Di sebuah gereja tua yang berdiri kokoh di tengah kota, jemaat berkumpul
untuk ibadah Minggu. Pendeta Samuel, sosok yang dikenal bijak namun penuh
kejutan, berdiri di mimbar. Suaranya bergetar, bukan karena gugup, melainkan
karena ia hendak membuka sebuah kisah yang jarang ia ceritakan.
“Saudara-saudara,” katanya, “ada satu peristiwa yang tak pernah saya
lupakan. Hari itu saya memimpin pemberkatan nikah kudus sepasang pengantin
muda. Semua berjalan indah—doa, janji suci, dan berkat Tuhan turun dengan
damai.”
Pendeta berhenti sejenak, menatap jemaat dengan sorot mata penuh
misteri. “Namun setelah ibadah selesai, saya menjabat tangan kedua mempelai dan
berkata: Selamat berperang.”
Ruangan hening. Jemaat menatapnya dengan bingung. Bahkan dalam kisahnya,
pengantin yang ia ceritakan pun sempat terkejut, wajah mereka pucat, seolah
kata-kata itu adalah nubuat yang menakutkan.
Pendeta Samuel tersenyum tipis. “Mereka bertanya, mengapa saya berkata
begitu? Saya menjawab: karena tadi, saat kalian masuk, kalian diiringi lagu
perang.”
Jemaat mulai berbisik. Lagu perang? Bukankah itu Bridal Chorus
yang megah?
Pendeta melangkah turun dari mimbar, suaranya semakin dalam. “Tahukah kalian, Bridal Chorus karya Wagner bukan sekadar musik romantis. Dalam operanya, lagu itu mengiringi Elsa menuju kamar pengantin—sebuah prosesi yang sarat simbol perjuangan.
Bukan sekadar cinta, melainkan pertempuran
mempertahankan kesetiaan, melawan godaan, melawan dunia yang ingin merobek
janji suci.”
Tiba-tiba, pintu gereja berderit keras. Seorang jemaat muda berlari
masuk, wajahnya panik. “Pendeta! Ada keributan di luar, sekelompok orang
bersenjata datang!”
Suasana berubah tegang. Jemaat berdiri, beberapa berdoa dengan suara gemetar. Pendeta Samuel menatap mereka dengan tenang. “Inilah maksud saya. Pernikahan, iman, hidup—semuanya adalah medan perang.
Bukan dengan senjata,
melainkan dengan keberanian, kesetiaan, dan kasih.”
Ia mengangkat Alkitab tinggi-tinggi. “Hari itu saya berkata selamat
berperang kepada pengantin. Hari ini saya berkata hal yang sama kepada
kalian semua. Karena setiap orang yang berjanji setia pada Tuhan dan sesamanya,
sedang berperang melawan kegelapan.”
Di luar, suara gaduh semakin dekat. Jemaat menahan napas. Namun di dalam
gereja, kata-kata pendeta itu berubah menjadi api semangat. Mereka sadar: kisah
pernikahan itu bukan sekadar cerita, melainkan panggilan.
Dan sejak hari itu, jemaat mengenang ucapan sang pendeta bukan sebagai
keanehan, melainkan sebagai deklarasi perang rohani.
Wedding march adalah musik prosesi pernikahan. Biasanya dimainkan saat: pengantin masuk (processional), atau pengantin keluar gereja (recessional).
Yang paling
terkenal:
a. Bridal Chorus – Richard Wagner (Here Comes the Bride)
b. Wedding March” – Felix Mendelssohn
Ciri khasnya:
o ritme tegas dan teratur
o tempo maju ke depan
o nuansa agung, khidmat, dan penuh kemenangan
Lalu, kenapa
disebut “lagu perang”?
Secara sejarah
musik, march (mars) bukan lagu cinta, tapi: berasal dari musik militer dan dipakai
untuk:
·
mengiringi pasukan berjalan
·
menaikkan keberanian
·
menandai *kemenangan setelah
pertempuran*
Ciri musik
perang/mars:
·
ketukan kuat (2/4 atau 4/4)
·
ritme stabil → untuk langkah kaki
·
nada megah → simbol kekuasaan
& kemenangan
Jadi secara asal-usul,
wedding march memang berakar dari musik perang / kemenangan.
Di sinilah makna
simboliknya dalam pernikahan jadi dalam (dan indah) bahwa pernikahan dipandang
sebagai:
·
bukan akhir dongeng, tapi awal
perjuangan
·
dua orang masuk ke dalam
perjanjian
dan siap
menghadapi:
·
konflik
·
pengorbanan
·
tanggung jawab
·
kesetiaan jangka panjang
Maka wedding march
melambangkan:
Ø “Kami melangkah maju—bukan mundur.
Ø Kami siap berjuang bersama.”
Dalam konteks iman
Kristen:
·
pernikahan = perjanjian (covenant),
bukan sekadar perasaan
·
musik mars = keseriusan, tekad,
dan kemenangan yang diharapkan
Jadi… pantaskah wedding
march dipakai dalam ibadah pemberkatan nikah kudus?
Bukan soal “lagu
perang = salah”, tapi soal makna yang dipahami.
Wedding march
bukan:
❌ romantis manis
❌ lagu perasaan
Melainkan:
✅ lagu komitmen
✅ lagu keberanian
✅ lagu *perjalanan hidup*
Wagner- Bridal Chorus from Lohengrin
Lirik Asli
(Bahasa Jerman)
Treulich geführt
ziehet dahin,
wo euch der Segen
der Liebe bewahr'!
Siegreicher Mut,
Minnegewinn
eint euch in Treue
zum seligsten Paar.
Streiter der
Tugend, schreite voran!
Zierde der Jugend,
schreite voran!
Rauschen des Festes
seid nun entronnen,
Wonne des Herzens
sei euch gewonnen!
Duftender Raum, zur
Liebe geschmückt,
nehm' euch nun auf,
dem Glanze entrückt.
Treulich geführt
ziehet nun ein,
wo euch der Segen
der Liebe bewahr'!
Siegreicher Mut,
Minne so rein
eint euch in Treue
zum seligsten Paar.
Wie Gott euch selig
weihte,
zu Freude weihn
euch wir.
In Liebesglücks
Geleite
denkt lang’ der
Stunde hier!
Treulich bewacht
bleibet zurück,
wo euch der Segen
der Liebe bewahr'!
Terjemahan Bahasa
Inggris
Faithfully guided,
draw near
where the blessing
of love shall preserve you!
Victorious courage,
love’s reward
unites you in
faithfulness as the happiest pair.
Champion of virtue,
step forward!
Adornment of youth,
step forward!
The noise of the
feast is now behind you,
the bliss of the
heart be now yours!
Fragrant chamber,
adorned for love,
receives you now,
away from the splendor.
Faithfully guided,
enter therein,
where the blessing
of love shall preserve you!
Victorious courage,
love so pure
unites you in
faithfulness as the happiest pair.
As God has blessed
you,
so do we consecrate
you to joy.
In the escort of
love’s happiness
remember long this
hour here!
Faithfully guarded,
remain behind,
where the blessing
of love shall preserve you!
Banyak versi lirik
Here Comes the Bride yang beredar, tetapi *tidak ada lirik resmi yang
universal* — karena ini pada awalnya *musik instrumental atau paduan suara
dalam opera*, bukan lagu pop dengan lirik populer.
Bridal Chorus / Here Comes the Bride (Wagner)
0 comments:
Post a Comment