“Kenangan yang berasal
dari kasih tidak pernah tersesat. Ia selalu tahu ke mana harus pulang. Karena kenangan tidak tahu caranya berpisah”
Aku pernah berpikir bahwa semua
yang pergi harus dilupakan.
Kupikir itulah definisi dewasa.
Jangan menoleh. Jangan
mengingat. Jangan menangis. Terus berjalan.
Namun hidup ternyata tidak
bekerja seperti tombol “hapus” pada layar ponsel. Ada hal-hal yang memang tidak
diciptakan untuk dihapus. Mereka hanya berubah bentuk.
Suatu sore, aku membuka sebuah
laci tua. Tidak ada yang istimewa di dalamnya. Hanya beberapa kartu ucapan,
foto yang warnanya mulai pudar, sebuah pulpen yang tintanya sudah habis, dan
secarik kertas berisi tulisan tangan seseorang.
Aku tersenyum.
Lucu sekali. Benda-benda itu
tidak memiliki suara, tetapi mereka mampu membuat ruangan yang sunyi menjadi
penuh percakapan.
Mereka mengajarkan satu hal.
Kenangan ternyata bukan
penghuni masa lalu.
Ia tinggal di dalam hati.
Aku pernah bertemu seorang
pendeta tua. Rambutnya hampir seluruhnya putih. Jalannya pelan. Suaranya pun
tidak lagi lantang. Namun ketika ia berbicara tentang orang-orang yang pernah
ia layani puluhan tahun lalu, matanya berbinar seperti seorang anak kecil.
“Apa Bapak masih ingat nama
mereka?” tanyaku.
Beliau tersenyum.
“Tidak semuanya.”
“Lalu apa yang Bapak ingat?”
“Saya ingat bagaimana Tuhan
mempertemukan kami.”
Kalimat itu terus mengikutiku.
Ternyata yang paling lama hidup
bukanlah nama.
Melainkan kasih.
Kasih selalu mempunyai ingatan
yang lebih kuat daripada waktu.
Ada orang yang datang hanya
beberapa minggu, tetapi meninggalkan jejak seumur hidup.
Ada pula yang tinggal
bertahun-tahun, namun kepergiannya hampir tidak menyisakan cerita.
Lalu aku mulai bertanya kepada
diriku sendiri.
Apa sebenarnya yang membuat
seseorang menjadi kenangan?
Bukan lamanya.
Melainkan kasih yang ia
tinggalkan.
Karena kasih selalu
meninggalkan bekas.
Sama seperti paku yang pernah
menembus tangan Yesus.
Bekasnya tetap ada, bahkan
setelah kebangkitan.
Luka-Nya sembuh.
Tetapi bekas kasih-Nya tetap
tinggal.
Bukankah itu indah?
Tuhan sendiri memilih menyimpan
bekas kasih.
Mengapa kita justru sibuk
menghapusnya?
Aku pernah berpamitan dari
sebuah tempat yang sudah terasa seperti rumah. Rumah Kutara dan ceritanya.
Hari terakhir selalu unik dan punya ceritanya sendiri.
Ada yang berkata, “Sampai
jumpa.”
Dengan kerinduan dan harapan semoga bertemu lagi.
Ada pelukan yang terlalu
singkat.
Ada doa yang terlalu panjang.
Ada mata yang tersenyum, tetapi
diam-diam sedang menahan hujan.
Saat mobil mulai bergerak
meninggalkan halaman gereja, aku menoleh sekali lagi.
Gedung itu semakin kecil.
Namun anehnya, rasa syukur
justru semakin besar.
Aku sadar.
Yang kutinggalkan bukanlah
sebuah bangunan.
Melainkan potongan hidupku
sendiri.
Ada doa yang pernah dinaikkan
di sana.
Ada air mata yang pernah jatuh
di sana.
Ada tawa anak-anak.
Ada rapat yang melelahkan.
Ada kesalahpahaman yang
akhirnya menjadi pengampunan.
