Kalimat Yesus kepada Yudas Iskariot dalam Perjamuan
Malam Terakhir sebenarnya dicatat dalam beberapa Injil, tetapi yang paling
tajam dan sering dibahas ada di Injil Injil Yohanes: “Apa yang hendak
kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” (Yohanes 13:27).
Dalam teks Yunani aslinya: ὃ ποιεῖς ποίησον τάχιον (ho poieis poiēson tachion). Ini bukan
izin moral, tetapi pernyataan percepatan tindakan yang sudah dipilih Yudas. Artinya,
Yesus tidak menyuruh Yudas berkhianat. Yesus mengungkapkan bahwa Ia tahu
keputusan Yudas. Dan, Yesus berkata: “Kalau itu yang sudah kauputuskan, lakukan
saja sekarang.”
Ini adalah kalimat mengungkap sesuatu yang keras. Ada
titik di mana Tuhan tidak lagi menahan seseorang, bukan karena Dia setuju, tapi
karena hati itu sudah memilih.
Dan lebih mengganggu lagi, Yesus tetap memberi roti
bahkan kepada pengkhianat.
Sekarang, mari lihat versi Injil yang lainnya.
Matius 26:23
Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku
mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.
Markus 14:20
Ia menjawab: "Orang itu ialah salah seorang dari
kamu yang dua belas ini, dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan
Aku.
Lukas 22:21
Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada
bersama dengan Aku di meja ini.
Analisis Lanjutan
a. “Orang yang mencelakai/menyerahkan Aku”
Pengkhianatan
bukan hanya tindakan fisik. Ini adalah representasi kegelapan batin manusia.
Manusia bisa mengkhianati kebenaran meski berada dalam “kehadiran ilahi”. Yesus
menegaskan bahwa pengkhianatan bukan eksternal, tapi lahir dari dalam. Dari
hati dan niat. Yudas adalah simbol potensi pengkhianatan dalam setiap manusia.
b. “Mencelupkan tangan ke dalam pinggan/bersama-Ku di
meja”
Makan
bersama adalah tanda persekutuan dan kepercayaan. Pinggan adalah simbol keintiman
spiritual dan rahasia Tuhan. Ketika pengkhianat berada “di meja Tuhan”, ia
memanfaatkan kepercayaan suci untuk maksud gelap. Keberadaan Yudas di tengah
perjamuan adalah simbol bahwa kebenaran dan kebohongan bisa bertemu dalam satu
meja, dan bahkan yang paling dekat dengan Tuhan dapat menolak-Nya dari dalam.
Setiap orang yang pernah berpura-pura saleh, tapi menyimpan niat gelap, adalah Yudas. Pengkhianatan tidak selalu bersifat eksternal, ia bisa internal dan terselubung di “perjamuan iman”.
Makan bersama Yesus adalah akses ke ilmu, misteri, dan kasih. Mengkhianati di
tengah makan merupakan penyalahgunaan rahasia dan kasih. Hal ini menantang
kita: apakah kita memanfaatkan “kepercayaan” atau menjadi saluran berkat?
Pengkhianatan
bukan impuls; ia dipilih, dibawa masuk ke hati, dan bahkan dilakukan dalam
konteks ibadah atau kesucian. Tuhan bisa hadir saat kita berdosa, tapi kesadaran
dosa itu membuatnya lebih tragis.
Di meja Yesus, Yudas menunjukkan bahwa ancaman terbesar datang dari yang paling dekat. Jadi, secara simbolik, komunitas rohani harus waspada karena persahabatan atau kedekatan bisa menjadi medan pengkhianatan batin.
Yesus berbicara kepada Yudas bukan sekadar menubuatkan pengkhianatan. Ia menyingkap kegelapan manusia yang ada dalam kepercayaan, dalam kasih, dalam ritual. Sebab, pengkhianatan bisa muncul dari dalam komunitas suci.
Keintiman spiritual bukan jaminan moral.
Setiap orang yang duduk di “meja Tuhan” harus menimbang niat hati sendiri,
bukan hanya perilaku luar.
0 comments:
Post a Comment