Friday, January 16, 2026

FROM THE LOST TO THE HOST

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Ia pernah berjalan di lorong hidup yang sepi. Lorong yang tak memiliki pintu, tak ada jendela, dan tak ada suara selain gema langkahnya sendiri.

Setiap hari ia merasa seperti melewati bayangannya sendiri; sebuah diri yang tak pernah benar-benar hadir, hanya melayang di antara harapan lama yang padam dan kenyataan yang tak dimengerti.

Ada masa ketika ia merasa dirinya hilang, LOST, bukan karena tak tahu arah, tetapi karena tak mengenal lagi siapa dirinya. Ia hilang di tengah puing kesalahan, luka hati, pilihan yang keliru, dan kelelahan yang tak mampu dijelaskan.

Seperti domba yang terpisah dari kawanan, ia berjalan tanpa tujuan, sampai-sampai lupa bahwa ia sebenarnya dirindukan.

Namun Tuhan, yang tak pernah berhenti mengasihi, tak pernah berhenti mencari, tak pernah berhenti menelusuri jejak langkah manusia, menemukan dirinya di titik paling sunyi itu. Bukan karena ia memanggil, tetapi karena KASIH itu mencari.

Bukan karena ia layak, tetapi karena ANUGERAH itu datang lebih dulu.

baca juga: Jejak Kata "Ingat"

Momen itu seperti sebuah cahaya lembut yang menembus kabut gelap. Bukan sorotan yang menyilaukan, tetapi hangat, tepat, dan mengangkat. Ia tiba-tiba memahami lirik yang sejak kecil ia dengar tetapi tak pernah masuk ke hati:

Amazing grace, how sweet the sound

That saved a wretch like me.

I once was lost, but now am found,

Was blind, but now I see.

 

Bukan sekadar lirik lagu, tetapi pengakuan universal setiap manusia yang pernah disentuh rahmat Tuhan.

 

Dalam pemulihan itu, ia menemukan sesuatu yang tak pernah lewat di pikirannya:

bahwa orang yang dulu hilang kini justru dipanggil menjadi tempat kembali bagi yang lain.

 

FROM THE LOST TO THE HOST.

Dari seseorang yang dulu mencari tempat aman, menjadi seseorang yang menyediakan keamanan bagi orang lain.

Dari seseorang yang dulu tak punya rumah dalam hatinya, menjadi seseorang yang menyediakan rumah bagi banyak jiwa.


baca juga: MengapaMemberitakan Firman Tuhan Sebelum Engkau Mempelajarinya?


Pemulihan Tuhan mengubahnya menjadi:

Host bagi cerita —> tempat orang lain bisa jujur tanpa takut dihakimi.

Host bagi air mata —> ruang bagi mereka yang belum menemukan kata untuk luka mereka.

Host bagi perjalanan —> bahu untuk berjalan bersama, bukan untuk memerintah dari jauh.

Host bagi anugerah —> karena ia sendiri menerima anugerah yang tak ia mengerti, maka ia pun membagikannya tanpa syarat.

 

Ia sadar: pemulihan bukan tujuan, tetapi panggilan.

Ia dipulihkan bukan untuk duduk diam, tetapi menjadi tempat di mana kehidupan orang lain dapat bertumbuh.

Ia menjadi tuan rumah bagi kasih, bukan karena ia ahli, tetapi karena ia pernah menjadi tamu yang kelaparan akan kasih itu.

 

Dan di setiap langkahnya, gema lagu itu tak pernah padam, seperti nafas yang lembut namun pasti:

I once was lost,

but now am found.”

 

Kini, ia berjalan dengan mata yang melihat dan hati yang mengerti:

bahwa mereka yang pernah ditemukan Tuhan Yesus, akan selalu menjadi pembawa cahaya bagi yang masih mencari jalan pulang.

 

Ia tidak sempurna, tetapi ia dipulihkan.

Ia tidak selalu kuat, tetapi ia ditopang.

Ia tidak memiliki semua jawaban, tetapi ia mengenal Dia yang menemukan dirinya.