Ada orang-orang yang diam-diam
mengajarkanku bagaimana menjadi manusia yang lebih baik.
Tempat itu mungkin tidak akan
mengingatku selamanya.
Tetapi aku tahu.
Tuhan mengingat setiap kisah
yang pernah terjadi di sana.
Dalam Alkitab, Tuhan sering
meminta umat-Nya untuk mengingat.
Mendirikan batu peringatan.
Merayakan Paskah.
Mengingat roti dan anggur.
Mengapa?
Karena manusia mudah lupa.
Dan ketika manusia lupa, mereka
kehilangan arah.
Kenangan ternyata bukan sekadar
nostalgia.
Kenangan adalah kompas.
Ia mengingatkan dari mana kita
berasal, siapa yang pernah mengasihi kita, dan kepada siapa kita harus kembali.
Barangkali itulah sebabnya anak
yang hilang akhirnya pulang.
Bukan karena jalannya mudah.
Melainkan karena kenangannya
tentang rumah masih hidup.
Ia masih ingat pelukan ayahnya.
Ia masih ingat kasih yang tidak
pernah berhenti menunggunya.
Kenangan itu menjadi jalan
pulang.
Kini aku mengerti.
Kenangan punya banyak cara mendekati kita.
Ada yang harus
dipeluk.
Ada yang cukup didoakan.
Ada yang cukup disyukuri.
Ada yang cukup dilepaskan
kepada Tuhan.
Namun jangan pernah
membencinya.
Karena tanpa kenangan, kita
kehilangan banyak guru terbaik dalam hidup.
Kenangan mengajarkan bahwa
Tuhan pernah setia.
Maka Ia akan tetap setia.
Kenangan mengingatkan bahwa
kita pernah ditolong.
Maka kita tidak perlu takut
menghadapi hari esok.
Kenangan membisikkan bahwa kita
pernah dicintai.
Maka kita pun dipanggil untuk
mencintai orang lain dengan cara yang sama.
Mungkin hari ini engkau
sedang berpamitan.
Dengan sebuah kota.
Sebuah gereja.
Sebuah pekerjaan.
Sebuah komunitas.
Atau seseorang yang begitu
berarti.
Jangan takut.
Kasih yang sejati tidak pernah
berhenti hanya karena jarak.
Ia hanya berganti cara untuk
hadir.
Kadang menjadi doa.
Kadang menjadi senyum saat
mengingat.
Kadang menjadi cerita yang kita
bagikan kepada orang lain.
Dan kadang, menjadi alasan
mengapa kita tetap percaya bahwa Tuhan mempertemukan orang-orang bukan untuk
saling memiliki, melainkan untuk saling membentuk.
Kadang Tuhan sengaja pertemukan
kita dengan seseorang untuk menyiapkan kita menjadi pribadi hyang lebih baik, lebih
dewasa, lebih matang, lebih bijak bagi orang lain. Pribadi lain.
Sebab setiap pertemuan adalah
titipan.
Setiap perpisahan adalah
pengutusan.
Dan setiap kenangan adalah
saksi bahwa Tuhan pernah bekerja di antara kita.
Jadi, jika suatu hari seseorang
bertanya, “Apakah kau masih mengingat mereka?”
Jawablah dengan tenang.
“Tentu.”
“Bukankah itu menyakitkan?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena jika dia benar-benar
bernama kenangan, maka dia akan tahu jalan pulang.”
Bukan selalu pulang kepada
kita.
Melainkan pulang kepada hati
yang telah dipenuhi kasih, dan kepada Tuhan, sumber dari setiap pertemuan yang
indah.
Terrrrrlaaaluuuu...
ReplyDeleteGoresan penuh pengertian bukan sekedar untuk dimengerti...
πππππ
Setuju. Karena dunia tidak butuh orang pintar. Tapi butuh pintar-pintar jadi orang ππ
DeleteSangat Memberkati,Terpujilah nama Tuhan Yesusπ
ReplyDelete