Empat Tipe Karyawan dan Pilihan Rekrutmen
Dalam dunia kerja, kita sering berjumpa dengan beragam tipe karyawan.
Setiap tipe membawa konsekuensi berbeda terhadap produktivitas,
budaya organisasi, dan arah pertumbuhan. Secara garis besar, ada empat tipe
yang bisa kita amati:
1. Karyawan yang tidak tahu apa yang mau dikerjakan
Mereka hadir di kantor, tetapi bingung harus mulai dari mana. Tanpa arahan, mereka cenderung pasif.
Contohnya seorang staf baru
ditempatkan di gudang tanpa penjelasan: ia hanya duduk, tidak tahu apakah harus
mulai dari inventaris atau distribusi. Akibatnya, pekerjaan menumpuk.
“The cost of ignorance is far greater than the cost of
training.” ("Kerugian
akibat ketidaktahuan jauh melampaui biaya pelatihan.")
2. Karyawan yang tahu, tetapi bekerja hanya jika
disuruh dan diawasi
Mereka memahami tugas, tetapi motivasi eksternal mendominasi. Produktivitas bergantung pada pengawasan.
Seorang staf administrasi misalnya, tahu cara input data, tetapi hanya melakukannya ketika supervisor datang memeriksa.
Riset menunjukkan bahwa kontrol berlebihan
menurunkan kepuasan kerja dan meningkatkan burnout (keadaan ketika seseorang
merasa habis energi: fisik, mental, dan emosional).
3. Karyawan yang bekerja tanpa disuruh dan diawasi
Tipe ini mandiri, disiplin, dan menyelesaikan tugas sesuai target. Seorang teknisi yang rutin mengecek mesin setiap pagi tanpa diminta adalah contoh nyata.
Hasilnya, produksi jarang terganggu. Self‑determination
theory menegaskan bahwa otonomi meningkatkan keterlibatan dan kinerja.
Self-Determination Theory (SDT) dalam bahasa Indonesia biasanya disebut “Teori Determinasi Diri”.
Teori ini
menjelaskan bahwa motivasi manusia muncul secara alami ketika tiga
kebutuhan psikologis dasar terpenuhi:
- Otonomi → merasa punya kendali atas pilihan dan tindakan
sendiri.
- Kompetensi →
merasa mampu, berkembang, dan bisa menghadapi tantangan.
- Keterhubungan (relatedness) →
merasa dekat, diterima, dan terhubung dengan orang lain.
Dengan kata
lain:
- Orang akan lebih semangat kalau merasa bebas
menentukan jalan hidupnya,
- Merasa jago atau berkembang dalam apa yang
dikerjakan,
- Punya hubungan yang hangat dengan orang lain.
Contoh Praktis
- Di sekolah: siswa lebih rajin
belajar kalau setelah dituntun dan diarahkan, diberi kesempatan memilih
cara belajar, merasa mampu menguasai materi, dan punya guru/teman yang
mendukung.
- Di pekerjaan: karyawan lebih
termotivasi kalau diberi ruang mengambil keputusan, diberi tantangan
sesuai kemampuan, dan merasa dihargai dalam tim.
4. Karyawan yang bekerja tanpa disuruh dan memberi
masukan positif
Inilah tipe paling ideal. Mereka tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memperbaiki sistem.
Seorang staf pemasaran melihat data penjualan menurun, lalu menyusun analisis tren dan mengusulkan strategi digital baru. Hasilnya, penjualan naik 20%.
Harvard Business School
menemukan bahwa well‑being (keadaan sejahtera seseorang, mencakup kebahagiaan,
kesehatan fisik dan mental, serta kualitas hidup yang baik) dan
motivasi intrinsik berkorelasi langsung dengan produktivitas dan inovasi.
“Hire character. Train skill.” – Peter Schutz (= Utamakan karakter saat
merekrut, keterampilan bisa diajarkan kemudian).
Perbandingan Empat Tipe
|
Tipe
Karyawan |
Karakteristik |
Dampak |
Rekomendasi |
|
1. Tidak
tahu |
Bingung,
pasif |
Menghambat
tim |
Butuh
pelatihan intensif |
|
2. Tahu
tapi diawasi |
Paham
tugas, motivasi eksternal |
Produktivitas
rendah tanpa kontrol |
Cocok
untuk pekerjaan rutin |
|
3.
Mandiri |
Bekerja
tanpa disuruh |
Stabil,
efisien |
Baik
untuk operasional |
|
4.
Proaktif & memberi masukan |
Mandiri +
inovatif |
Produktivitas
& inovasi tinggi |
Pilihan
terbaik untuk rekrutmen |
Pengalaman faktual: Perusahaan teknologi seperti
Google dan Zappos menekankan budaya employee voice—karyawan bebas
memberi masukan. Hasilnya, inovasi lahir dari bawah, bukan hanya dari pimpinan.
Kesimpulan
Jika harus memilih, tipe ke‑4 adalah yang paling strategis untuk direkrut. Mereka bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga menjadi mitra berpikir bagi pimpinan.
Dalam konteks organisasi
kecil maupun besar, tipe ini akan membantu membangun budaya data, inovasi, dan
keberlanjutan.
“Motivasi adalah api dalam diri. Jika orang lain harus
menyalakan api itu untukmu, maka ia akan padam cepat.” – Stephen R. Covey
0 comments:
Post a Comment