"Rumah yang
penuh aktivitas belum tentu penuh hadirat. Tetapi rumah yang memberi ruang bagi
Tuhan akan selalu memiliki damai, bahkan ketika dipenuhi kesibukan."
Rumah Marta sedang
tidak seperti biasanya.
Biasanya rumah itu
hanya dihuni Marta, adiknya Maria, dan suara terompet yang setiap sore
dimainkan murid-murid les musik. Anak-anak desa mengenal rumah itu sebagai
tempat belajar musik sekaligus tempat mendapat segelas teh hangat kalau hujan
turun.
Namun minggu itu
berbeda.
Rumah sederhana di
ujung desa mendadak berubah menjadi "basecamp" panitia.
Ada sembilan orang
datang silih berganti. Mereka sedang mempersiapkan Kongres Remaja yang akan
berlangsung hari itu. Sebagian panitia berasal dari kota sehingga memilih
menginap di rumah Marta.
Ruang tamu berubah
menjadi ruang rapat dan tempat tidur. Juga dipenuhi laptop, kabel roll,
gunting, ATK, dan... entah sejak kapan ada tiga gelas kopi yang isinya tinggal
setengah tetapi tidak ada pemiliknya.
Rumah itu ramai. Sangat
ramai.
"Hari ini
kegiatannya seperti apa?, mana rundown-nya?"
"Ada yang punya
charger?"
Ada yang sering
bilang, “Oesao, naaaaa …”
Kalimat-kalimat itu
terdengar hampir setiap lima menit.
Ada yang bilang IAJK: Inipun Akan Jadi Kenangan.
Di tengah keramaian
itu, Marta bergerak ke sana kemari seperti dirigen yang memimpin orkestra tanpa
jeda.
Pagi memasak. Lalu membantu
persiapan kegiatan.
Belum lagi memastikan
semua tamu tidur dengan nyaman.
Mereka berdoa dan
menyanyi bersama. Lagu yang sangat menyentuh: Lingkupiku.
Banyak cerita di
rumah itu yang tentunya tidak akan habis diceritakan.
Inipun Akan Jadi
Kenangan.
Panitia sangat
terbantu dengan rumah Marta dan bantuannya.
Tuhan Yesus hadir di
rumah itu dan memberi berkat bagi pemilik rumah dan mereka yang tinggal dan
bekerja dari situ.
Hati yang tinggal
dekat dengan-Nya akan selalu menemukan kekuatan untuk melayani, mengasihi, dan
menjalani hidup dengan sukacita."
0 comments:
Post a Comment