Saturday, February 13, 2021

Doa dan puasa

 

grefer pollo
oleh Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd


Mengapa Saudara tidak dapat melakukan apa yang seharusnya Saudara lakukan?

Mengapa Saudara sudah berjuang juga tetapi belum mendapatkan apa yang Saudara harapkan?


Ada sebuah pertanyaan yang masih relevan sampai saat ini, yakni: pertanyaan para murid Yesus kepada Yesus: “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?”


Saya mengajak saudara untuk melihat konteks atau alasan di balik pertanyaan para murid Yesus ini.


Suatu kali Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. 

Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu. 

Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. 

Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. 

Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." 

Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. 

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka. Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. 

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?" Kata seorang dari orang banyak itu: "Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. 

Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat. "Maka kata Yesus kepada mereka: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? 

Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: "Sudah berapa lama ia mengalami ini?" 

Jawabnya: "Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami."

Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya! "Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"

Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: "Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi! 

"Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: "Ia sudah mati." Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.

“Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?" Jawab-Nya kepada mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa."

Menurut Matius 17:21 ada kalimat di dalam tanda kurung: (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.)"


mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?

Ya, mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu? Versi Matius 17:19 "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" Karena, jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.

 

Pada masa-masa sekarang ini kita banyak melihat kondisi gereja-gereja yang melemah. Terlihat begitu banyak masalah timbul dan timbul, datang dan datang lagi seolah tak habis-habisnya berbagai penderitaan mendera kehidupan orang percaya sehingga banyak yang bertanya: “Sampai kapan, Tuhan?” “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Namun, gereja seolah tak berdaya. Tak dapat berbuat apa-apa. 

Jumlah gedung gereja bertambah. Jumlah gedung gereja yang direnovasi dan terlihat semakin megah bertambah. Tumbuh denominasi gereja baru. Tetapi, kehidupan kekristenan tidak berubah secara nyata. Mereka yang disebut beragama Kristen semakin jauh dari persekutuan Kristen. Mereka itu masih tetap hidup dalam berbagai kejahatan. Baik yang terselubung dan tersembunyi maupun yang nyata.

 

Ya, biarkan jemaat Allah ... bertanya, ‘Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?’, ‘Mengapa ribuan orang tidak datang untuk mendengar Injil ketika khotbah di beritakan di gereja-geraja, di jalan-jalan, di lapangan-lapangan, di rumah-rumah jemaat, dan sebagainya?” 

Adanya pelacuran di jalan-jalan kota kita, di rumah-rumah, di tempat-tempat umum. Mengapa jemaat Allah tidak menyingkirkan itu semua? Begitu banyak dosa yang paling busuk sedang merajalela. 

Begitu busuk dan kejinya sehingga sangat malu jika dikatakan. Tetapi, bagaimana mungkin kita tidak bisa mengusirnya?... Kenapa kita tidak menengking dan melemparkan kekuatan-kekuatan jahat keluar? Mengapa ada juga banyak orang yang setelah bertahun-tahun berkhotbah, tetapi kehidupannya tetap sama seperti sebelumnya. Hidupnya tidak berubah. Setan apa yang telah merasuki mereka? Mengapa kita tidak bisa mengusirnya?


relevansi doa dan puasa

Di sinilah letak relevansi dari jawaban Yesus kepada murid-murid-Nya: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa” (Matius 17:21).

Di tengah-tengah dunia yang makin sibuk, makin gemerlap dengan berbagai aktivitas dan keramaian, justru memberi dampak kepada kesepiannya manusia. 

Berbagai depresi, kecanduan, keputusasaan, stres, perilaku agresif dan irasional merupakan wujud atau produk kesepian. Kesepian ini telah menjadi penyebab dan pemicu dari berbagai dosa yang kemudian muncul dalam budaya dan kebiasaan masyarakat masa kini. 

Jika saja gereja tidak segera memberi bantuan kepada mereka yang kesepian, maka sulit mengharapkan orang-orang yang kesepian itu akan datang dan menikmati ibadah bersama Tuhan Yesus dalam gereja.