 

Dan di situlah ia berdiri:

dulu tersesat, kini menjadi rumah —> from the lost to the host,

dari yang hilang menjadi yang menuntun,

dari yang hampa menjadi tempat bagi banyak jiwa,

dari seorang tamu tanpa arah menjadi penyedia meja di mana kasih Tuhan Yesus dapat dinikmati oleh siapa saja yang datang.

 

Sebab kasih karunia itu bukan hanya menyelamatkan,

tetapi juga membentuk:

lost but found (hilang namun ditemukan),

found but sent (ditemukan lalu diutus),

sent but hosting grace for others (diutus namun menjadi tuan rumah bagi anugerah bagi sesama).






Continue reading FROM THE LOST TO THE HOST

Wednesday, January 14, 2026

Jejak Kata "Ingat"

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Malam itu hujan turun pelan, seperti mengetuk jendela kantor detektif tua yang sudah lama kehilangan kasus besar. 

Ia duduk dengan jas lusuh, menatap berkas yang tak pernah selesai. Tiba-tiba, sebuah surat tanpa nama tergeletak di meja kayu. Hanya satu kata di sana: “Ingat.”

Detektif itu tersenyum getir. Kata itu sederhana, tapi seperti pintu menuju misteri. Ia tahu, setiap kasus besar selalu dimulai dengan kata kecil yang tampak sepele. 

Ia menyalakan lampu, membuka catatan, dan mulai menelusuri jejak kata itu.

Setelah beberapa waktu lamanya ia mencari dan mencari makna tersembunyi dari kata itu, ia menemukan bahwa kata “ingat” bukan sekadar pesan anonim. 

Kata itu menuntunnya ke dua peristiwa besar dalam sejarah iman: perintah Yesus di meja perjamuan malam dan permintaan seorang penjahat di kayu salib. Dua dunia bertemu dalam satu kata yang sama.


Pertemuan di Kata "Ingat"

Yesus, pada malam sebelum Ia diserahkan, berkata kepada murid-murid-Nya: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Kata “peringatan” di sini berasal dari bahasa Yunani anamnesis, yang berarti “membawa kembali ke dalam ingatan, menghadirkan kembali sesuatu yang pernah terjadi.” 

Bukan sekadar mengingat masa lalu, melainkan menghadirkan realitas yang hidup di masa kini.

Di sisi lain, di bukit Golgota, seorang penjahat yang tersalib di samping-Nya berbisik penuh harap: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” 

Kata “ingatlah” di sini dalam bahasa Yunani mnemoneuo berarti “menyimpan dalam ingatan, mengenang dengan kasih.” Permintaan sederhana, namun penuh iman: agar hidup yang hancur tetap dikenang oleh Sang Raja.

 

Kata “menjadi peringatan” di perjamuan malam adalah perintah: sebuah tindakan kolektif, umat yang berkumpul, roti yang dipecah, anggur yang dituang. 

Sedang kata “ingatlah” pada peristiwa salib adalah permintaan: sebuah seruan pribadi, seorang manusia yang tak punya apa-apa selain sisa napas terakhir.

Di meja perjamuan, Yesus berkata: “Ingatlah Aku bersama-sama.” Di kayu salib, seorang penjahat berkata: “Ingatlah aku seorang diri.”

Dua arah bertemu: Tuhan memberi perintah, manusia meminta. Dan titik temu keduanya adalah kata “ingat.”

 

Anamnesis (peringatan): bukan sekadar memori, melainkan menghadirkan kembali karya Kristus di tengah jemaat.

Mnemoneuo (ingatlah): bukan sekadar mengingat nama, melainkan menyimpan seseorang dalam hati.

Dengan demikian, “ingat” menjadi jembatan antara langit dan bumi.

  • Dalam perjamuan, manusia diundang untuk mengingat Tuhan.
  • Dalam salib, manusia berani meminta agar Tuhan mengingat manusia.

