Sunday, March 16, 2025

Re-thinking dan developmental mindset

 

ged pollo

oleh: grefer pollo



Re-thinking dan developmental mindset adalah dua konsep yang sangat erat kaitannya dengan cara manusia berpikir, belajar, dan bertumbuh. Keduanya sangat relevan jika diterapkan di berbagai konteks termasuk dalam medan layan kita.

Kombinasi kedua pendekatan ini bisa menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung anak-anak untuk berkembang secara optimal, baik secara fisik, kognitif, emosional, sosial, spiritual.

 

Apa itu Re-thinking?

Re-thinking adalah kemampuan untuk meninjau ulang cara berpikir kita, mempertanyakan asumsi-asumsi yang kita pegang, dan membuka diri terhadap kemungkinan perspektif baru.

Dalam proses ini, seseorang belajar untuk tidak terpaku pada satu cara pandang saja, melainkan terus menerus mengkaji ulang apakah cara berpikir atau pendekatan yang digunakan masih relevan atau perlu diubah.

Konsep re-thinking sebagai pendekatan sistematis pertama kali dipopulerkan oleh Adam Grant, seorang profesor psikologi organisasi di Wharton School, University of Pennsylvania.

Ia memperkenalkan ide rethinking secara komprehensif dalam bukunya yang berjudul "Think Again: The Power of Knowing What You Don’t Know" yang terbit tahun 2021.

Adam Grant mengembangkan ide re-thinking bukan hanya sebagai kebiasaan berpikir ulang, tetapi sebagai kompetensi kognitif dan emosional yang esensial di era informasi yang cepat berubah.

Dalam Think Again, Grant menjelaskan bahwa kemampuan untuk mempertanyakan asumsi sendiri, meninggalkan keyakinan lama, dan menerima ide baru lebih penting daripada sekadar kecerdasan atau pengetahuan.

Dia menyebut rethinking sebagai: “The humility to doubt what we know and the curiosity to discover what we don’t.”

 

Dalam pendekatannya, Grant juga mendorong orang untuk mengadopsi mentalitas ilmuwan, yaitu:

  1. Selalu bersedia mencari data baru.
  2. Menganggap keyakinan sebagai hipotesis yang bisa diuji, direvisi, bahkan ditinggalkan.
  3. Fokus pada proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya.

 

Walaupun Adam Grant yang pertama kali mengemas istilah re-thinking sebagai gerakan modern, akar filosofisnya sebenarnya sudah lama ada:

  • Socrates dengan metode Socratic questioning mengajarkan pentingnya mempertanyakan keyakinan sendiri.
  • John Dewey, filsuf dan pendidik, juga menekankan pentingnya reflective thinking dalam proses belajar.
  • Dalam psikologi, metakognisi—berpikir tentang cara kita berpikir—menjadi dasar bagi praktik re-thinking modern.

 

Mengapa Re-thinking Penting?

Adam Grant percaya bahwa kemampuan untuk berpikir ulang lebih penting di dunia modern daripada pengetahuan statis.

Kita hidup di zaman di mana informasi cepat berubah, dan apa yang benar kemarin bisa jadi salah hari ini. Oleh karena itu, re-thinking adalah keterampilan bertahan hidup abad ke-21.

 

 

Apa itu Developmental Mindset?

Developmental mindset adalah pola pikir yang percaya bahwa kemampuan, kecerdasan, dan kepribadian seseorang dapat berkembang melalui proses belajar, pengalaman, dan usaha terus-menerus.

Ini adalah konsep yang mirip dengan growth mindset dari Carol Dweck, tapi dengan cakupan yang lebih luas—tidak hanya soal kecerdasan, tetapi juga menyentuh aspek perkembangan moral, sosial, dan emosional.

Anak-anak (dan juga orang dewasa) dengan developmental mindset meyakini bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar, bukan akhir dari segalanya. Mereka tidak takut untuk mencoba hal-hal baru, karena memahami bahwa kemampuan mereka tidak tetap, melainkan bisa bertumbuh.

 

Konsep developmental mindset sebagai kerangka berpikir tentang perkembangan manusia (baik dari sisi kognitif, emosional, sosial, maupun moral) banyak diangkat dan dibahas dalam teori perkembangan manusia (human development theory) dan psikologi perkembangan.

Asal-usul Konsep Developmental Mindset

  1. Pengaruh Teori Growth Mindset

Banyak orang menyamakan atau mengaitkan developmental mindset dengan growth mindset, karena keduanya berbicara tentang kemampuan berkembang dari waktu ke waktu.

