Sunday, February 15, 2026

Kisah Oel dan Lelo

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Dua Dunia

Oel hidup di kota panas, di mana matahari seperti penguasa tunggal. Siang hari terasa panjang, malam pun masih menyimpan gerah. Ia sering berkata, “Di sini, bahkan bayangan pun berkeringat.”

Lelo tinggal di pegunungan berkabut. Pagi selalu basah, embun menempel di rambut, dan langkah keluar rumah seperti memasuki dunia lain. Ia sering bergurau, “Di sini, bahkan matahari pun malu-malu.”

Dua dunia berbeda, tapi hati mereka saling mencari. Rindu tumbuh, meski tertutup kabut tebal.

 

Rindu yang Tertawa

Pesan singkat jadi jembatan mereka. Oel menulis: “Hari ini panas sekali, aku bisa goreng telur di atas kap mobil.” Lelo membalas: “Kalau begitu kirim saja ke sini, biar aku makan sambil duduk di kabut.”

Humor kecil itu jadi cara mereka menertawakan jarak. Namun di balik tawa, ada ayat yang mereka pegang: “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati” (1 Korintus 13:4). Rindu mereka diuji oleh jarak, tapi kasih membuat mereka bertahan.

 

Pertemuan Pertama

Suatu hari, Oel mendapat kesempatan menghadiri pertemuan komunitas di kota Lelo. Perjalanan panjang ditempuh. Bus yang ia naiki panas, kipas angin hanya berputar pelan. “Kalau Paulus bisa tahan kapal karam, aku harus tahan kipas bus ini,” gumamnya.

Sesampainya di kota Lelo, kabut tipis menyelimuti jalan. Oel menunggu di sebuah taman. Lelo datang dengan langkah cepat, wajahnya setengah gugup. Mereka berdua berdiri canggung, seperti dua orang yang sudah lama saling kenal tapi baru pertama kali bertemu.

“Jadi ini kamu?” kata Lelo sambil tersenyum. “Ya, ini aku. Tidak lebih tinggi dari bayanganmu, kan?” jawab Oel.

Tawa mereka pecah. Rindu yang selama ini samar akhirnya menemukan bentuk.

 

Konflik Kecil

Setelah pertemuan, hubungan mereka semakin erat. Namun jarak tetap jadi ujian. Suatu kali, Oel menulis panjang lebar tentang panas yang membuatnya lelah. Lelo membalas singkat: “Aku sibuk, nanti aku jawab.”

Oel merasa diabaikan. Lelo merasa Oel terlalu menuntut. Kesalahpahaman kecil itu membuat mereka diam beberapa hari.

Namun akhirnya, Lelo menulis: “Maaf, aku seperti Petrus yang tenggelam karena melihat badai. Aku lupa menatap Yesus. Aku sibuk dengan kabutku sendiri.” Oel membalas: “Aku juga salah. Aku seperti Yunus yang lari ke panasnya perut ikan. Mari kita kembali ke doa.”

Konflik kecil itu justru membuat mereka lebih dewasa. Mereka belajar bahwa kasih bukan hanya tentang tawa, tapi juga tentang sabar.

 

Ujian Iman

Jarak semakin terasa. Oel mulai bertanya-tanya: apakah rindu ini layak dipertahankan? Lelo pun kadang merasa kabut terlalu tebal untuk ditembus.

Namun mereka menemukan kekuatan dalam doa. Ayat yang mereka pegang kini adalah: “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16).

Doa mereka seperti dua aliran sungai yang bertemu di laut. Tidak terlihat, tapi nyata.

 

Pertemuan Kedua

Waktu berlalu. Oel kembali ke kota Lelo, kali ini bukan untuk urusan komunitas, tapi untuk bertemu Lelo. Pertemuan kedua lebih matang. Tidak ada lagi canggung, hanya kehangatan.

Mereka duduk di warung kecil, makan bakso bersama. Lelo berkata, “Kalau Yesus bisa memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, kira-kira kita bisa kenyang dengan satu bakso berdua?” Oel menjawab, “Bisa, asal kamu yang dapat baksonya, aku cukup kuahnya.”

Tawa mereka pecah, tapi kali ini lebih dalam. Ada rasa aman, ada keyakinan bahwa panas dan kabut bisa bertemu.

 

Romantis Reflektif

Mereka mulai melihat panas dan kabut sebagai metafora hidup. Oel berkata, “Panas mengajarkanku untuk bertahan, kabut mengajarkanmu untuk menunggu. Kalau kita bertemu, kita belajar saling melengkapi.” Lelo menjawab, “Ya, panas tanpa kabut terlalu keras, kabut tanpa panas terlalu dingin. Kita butuh satu sama lain.”

Mereka tahu perjalanan masih panjang. Tapi seperti matahari yang akhirnya menembus kabut, mereka percaya kasih akan menemukan jalan.

 

Epilog

Oel kembali ke kota panasnya, Lelo tetap di daerah kabut embun. Jarak tetap ada, tapi hati mereka sudah menemukan rumah.

Seperti ayat yang mereka pegang: “Segala sesuatu ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Mereka percaya, suatu hari nanti, panas dan kabut akan bertemu dalam satu ruang yang sama—tanpa lagi ada jarak, tanpa lagi ada rindu yang tertutup.


0 comments:

Post a Comment