 

Detektif tua itu menutup berkasnya. Ia sadar, kasus yang ia telusuri bukanlah misteri kriminal, melainkan misteri iman. Kata “ingat” bukan sekadar pesan samar, melainkan undangan abadi:

  • Tuhan berkata, “Ingatlah Aku.”
  • Manusia berbisik, “Ingatlah aku.”

Dan di persimpangan kata itu, lahirlah perjumpaan: perintah yang menjadi peringatan, permintaan yang menjadi pengharapan.


Continue reading Jejak Kata "Ingat"

“Tiga Puluh Delapan Tahun Menunggu”

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Malam itu sunyi. Di tepi kolam Betesda, seorang lelaki terbaring di atas tikar lusuh. Tubuhnya kaku, lumpuh, tak berdaya. Tiga puluh delapan tahun ia menunggu, berharap air kolam berguncang dan seseorang menolongnya masuk. 

Tapi setiap kali air bergolak, orang lain lebih cepat. Ia hanya bisa menatap, pahit, kecewa, dan semakin yakin bahwa nasibnya dikutuk.

Hari itu berbeda. Seorang asing mendekat, tatapannya tajam namun penuh belas kasih. Lelaki lumpuh itu bersiap mendengar kata-kata simpati yang biasa: “Sabar ya, mungkin suatu saat giliranmu.” Tapi yang keluar justru pertanyaan yang menusuk jantungnya:

“Maukah engkau sembuh?”

Ia terdiam. Pertanyaan itu bukan sekadar tentang fisiknya. Itu seperti pisau yang membelah lapisan hatinya: apakah ia sungguh ingin sembuh, atau selama ini ia lebih nyaman menyalahkan keadaan?

Ia sadar, selama puluhan tahun ia tidak hanya lumpuh secara tubuh, tetapi juga lumpuh secara jiwa. Terikat pada alasan, pada keadaan, pada rasa tidak berdaya.

 

Fokus pada eksternal (external locus of control)

Lelaki lumpuh ini menggantungkan harapan pada “alat” (kolam, orang lain, keadaan). Ini disebut external locus of control, yaitu keyakinan bahwa hidup ditentukan oleh faktor luar. Akibatnya, ia kehilangan motivasi internal untuk berubah.


Self-deception (penipuan diri)

Ia tidak jujur pada dirinya sendiri. Ia lebih mudah menyalahkan keadaan daripada mengakui bahwa ia tidak berusaha. Ini merupakan self-deception, yaitu mekanisme pertahanan diri agar tidak merasa bersalah, tapi justru membuat stagnan (tidak berubah).


Pertanyaan Yesus sebagai terapi eksistensial

“Maukah engkau sembuh?” adalah pertanyaan yang memaksa iseseorang menghadapi dirinya sendiri. Pertanyaan ini mengajak manusia untuk memilih secara sadar, bukan sekadar pasrah pada keadaan.

 

Yesus sebagai pusat pemulihan

Injil Yohanes 5:6 menekankan bahwa kesembuhan bukan berasal dari kolam, bukan dari ritual, bukan dari alat. Kesembuhan sejati datang dari Yesus. Teologi Kristen menegaskan bahwa manusia tidak diselamatkan oleh usaha atau sarana, tetapi oleh anugerah Allah.


Pertanyaan ilahi sebagai panggilan iman

Tuhan tidak langsung menyembuhkan, Ia bertanya dulu. Mengapa? Karena iman harus lahir dari kejujuran hati. Tuhan menghendaki manusia melihat dirinya apa adanya, lalu memilih percaya.


Simbol lumpuh 38 tahun

Angka 38 melambangkan waktu yang panjang, stagnasi, dan ketidakberdayaan manusia. Teologi menafsirkan ini sebagai gambaran kondisi rohani manusia tanpa Kristus: lumpuh, menunggu, tanpa harapan sejati.


Kisah ini bukan hanya tentang seorang lumpuh di Betesda. Ini tentang kita semua. Kita sering lumpuh oleh alasan, oleh keadaan, oleh rasa tidak mampu. Kita menunggu “alat”: kesempatan, orang lain, sistem padahal yang kita butuhkan adalah Tuhan Yesus sendiri.

