Thursday, July 2, 2026

Jika Dia Bernama Kenangan, Maka Dia Akan Tahu Jalan Pulang

 

ged pollo

oleh: grefer pollo

“Kenangan yang berasal dari kasih tidak pernah tersesat. Ia selalu tahu ke mana harus pulang. Karena kenangan tidak tahu caranya berpisah”

Aku pernah berpikir bahwa semua yang pergi harus dilupakan.

Kupikir itulah definisi dewasa.

Jangan menoleh. Jangan mengingat. Jangan menangis. Terus berjalan.

Namun hidup ternyata tidak bekerja seperti tombol “hapus” pada layar ponsel. Ada hal-hal yang memang tidak diciptakan untuk dihapus. Mereka hanya berubah bentuk.

Suatu sore, aku membuka sebuah laci tua. Tidak ada yang istimewa di dalamnya. Hanya beberapa kartu ucapan, foto yang warnanya mulai pudar, sebuah pulpen yang tintanya sudah habis, dan secarik kertas berisi tulisan tangan seseorang.

Aku tersenyum.

Lucu sekali. Benda-benda itu tidak memiliki suara, tetapi mereka mampu membuat ruangan yang sunyi menjadi penuh percakapan.

Mereka mengajarkan satu hal.

Kenangan ternyata bukan penghuni masa lalu.

Ia tinggal di dalam hati.

 

Aku pernah bertemu seorang pendeta tua. Rambutnya hampir seluruhnya putih. Jalannya pelan. Suaranya pun tidak lagi lantang. Namun ketika ia berbicara tentang orang-orang yang pernah ia layani puluhan tahun lalu, matanya berbinar seperti seorang anak kecil.

“Apa Bapak masih ingat nama mereka?” tanyaku.

Beliau tersenyum.

“Tidak semuanya.”

“Lalu apa yang Bapak ingat?”

“Saya ingat bagaimana Tuhan mempertemukan kami.”

Kalimat itu terus mengikutiku.

Ternyata yang paling lama hidup bukanlah nama.

Melainkan kasih.

Kasih selalu mempunyai ingatan yang lebih kuat daripada waktu.

 

Ada orang yang datang hanya beberapa minggu, tetapi meninggalkan jejak seumur hidup.

Ada pula yang tinggal bertahun-tahun, namun kepergiannya hampir tidak menyisakan cerita.

Lalu aku mulai bertanya kepada diriku sendiri.

Apa sebenarnya yang membuat seseorang menjadi kenangan?

Bukan lamanya.

Melainkan kasih yang ia tinggalkan.

Karena kasih selalu meninggalkan bekas.

Sama seperti paku yang pernah menembus tangan Yesus.

Bekasnya tetap ada, bahkan setelah kebangkitan.

Luka-Nya sembuh.

Tetapi bekas kasih-Nya tetap tinggal.

Bukankah itu indah?

Tuhan sendiri memilih menyimpan bekas kasih.

Mengapa kita justru sibuk menghapusnya?

 

Aku pernah berpamitan dari sebuah tempat yang sudah terasa seperti rumah. Rumah Kutara dan ceritanya.

Hari terakhir selalu unik dan punya ceritanya sendiri.

Ada yang berkata, “Sampai jumpa.”

Dengan kerinduan dan harapan semoga bertemu lagi.

Ada pelukan yang terlalu singkat.

Ada doa yang terlalu panjang.

Ada mata yang tersenyum, tetapi diam-diam sedang menahan hujan.

Saat mobil mulai bergerak meninggalkan halaman gereja, aku menoleh sekali lagi.

Gedung itu semakin kecil.

Namun anehnya, rasa syukur justru semakin besar.

Aku sadar.

Yang kutinggalkan bukanlah sebuah bangunan.

Melainkan potongan hidupku sendiri.

Ada doa yang pernah dinaikkan di sana.

Ada air mata yang pernah jatuh di sana.

Ada tawa anak-anak.

Ada rapat yang melelahkan.

Ada kesalahpahaman yang akhirnya menjadi pengampunan.

Ada orang-orang yang diam-diam mengajarkanku bagaimana menjadi manusia yang lebih baik.

Tempat itu mungkin tidak akan mengingatku selamanya.

Tetapi aku tahu.

Tuhan mengingat setiap kisah yang pernah terjadi di sana.

 

Dalam Alkitab, Tuhan sering meminta umat-Nya untuk mengingat.

Mendirikan batu peringatan.

Merayakan Paskah.

Mengingat roti dan anggur.

Mengapa?

Karena manusia mudah lupa.

Dan ketika manusia lupa, mereka kehilangan arah.

Kenangan ternyata bukan sekadar nostalgia.

Kenangan adalah kompas.

Ia mengingatkan dari mana kita berasal, siapa yang pernah mengasihi kita, dan kepada siapa kita harus kembali.

Barangkali itulah sebabnya anak yang hilang akhirnya pulang.

Bukan karena jalannya mudah.

Melainkan karena kenangannya tentang rumah masih hidup.

Ia masih ingat pelukan ayahnya.

Ia masih ingat kasih yang tidak pernah berhenti menunggunya.

Kenangan itu menjadi jalan pulang.

 

Kini aku mengerti.

Kenangan punya banyak cara mendekati kita. 

Ada yang harus dipeluk.

Ada yang cukup didoakan.

Ada yang cukup disyukuri.

Ada yang cukup dilepaskan kepada Tuhan.

Namun jangan pernah membencinya.

Karena tanpa kenangan, kita kehilangan banyak guru terbaik dalam hidup.

Kenangan mengajarkan bahwa Tuhan pernah setia.

Maka Ia akan tetap setia.

Kenangan mengingatkan bahwa kita pernah ditolong.

Maka kita tidak perlu takut menghadapi hari esok.

Kenangan membisikkan bahwa kita pernah dicintai.

Maka kita pun dipanggil untuk mencintai orang lain dengan cara yang sama.

 

Mungkin hari ini engkau sedang berpamitan.

Dengan sebuah kota.

Sebuah gereja.

Sebuah pekerjaan.

Sebuah komunitas.

Atau seseorang yang begitu berarti.

Jangan takut.

Kasih yang sejati tidak pernah berhenti hanya karena jarak.

Ia hanya berganti cara untuk hadir.

Kadang menjadi doa.

Kadang menjadi senyum saat mengingat.

Kadang menjadi cerita yang kita bagikan kepada orang lain.

Dan kadang, menjadi alasan mengapa kita tetap percaya bahwa Tuhan mempertemukan orang-orang bukan untuk saling memiliki, melainkan untuk saling membentuk.

Kadang Tuhan sengaja pertemukan kita dengan seseorang untuk menyiapkan kita menjadi pribadi hyang lebih baik, lebih dewasa, lebih matang, lebih bijak bagi orang lain. Pribadi lain.

Sebab setiap pertemuan adalah titipan.

Setiap perpisahan adalah pengutusan.

Dan setiap kenangan adalah saksi bahwa Tuhan pernah bekerja di antara kita.

Jadi, jika suatu hari seseorang bertanya, “Apakah kau masih mengingat mereka?”

Jawablah dengan tenang.

“Tentu.”

“Bukankah itu menyakitkan?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena jika dia benar-benar bernama kenangan, maka dia akan tahu jalan pulang.”

Bukan selalu pulang kepada kita.

Melainkan pulang kepada hati yang telah dipenuhi kasih, dan kepada Tuhan, sumber dari setiap pertemuan yang indah.


Continue reading Jika Dia Bernama Kenangan, Maka Dia Akan Tahu Jalan Pulang