Thursday, April 2, 2026

Eli, Eli, lama sabaktani? - Menanti Dalam Diam

 


ged pollo

oleh: grefer pollo

Ungkapan “Eli, Eli, lama sabaktani?” (Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku) sering terdengar seperti jeritan putus asa. Tapi kalau kita berhenti di permukaan itu saja, kita kehilangan kedalaman yang justru penuh harapan.

 

Bukan Kalimat Putus Asa Biasa

Kalimat ini dikutip oleh Yesus Kristus dari Mazmur 22. Dan ini penting, Mazmur 22 tidak berakhir dengan keputusasaan, tapi dengan kemenangan dan pemulihan.

Jadi, ini bukan sekadar “Aku ditinggalkan.” Tapi lebih seperti “Aku sedang masuk ke cerita yang akan berakhir dengan pemulihan.” Seperti seseorang yang membaca awal novel sedih, tapi dia sudah tahu ending-nya bahagia.

 

Pola “3 Hari”: Sunyi Gelap Hidup

Alkitab penuh pola ini:

  • Kitab Ester: Ester puasa 3 hari, lalu pembalikan nasib terjadi.
  • Yesus Kristus: kematian 3 hari lalu kebangkitan.
  • Banyak kisah lain: selalu ada fase “diamnya Tuhan” sebelum perubahan.

Secara filosofis, makna tidak hilang. Ia sedang diproses dalam diam. Jadi “ditinggalkan” itu bukan akhir, tapi ruang tunggu transformasi.

 

Ulat Kirmizi: Simbol yang Aneh tapi Dalam

Dalam tradisi Ibrani ada gambaran tentang ulat kirmizi (tola):

  • Menempel di kayu
  • Mengorbankan diri untuk memberi warna merah
  • Setelah mati, meninggalkan warna yang menetap

Ini paralel dengan:

  • penderitaan
  • pengorbanan
  • lalu menghasilkan sesuatu yang baru

Dan menariknya, Mazmur 22 juga menyebut “Aku ini ulat, bukan manusia”. Artinya? Kehinaan yang terlihat justru bagian dari proses kemuliaan yang tersembunyi.

 

“Nyanyian Rusa di Kala Fajar”

Mazmur 22 diberi judul “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar”

Fajar adalah batas antara gelap dan terang.

Rusa adalah makhluk yang peka, sering digambarkan mencari air (kehidupan).

Jadi ini bukan lagu kematian. Ini lagu yang dinyanyikan tepat sebelum terang muncul.

 

Perspektif Kitab Ester: Tuhan yang “Diam”

Uniknya, dalam Kitab Ester:

  • Nama Tuhan bahkan tidak disebut
  • Tapi justru di situlah Ia bekerja paling nyata

Ini paralel dengan “lama sabaktani”: Tuhan terasa absen, tapi sebenarnya sedang menyusun pembalikan terbesar.

 

Kritik Filosofis: Apakah Tuhan Benar-Benar Meninggalkan?

Kalau dikritisi secara tajam:

  • Jika benar ditinggalkan maka tidak ada harapan
  • Tapi faktanya: ada kebangkitan, ada pemulihan

Jadi kemungkinan besar yang berubah bukan kehadiran Tuhan, tapi persepsi manusia dalam penderitaan.

 

Dalam bahasa sederhana saat gelap, bukan berarti matahari hilang, kita saja yang tidak melihatnya.

 

Dari Ratapan ke Pengharapan

Mazmur 22 bergerak:

  • awal: “mengapa Engkau meninggalkan aku”
  • akhir: “Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya”

Itu perubahan drastis. Jadi “Eli Eli lama sabaktani?” adalah awal lagu bukan kesimpulan.

Bayangkan kamu nonton film, di tengah film: tokohnya kalah, sendirian, semua gelap. Kamu katakan “ini film sedih sekali”. Tapi ternyata kamu belum lihat ending-nya.

“Eli Eli lama sabaktani?” itu “adegan tengah film”. Dan pesan besarnya: Ini bukan nyanyian kekalahan. Ini nyanyian yang dinyanyikan tepat sebelum kemenangan terlihat.

Makna “Eli, Eli, lama sabaktani?” bukan hanya sebagai teks rohani, tapi sebagai pola yang benar-benar terlihat dalam kehidupan postmodern terutama di tengah banyak orang yang stres, depresi, dan merasa Tuhan diam.