Pertanyaan Yesus tetap relevan: “Maukah engkau sembuh?” Itu bukan sekadar pertanyaan fisik, tetapi panggilan untuk jujur pada diri sendiri, berhenti menyalahkan keadaan, dan berani percaya bahwa pemulihan sejati datang dari-Nya.


Continue reading “Tiga Puluh Delapan Tahun Menunggu”

Pendeta dan Tamu Masa Kini

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Di zaman ini, ketika pendeta menerima tamu, sering kali tamu itu tidak lagi datang dengan mengetuk pintu ruang konseling atau beranjak menaiki anak tangga menuju kantor gereja. 

Banyak dari mereka datang lewat layar kecil: melalui kolom komentar, pesan pribadi, siaran langsung, atau potongan video pendek yang tersebar begitu cepat. Media sosial telah menjadi ruang tamu baru, ruang tanpa sekat, tanpa tembok, tanpa jarak.

Inilah ruang terbuka yang benar-benar dimiliki manusia modern. Lapang, bebas, namun sekaligus penuh risiko. 

Di dalamnya, setiap suara bisa terdengar, setiap respons bisa dinilai, dan setiap ajaran bisa diangkat atau dijatuhkan oleh ribuan mata yang bahkan tak pernah bertemu muka.

Di ruang seperti inilah hikmat yang benar dan sejati diuji. Tidak cukup bagi seorang pendeta hanya memberitakan kebenaran dari mimbar yang nyaman dan aman. 

Karena pada akhirnya, kebenaran itu akan memasuki aliran percakapan media sosial, tempat opini bersilangan dan kesabaran sering kali terkikis. Pemberitaan harus siap diuji, bukan hanya didengar. Ia harus tahan dikritik, diverifikasi, digugat, dan diperiksa oleh publik yang semakin kritis, bahkan sinis.

 

Oleh sebab itu, seorang pendeta tidak hanya memikul tanggung jawab untuk menyampaikan firman, tetapi juga menghadirkan kehadiran yang bijak di ruang maya. 

Ketika pendeta menerima tamu lewat media sosial, sebenarnya ia sedang menghadapi dunia yang lebih luas daripada ruang kerjanya. Dunia di mana jemaat, penonton acak, dan para pencari kebenaran datang dari segala arah.

Medsos adalah medan ujian integritas yang tidak bisa dihindari. Apa yang diberitakan harus selaras dengan apa yang ditampilkan. 

Apa yang diajarkan harus tampak nyata dalam tanggapan dan cara berinteraksi. Sebab di ruang tanpa tembok itu, suara pemimpin rohani tidak boleh hanya bergema. Ia harus bertahan.

Pada akhirnya, media sosial bukan ancaman, melainkan kesempatan. Kesempatan untuk menunjukkan bahwa hikmat sorgawi tetap kokoh, bahkan ketika dilayangkan di tengah arus komentar. 

Kesempatan untuk menjadikan ruang digital sebagai bagian dari pelayanan pastoral yang asli: menjawab, mendengar, menegur, menguatkan, dan menghadirkan terang di tempat di mana manusia modern paling banyak menghabiskan waktunya.

Di sinilah pendeta kini menerima tamu. 

Di ruang terbuka yang menguji, mengasah, dan sekaligus memperluas jangkauan kasih. Sebab firman tidak pernah dimaksudkan tinggal di ruang tertutup. Ia harus berjalan ke tempat di mana manusia berada, termasuk ke ruang tanpa sekat bernama media sosial.


Continue reading Pendeta dan Tamu Masa Kini

Tuesday, January 13, 2026

Ketulusan Yusuf dan Seni Mengambil Keputusan

ged pollo

oleh: grefer pollo



Matius 1:19

Dalam terjemahan Indonesia, ayat ini berbunyi: "Karena Yusuf suaminya seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam."