Sama seperti rumah, keluarga, adalah tempat yang paling tepat dan nyaman untuk mengusir kesepian maka demikianlah gereja sudah seharusnya menjadi tempat yang penting dan rumah kedua bagi mereka yang kesepian dan terhilang agar kembali kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat mereka.

 

Ya, kesepian menjadi sarana yang tepat bagi setan untuk menghancurkan kehidupan orang-orang percaya kepada Tuhan. Dosa dan kejahatan begitu merajalela dan seolah sulit dibendung dan dihentikan. 

Demikian pula berbagai masalah hidup dan bencana seolah tak berhenti. Pandemi covid-19 telah melanda dunia kita lebih dari 1 tahun dan seolah-olah semakin sulit diatasi. Pandemi ini menambah kesulitan dan penderitaan panjang kehidupan manusia di bumi ini. Semua ini mulai menyesakkan dada dan hati anak-anak Tuhan dan orang-orang percaya.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama sering mengisahkan kisah berulang yakni bangsa Israel yang telah berdosa kepada Tuhan Allah, lalu Tuhan Allah mengijinkan masalah dan penderitaan datang menimpa mereka dan kemudian mereka mulai merendahkan diri dengan berpuasa, mengaku dosa, dan berdoa kepada Allah, maka Allah mendengarkan doa mereka lalu memulihkan negeri mereka. 

Demikianlah pada masa ini anak-anak Tuhan mulai menunjukkan kesadaran akan hal ini. Mereka mulai merendahkan diri dan berpuasa, mencari wajah Allah, dan berdoa memanggil nama Tuhan Allah semesta alam di dalam Yesus Kristus. Kiranya Allah menunjukkan rahmat-Nya.

 

Mengenai doa dan puasa ini, Saya teringat beberapa kisah.

Pertama, dari Lukas 2:36-38. Kisah tentang Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. 

Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat Yesus berusia 8 hari dan dibawa ke Bait Allah, Hana juga datang ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.


Kedua, Dr. Timothy Lin, pendeta di gereja Baptis Cina. Dia telah menghabiskan banyak waktu untuk berpuasa dan berdoa. Allah menunjukkan kepada Dr Lin pentingnya menyembuhkan kesepian sebagai sarana membawa orang-orang muda yang terhilang. 

Dia sering berkata, “Kita harus menyembuhkan kesepian orang-orang muda. Geraja harus dibuat menjadi rumah kedua bagi mereka. Pada tahun 1960 gereja itu melakukan apa yang dikatakan oleh Dr. Lin, dan ratusan orang muda datang dari dunia dan masuk ke dalam gereja.


Ketiga, Abraham Lincoln. Dia adalah presiden Amerika Serikat ke-16 yang dikenang sebagai orang yang jujur, berani dan baik hati. Dia dibesarkan di keluarga penganut gereja Baptis.

 

Dalam buku Doa dan Puasa Menentukan Masa Depan yang ditulis oleh Derek Prince, pada halaman-halaman awalnya mencatat sebuah pengumuman yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat Tentang Hari Nasional untuk Merendahkan Diri, Berpuasa dan Berdoa

Dokumen pengumuman ini ditandatangani dan dimeteraikan dengan meterai Negara Amerika Serikat oleh Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pada 30 Maret tahun 1863, yaitu tahun ke delapan puluh tujuh semenjak Kemerdekaan Amerika Serikat.

Penetapan pengumuman ini didasarkan atas permohonan dari Dewan Perwakilan (Senat) Negara-Negara Bagian Amerika Serikat dan sesuai dengan pandangan-pandangan yang telah dikemukakan oleh pihak Senat sebagai berikut:

 

Bahwasanya Dewan Perwakilan (Senat) Negara-Negara Bagian Amerika Serikat mengakui dengan penuh hormat bahwa Kedaulatan Tertinggi serta Pemerintahan yang Benar dan Adil atas kehidupan semua manusia dan segala bangsa di dunia berada di tangan Allah Yang Maha Kuasa

Karena itu, setiap orang harus akui bahwa mereka bergantung kepada Allah yang berdaulat atas segala sesuatu itu dan mengakui segala, dosa dan kesalahan mereka dengan penuh penyesalan dan kerendahan hati namun dengan harapan yang pasti bahwa orang yang sungguh-sungguh bertobat akan menerima belas kasihan dan pengampunan; untuk menyadari kebenaran yang mulia yang diajarkan oleh Kitab Suci dan yang telah dibuktikan oleh perjalanan sejarah, bahwa yang mendapatkan berkat hanyalah bangsa-bangsa yang Allahnya adalah Tuhan

Dalam hukum ilahi-Nya diketahui bahwa tidak saja manusia secara perorangan tetapi juga bangsa-bangsa secara keseluruhan dapat dihukum dan dihajar oleh Tuhan di dalam dunia.

