Thursday, January 8, 2026

Empat Tipe Karyawan dan Pilihan Rekrutmen

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Empat Tipe Karyawan dan Pilihan Rekrutmen

Dalam dunia kerja, kita sering berjumpa dengan beragam tipe karyawan. 

Setiap tipe membawa konsekuensi berbeda terhadap produktivitas, budaya organisasi, dan arah pertumbuhan. Secara garis besar, ada empat tipe yang bisa kita amati:

1. Karyawan yang tidak tahu apa yang mau dikerjakan

Mereka hadir di kantor, tetapi bingung harus mulai dari mana. Tanpa arahan, mereka cenderung pasif. 

Contohnya seorang staf baru ditempatkan di gudang tanpa penjelasan: ia hanya duduk, tidak tahu apakah harus mulai dari inventaris atau distribusi. Akibatnya, pekerjaan menumpuk.

“The cost of ignorance is far greater than the cost of training.” ("Kerugian akibat ketidaktahuan jauh melampaui biaya pelatihan.")

 

2. Karyawan yang tahu, tetapi bekerja hanya jika disuruh dan diawasi

Mereka memahami tugas, tetapi motivasi eksternal mendominasi. Produktivitas bergantung pada pengawasan. 

Seorang staf administrasi misalnya, tahu cara input data, tetapi hanya melakukannya ketika supervisor datang memeriksa. 

Riset menunjukkan bahwa kontrol berlebihan menurunkan kepuasan kerja dan meningkatkan burnout (keadaan ketika seseorang merasa habis energi: fisik, mental, dan emosional).

 

3. Karyawan yang bekerja tanpa disuruh dan diawasi

Tipe ini mandiri, disiplin, dan menyelesaikan tugas sesuai target. Seorang teknisi yang rutin mengecek mesin setiap pagi tanpa diminta adalah contoh nyata. 

Hasilnya, produksi jarang terganggu. Self‑determination theory menegaskan bahwa otonomi meningkatkan keterlibatan dan kinerja.

Self-Determination Theory (SDT) dalam bahasa Indonesia biasanya disebut “Teori Determinasi Diri”

Teori ini menjelaskan bahwa motivasi manusia muncul secara alami ketika tiga kebutuhan psikologis dasar terpenuhi:

  1. Otonomi merasa punya kendali atas pilihan dan tindakan sendiri.
  2. Kompetensi merasa mampu, berkembang, dan bisa menghadapi tantangan.
  3. Keterhubungan (relatedness) merasa dekat, diterima, dan terhubung dengan orang lain.

 

Dengan kata lain:

  • Orang akan lebih semangat kalau merasa bebas menentukan jalan hidupnya,
  • Merasa jago atau berkembang dalam apa yang dikerjakan,
  • Punya hubungan yang hangat dengan orang lain.

 

Contoh Praktis

  • Di sekolah: siswa lebih rajin belajar kalau setelah dituntun dan diarahkan, diberi kesempatan memilih cara belajar, merasa mampu menguasai materi, dan punya guru/teman yang mendukung.
  • Di pekerjaan: karyawan lebih termotivasi kalau diberi ruang mengambil keputusan, diberi tantangan sesuai kemampuan, dan merasa dihargai dalam tim.

 

4. Karyawan yang bekerja tanpa disuruh dan memberi masukan positif

Inilah tipe paling ideal. Mereka tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memperbaiki sistem. 

Seorang staf pemasaran melihat data penjualan menurun, lalu menyusun analisis tren dan mengusulkan strategi digital baru. Hasilnya, penjualan naik 20%. 

Harvard Business School menemukan bahwa well‑being (keadaan sejahtera seseorang, mencakup kebahagiaan, kesehatan fisik dan mental, serta kualitas hidup yang baik) dan motivasi intrinsik berkorelasi langsung dengan produktivitas dan inovasi.

“Hire character. Train skill.” – Peter Schutz (= Utamakan karakter saat merekrut, keterampilan bisa diajarkan kemudian).

 

Perbandingan Empat Tipe

Tipe Karyawan

Karakteristik

Dampak

Rekomendasi

1. Tidak tahu

Bingung, pasif

Menghambat tim

Butuh pelatihan intensif

2. Tahu tapi diawasi

Paham tugas, motivasi eksternal

Produktivitas rendah tanpa kontrol

Cocok untuk pekerjaan rutin

3. Mandiri

Bekerja tanpa disuruh

Stabil, efisien

Baik untuk operasional

4. Proaktif & memberi masukan

Mandiri + inovatif

Produktivitas & inovasi tinggi

Pilihan terbaik untuk rekrutmen

 

Pengalaman faktual: Perusahaan teknologi seperti Google dan Zappos menekankan budaya employee voice—karyawan bebas memberi masukan. Hasilnya, inovasi lahir dari bawah, bukan hanya dari pimpinan.

 

Kesimpulan

Jika harus memilih, tipe ke‑4 adalah yang paling strategis untuk direkrut. Mereka bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga menjadi mitra berpikir bagi pimpinan. 

Dalam konteks organisasi kecil maupun besar, tipe ini akan membantu membangun budaya data, inovasi, dan keberlanjutan.

“Motivasi adalah api dalam diri. Jika orang lain harus menyalakan api itu untukmu, maka ia akan padam cepat.” – Stephen R. Covey


0 comments:

Post a Comment