Kata tulus hati di sini diterjemahkan dari bahasa Yunani δίκαιος (dikaios), yang secara harfiah berarti benar, adil, righteous. Jadi, tulus bukan sekadar “baik hati” dalam arti modern, melainkan menunjuk pada seseorang yang hidup sesuai dengan hukum dan keadilan Allah.

 

Etimologi:

  • Yunani: δίκαιος (dikaios)
    • Akar kata dari dike (δικη), berarti keadilan, hukum, kebenaran.
    • Digunakan dalam konteks hukum Romawi maupun etika Yahudi.
  • Padanan Ibrani: צַדִּיק (tsaddiq)
    • Berarti benar, adil, orang yang hidup sesuai Taurat.
    • Kata ini sering muncul dalam Perjanjian Lama, misalnya Mazmur 1:6: “TUHAN mengenal jalan orang benar (צַדִּיק).”
    • Dalam tradisi Yahudi abad pertama, seorang tsaddiq adalah orang yang menjaga kemurnian hidup sesuai hukum Taurat, tetapi juga dikenal karena belas kasihnya.

Dengan demikian, kata tulus dalam terjemahan Indonesia adalah upaya menangkap nuansa dikaios/tsaddiq: bukan hanya benar secara hukum, tetapi juga jernih hati, tidak mencari keuntungan diri, dan berbelas kasih.

 

Contoh Penggunaan pada Zaman Itu

  1. Dalam komunitas Yahudi abad pertama
    • Seorang tsaddiq adalah orang yang dihormati karena kesetiaan pada Taurat.
    • Misalnya, imam atau kepala keluarga yang menjaga kesucian ritual dan keadilan sosial.
  2. Dalam literatur rabinik
    • Kata tsaddiq dipakai untuk menggambarkan orang yang tidak hanya taat hukum, tetapi juga penuh belas kasih.
    • Ada pepatah rabinik: “Orang benar (tsaddiq) menimbang hukum dengan kasih.”
  3. Dalam konteks Yusuf
    • Sebagai seorang dikaios/tsaddiq, Yusuf seharusnya menegakkan hukum Taurat yang bisa menghukum Maria. Namun ketulusannya tampak dalam keputusan untuk tidak mempermalukan Maria, melainkan mencari jalan yang penuh belas kasih.
    • Di sini terlihat integrasi antara hukum (justice) dan kasih (mercy).

 

Dalam kisah Matius 1:18–25, kita melihat sosok Yusuf yang hatinya diuji oleh keadaan yang sulit dipahami. Ia mendapati Maria, tunangannya, mengandung sebelum mereka hidup bersama. 

Menurut hukum Taurat, situasi ini bisa berujung pada hukuman berat. Namun, Yusuf digambarkan sebagai seorang yang tulus dan adil. Ketulusannya dikalibrasi oleh hukum yang berlaku, tetapi juga dituntun oleh suara hati dan wahyu ilahi.

Ketulusan itu teruji dalam pengambilan keputusan. Yusuf tidak terburu-buru, tidak menyerahkan Maria pada aib publik, melainkan memilih jalan yang penuh belas kasih. 

Keputusan ini bukan sekadar hasil logika, melainkan buah dari hati yang jernih dan keberanian untuk melampaui bias manusiawi.

 

Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Manusia

Ilmu psikologi modern menegaskan bahwa manusia sering terjebak dalam dua bias utama:

  • Confirmation bias: kecenderungan mencari bukti yang mendukung keyakinan sendiri, sehingga menutup diri dari perspektif lain.
  • Availability heuristic: kecenderungan mengandalkan informasi yang paling mudah diingat, meski belum tentu paling relevan atau benar.

Kedua bias ini membuat keputusan sering kali tidak murni rasional, melainkan dipengaruhi oleh keterbatasan cara berpikir.

 

 Refleksi dari Kisah Yusuf

Sejak kecil, saya pernah membaca sebuah quote: “dalam keadaan kecewa, sulit sekali membuat keputusan bijaksana”. 