Senat ini mengakui bahwa mereka harus kuatir akan adanya perang saudara yang sedang terjadi yang merupakan malapetaka menyedihkan yang dapat menghancurkan negeri ini. 

Perang saudara ini terjadi karena dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Mereka telah diberkati Allah dengan curahan berkat Surgawi penuh damai dan sejahtera yang begitu besar sekian tahun lamanya

Mereka telah mengalami pertambahan dalam jumlah penduduk,  harta kekayaan, dan kekuasaan, sebagaimana belum pernah dialami oleh bangsa yang lain. Tetapi kemudian kita melupakan Allah.

Dengan berbagai pertimbangan ini kemudian, Presiden Abraham Lincoln menetapkan secara khusus hari Kamis, tanggal 30 bulan April 1863 menjadi hari nasional untuk merendahkan diri, berpuasa, dan berdoa. 

Beliau meminta agar seluruh rakyat pada hari itu tidak melakukan kegiatan duniawi yang sehari-hari, tetapi berkumpul di berbagai rumah ibadah umum dan di rumah mereka masing-masing, untuk menguduskan hari itu bagi Tuhan, sehingga hari itu dipakai untuk melakukan kewajiban keagamaan yang semestinya dengan penuh kerendahan hati. 

Dengan rendah hati mereka berharap atas dasar pengajaran Ilahi, bahwa jerit tangis seluruh Bangsa yang bersatu ini akan didengar  di tempat yang maha tinggi, lalu dijawab dengan curahan berkat dan pengampunan segala dosa sebagai suatu bangsa, sehingga negri mereka dipulihkan dari perpecahan dan penderitaan, dan mencapai keadaan yang damai dan bersatu kembali seperti semula.

 

Apakah pengalaman bangsa Amerika Serikat Tentang Hari Nasional untuk Merendahkan Diri, Berpuasa dan Berdoa pada 158 tahun yang lalu itu menghasilkan sesuatu seperti yang mereka harapakan? Tdntunya sejarah pengalaman berbangsa dan bernegara Amerika Serikat menjadi saksi atas peristiwa hari itu.


Sebelum mengakhiri bagi ini, saya ingin menyampaikan bahwa meski demikian, kita harus berhati-hati dan bijaksana untuk tidak salah berpikir dan beriman. 

Kita tidak boleh berpikir bahwa doa dan puasa secara otomatis akan menghasilkan kebangunan rohani - atau pertobatan. Doa dan puasa jangan dijadikan sebagai mesin untuk menghasilkan produk yang kita kehendaki atau memuaskan keinginan kita.

Janganlah berpikir dan beriman bahwa Allah sebagai “kuasa” yang dapat kita manipulasi. 

Ingatlah apa yang telah dilakukan oleh Simon si penyihir itu seperti yang tertulis dalam Kisah Para rasul 8:18-20 “Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus." Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. ..”

Berhati-hatilah! Jika kita terjebak dalam pemikiran bahwa kuasa Allah dapat dibeli dan dipermainkan maka kemudian kita akan memanipulasi dan menjadikan doa dan puasa sebagai sebuah sarana untuk mendapatkan kuasa itu demi memuaskan hawa nafus kita. Dan, itu menyesatkan.

 Allah adalah roh. Dan, Roh Allah adalah suatu pribadi yang tidak bisa dan tidak boleh “diperintah” ataupun “diperalat” dengan mengucapkan kata-kata tertentu atau ritual tertentu bahkan ritual doa dan puasa.

