Yesus menggunakan dua kata yang sangat berbeda nuansanya ketika berbicara kepada Allah: “Abba” dan “Eli.”
Keduanya
menunjuk kepada Allah, tetapi lahir dari situasi batin yang berbeda dan tradisi
bahasa yang berbeda.
Secara teologis,
linguistik, dan spiritual dapat disampaikan sebagai berikut.
“Abba” – Bahasa Intim Seorang Anak
Kata Abba
muncul misalnya dalam doa Yesus di Injil Markus 14:36: “Abba, Bapa, tidak ada
yang mustahil bagi-Mu…”
Kata Abba berasal dari bahasa Aram (Aramaic) adalah bahasa sehari-hari orang Yahudi pada zaman Yesus Kristus.
Makna secara literal berarti: Bapa / Papa / Ayah yang dekat. Tetapi bukan sekadar kata anak kecil. Dalam budaya Yahudi, Abba adalah panggilan penuh kepercayaan dan kedekatan.
Makna
teologisnya: relasi intim, kepercayaan total, dan ketergantungan anak kepada
Bapa.
Karena itu
Paulus Rasul kemudian berkata dalam Surat Roma 8:15: “Roh itu bersaksi bahwa
kita berseru: Abba, Bapa.”
Artinya orang
percaya diizinkan masuk ke relasi anak dengan Allah.
“Eli, Eli” adalah
seruan dari kedalaman penderitaan.
Di kayu salib
Yesus berkata: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang berarti “Allah-Ku, Allah-Ku,
mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46)
Ungkapan “Eli, Eli, lama sabachthani” berasal dari bahasa Aram bercampur
dengan nuansa Ibrani, dan merupakan kutipan langsung dari Mazmur 22:1.
Yesus mengucapkannya di kayu salib sebagai ekspresi penderitaan
terdalam, sekaligus penggenapan nubuat yang menggambarkan kesengsaraan seorang
hamba Allah.
Mazmur ini sendiri berjudul “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: rusa
di kala fajar,” yang memberi latar belakang liturgis dan simbolis.
Dalam bahasa Aram: “Eli” berarti “Allahku.” Kata
“sabachthani” berasal dari akar kata Aram shabaq, artinya “meninggalkan”
atau “membiarkan.”
Dalam Ibrani: Mazmur 22:1 dalam teks Ibrani berbunyi Eli,
Eli, lamah azavtani (“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”).
Menurut Injil Matius (27:46) menggunakan bentuk Aram
“Eli, Eli,” sedangkan Markus (15:34) memakai “Eloi, Eloi,” yang lebih khas
dialek Galilea.
Ini menunjukkan Yesus berbicara dalam bahasa
sehari-hari Aram, tetapi dengan resonansi kuat dari teks Ibrani Mazmur.
Mazmur 22:1: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau
meninggalkan aku?” adalah seruan penderitaan Daud. Judul Mazmur: “Menurut lagu:
rusa di kala fajar” (Ibrani: Ayelet ha-Shachar).
“Rusa” melambangkan kelemahan, ketakutan, dan
pencarian perlindungan. “Kala fajar” menandakan transisi dari kegelapan menuju
terang, dari penderitaan menuju harapan.
Makna liturgis: Mazmur ini mungkin dinyanyikan dengan melodi khusus yang
dikenal umat Israel, sehingga ketika Yesus mengutip ayat pertama, pendengar
Yahudi langsung mengenali seluruh mazmur yang berisi penderitaan tetapi
berakhir dengan kemenangan dan pujian.
Di salib, Yesus
Mengutip Mazmur 22. Yesus tidak hanya mengekspresikan rasa ditinggalkan,
tetapi juga menunjuk pada nubuat penderitaan Mesias.
Bentuk Mazmur 22, setelah bagian awal penuh keluhan,
mazmur beralih ke keyakinan bahwa Allah akan menyelamatkan dan bangsa-bangsa
akan memuji-Nya.
Simbol “rusa di kala fajar”: menjadi gambaran transisi dari penderitaan
menuju kebangkitan. Dalam tradisi Yahudi, fajar adalah waktu doa dan harapan
baru.
Dalam konteks Kristus, ini menunjuk pada kebangkitan setelah kegelapan
salib.
Mazmur 22 dan Kitab Ester sama-sama berbicara tentang penderitaan yang
berujung pada pembalikan keadaan: dari rasa ditinggalkan menuju kemenangan,
dari ancaman pemusnahan menuju keselamatan.
Karena itu, tradisi Yahudi sering menghubungkan Mazmur 22 dengan
perayaan Purim, yang berakar pada kisah Ester.
Mazmur 22: Dimulai dengan seruan putus asa (“Allahku, mengapa Engkau
meninggalkan aku?”), tetapi berakhir dengan pujian dan pengakuan bahwa
bangsa-bangsa akan menyembah Allah.
Kitab Ester: Mengisahkan umat Yahudi yang hampir dimusnahkan oleh Haman,
namun melalui keberanian Ester dan campur tangan Allah, keadaan berbalik
menjadi keselamatan dan sukacita.
Dalam tradisi Yahudi: Mazmur 22 dibacakan pada Purim. Alasan
liturgisnya: Purim adalah perayaan pembalikan nasib, sama seperti struktur
Mazmur 22 yang bergerak dari keluhan menuju pujian.
Simbol “rusa di kala fajar”: Dalam konteks Purim, ini
dipahami sebagai gambaran umat yang lemah dan terancam, tetapi fajar menandakan
datangnya keselamatan baru.
Perhatikan
sesuatu yang mengejutkan: Di salib Yesus tidak berkata “Abba” tetapi “Eli.”
Mengapa? Karena
pada saat itu Ia sedang memikul dosa manusia.
Abba adalah
bahasa hubungan. Eli adalah bahasa penyembahan dan penderitaan.
Yesus berbicara bukan hanya sebagai Anak, tetapi juga sebagai wakil umat
manusia yang merasa ditinggalkan.
Yesus
menggunakan “Abba” di Getsemani untuk menegaskan kedekatan pribadi
dengan Allah dalam doa yang intim.
Di salib, Ia
memakai “Eli” karena sedang mengutip Mazmur 22:1, menghubungkan
penderitaan-Nya dengan nubuat yang dikenal umat Yahudi.
Jadi,
perbedaan kata itu bukan kontradiksi, melainkan perbedaan konteks: satu
bersifat pribadi, satu bersifat liturgis dan profetis.
Walau berbeda
nuansa, keduanya memiliki kesamaan: menunjuk kepada Allah yang sama, mengungkapkan
ketergantungan total, dan lahir dari doa yang sangat jujur.
Baik Abba
maupun Eli adalah doa dari kedalaman hati.
Misteri
Teologis yang Sangat Dalam
Ada sebuah
pola yang jarang dibahas: Di taman Getsemani: “Abba, Bapa…” (kedekatan anak)
Di kayu
salib: “Eli, Eli…” (Allah yang terasa jauh)
Seolah-olah
perjalanan Yesus adalah: Dari keintiman menuju keterpisahan, agar manusia bisa
mengalami kebalikannya: dari keterpisahan menuju keintiman.
Karena salib, manusia sekarang bisa berkata: “Abba, Bapa.”
Paradoks yang
Sangat Kuat
Di salib, Anak yang selalu berkata Abba harus berseru Eli supaya manusia yang dulu hanya bisa berkata Eli sekarang boleh berkata Abba. Itulah Injil.
0 comments:
Post a Comment