Malam itu, seorang lelaki tua duduk di tepi sungai yang hampir kering.
Ia menyalakan lampu minyak kecil, menatap air yang tinggal sejengkal, berkilau
seperti kaca retak. “Dulu,” katanya lirih, “anak-anak mandi di sini, ikan
melompat, dan pohon-pohon berbisik.”
Tiba-tiba, dari balik gelap, seorang anak kecil muncul membawa seikat
uang lusuh. “Kakek, bukankah uang bisa membeli apa saja? Kalau sungai ini
kering, kita beli saja airnya.” Lelaki tua itu tersenyum getir.
Dia meraih uang itu, lalu melemparnya ke sungai. Uang itu mengapung
sebentar, lalu tenggelam, tak mampu menghidupkan arus.
Anak itu terdiam. Namun sebelum ia bertanya lagi, suara gemuruh
terdengar dari hutan. Pohon-pohon yang tinggal beberapa batang bergerak seolah
hidup, akar-akar mencabut diri, dan satu pohon besar berjalan mendekat.
Pohon itu berbicara, “Aku bisa hidup tanpa kalian. Tapi kalian tidak
bisa hidup tanpa aku.” Anak itu gemetar, menyadari bahwa uangnya hanyalah
kertas, sementara pohon itu adalah napas.
baca juga: Bahasa: JalanPikiran, Cermin Jiwa, dan Ujian Kejujuran
Pepatah kuno bangsa asli Amerika pernah berkata: “When the last tree is cut down, when the last fish eaten, when the last stream poisoned, you will realize that you cannot eat money.”
Terjemahan: “Ketika pohon terakhir
ditebang, ketika ikan terakhir dimakan, ketika sungai terakhir diracuni,
barulah engkau akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan.”
Pulau Paskah (Easter Island) menjadi simbol tragis: hutan ditebang habis untuk membangun patung raksasa, hingga masyarakat kehilangan sumber daya dan runtuh.
Mesopotamia kuno pun mengalami kehancuran akibat tanah yang rusak
karena irigasi berlebihan. Sejarah membuktikan bahwa peradaban yang meremehkan
alam akhirnya meruntuhkan dirinya sendiri.
Penelitian modern menegaskan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Hutan tropis menghasilkan lebih dari 20% oksigen dunia, laut menyerap sekitar 30% emisi karbon dioksida global, dan ekosistem sehat menjaga siklus air serta iklim.
Laporan Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and
Ecosystem Services (IPBES) menyebutkan satu juta spesies kini terancam
punah, dan hilangnya keanekaragaman hayati langsung mengancam pangan serta
kesehatan manusia (ipbes_global_assessment_report_summary_for_policymakers.pdf).
Alam pernah dan bisa hidup tanpa manusia. Tetapi manusia tidak bisa
hidup tanpa alam. Tanpa air bersih, udara segar, dan tanah subur, manusia
hanyalah bayangan rapuh yang menunggu giliran punah.
baca juga: Legacy: “Warisanyang Tak Bisa Dijilat”
Cerita di awal tulisan ini hanyalah cermin kecil dari kenyataan besar: uang tidak bisa menggantikan pohon, ikan, atau sungai.
Sejarah dan ilmu
pengetahuan sudah cukup memberi peringatan. Pertanyaannya kini: apakah kita
akan menunggu sampai pohon terakhir benar-benar tumbang, atau kita memilih
untuk merawatnya sebelum terlambat?
0 comments:
Post a Comment