“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan
rupa Kita...” (Kejadian 1:26–27).
Ada zaman ketika orang rela kehilangan dompet asal
jangan kehilangan muka.
Sekarang berbeda. Orang rela kehilangan diri asal fotonya bagus.
Kita hidup di era ketika gambar sering lebih dihormati
daripada yang asli. Foto profil bisa lebih dirawat daripada kesehatan mental.
Orang bisa menghabiskan satu jam memilih filter, tetapi tidak punya lima menit
untuk mengenal dirinya sendiri.
Ironisnya, manusia modern sering jatuh cinta pada
representasi dirinya sendiri.
Padahal sejak awal Alkitab, konsep “gambar” tidak
pernah dimaksudkan menggantikan “yang asli.”
Kejadian 1:26–27 tidak sedang berbicara tentang
manusia sebagai foto Tuhan. Tuhan bukan makhluk fisik yang dipotret lalu
manusia menjadi salinan wajah-Nya.
Kata Ibrani tselem (gambar) lebih dekat kepada
representasi, refleksi, atau wakil yang membawa identitas dan otoritas dari
yang diwakili.
Jadi manusia adalah gambar Allah, bukan Allah itu
sendiri.
Dan di sinilah kritik besar terhadap peradaban modern
dimulai:
gambar selalu menunjuk kepada aslinya. Ketika gambar mulai menggantikan yang
asli, lahirlah penyembahan palsu.
Foto makanan tidak bisa mengenyangkan. Foto api tidak
bisa menghangatkan. Foto uang tidak bisa dipakai bayar utang. Foto kebahagiaan
di media sosial tidak selalu berarti mereka yang difoto sungguh bahagia.
Gambar punya fungsi representasi, bukan substansi.
Manusia modern sering terjebak dalam apa yang disebut
simulasi identitas. Kita membangun “versi diri” untuk dikonsumsi publik. Yang
dilihat bukan lagi manusia asli, melainkan kurasi (kegiatan mengelola, menyeleksi, dan menyajikan benda atau karya agar terjaga kualitas dan maknanya). Bahkan
kadang seseorang lebih takut kehilangan akun daripada kehilangan karakter.
Lucunya, manusia bisa tersinggung ketika fotonya
diedit jelek, tetapi tidak tersinggung ketika hidupnya sendiri rusak.
Ada orang berkata: “Jangan upload foto itu, aku
jelek.” Padahal masalah terbesar hidupnya bukan angle kamera, tetapi attitude. Sedikit
humor memang, tetapi cukup menyakitkan untuk dianggap bercanda.
Dalam dunia kuno, konsep “gambar” punya makna politis
dan religius. Raja-raja Mesir atau Babel sering mendirikan patung dirinya di
wilayah kekuasaan sebagai tanda otoritas. Patung itu bukan rajanya, tetapi
mewakili kehadiran dan kuasa raja.
Ketika dalam kitab Kejadian mengatakan manusia adalah
gambar Allah, itu revolusioner secara historis. Di budaya kuno, hanya raja yang
dianggap gambar dewa. Tetapi Alkitab menghancurkan hierarki itu: semua manusia
(laki-laki dan perempuan) diciptakan menurut gambar Allah. Bukan hanya elite,
imam, atau bangsawan.
Artinya nilai manusia melekat pada keberadaannya,
bukan pada performanya.
Ini sebabnya seorang bayi tetap berharga walau belum
menghasilkan uang. Orang tua tetap bernilai walau tidak produktif lagi. Orang
miskin tetap memiliki martabat walau tidak viral.
Karena gambar memperoleh nilainya dari yang asli.
Lukisan Mona Lisa berharga bukan karena kain
dan catnya mahal, tetapi karena ada Leonardo da Vinci di baliknya. Nilai gambar
berasal dari siapa pembuatnya.
Demikian juga manusia.
Kejadian 1:26–27 menghantam dua ekstrem sekaligus:
- manusia bukan Tuhan,
- tetapi manusia juga bukan sampah.
Kita hanyalah gambar, tetapi gambar dari Pribadi yang
mulia.
Di sinilah problem modern menjadi makin tragis. Banyak
orang lebih mencintai “gambar” manusia daripada manusianya sendiri. Kita lebih
cepat memotret kemiskinan daripada menolong orang miskin. Kadang momen ibadah
pun berubah menjadi sesi dokumentasi. Ibadah menjadi sebuah entertain.
Ada orang tidak menikmati konser karena sibuk merekam.
Tidak menikmati matahari terbenam karena sibuk membuat story.
Tidak menikmati pernikahan karena sibuk membuat konten
“couple goals” (impian dalam hubungan romantis yang dianggap ideal oleh
pasangan, mencerminkan hubungan yang harmonis dan saling mendukung).
Akhirnya hidup hanya dikonsumsi sebagai gambar.
Banyak penelitian psikologi modern menunjukkan
korelasi antara penggunaan media sosial berlebihan dengan kecemasan identitas,
kesepian, dan depresi.
Manusia terus membandingkan hidup asli dengan gambar
hidup orang lain yang sudah diedit. Kita membandingkan “behind the scenes” (dibalik
layar) diri kita dengan “highlight reel” orang lain (highligt reel: istilah yang awalnya
berasal dari dunia olahraga dan film, yaitu kumpulan cuplikan terbaik, paling
keren, paling dramatis, atau paling mengesankan dari seseorang atau suatu
peristiwa).
Dan hasilnya selalu melelahkan.
Karena gambar memang tidak pernah sanggup menggantikan
realitas.
Itulah sebabnya Alkitab tidak berkata manusia
diciptakan sebagai “foto Allah,” tetapi gambar-Nya. Ada relasi, tanggung jawab,
dan refleksi karakter di sana. Gambar seharusnya membawa orang kembali kepada
sumber aslinya.
Masalah terbesar manusia bukan ketika gambarnya rusak,
tetapi ketika ia lupa siapa aslinya.
Sebab gambar tanpa hubungan dengan yang asli akan
kehilangan makna.
Uang palsu terlihat mirip uang asli, tetapi tidak
memiliki otoritas.
Demikian juga manusia yang kehilangan relasi dengan Tuhan: masih punya bentuk,
tetapi kehilangan arah.
Mungkin itulah tragedi terbesar zaman ini: orang
mengenal branding dirinya, tetapi asing terhadap jiwanya sendiri.
Kita mempercantik gambar, tetapi mengabaikan
keberadaan. Memoles tampilan, tetapi lupa membangun karakter. Mencari validasi,
tetapi kehilangan identitas.
Padahal sejak awal, manusia tidak pernah dirancang
untuk menjadi pusat perhatian. Gambar selalu dimaksudkan untuk memuliakan yang
asli.
Dan mungkin, salah satu tanda kedewasaan rohani adalah
ketika seseorang tidak lagi sibuk membuat dirinya terlihat besar, tetapi
hidupnya mulai membuat orang lain melihat Sang Pencipta dirinya.
Trimakasih kk Ge🙏
ReplyDelete"Self Reminder" yg sangat berharga...
Diberkati selalu bersama istri terkasih