Kekecewaan menutup mata hati, membuat seseorang mudah terperangkap dalam bias. Karena itu, refleksi menjadi kunci.

Yusuf memberi teladan: ia tidak membiarkan kekecewaan menguasai dirinya. Ia menimbang hukum, mempertimbangkan belas kasih, dan akhirnya membuka diri pada suara Tuhan. 

Keputusan yang lahir bukan sekadar hasil kalkulasi, melainkan buah dari ketulusan yang teruji.

 

Pelajaran untuk Semua Kalangan

  • Refleksi sebelum bertindak: berhenti sejenak, menimbang ulang, agar tidak terjebak dalam bias.
  • Ketulusan sebagai kompas: hati yang jernih mampu menembus kabut emosi dan tekanan sosial.
  • Keseimbangan antara hukum dan kasih: keputusan bijak lahir dari integrasi antara aturan dan belas kasih.

Catatan singkat ini mengingatkan kita bahwa pengambilan keputusan bukan hanya soal logika, tetapi juga soal hati. 

Yusuf menunjukkan bahwa ketulusan yang teruji mampu melampaui bias manusiawi, sehingga keputusan yang diambil bukan sekadar benar menurut hukum, tetapi juga indah menurut kasih.


baca juga: Mengapa Memberitakan Firman Tuhan Sebelum Engkau Mempelajarinya?

Continue reading Ketulusan Yusuf dan Seni Mengambil Keputusan

Mengapa Memberitakan Firman Tuhan Sebelum Engkau Mempelajarinya?

 

ged pollo

oleh: grefer pollo

Banyak orang beranggapan bahwa para murid Yesus hanyalah orang sederhana, tidak terpelajar, bahkan dianggap bodoh. Namun, pandangan itu keliru.

Untuk melihat itu lebih dalam, perlu memahami model pendidikan di masa hidup para murid-murid itu.

Sebagian besar pendidikan di masa Israel kuno terjadi di dalam rumah. Ini dibuktikan dengan pengajaran Musa kepada orang Israel atas perintah Allah seperti yang ada dalam Ulangan 6:4-9. 

Tugas-tugas itu menjadi peran orang tua untuk mengajarkan anak-anak tentang Allah di setiap kesempatan. Pengajaran lain seperti tentang doa dan perayaan serta menceritakan sejarah Israel (Keluaran 13:14-16). Model pembelajarannya dengan cara menghafal atau mengingat-ingat.

Anak laki-laki pada masa Perjanjian Lama memiliki kesempatan lebih untuk memperoleh pendidikan yang lebih formal. Contohnya, Samuel dididik oleh imam Eli (1 Samuel 1:24-26).

Dari belajar di rumah kemudian di sinagoge. Ada yang berpendapat bahwa tujuan utama dari sinagoge adalah bersifat pengajaran. Pelayanan Yesus di sinagoge adalah mengajar (Matius 4:23).

Anak laki-laki berusia 5 tahun akan bergabung dalam “rumah baca” (beth sepher). Di  usia 13 tahun melanjutkan ke “rumah pengajaran” (beth midrash).

Jenjang pendidikan Yahudi sebagai berikut:

  • MIQ'RA (membaca Taurat) mulai usia 5 tahun
  • MISH'NAH mulai usia 10 tahun
  • MITSVOT pada usia 13 tahun (zaman Yesus 12 tahun, usia Bar Mitsva)
  • TALMUD pada usia 15 tahun
  • MID’RASH (level madarasah) diikuti pada usia 20 tahun

Pada zaman Tuhan Yesus melayani ada 2 Beit Midrash yang terkenal: BEIT HILEL (House of Hillel) dan BEIT SHAMAY.

Tepat di usia 30 tahun baru mereka boleh mengajar di depan umum.

Sehingga bisa dipastikan bahwa para murid Yesus adalah mereka yang sudah pernah belajar dan diajar di rumah oleh orang tua mereka dan juga di sinagoge.

