Monday, March 9, 2026

Abba - Eli ------> Dulu Jauh Sekarang Dekat

ged pollo

oleh: grefer pollo

 

Yesus menggunakan dua kata yang sangat berbeda nuansanya ketika berbicara kepada Allah: “Abba” dan “Eli.”

Keduanya menunjuk kepada Allah, tetapi lahir dari situasi batin yang berbeda dan tradisi bahasa yang berbeda.

 

Secara teologis, linguistik, dan spiritual dapat disampaikan sebagai berikut.

 

 “Abba” – Bahasa Intim Seorang Anak

Kata Abba muncul misalnya dalam doa Yesus di Injil Markus 14:36: “Abba, Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu…”

Kata Abba berasal dari bahasa Aram (Aramaic) adalah bahasa sehari-hari orang Yahudi pada zaman Yesus Kristus.

Makna secara literal berarti: Bapa / Papa / Ayah yang dekat. Tetapi bukan sekadar kata anak kecil. Dalam budaya Yahudi, Abba adalah panggilan penuh kepercayaan dan kedekatan.

 

Makna teologisnya: relasi intim, kepercayaan total, dan ketergantungan anak kepada Bapa.

 

Karena itu Paulus Rasul kemudian berkata dalam Surat Roma 8:15: “Roh itu bersaksi bahwa kita berseru: Abba, Bapa.”

 

Artinya orang percaya diizinkan masuk ke relasi anak dengan Allah.

 

“Eli, Eli” adalah seruan dari kedalaman penderitaan.

 

Di kayu salib Yesus berkata: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang berarti “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46)

 

Ungkapan “Eli, Eli, lama sabachthani” berasal dari bahasa Aram bercampur dengan nuansa Ibrani, dan merupakan kutipan langsung dari Mazmur 22:1.

Yesus mengucapkannya di kayu salib sebagai ekspresi penderitaan terdalam, sekaligus penggenapan nubuat yang menggambarkan kesengsaraan seorang hamba Allah.

Mazmur ini sendiri berjudul “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: rusa di kala fajar,” yang memberi latar belakang liturgis dan simbolis.

Dalam bahasa Aram: “Eli” berarti “Allahku.” Kata “sabachthani” berasal dari akar kata Aram shabaq, artinya “meninggalkan” atau “membiarkan.”

Dalam Ibrani: Mazmur 22:1 dalam teks Ibrani berbunyi Eli, Eli, lamah azavtani (“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”).

Menurut Injil Matius (27:46) menggunakan bentuk Aram “Eli, Eli,” sedangkan Markus (15:34) memakai “Eloi, Eloi,” yang lebih khas dialek Galilea.

Ini menunjukkan Yesus berbicara dalam bahasa sehari-hari Aram, tetapi dengan resonansi kuat dari teks Ibrani Mazmur.

Mazmur 22:1: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” adalah seruan penderitaan Daud. Judul Mazmur: “Menurut lagu: rusa di kala fajar” (Ibrani: Ayelet ha-Shachar).

“Rusa” melambangkan kelemahan, ketakutan, dan pencarian perlindungan. “Kala fajar” menandakan transisi dari kegelapan menuju terang, dari penderitaan menuju harapan.

Makna liturgis: Mazmur ini mungkin dinyanyikan dengan melodi khusus yang dikenal umat Israel, sehingga ketika Yesus mengutip ayat pertama, pendengar Yahudi langsung mengenali seluruh mazmur yang berisi penderitaan tetapi berakhir dengan kemenangan dan pujian.

 

Di salib, Yesus

Mengutip Mazmur 22. Yesus tidak hanya mengekspresikan rasa ditinggalkan, tetapi juga menunjuk pada nubuat penderitaan Mesias.

Bentuk Mazmur 22, setelah bagian awal penuh keluhan, mazmur beralih ke keyakinan bahwa Allah akan menyelamatkan dan bangsa-bangsa akan memuji-Nya.

Simbol “rusa di kala fajar”: menjadi gambaran transisi dari penderitaan menuju kebangkitan. Dalam tradisi Yahudi, fajar adalah waktu doa dan harapan baru.

Dalam konteks Kristus, ini menunjuk pada kebangkitan setelah kegelapan salib.

 

Mazmur 22 dan Kitab Ester sama-sama berbicara tentang penderitaan yang berujung pada pembalikan keadaan: dari rasa ditinggalkan menuju kemenangan, dari ancaman pemusnahan menuju keselamatan.

Karena itu, tradisi Yahudi sering menghubungkan Mazmur 22 dengan perayaan Purim, yang berakar pada kisah Ester.

Mazmur 22: Dimulai dengan seruan putus asa (“Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”), tetapi berakhir dengan pujian dan pengakuan bahwa bangsa-bangsa akan menyembah Allah.

Kitab Ester: Mengisahkan umat Yahudi yang hampir dimusnahkan oleh Haman, namun melalui keberanian Ester dan campur tangan Allah, keadaan berbalik menjadi keselamatan dan sukacita.

Dalam tradisi Yahudi: Mazmur 22 dibacakan pada Purim. Alasan liturgisnya: Purim adalah perayaan pembalikan nasib, sama seperti struktur Mazmur 22 yang bergerak dari keluhan menuju pujian.

Simbol “rusa di kala fajar”: Dalam konteks Purim, ini dipahami sebagai gambaran umat yang lemah dan terancam, tetapi fajar menandakan datangnya keselamatan baru.

 

Perhatikan sesuatu yang mengejutkan: Di salib Yesus tidak berkata “Abba” tetapi “Eli.”

Mengapa? Karena pada saat itu Ia sedang memikul dosa manusia.

 

Abba adalah bahasa hubungan. Eli adalah bahasa penyembahan dan penderitaan.

Yesus berbicara bukan hanya sebagai Anak, tetapi juga sebagai wakil umat manusia yang merasa ditinggalkan.

Yesus menggunakan “Abba” di Getsemani untuk menegaskan kedekatan pribadi dengan Allah dalam doa yang intim.

Di salib, Ia memakai “Eli” karena sedang mengutip Mazmur 22:1, menghubungkan penderitaan-Nya dengan nubuat yang dikenal umat Yahudi.

Jadi, perbedaan kata itu bukan kontradiksi, melainkan perbedaan konteks: satu bersifat pribadi, satu bersifat liturgis dan profetis.

 

Walau berbeda nuansa, keduanya memiliki kesamaan: menunjuk kepada Allah yang sama, mengungkapkan ketergantungan total, dan lahir dari doa yang sangat jujur.

 

Baik Abba maupun Eli adalah doa dari kedalaman hati.

 

Misteri Teologis yang Sangat Dalam

Ada sebuah pola yang jarang dibahas: Di taman Getsemani: “Abba, Bapa…” (kedekatan anak)

Di kayu salib: “Eli, Eli…” (Allah yang terasa jauh)

 

Seolah-olah perjalanan Yesus adalah: Dari keintiman menuju keterpisahan, agar manusia bisa mengalami kebalikannya: dari keterpisahan menuju keintiman.

Karena salib, manusia sekarang bisa berkata: “Abba, Bapa.”

 

Paradoks yang Sangat Kuat

Di salib, Anak yang selalu berkata Abba harus berseru Eli supaya manusia yang dulu hanya bisa berkata Eli sekarang boleh berkata Abba. Itulah Injil.






0 comments:

Post a Comment