Pada masa Prapaskah, gereja diajak merenungkan
misteri kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Menariknya, Yesus tidak memakai
teori filsafat untuk menjelaskan kematian-Nya. Ia memakai ilustrasi
pertanian yang sangat sederhana: gandum.
Injil Yohanes 12:24 mengatakan sebagai berikut.
“Jika sebutir gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia
tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia menghasilkan banyak buah.”
Kalimat ini sebenarnya sangat teknis, bukan
sekadar kiasan rohani.
Gandum
Kata “gandum” yang dipakai Yesus dalam teks
Yunani menurut Injil di atas adalah: kokkos tou sitou
Artinya:
- kokkos = biji kecil / butir benih
- sitos = gandum atau tanaman biji-bijian
Jadi secara literal: “sebutir kecil dari gandum.”
Yesus sengaja memilih kata kecil dan tidak
mengesankan. Sebab, Kerajaan Allah tidak dimulai dengan sesuatu yang megah,
tetapi dengan biji kecil yang harus mati dulu.
Yesus berbicara tentang proses biologis biji gandum.
Satu biji gandum terdiri dari tiga bagian:
- Bran
(kulit luar): lapisan keras pelindung
- Endosperma: cadangan makanan
- Embrio: calon tanaman baru
Ketika biji
disimpan di lumbung maka ia hidup tetapi tidak bertumbuh. Ia
menunggu.
Namun ketika biji masuk ke tanah dan terkena air,
maka:
Tahap 1 – imbibisi: biji menyerap air dan mengembang.
Tahap 2 – kerusakan struktur: kulit luar pecah.
Cadangan makanan mulai terurai.
Tahap 3 – kematian bentuk lama: biji tidak
lagi utuh.
Secara visual, ia terlihat seperti membusuk.
Petani tidak akan pernah lagi melihat biji gandum
yang sama. Ia sudah mati sebagai biji.
Tahap 4 –
kehidupan baru: dari kehancuran itu muncul akar kecil ke bawah dan tunas
ke atas.
Satu biji bisa menghasilkan puluhan bulir gandum
baru.
Jadi kematian biji adalah syarat kehidupan ladang.
Sebenarnya, Yesus sedang bicara tentang diri-Nya
Yesus Kristus sebenarnya sedang menjelaskan salib.
Dunia melihat salib sebagai:
- kegagalan
- kekalahan
- kematian tragis
Tetapi dari sudut pandang Allah salib adalah benih
yang ditanam. Yesus “mati sebagai biji” supaya lahir panen manusia yang
diselamatkan.
Benih menjadi gambaran kebangkitan. Hal ini juga
dijelaskan oleh Paulus Rasul dalam 1 Korintus 15. Paulus berkata yang engkau
tabur bukan tubuh tanaman yang akan muncul. Artinya, benih tidak pernah
menunjukkan bentuk akhirnya.
Contoh: biji
gandum kecil, tanaman gandum tinggi dan penuh bulir. Tidak ada orang yang bisa
menebak bentuk tanaman hanya dari bijinya.
Begitu juga tubuh manusia. Tubuh sekarang hanyalah benih
kebangkitan.
Tubuh kebangkitan
Menurut 1
Korintus 15, yang ditabur adalah fana, lemah, sementara. Yang dibangkitkan
adalah tidak fana, mulia, penuh kuasa.
Yesus bangkit dengan tubuh kemuliaan. Dan
mereka yang percaya kepada-Nya juga akan menerima tubuh kebangkitan.
Jadi kematian orang percaya sebenarnya seperti menanam
benih.
Benih yang
aman di lumbung: tidak pecah, tidak rusak, tidak mati. Tetapi juga tidak
pernah berbuah. Ia tetap satu biji selamanya.
Yesus seolah berkata: Hidup yang hanya ingin aman
tidak akan pernah menghasilkan panen.
Salib terlihat seperti kerugian. Tetapi justru di
situlah kehidupan berlipat ganda lahir.
Refleksi Prapaskah
Prapaskah
sering dianggap musim: berpuasa, menahan diri, introspeksi. Namun sebenarnya
lebih dari itu. Prapaskah adalah musim ditanam.
Kadang Tuhan membawa kita melalui:
- kehilangan
- penderitaan
- proses yang memecahkan ego
Seperti biji gandum yang pecah di tanah. Saat itu
terasa seperti akhir. Padahal bisa jadi itu awal musim panen.
Penutup
Kalau suatu hari kamu melihat ladang gandum, ingat
ini: Setiap bulir yang bergoyang di ladang pernah terkubur sebagai biji yang
hancur.
Begitu juga Injil. Salib bukan akhir cerita. Salib
adalah benih yang Tuhan tanam untuk panen kekekalan.
0 comments:
Post a Comment