Kita hidup di zaman yang aneh. Dulu orang datang untuk mendengar kebenaran. Hari ini banyak orang datang untuk mencari pengalaman.
Dulu orang
bertanya, "Apa yang harus saya ubah?" Sekarang pertanyaan yang lebih
sering muncul adalah, "Apakah saya merasa terhibur?"
Spiritualitas perlahan bergeser dari transformasi menjadi konsumsi dan
informasi.
Lihatlah pola kehidupan modern. Musik harus lebih megah. Pembicara harus lebih lucu. Acara harus lebih spektakuler. Konten harus lebih pendek.
Semua
berlomba merebut perhatian manusia yang semakin sulit fokus. Tidak ada yang
salah dengan kreativitas. Masalah muncul ketika nilai sebuah pengalaman rohani
mulai diukur bukan dari kedalaman dampaknya, tetapi dari tingkat keseruannya.
Kita hidup dalam budaya yang memuja sensasi.
Ironisnya, sesuatu yang menghibur belum tentu membentuk karakter.
Sebaliknya, sesuatu yang membentuk karakter sering kali tidak menghibur.
Olahraga yang membuat tubuh kuat biasanya melelahkan. Pendidikan yang membuat seseorang berkembang sering kali menuntut disiplin.
Demikian juga
pertumbuhan rohani. Ia tidak selalu menyenangkan. Kadang ia hadir dalam bentuk
teguran, penyangkalan diri, kesabaran, kesetiaan, dan proses panjang yang
membosankan.
Fakta empiris menunjukkan bahwa manusia modern semakin terbiasa dengan kepuasan instan. Segala sesuatu tersedia dalam hitungan detik. Akibatnya, banyak orang tanpa sadar membawa pola yang sama ke dalam kehidupan rohani.
Mereka menginginkan inspirasi tanpa disiplin, penghiburan tanpa pertobatan,
berkat tanpa perubahan karakter.
Ketika spiritualitas berubah menjadi entertainment, pusat perhatian
bergeser. Tuhan Yesus tidak lagi menjadi
pusat. Perasaan manusialah yang menjadi pusat.
Selama merasa senang, ia berkata Tuhan hadir. Ketika tidak lagi merasa
nyaman, ia menganggap Tuhan jauh. Padahal kedekatan dengan Tuhan tidak selalu
diukur oleh emosi yang tinggi. Kadang justru tercermin dalam ketaatan yang
sederhana dan konsisten.
Nuh membangun bahtera selama puluhan tahun tanpa sorak-sorai penonton. Elia belajar mendengar suara Tuhan bukan dalam angin besar atau gempa bumi, melainkan dalam suara yang lembut.
Bahkan Yesus lebih banyak membentuk
murid-murid-Nya melalui perjalanan panjang daripada pertunjukan spektakuler.
Pada akhirnya, entertainment berakhir ketika acara selesai. Tetapi
spiritualitas sejati tetap hidup ketika lampu dimatikan, panggung dibongkar,
dan tidak ada seorang pun yang melihat.
Karena tujuan utama iman bukan membuat kita terhibur, melainkan membuat
kita bertumbuh. Dan sering kali, pertumbuhan yang paling dalam terjadi justru
ketika kita berhenti mencari sensasi dan mulai belajar berjalan setia bersama
Tuhan.
Karakter dan buah roh dibentuk di tempat sunyi tersembunyi dan diuji di
atas panggung dan di tempat tak ada penonton dan tepukan tangan.
0 comments:
Post a Comment