Apa Pilihanmu?
1 Korintus 15:2-4
Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya,
seperti yang telah kuberitakan kepadamu--kecuali kalau kamu telah sia-sia saja
menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu
apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena
dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa
Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
Jika selama kamu hidup kamu percaya bahwa Tuhan Yesus ada, lalu saat
kamu mati dan ternyata Tuhan Yesus tidak ada, maka paling tidak selama hidupmu
kamu telah memiliki alasan untuk mengampuni, melayani, memberi, mengasihi, dan
berharap.
Namun jika selama kamu hidup kamu percaya bahwa Tuhan Yesus tidak ada,
lalu saat kamu mati ternyata Tuhan Yesus ada, maka konsekuensinya jauh lebih
serius daripada sekadar salah perhitungan intelektual.
Pernyataan ini sering dianggap sebagai versi populer dari "Pascal's
Wager", tetapi sebenarnya persoalannya lebih dalam daripada sekadar
untung-rugi.
Ini menyentuh pertanyaan paling mendasar dalam hidup manusia: Apa
yang menjadi dasar kita hidup?
Faktanya, manusia tidak pernah benar-benar hidup tanpa iman. Orang
percaya kepada Tuhan. Orang lain percaya kepada dirinya sendiri.
Sebagian percaya kepada sains. Sebagian percaya kepada pasar, kekuasaan,
pendidikan, atau logika.
Masalahnya bukan apakah seseorang beriman atau tidak.
Masalahnya adalah kepada siapa atau kepada apa iman itu ditempatkan.
Di sinilah satir (ungkapan yang
mengandung kritikan) kehidupan modern muncul. Kita sering mengejek orang yang berdoa kepada
Allah yang tidak terlihat, sambil setiap hari mempercayakan masa depan kepada
ekonomi yang tidak pasti, kesehatan yang rapuh, dan kemampuan diri yang
terbatas.
Kita menolak mukjizat karena dianggap tidak rasional, tetapi percaya
bahwa alam semesta yang luar biasa teratur muncul begitu saja tanpa tujuan.
Ironisnya, manusia modern sering menganggap dirinya bebas dari iman,
padahal ia hanya mengganti objek imannya.
Menyangkali kebenaran untuk percaya kepada sesuatu yang dia buat
sendiri.
Menyangkali Tuhan yang benar lalu percaya kepada tuhan yang dibuat oleh
logikanya sendiri.
Dari perspektif Alkitab, Yesus tidak pernah dipresentasikan sebagai
sekadar pilihan religius tambahan. Yesus berkata, "Akulah jalan dan
kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak
melalui Aku" (Yohanes 14:6).
Di sini tidak ada posisi netral. Jelas-jelas klaim ini tidak memberi ruang bagi
posisi netral. Jika benar, Yesus adalah Tuhan yang harus diikuti. Jika salah,
Ia bukan sekadar guru moral yang baik, melainkan seseorang yang membuat klaim
yang tidak benar. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada pilihan antara.
Persoalan utama manusia bukan kurangnya informasi tentang Allah,
melainkan kecenderungan hati untuk menempatkan diri sebagai pusat.
Sejak kisah di Taman Eden (Kejadian 3), dosa selalu berbisik kalimat
yang sama: "Aku ingin menjadi tuhan bagi diriku sendiri." “Aku tidak
mau menjadi gambar”. Karena itu, ketidakpercayaan sering kali bukan masalah
kurang bukti, melainkan masalah otoritas.
Pada akhirnya, setiap orang sedang mempertaruhkan hidupnya pada sebuah
keyakinan. Tidak memilih pun sebenarnya adalah pilihan. Dan ketika kehidupan
yang singkat ini berakhir, semua filsafat, jabatan, kekayaan, dan pencapaian
akan kehilangan relevansinya.
Jadi, apa pilihanmu?
Jika Yesus tidak ada, orang percaya mungkin kehilangan beberapa
kesenangan dunia. Namun jika Yesus ada, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar
kenyamanan hidup, melainkan kekekalan. Dan dalam pertaruhan sebesar itu,
mungkin pertanyaan yang paling rasional bukanlah "Mengapa harus
percaya?" melainkan "Bagaimana jika saya salah?"
Namun, ………. Ingatlah, Yesus sudah berkata, "Akulah jalan dan
kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak
melalui Aku" (Yohanes 14:6).
Tentukan pilihanmu sekarang.
Apa pilihanmu?
Lihat video renungan:
0 comments:
Post a Comment