Wednesday, April 29, 2026

Hanya Orang Yang tidak Ada Kerja yang Menulis?

ged pollo

oleh: grefer pollo

 

Menulis sama dengan tidak kerja?

Kalau “hanya orang yang tidak ada kerja yang bisa menulis”, maka Rasul seperti Paulus itu pengangguran? Atau filsuf seperti Socrates itu kebanyakan waktu luang?

Padahal faktanya justru sebaliknya. Banyak tulisan besar lahir dari orang yang terlalu sibuk hidup, bukan terlalu kosong.

 

Kerja vs Menulis

Kalimat itu mengandung asumsi tersembunyi Kerja sama dengan aktivitas fisik. Menulis sama dengan aktivitas santai. Padahal secara empiris menulis adalah kerja kognitif tingkat tinggi. Membutuhkan fokus, refleksi, dan sintesis pengalaman.

Dalam dunia modern, CEO menulis strategi, peneliti menulis jurnal, pendeta menulis khotbah.

Jadi menulis bukan lawan dari kerja. Menulis itu bentuk kerja yang tidak kelihatan capeknya.

 

Fakta yang Lebih Menyakitkan

Orang yang sibuk memang sering tidak menulis. Tapi bukan karena tidak bisa, melainkan karena tidak sempat berhenti berpikir tentang apa yang dia lakukan. Ini masalahnya. Banyak orang bekerja terus, bergerak terus, tapi tidak pernah refleksi. Akhirnya hidupnya penuh aktivitas, tapi miskin makna.

 

Alkitab Lebih Tajam Lagi

Tokoh seperti Musa memimpin bangsa, tapi juga menulis hukum. Tokoh seperti Daud berperang, tapi juga menulis mazmur. Kitab Mazmur bukan ditulis di sofa santai. Itu ditulis di padang gurun, medan perang, krisis eksistensial. Artinya, menulis bukan tanda tidak kerja. Menulis adalah cara mengolah kerja menjadi hikmat.

 

Sibuk Itu Kadang Pelarian

Sekarang kita balik kalimatnya: “Banyak orang tidak menulis karena terlalu sibuk bekerja.” Kelihatannya mulia. Tapi kadang itu cuma alasan elegan untuk tidak berpikir dalam, tidak mengevaluasi hidup, tidak berhadapan dengan diri sendiri.

Menulis itu berbahaya. Karena saat menulis, kita tidak bisa lari.

 

Menulis adalah Jeda yang Produktif

Dalam filsafat, berpikir itu butuh jarak. Menulis adalah jeda dari aktivitas tapi bukan berhenti bekerja melainkan naik level dari kerja ke kesadaran. Orang yang hanya bekerja tanpa menulis seperti orang yang lari tanpa tahu arah. Orang yang menulis tanpa bekerja seperti orang yang menggambar peta tanpa pernah jalan.

 

Kesimpulan yang Sedikit Menampar

Bukan “orang tidak ada kerja yang bisa menulis.” Yang lebih tepat adalah orang yang tidak mau berhenti dari kesibukannya, tidak akan pernah menulis. Orang yang tidak pernah menulis, berisiko bekerja tanpa mengerti hidupnya sendiri.


Penutup

Kalau kamu merasa terlalu sibuk untuk menulis, hati-hati. Bisa jadi kamu bukan terlalu sibuk tapi terlalu takut untuk tahu apa sebenarnya yang sedang kamu jalani.


0 comments:

Post a Comment