Menulis sama
dengan tidak kerja?
Kalau “hanya orang yang tidak ada kerja yang bisa menulis”, maka Rasul seperti Paulus itu pengangguran? Atau filsuf seperti Socrates itu kebanyakan waktu luang?
Padahal
faktanya justru sebaliknya. Banyak tulisan besar lahir dari orang yang terlalu
sibuk hidup, bukan terlalu kosong.
Kerja vs
Menulis
Kalimat itu
mengandung asumsi tersembunyi Kerja sama dengan aktivitas fisik. Menulis sama
dengan aktivitas santai. Padahal secara empiris menulis adalah kerja kognitif
tingkat tinggi. Membutuhkan fokus, refleksi, dan sintesis pengalaman.
Dalam dunia
modern, CEO menulis strategi, peneliti menulis jurnal, pendeta menulis khotbah.
Jadi menulis
bukan lawan dari kerja. Menulis itu bentuk kerja yang tidak kelihatan capeknya.
Fakta yang
Lebih Menyakitkan
Orang yang
sibuk memang sering tidak menulis. Tapi bukan karena tidak bisa, melainkan
karena tidak sempat berhenti berpikir tentang apa yang dia lakukan. Ini
masalahnya. Banyak orang bekerja terus, bergerak terus, tapi tidak pernah
refleksi. Akhirnya hidupnya penuh aktivitas, tapi miskin makna.
Alkitab
Lebih Tajam Lagi
Tokoh seperti
Musa memimpin bangsa, tapi juga menulis hukum. Tokoh seperti Daud berperang,
tapi juga menulis mazmur. Kitab Mazmur bukan ditulis di sofa santai. Itu
ditulis di padang gurun, medan perang, krisis eksistensial. Artinya, menulis
bukan tanda tidak kerja. Menulis adalah cara mengolah kerja menjadi hikmat.
Sibuk Itu
Kadang Pelarian
Sekarang kita balik kalimatnya: “Banyak orang tidak menulis karena terlalu sibuk bekerja.” Kelihatannya mulia. Tapi kadang itu cuma alasan elegan untuk tidak berpikir dalam, tidak mengevaluasi hidup, tidak berhadapan dengan diri sendiri.
Menulis itu
berbahaya. Karena saat menulis, kita tidak bisa lari.
Menulis
adalah Jeda yang Produktif
Dalam filsafat,
berpikir itu butuh jarak. Menulis adalah jeda dari aktivitas tapi bukan
berhenti bekerja melainkan naik level dari kerja ke kesadaran. Orang yang hanya
bekerja tanpa menulis seperti orang yang lari tanpa tahu arah. Orang yang
menulis tanpa bekerja seperti orang yang menggambar peta tanpa pernah jalan.
Kesimpulan
yang Sedikit Menampar
Bukan “orang
tidak ada kerja yang bisa menulis.” Yang lebih tepat adalah orang yang tidak
mau berhenti dari kesibukannya, tidak akan pernah menulis. Orang yang tidak
pernah menulis, berisiko bekerja tanpa mengerti hidupnya sendiri.
Penutup
Kalau kamu
merasa terlalu sibuk untuk menulis, hati-hati. Bisa jadi kamu bukan terlalu
sibuk tapi terlalu takut untuk tahu apa sebenarnya yang sedang kamu jalani.
0 comments:
Post a Comment