Lukas 9:23: "Setiap orang yang mau
mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan
mengikut Aku."
1. Mmakna literal
- Menyangkal diri (ἀπαρνησάσθω ἑαυτόν / aparnēsasthō heauton) Secara etimologis, kata Yunani aparneomai berarti “menolak, menyangkal, tidak mengakui.” ----à Seorang murid harus menolak hak egoisnya, tidak menempatkan diri sebagai pusat.
- Memikul salib (ἀράτω τὸν σταυρόν / aratō ton stauron) Kata stauros berarti “tiang, salib” yang dalam konteks Romawi adalah alat eksekusi. -----à Kesiapan menghadapi penderitaan, bahkan kematian, sebagai konsekuensi mengikuti Yesus.
- Mengikut Aku (ἀκολουθείτω μοι / akoloutheitō moi) Kata akoloutheō berarti “mengiringi, berjalan bersama.” ----à Tindakan nyata mengikuti jejak Yesus, bukan sekadar pengakuan verbal.
2. Mmakna tafsir/kiasan
- Menyangkal diri → bukan hanya menolak ego, tetapi juga meninggalkan identitas lama yang terikat dosa. Dalam tradisi rabinik, “menyangkal” bisa berarti teshuvah (pertobatan), kembali kepada Allah dengan meninggalkan jalan lama.
- Memikul salib setiap hari → salib menjadi simbol penderitaan, tanggung jawab, dan panggilan. “Setiap hari” menekankan kontinuitas: bukan sekali, melainkan ritme hidup yang konsisten. Dalam tafsir patristik, ini berarti menerima kesulitan hidup sebagai bagian dari formasi rohani.
- Mengikut Aku → perjalanan eksistensial: bukan sekadar mengikuti secara fisik, tetapi meneladani pola hidup Kristus (kerendahan hati, kasih, pengorbanan). Dalam tradisi gereja awal, ini dipahami sebagai imitatio Christi (peneladanan Kristus).
3. Etimologi sebagai jembatan
- Aparneomai (menyangkal) → menolak klaim kepemilikan diri.
- Stauros (salib) → dari akar kata yang menunjuk pada “tiang tegak,” menjadi lambang penderitaan dan kemenangan.
- Akoloutheō (mengikut) → gabungan a- (bersama) dan keleuthos (jalan), artinya “berjalan di jalan yang sama.”
Refleksi
Ayat ini mengajak kita melihat iman bukan sekadar
pengakuan, tetapi sebuah jalan yang menuntut penyangkalan diri, kesetiaan
harian, dan kesediaan berjalan bersama Kristus dalam segala konsekuensi.
Gereja mula-mula pada 300-an tahun awal masehi
Selama 300-an tahun pertama, gereja mula-mula memang
tidak memiliki rumah ibadah resmi, tidak punya kekuatan politik, bahkan sering
ditekan dan ditindas. Namun, ada beberapa faktor kunci yang menjelaskan mengapa
mereka justru bertumbuh pesat dan akhirnya “mengalahkan” Roma tanpa senjata:
Faktor Utama Pertumbuhan Gereja Mula-Mula
- Kesaksian hidup dan kasih radikal Komunitas Kristen dikenal karena solidaritasnya: merawat orang miskin, janda, yatim, bahkan orang sakit saat wabah. Ini kontras dengan masyarakat Romawi yang cenderung individualis. Kasih praktis ini menarik banyak orang.
- Martir sebagai saksi iman Darah para martir menjadi benih gereja. Keteguhan iman mereka di hadapan penganiayaan memberi kesaksian kuat bahwa iman Kristen lebih berharga daripada hidup itu sendiri. Hal ini menimbulkan rasa hormat dan ketertarikan.
- Jaringan komunitas yang inklusif Gereja mula-mula membuka diri bagi semua golongan: budak, perempuan, orang miskin, bahkan bangsa non-Yahudi. Dalam dunia Romawi yang hierarkis, inklusivitas ini revolusioner.
- Keyakinan eskatologis dan pengharapan Orang Kristen hidup dengan pengharapan akan kebangkitan dan kerajaan Allah. Ini memberi kekuatan menghadapi penderitaan, sekaligus menawarkan jawaban atas kegelisahan spiritual masyarakat Romawi.
- Strategi misi dan penyebaran Mengikuti amanat Yesus (Great Commission), orang Kristen aktif menyebarkan Injil melalui jaringan sosial, perdagangan, dan perjalanan. Paulus dan para misionaris awal menggunakan kota-kota besar sebagai pusat penyebaran.
- Kelemahan agama Romawi tradisional Kultus pagan Romawi mulai kehilangan daya tarik karena ritualnya formal dan kurang memberi jawaban eksistensial. Kristen menawarkan relasi pribadi dengan Allah dan etika hidup yang jelas.
Roma ditaklukkan bukan dengan pedang, melainkan dengan
kesaksian hidup, kasih, dan pengharapan. Gereja mula-mula menunjukkan
bahwa kekuatan sejati bukanlah senjata atau kuasa politik, melainkan
transformasi hati dan komunitas yang hidup dalam kasih Kristus.
Perbandingan Gereja Awal (300 Tahun Pertama) vs Gereja Masa Kini
Gereja Awal (±30–313 M)
- Tanpa senjata, tanpa rumah ibadah resmi → ibadah di rumah-rumah, katakombe, atau tempat tersembunyi.
- Ditindas dan dianiaya → namun tetap bertumbuh karena kesaksian iman, kasih, dan pengharapan.
- Komunitas inklusif → menerima budak, perempuan, orang miskin, dan bangsa lain.
- Spirit pengorbanan → martir menjadi teladan iman, penderitaan dianggap bagian dari mengikuti Kristus.
- Kesederhanaan dan fokus pada misi → Injil disebarkan melalui relasi, perdagangan, dan perjalanan.
Gereja Masa Kini
- Kebebasan beribadah → memiliki gedung megah, fasilitas lengkap, bahkan teknologi canggih.
- Cenderung hedonis → sebagian gereja terjebak dalam budaya konsumtif, kemewahan, dan pencitraan.
- Komunitas eksklusif → kadang lebih menekankan status sosial daripada inklusivitas.
- Spirit kenyamanan → penderitaan dan pengorbanan sering dihindari, lebih fokus pada “berkat materi.”
- Misi melemah → Injil kadang dikaburkan oleh agenda pribadi, popularitas, atau tren dunia.
- Gereja Awal → meski ditekan, justru bertumbuh pesat karena kesaksian hidup yang autentik. Roma akhirnya “ditaklukkan” oleh kasih dan iman Kristen.
- Gereja Masa Kini → jika terus terjebak hedonisme, ada risiko kehilangan daya rohani, kehilangan kesaksian, dan menjadi tidak relevan bagi dunia. Gereja bisa tampak kuat secara institusi, tetapi lemah secara spiritual.
Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan gereja bukan pada
gedung, senjata, atau fasilitas, melainkan pada kesaksian hidup yang radikal
dalam kasih dan pengorbanan. Gereja masa kini perlu bercermin pada gereja
awal: apakah kita masih hidup dengan semangat menyangkal diri dan memikul
salib, atau justru lebih sibuk mengejar kenyamanan?
0 comments:
Post a Comment