Februari 2026 berdiri seperti sebuah panggung yang
unik: bulan singkat dengan simetri yang jarang terjadi, di mana setiap
hari—Minggu hingga Sabtu—muncul tepat empat kali.
Kalender ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah
drama kosmik yang menegur manusia.
Waktu berbaris rapi, seolah Tuhan Semesta Alam sedang
menunjukkan bahwa Ia mampu menata keteraturan, sementara kita sering hidup
dalam kekacauan.
Ada humor yang menyelinap di baliknya: mereka yang
selalu mengeluh “terlalu banyak Senin”, “I Hate Monday”, “I Love Friday”, kini
benar-benar mendapat empat Senin penuh, lengkap dengan rapat, tugas, dan
rutinitas.
Seakan-akan surga sedang tersenyum, mengingatkan kita
bahwa keluhan kecil bisa menjadi cermin kelemahan kita.
Namun di balik humor itu, ada gema firman: “Untuk
segala sesuatu ada waktunya, untuk setiap perkara di bawah langit ada
waktunya.” (Pengkhotbah 3:1).
Kalender ini menjadi simbol keadilan waktu—setiap hari
diberi kesempatan yang sama. Pertanyaannya: apakah kita memberi kesempatan yang
sama bagi setiap hari untuk menjadi kudus, produktif, dan penuh makna?
Atau kita hanya menunggu Minggu untuk beribadah, Jumat
untuk bersantai, dan membiarkan hari-hari lain berlalu tanpa kesadaran rohani
dan pengembangan akal budi, moralitas, dan spiritual?
Narasi ini menyingkap kenyataan: hidup kita singkat,
dan kesempatan unik seperti Februari 2026 mungkin tidak akan terulang sepanjang
hidup kita.
Sama seperti hidup itu sendiri—sekali lewat, tidak
bisa diulang. Maka kalender ini adalah panggilan untuk bertobat.
Bertobat dari kemalasan yang membiarkan waktu
terbuang. Bertobat dari rutinitas kosong yang membunuh rasa kagum.
Bertobat dari hati yang hanya mencari kenyamanan,
bukan kedalaman.
Jika setiap hari dalam bulan ini diberi giliran yang
sama, maka setiap hari dalam hidup kita pun layak diberi makna yang sama.
Jangan biarkan Senin menjadi hari keluhan, Selasa
menjadi hari terburu-buru, Rabu menjadi hari hambar.
Jadikan setiap hari altar kecil: tempat syukur, doa,
kerja yang jujur, dan kasih yang nyata.
Kalender ini menantang kita: apakah kita akan terus
hidup dalam pola lama, atau berani menata ulang hidup dengan disiplin,
refleksi, dan spiritualitas yang segar?
Februari 2026 adalah puisi kalender, tetapi juga
panggilan pertobatan.
Ia berkata dengan suara yang tegas: “Waktu tidak
menunggumu. Bertobatlah, gunakanlah setiap hari dengan bijak, dan jadilah
manusia yang bertumbuh—produktif dalam kerja, kudus dalam hati, dan penuh kasih
dalam komunitas.”
Efesus 5:16 (BIS) Gunakanlah sebaik-baiknya setiap
kesempatan yang ada padamu, karena masa ini adalah masa yang jahat.
0 comments:
Post a Comment