peluit

Arena tinju bergetar oleh sorak penonton. Dua petinju saling merangkul, bukan karena kasih, melainkan karena strategi bertahan. Wasit masuk, memisahkan mereka dengan tangan tegas. Ironi pun lahir: ia bukan melerai agar damai, melainkan melerai agar mereka bisa kembali saling pukul.

Di lapangan bola, peluit berbunyi. Wasit berlari ke segala arah, seperti sedang ikut lomba maraton. Ia tidak mengejar bola, tidak mengejar gol, tapi mengejar kesalahan. Satu peluit bisa mengubah sorak menjadi caci, satu kartu kuning bisa mengubah sahabat menjadi musuh.

 

Pertukaran Peran

Suatu hari, dalam pertandingan amal yang penuh humor, wasit tinju dan wasit bola bertukar peran.

  • Wasit tinju mencoba memimpin pertandingan sepak bola. Ia bingung melihat pemain berpelukan saat selebrasi gol, lalu buru-buru memisahkan mereka. Penonton tertawa terbahak-bahak.
  • Wasit bola masuk ke ring tinju. Ia berlari mengitari ring, meniup peluit setiap kali pukulan meleset. Petinju kebingungan, penonton terpingkal.

 

Seorang anak kecil bertanya pada ayahnya di tribun: “Kenapa wasit bola selalu kurus?” Ayahnya menjawab sambil tertawa, “Karena ia berlari lebih banyak daripada pemain.”

“Kenapa wasit tinju selalu tegas?” “Karena ia harus memastikan orang yang berpelukan segera kembali berantem.”

Humor sederhana ini menyimpan ironi: wasit bola mencari kesalahan, wasit tinju mencari kesempatan untuk melanjutkan pertarungan.

 

Filosofi yang Menyelam

Peluit dan tangan wasit bukan sekadar alat olahraga, melainkan simbol kehidupan.

  • Wasit Bola: lambang manusia yang sibuk mencari kesalahan orang lain. Ia berlari, kelelahan, demi menunjuk siapa yang salah. Filosofinya: “Kadang kita terlalu sibuk mengawasi orang lain, sampai lupa menjaga diri sendiri.”
  • Wasit Tinju: lambang manusia yang justru memisahkan kedamaian (pelukan) agar konflik berlanjut. Filosofinya: “Kadang dunia memaksa kita bertarung, bahkan ketika hati ingin beristirahat.”

Keduanya mengajarkan paradoks: damai bisa dipaksa menjadi perang, dan perang bisa dipaksa menjadi damai.

 

Twist Kedua

Di akhir pertandingan amal, kedua wasit duduk bersama di warung kopi. Wasit bola mengeluh, “Aku lelah mencari kesalahan orang lain.” Wasit tinju menjawab, “Aku lelah memisahkan orang yang ingin berpelukan.”

Mereka tertawa, lalu sepakat:

“Mungkin hidup bukan soal siapa salah dan siapa benar, bukan soal siapa menang dan siapa kalah. Hidup adalah soal bagaimana kita menjaga permainan tetap berjalan.”

 

Filsuf di Warung Kopi

Seorang filsuf tua yang duduk di meja sebelah menimpali:

“Peluit wasit adalah suara hati. Kadang ia meniup untuk menghentikan, kadang untuk melanjutkan. Tapi yang paling penting, jangan sampai peluit itu membuat kita lupa bahwa permainan ini hanyalah permainan.”

Anak kecil yang tadi bertanya pun menutup buku catatannya dengan satu kalimat:

“Wasit sejati bukan yang memisahkan atau mencari salah, tapi yang menjaga agar manusia tetap bermain dengan gembira.”

 

Refleksi Humanis

Cerita ini bukan sekadar tentang olahraga. Ia adalah metafora kehidupan:

  • Ada saat kita jadi wasit bola, sibuk mencari kesalahan orang lain.
  • Ada saat kita jadi wasit tinju, memaksa orang bertarung meski ingin damai.
  • Tapi ada juga saat kita bisa jadi wasit kehidupan, yang meniup peluit untuk mengingatkan: “Hei, jangan lupa, hidup ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tapi tentang bermain dengan hati.”

Hidup sebagai Pertandingan

Hidup adalah pertandingan panjang. Kadang kita berlari seperti wasit bola, kadang kita memisahkan pelukan seperti wasit tinju. Namun pada akhirnya, kita semua duduk di warung kopi kehidupan, tertawa bersama, dan menyadari bahwa peluit hanyalah simbol.

“Jangan biarkan peluitmu hanya mencari salah atau memaksa bertarung. Gunakan peluitmu untuk menjaga agar permainan tetap indah.”

 


Continue reading Kamu Wasit Bola atau Wasit Tinju