Pada 2 Samuel 12:16-20, dikisahkan tentang doa puasa yang Raja daud lakukan demi anaknya yang ditulahi Allah dengan sakit. Daud memohon kepada Allah dan berpuasa demi anak itu, tetapi anak itu kemudian mati. 

Allah memiliki rencana-Nya sendiri. Doa dan puasa seharusnya dilakukan demi mendukung rencana Allah dan program Kerajaan Allah seperti yang dinyatakan dalam Doa Bapa kami: “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

Karena itu, ketika berdoa dan berpuasa demi seuatu yang telah digumuli dan diperjuangkan, demi masalah, bencana, penyakin, mengatasi pandemi covid-19, dan sebagainya maka kita harus berhati-hati untuk menyadari bahwa Dia adalah Allah yang kudus. 

Dia adalah pribadi yang nyata, yang harus diperlakukan dengan hormat, dan rasa hormat. Berdoa dan berpuasa yang dilakukan dengan baik dan bijak dapat memberi dampak kepada keinginan, perasaan untuk lebih intens dari jiwa untuk terus mencari dan bersekutu dengan Allah dalam kemuliaan dan kekudusan-Nya lebih daripada yang pernah dilakukan pada waktu lainnya.

 

Mari kita semua sungguh-sungguh berdoa agar kiranya Allah menarik orang-orang yang kesepian itu ke dalam gereja. 

Kiranya Allah menggerakkan gereja-Nya untuk menyatakan kemuliaan Allah demi jani-janji Allah. Kiranya Allah memberi “perasaan membutuhkan” Allah bagi mereka yang kesepian sehingga mendatangkan pertobatan yang nyata.

Ada kabar baik bagi saudara yang belum bertobat, yaitu Yesus mengasihi saudara. Dia telah mati di kayu Salib untuk membayar penghukuman dosa kita. 

Darah-Nya dicurahkan di kayu Salib itu untuk menyucikan kita dari segala dosa. Dia telah bangkit secara fisik dari antara orang mati untuk memberikan hidup kekal kepada saudara. Jangan sia-siakan kesempatan ini. 

Jangan remehkan kabar baik yang saudara dengar saat ini. Karena bukanlah kebetulan jika saudara telah mendengar kabar baik ini. Allah punya rencana dan tujuan atas hidupmu. 

“Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kisah Rasul 16:31). Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

 

Sekarang bagaimana dengan keadaan kita ditengah pandemi covid-19 dan berbagai masalah bangsa dan negara maupun gereja. Apakah kita akan bergerak atau digerakkan untuk melakukan hari Merendahkan Diri, Berpuasa dan Berdoa demi keselamatan gereja, bangsa dan negara? Tentu saudara sudah mengetahui jawabannya.


Apakah Saudara sudah pernah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Saudara? Mengapa penting melakukan ini? Dalam Alkitab pada kitab Injil Yohanse 1:12 berkata : "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;" Juga dalam Yohanes 3:16 berkata "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." 

Jika Saudara belum pernah menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi Saudara, Saudara dapat berdoa seperti ini:

"Tuhan Yesus, saya mengaku bahwa saya adalah orang berdosa. Saya memohon belas kasihan dan pengampunan-Mu. Ampuni saya Tuhan. Saya membuka hati saya bagi-Mu. Masuklah dalam hati saya. Jadilah Tuhan, Juruselamat, dan raja saya selama-lamanya. Roh Kudus, didiklah saya menjadi dewasa di dalam Tuhan. Bapa di sorga, terima kasih telah mengangkat saya menjadi anak-anak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.


Sumber bacaan:

Doa dan puasa menentukan masa depan oleh Derek Prince

http://asset-mel-1.airsquare.com/dpmid/library/free_mp3_and_books/shaping-history-through-prayer-fasting.pdf?201901182257

 

DOA DAN PUASA UNTUK MENYELAMATKAN ZAMAN KITA (KHOTBAH NO 3 TENTANG KEBANGUNAN ROHANI)

https://www.rlhymersjr.com/Online_Sermons_Indonesian/2014/080314PM_PrayerAndFasting.html

 


2 comments:

  1. Syalom, terima kasih p Ged untuk pemikiranya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Shalom @guru Belajar Menyenangkan, terima kasih untuk responnya

      Delete