 

Pola “Merasa Ditinggalkan” Itu Nyata Secara Psikologis

Dalam psikologi modern, orang yang mengalami depresi sering melaporkan hal yang mirip:

  • merasa sendirian padahal tidak
  • merasa tidak ada yang peduli
  • merasa “Tuhan diam”

Ini bukan sekadar perasaan “berlebihan”. Otak memang sedang menurunkan hormon kebahagiaan dan meningkatkan rasa ancaman dan kesepian. Artinya, “ditinggalkan” sering kali adalah pengalaman subjektif yang sangat nyata meski tidak selalu objektif.

Mirip dengan Mazmur 22: realitas terasa gelap tapi cerita belum selesai.

 

Contoh Nyata: Fase Gelap Pemulihan

Banyak kisah nyata mengikuti pola “3 hari” (fase sementara sebelum pulih):

a. Burnout kerja. Orang yang kerja berlebihan dan merasa tidak dihargai biasanya masuk fase: “mengapa saya hidup begini?”. Tapi setelah:

     · istirahat,

     · refleksi,

     · perubahan arah

sering muncul energi baru, tujuan baru. Maka terjadilah: Gelap jeda hidup lagi

 

b. Kehilangan / duka. Orang yang kehilangan orang terdekat merasa kosong dan merasa Tuhan tidak adil. Tapi penelitian menunjukkan:

  • setelah waktu tertentu, banyak orang menemukan makna baru
  • hubungan sosial jadi lebih dalam
  • hidup lebih reflektif

Ini disebut: post-traumatic growth

 

Kisah publik figur

Tokoh seperti Dwayne Johnson pernah mengalami depresi berat setelah gagal di awal karier. Dia menggambarkan fase itu seperti “tidak ada arah, tidak ada suara, kosong”

Tapi justru dari situ dia membangun ulang hidupnya dan menemukan jalan baru.

 

“Tuhan Diam” vs Proses yang Tidak Terlihat

Dalam Kitab Ester, nama Tuhan tidak disebut tapi peristiwa tersusun rapi menuju keselamatan. Dalam hidup modern kita tidak melihat “alur besar” dan kita hanya melihat potongan kecil saja dari kehidupan.

Secara filosofis diam bukan berarti tidak bekerja. Bisa jadi bekerja di level yang tidak kita lihat. Seperti benih di tanah terlihat mati, padahal sedang tumbuh. Dan, proses penyembuhan terasa lambat, tapi nyata

 

Simbol “Ulat Kirmizi” di Kehidupan Sekarang

Ulat kirmizi adalah sesuatu yang tampak lemah tapi menghasilkan warna yang menetap. Contoh modern pengalaman pahit menjadi empati untuk orang lain. Kegagalan jadi kebijaksanaan. Banyak konselor terbaik justru pernah hancur dan pernah merasa “ditinggalkan”

 

Pola “3 Hari” = Ritme Pemulihan

Tidak harus literal 3 hari, tapi pola krisis, diam / tidak jelas, pemulihan / arah baru ini terlihat di terapi psikologis, proses berduka, perubahan hidup. Masalahnya, kebanyakan orang berhenti di tahap diam/tidak jelas dan mengira itu akhir.

 

Penting juga jujur tidak semua orang langsung pulih dan otomatis menemukan makna. Beberapa butuh bantuan profesional, komunitas, dan waktu yang panjang. Jadi “pengharapan” bukan berarti duduk diam menunggu keajaiban. Tapi, tetap bergerak walau pelan, sambil percaya prosesnya belum selesai.

 

Bayangkan kamu sedang di malam hari, gelap sekali. Kamu berpikir matahari hilang. Padahal matahari tidak hilang. Hanya kamu belum sampai pagi.

 

“Eli, Eli, lama sabakhtani” dalam hidup sekarang bisa terlihat sebagai:

  • fase ketika perasaan tidak sinkron dengan realitas
  • masa transisi sebelum perubahan
  • titik paling gelap sebelum arah baru muncul

 

Dan kalau dikaitkan dengan Mazmur 22 maka akhirnya dengan pemulihan. Dikaitkan dengan Kitab Ester bahwa Tuhan bekerja dalam diam. Dan, pola “3 hari” berarti hidup kembali. Maka pesannya tetap sama ini bukan akhir cerita. Ini bagian paling gelap sebelum terang mulai kelihatan.


0 comments:

Post a Comment