Dalam tatanan masyarakat Yahudi saat itu, Yesus dari Nazaret tidak akan disebut seorang "Rabbi" dan diberi kesempatan mengajar di Bait Allah atau sinagoge jika Dia sendiri tidak pernah melakukan pendidikan formal tentang Taurat di area di dalam Bait Allah.

Dalam Kisah Para Rasul 4:13 Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes  dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa  yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.

Ayat ini sering disalah mengertikan. Banyak orang Kristen sendiri untuk membenarkan. Ketika para pemimpin Yahudi menyebut Petrus dan Yohanes sebagai agrammatoi kai idiōtai (Istilah Yunani agrammatoi kai idiōtai dalam Kisah Para Rasul 4:13 berarti “tidak berpendidikan (agrammatoi) dan orang biasa (idiōtai)”

Ini bukan sekadar tuduhan bahwa murid Yesus buta huruf, melainkan penilaian bahwa mereka tidak memiliki pendidikan formal atau status sosial yang tinggi).

Mereka yang ada di persidangan itu mengukur otoritas berdasarkan pendidikan formal rabinik yang saat itu ada dua institusi: yaitu BAIT HILLEL & BEIT SHAMAI. Mereka belum mengenal sesungguhnya bahwa ada satu lagi sekolah atau Beit Midrash yang dibangun sendiri oleh Sang Rabbi Agung, yaitu Rabbi YESHUA HAMASIAKH.

Para murid Yesus Kristus dididik sekitar 3,5 tahun berdasarkan proses pemuridan yang telah dijalani bersama seorang Rabbi Agung, Yesus Kristus.

Ini sebuah modl pendidikan intensif di mana para murid hidup, tingggal, berjalan, makan, dan minum bersama Yesus Kristus.

Tuhan Yesus sendiri dihormati sebagai Rabbi (Yoh. 3:2; 20:16) oleh kalangan elit keagamaan (misalnya Nikodemus). 

Dengan demikian, jika menyebut para murid sebagai “orang tidak terpelajar” bukanlah penyangkalan atas proses pembelajaran mereka saja tetapi juga tidak mengakui pemuridan yang Yesus sudah lakukan terhadap mereka.

Kembali kepada poin di awal tulisan ini bahwa para murid ini orang-orang yang sudah belajar terlebih dahulu dari Sang Rabi Yesus dari Nazaret. Sehingga, bagian yang sering disebut sebagai amanat agung dalam Matius 28:19-20:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Yesus perintahkan untuk mereka mengajarkan berdasarkan apa yang Yesus sudah pernah ajarkan kepada mereka.

Amanat ini bukan sekadar perintah, melainkan mandat untuk melanjutkan kurikulum surgawi yang telah mereka terima. Mereka tidak diutus dengan tangan kosong. Setelah pengajaran, mereka menerima Roh Kudus, sesuai janji Yesus:

“Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26).

Roh Kudus menjadi pengingat, pengajar, dan penolong, memastikan bahwa apa yang Yesus tanamkan tidak hilang, melainkan terus hidup dalam hati dan pikiran mereka.

Karena itu, bagaimana mungkin seorang pelayan firman masa kini entah itu presbiter, pendeta, maupun pengajar Alkitab, berani berdiri di mimbar tanpa terlebih dahulu belajar sungguh-sungguh, berdoa, berpuasa, bergumul dengan Roh Kudus, dan tekun dalam pemahaman Alkitab? 

Memberitakan firman bukanlah sekadar berbicara, melainkan melanjutkan tradisi pengajaran Yesus yang penuh kuasa dan kebenaran.

Roh Kudus bekerja di dalam hati dan pikiran mereka yang sudah pernah menerima pengajaran firman Allah sebelumnya.

Pelayanan firman menuntut disiplin rohani dan intelektual. Sama seperti para murid yang ditempa oleh Yesus dan diingatkan oleh Roh Kudus, demikian pula setiap pelayan masa kini harus mempersiapkan diri dengan serius. Tanpa itu, khotbah hanya menjadi kata-kata kosong, bukan firman yang hidup.

