Vocatio berasal dari bahasa Latin vocare =
“memanggil”. Dalam pemikiran teologis berarti: panggilan dari Allah. Ini
berbicara tentang identitas dan tujuan hidup manusia di hadapan Tuhan.
Beruf (bahasa Jerman) memiliki arti “profesi” atau
“pekerjaan”. Dalam tradisi Reformasi memiliki nuansa religius yakni pekerjaan
sebagai bentuk panggilan.
Pada masa reformasi gereja abad ke-16, konsep Beruf muncul sebagai ide yang penting, ketika tokoh reformator seperti Martin Luther menolak pemisahan tajam antara pekerjaan “rohani” dan “sekuler”.
Dia berpikir bahwa menjadi
tukang, petani, ibu rumah tangga, atau pejabat sama-sama panggilan Allah.
Mari, sedikit begeser, kita melihat kontribusi gereja terhadap
perkembangan pendidikan dan ekonomi.
Gereja, khususnya Kekristenan Barat, memberi kontribusi besar pada
fondasi intelektual, institusional, dan etos kerjanya. Seperti:
- Memberi
legitimasi teologis untuk penelitian alam.
- Membangun
universitas sebagai institusi permanen.
- Menciptakan
etos kerja rasional yang menopang kapitalisme industri.
Universitas pertama di Eropa lahir dari dalam gereja abad pertengahan.
Misalnya,
- Universitas
Cambridge
- University
of Paris
- University of Oxford
Semua ini berawal dari sekolah katedral dan biara.
Hal yang bermakna dan penting:
- Kurikulum
mencakup logika, matematika, astronomi, kedokteran.
- Gereja
mengembangkan metode disputatio (argumentasi rasional sistematis).
- Tradisi
skolastik menekankan harmoni iman dan rasio.
Tokoh seperti Thomas Aquinas membangun sintesis iman dan rasio yang
membuka ruang bagi penelitian rasional terhadap alam.
Tanpa institusi ini, revolusi ilmiah tidak mempunyai ekosistem
intelektual.
Etos Kerja Protestan dan Revolusi Industri memberi kontribusi yang kuat
dalam ekonomi. Max Weber dalam The Protestant Ethic and the Spirit of
Capitalism menunjukkan bahwa:
Konsep Beruf (panggilan kerja) dalam teologi reformasi mendorong:
- Disiplin
- Kerja
keras
- Hidup
hemat
- Investasi
ulang laba
- Rasionalitas
ekonomi
Ajaran John Calvin tentang kerja sebagai panggilan Allah menghapus
dikotomi sakral–sekuler.
Hasilnya?
Wilayah Protestan seperti:
- England
- Netherlands
menjadi pusat awal kapitalisme dan revolusi industri.
Gereja juga memelopori:
- Rumah
sakit
- Bank
amal
- Sistem
pendidikan massal
- Etika
kontrak dan kejujuran dagang
Konsep hukum alam Kristen mempengaruhi perkembangan hukum dagang modern.
Secara historis dapat dikatakan:
- Gereja
menyediakan institusi pendidikan.
- Teologi
Kristen memberi dasar metafisik bagi sains.
- Reformasi
memberi etos kerja ekonomi.
- Dari
situ lahir revolusi ilmiah dan industri modern.
|
Vocatio |
Beruf |
|
Panggilan ilahi |
Profesi/kerja |
|
Identitas & tujuan hidup |
Ekspresi praktis panggilan |
|
Dimensi spiritual |
Dimensi sosial-ekonomi |
Idealnya: Beruf adalah manifestasi konkret dari vocatio.
Youth Entrepreneurship
Etimologi
Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis entreprendre:
- entre =
antara
- prendre =
mengambil
Artinya: “mengambil di antara”, atau lebih tepatnya “mengambil inisiatif
untuk mengerjakan sesuatu”.
Entrepreneur adalah orang yang memindahkan sumber daya dari produktivitas rendah ke produktivitas lebih tinggi.
Ekonom Austria Joseph Schumpeter menekankan bahwa entrepreneur adalah agen inovasi yang menciptakan Penghancuran Kreatif (creative destruction). Menurutnya, perubahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Perubahan adalah inti dari kemajuan.
Di sini kita memahami entrepreneurship sebagai:
- Inisiatif
- Keberanian
risiko
- Inovasi
- Pencipta
nilai baru
Jadi, jika kita hanya mengajarkan remaja “cari kerja”, kita membentuk Beruf
tanpa vocatio.
Jika kita hanya ajarkan “pelayanan rohani”, tanpa kompetensi, kita membentuk vocatio
tanpa Beruf.
Padahal generasi muda perlu memahami: Tuhan memanggil (vocatio), lalu mereka mengerjakannya dalam bentuk karya nyata (Beruf).
Entrepreneurship menjadi salah satu bentuk konkret Beruf yang
lahir dari kesadaran vocatio.
Misalnya:
- Dipanggil
peduli kemiskinan: bangun usaha sosial.
- Dipanggil
peduli pendidikan: buat startup edukasi.
- Dipanggil
kreatif: bangun industri kreatif.
Jadi youth entrepreneurship bukan sekadar cari uang, tetapi:
- Mengaktualkan
panggilan
- Menghasilkan
nilai
- Menciptakan
dampak sosial
- Mengelola
talenta sebagai penatalayan
Dalam konteks pengembangan holistis remaja, bisa dikatakan bahwa:
- Vocatio:
Tuhan memanggil.
- Entrepreneurship:
Manusia merespons dengan kreativitas.
- Beruf:
Profesi menjadi altar pelayanan.
Maka mengajarkan youth entrepreneurship bukan sekadar ekonomi, tetapi:
- Membentuk
mentalitas kreator, bukan konsumen.
- Mengajarkan
tanggung jawab atas talenta (lihat perumpamaan talenta dalam Matius 25).
- Membebaskan
gereja dari mentalitas “menunggu pekerjaan, menunggu bantuan”.
0 comments:
Post a Comment