Sunday, June 28, 2026

Ada Cerita di Rumah Marta

 

ged pollo


"Rumah yang penuh aktivitas belum tentu penuh hadirat. Tetapi rumah yang memberi ruang bagi Tuhan akan selalu memiliki damai, bahkan ketika dipenuhi kesibukan."

 

Rumah Marta sedang tidak seperti biasanya.

Biasanya rumah itu hanya dihuni Marta, adiknya Maria, dan suara terompet yang setiap sore dimainkan murid-murid les musik. Anak-anak desa mengenal rumah itu sebagai tempat belajar musik sekaligus tempat mendapat segelas teh hangat kalau hujan turun.

Namun minggu itu berbeda.

Rumah sederhana di ujung desa mendadak berubah menjadi "basecamp" panitia.

Ada sembilan orang datang silih berganti. Mereka sedang mempersiapkan Kongres Remaja yang akan berlangsung hari itu. Sebagian panitia berasal dari kota sehingga memilih menginap di rumah Marta.

Ruang tamu berubah menjadi ruang rapat dan tempat tidur. Juga dipenuhi laptop, kabel roll, gunting, ATK, dan... entah sejak kapan ada tiga gelas kopi yang isinya tinggal setengah tetapi tidak ada pemiliknya.

Rumah itu ramai. Sangat ramai.

"Hari ini kegiatannya seperti apa?, mana rundown-nya?"

"Ada yang punya charger?"

Ada yang sering bilang, “Oesao, naaaaa …”

Kalimat-kalimat itu terdengar hampir setiap lima menit.

Ada yang bilang IAJK: Inipun Akan Jadi Kenangan.

Di tengah keramaian itu, Marta bergerak ke sana kemari seperti dirigen yang memimpin orkestra tanpa jeda.

Pagi memasak. Lalu membantu persiapan kegiatan.

Belum lagi memastikan semua tamu tidur dengan nyaman.

Mereka berdoa dan menyanyi bersama. Lagu yang sangat menyentuh: Lingkupiku.

Banyak cerita di rumah itu yang tentunya tidak akan habis diceritakan.

Inipun Akan Jadi Kenangan.

Panitia sangat terbantu dengan rumah Marta dan bantuannya.

Tuhan Yesus hadir di rumah itu dan memberi berkat bagi pemilik rumah dan mereka yang tinggal dan bekerja dari situ.

Hati yang tinggal dekat dengan-Nya akan selalu menemukan kekuatan untuk melayani, mengasihi, dan menjalani hidup dengan sukacita."

 


0 comments:

Post a Comment