Murid Yesus adalah teladan bahwa belajar, doa, dan bergumul dengan Roh Kudus adalah fondasi pelayanan. Firman yang diberitakan harus lahir dari hati yang ditempa, pikiran yang dipenuhi pengajaran Kristus, dan roh yang digerakkan oleh Roh Kudus.


baca juga: Ketika Alam Bicara,Manusia Harus Mendengar

baca juga: Di Rumah Yang Kudus tapi Luka



Continue reading Mengapa Memberitakan Firman Tuhan Sebelum Engkau Mempelajarinya?

Sunday, January 11, 2026

,

Ketika Alam Bicara, Manusia Harus Mendengar

 

ged pollo

oleh: grefer pollo

Malam itu, seorang lelaki tua duduk di tepi sungai yang hampir kering. Ia menyalakan lampu minyak kecil, menatap air yang tinggal sejengkal, berkilau seperti kaca retak. “Dulu,” katanya lirih, “anak-anak mandi di sini, ikan melompat, dan pohon-pohon berbisik.”

Tiba-tiba, dari balik gelap, seorang anak kecil muncul membawa seikat uang lusuh. “Kakek, bukankah uang bisa membeli apa saja? Kalau sungai ini kering, kita beli saja airnya.” Lelaki tua itu tersenyum getir.

Dia meraih uang itu, lalu melemparnya ke sungai. Uang itu mengapung sebentar, lalu tenggelam, tak mampu menghidupkan arus.

Anak itu terdiam. Namun sebelum ia bertanya lagi, suara gemuruh terdengar dari hutan. Pohon-pohon yang tinggal beberapa batang bergerak seolah hidup, akar-akar mencabut diri, dan satu pohon besar berjalan mendekat.

Pohon itu berbicara, “Aku bisa hidup tanpa kalian. Tapi kalian tidak bisa hidup tanpa aku.” Anak itu gemetar, menyadari bahwa uangnya hanyalah kertas, sementara pohon itu adalah napas.


baca juga: Bahasa: JalanPikiran, Cermin Jiwa, dan Ujian Kejujuran


Pepatah kuno bangsa asli Amerika pernah berkata: “When the last tree is cut down, when the last fish eaten, when the last stream poisoned, you will realize that you cannot eat money.” 

Terjemahan: “Ketika pohon terakhir ditebang, ketika ikan terakhir dimakan, ketika sungai terakhir diracuni, barulah engkau akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan.”

Pulau Paskah (Easter Island) menjadi simbol tragis: hutan ditebang habis untuk membangun patung raksasa, hingga masyarakat kehilangan sumber daya dan runtuh. 

Mesopotamia kuno pun mengalami kehancuran akibat tanah yang rusak karena irigasi berlebihan. Sejarah membuktikan bahwa peradaban yang meremehkan alam akhirnya meruntuhkan dirinya sendiri.

Penelitian modern menegaskan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Hutan tropis menghasilkan lebih dari 20% oksigen dunia, laut menyerap sekitar 30% emisi karbon dioksida global, dan ekosistem sehat menjaga siklus air serta iklim. 

Laporan Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) menyebutkan satu juta spesies kini terancam punah, dan hilangnya keanekaragaman hayati langsung mengancam pangan serta kesehatan manusia (ipbes_global_assessment_report_summary_for_policymakers.pdf).

Alam pernah dan bisa hidup tanpa manusia. Tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Tanpa air bersih, udara segar, dan tanah subur, manusia hanyalah bayangan rapuh yang menunggu giliran punah.


baca juga: Legacy: “Warisanyang Tak Bisa Dijilat”


Cerita di awal tulisan ini hanyalah cermin kecil dari kenyataan besar: uang tidak bisa menggantikan pohon, ikan, atau sungai. 

Sejarah dan ilmu pengetahuan sudah cukup memberi peringatan. Pertanyaannya kini: apakah kita akan menunggu sampai pohon terakhir benar-benar tumbang, atau kita memilih untuk merawatnya sebelum terlambat?

 


Continue reading Ketika Alam Bicara, Manusia Harus Mendengar