Di dunia modern yang penuh seminar motivasi dan kutipan Instagram, kita
sering mendengar kalimat ini:
“Orang gila adalah mereka yang mengharapkan hasil berbeda, tapi terus
melakukan hal yang sama.”
Kata-kata ini, yang sering dikaitkan dengan Einstein (meski tidak
terbukti ia mengucapkannya), telah menjadi semacam liturgi sekuler.
Ia terdengar bijak, provokatif, dan sedikit menyindir. Tapi mari kita gali lebih dalam. Apakah benar orang gila itu hanya mereka yang tidak belajar dari kesalahan?
Atau ada jenis kegilaan lain yang lebih halus, lebih religius,
dan lebih... Ayubiah?
baca juga: Empat Tipe Karyawan dan Pilihan Rekrutmen
Gila Menurut Dunia: Logika yang Terjebak Pola Lama
Bayangkan seorang petani yang setiap tahun menanam jagung di tanah yang sama, dengan cara yang sama, dan pupuk yang sama meski hasilnya terus menurun.
Ia berharap panen melimpah, tapi tak pernah mengubah metode. Dunia menyebutnya
“gila”. Tapi apakah ia gila, atau hanya setia pada tradisi?
Atau seorang pemimpin gereja yang terus mengadakan rapat tanpa agenda,
berharap jemaat makin aktif. Ia tidak gila, ia hanya... optimis berlebihan.
Kegilaan versi dunia adalah ketika harapan tidak sejalan dengan
tindakan. Ketika kita ingin hasil baru, tapi tetap memakai pola lama. Dunia
menyebutnya tidak rasional. Tuhan mungkin menyebutnya... belum bertobat.
baca juga: Di Rumah yang Kudus tapi Luka
Gila Menurut Ayub: Iman yang Terlalu Selektif
Ayub, sang tokoh penderitaan, pernah berkata kepada istrinya yang
menyuruhnya mengutuk Tuhan:
“Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Tuhan, tetapi tidak mau
menerima yang buruk?” (Ayub
2:10)
Di sini, Ayub menyindir jenis kegilaan yang lebih spiritual: orang
yang hanya ingin berkat, tapi menolak proses.
Mereka ingin mujizat, tapi tidak mau sakit. Ingin pengurapan, tapi tidak
mau kehancuran ego.
Mereka ingin Tuhan sebagai penyelamat, tapi bukan sebagai penggali akar dosa.
Ayub, dalam penderitaannya, justru menunjukkan kewarasan rohani:
menerima Tuhan dalam segala musim.
Sedangkan mereka yang hanya ingin yang baik dari Tuhan, itulah kegilaan
yang dibungkus liturgi.
Humor Surgawi
Bayangkan Tuhan melihat umat-Nya berdoa agar hujan turun, tapi tidak
menyiapkan ladang.
Atau berdoa agar gereja penuh, tapi tidak pernah menyapa tetangga.
Tuhan mungkin berkata, “Anak-Ku, kau bukan gila... hanya terlalu yakin dan lupa
bahwa Aku pernah berkata: “Pergi dan beritakanlah Injil…”
Kegilaan rohani adalah ketika kita berharap perubahan tanpa pertobatan.
Ketika kita ingin buah Roh, tapi tetap menyiram akar kedagingan.
Dan mari kita jujur: kadang kita semua sedikit gila. Kita ingin damai,
tapi tetap menyimpan dendam.
Kita ingin Tuhan bicara, tapi tidak pernah membuka Alkitab.
Kita ingin hidup baru, tapi tetap tidur di kasur lama dosa.
baca juga: Bersama PemimpinMasa Depan: Refleksi dari Sebuah Kelas
Pikirkan dan Doakan
Jika kegilaan dunia adalah mengulang kesalahan, dan kegilaan Ayub adalah
iman yang selektif, maka kewarasan sejati adalah keberanian untuk berubah
dan menerima Tuhan secara utuh.
Mari kita ubah doa kita dari:
“Tuhan, beri aku berkat.”
Menjadi:
“Tuhan, bentuk aku agar layak menerima berkat.”
Mari kita ubah tindakan kita dari:
“Aku akan tetap begini, semoga hasilnya beda.”
Menjadi:
“Aku akan berubah, meski hasilnya belum terlihat.”
“Jika kamu ingin hasil yang baru, jangan takut menjadi orang yang “aneh” di mata dunia. Karena kadang, yang disebut gila oleh dunia, justru sedang waras di hadapan Tuhan.”
0 comments:
Post a Comment