    • Carol Dweck, seorang profesor psikologi di Stanford University, memperkenalkan konsep growth mindset di awal 2000-an, lewat riset yang dimulai sejak 1980-an. Growth mindset adalah keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan seseorang tidak bersifat tetap, melainkan bisa dikembangkan melalui usaha, strategi, dan masukan dari orang lain.
  1. Perkembangan Teori Adult Development

Di ranah psikologi perkembangan dewasa, istilah developmental mindset sering muncul dalam konteks bagaimana orang dewasa melihat dirinya sebagai individu yang terus bertumbuh.

    • Robert Kegan, seorang psikolog perkembangan dari Harvard University, dikenal atas teorinya tentang Constructive Developmental Theory. Ia membahas bahwa manusia terus mengalami perkembangan kognitif, emosional, dan moral sepanjang hidupnya. Dalam pendekatan Kegan, developmental mindset adalah tentang kesadaran bahwa kita selalu bisa tumbuh ke tahap pemahaman yang lebih kompleks.
  1. Educational Leadership dan Developmental Mindset

Dalam dunia pendidikan dan kepemimpinan, istilah developmental mindset mulai digunakan lebih luas oleh para pendidik, pelatih, dan konsultan pengembangan organisasi. Mereka menggunakannya untuk menggambarkan sikap mental yang fokus pada proses pertumbuhan berkelanjutan—baik dalam belajar, hubungan sosial, maupun karier.
Salah satu contoh penggunaannya ada dalam pendekatan Transformational Leadership dan Coaching for Development, di mana pemimpin atau pelatih mendorong individu untuk melihat diri mereka sebagai "proyek yang terus berkembang".

 

Apa Itu Developmental Mindset Secara Inti?

Secara esensial, developmental mindset adalah:

a.   Pola pikir yang percaya bahwa setiap aspek dalam diri manusia—kognitif, emosional, sosial, spiritual—bisa berkembang sepanjang hidup.

b.   Ini mencakup kemauan untuk belajar dari pengalaman, menerima perubahan sebagai bagian alami dari pertumbuhan, dan tidak terpaku pada versi lama diri sendiri atau orang lain.

 

Siapa yang Menggunakan Istilah Ini Saat Ini?

Sekarang, developmental mindset sering digunakan di:

  • Pendidikan Anak dan Dewasa (Education for Human Development)
  • Coaching dan Mentoring (Leadership Development)
  • Psikologi Positif
  • Organisasi dan HRD (Human Development in the Workplace)

 

 

Kombinasi Re-thinking dan Developmental Mindset di Pusat Pengembangan Anak

Bayangkan sebuah pusat pengembangan anak yang menerapkan kedua prinsip ini secara utuh.

Tempat ini tidak sekadar menjadi ruang bermain atau belajar biasa, melainkan laboratorium hidup di mana anak-anak dilatih untuk berpikir ulang (re-think) tentang cara mereka memecahkan masalah, mengelola emosi, atau memahami perbedaan dengan orang lain.

Pada saat yang sama, mereka juga ditanamkan keyakinan bahwa mereka mampu berkembang (developmental mindset), bahwa kegagalan adalah bahan bakar untuk menjadi lebih baik, bukan hambatan.

 

Lingkungan yang Adaptif dan Fleksibel

Pendekatan re-thinking membantu mentor, orang tua partisipan, dan staf di pusat pengembangan anak untuk tidak kaku dalam metode mentoring.

Mereka terus mengevaluasi apa yang berhasil dan apa yang tidak. Misalnya, jika metode mengajarkan empati melalui cerita ternyata kurang efektif, maka mereka siap mengevaluasi dan mencari pendekatan lain seperti permainan peran atau simulasi sosial.

Dengan developmental mindset, baik mentor maupun mentee sadar bahwa setiap orang berada dalam perjalanan belajar. Tidak ada metode yang final. Proses penyesuaian metode mentoring menjadi lebih luwes karena tidak ada rasa takut untuk mengubah pendekatan demi hasil yang lebih baik.

 

Mendorong Anak untuk Bertanya dan Mengeksplorasi

Partisipan di pusat pengembangan anak yang mengadopsi re-thinking akan didorong untuk bertanya, mempertanyakan, bahkan meragukan apa yang mereka lihat dan dengar—bukan sekadar menerima informasi mentah-mentah.

Mereka belajar untuk menyusun pemikiran kritis sejak dini, misalnya dengan bertanya, "Mengapa begitu? Apakah ada cara lain untuk melakukannya?"

Dipadukan dengan developmental mindset, partisipan tidak hanya belajar bertanya, tetapi juga memahami bahwa kemampuan mereka untuk memahami jawaban akan meningkat seiring waktu.

Mereka tidak merasa minder jika belum bisa menjawab pertanyaan sulit, karena mereka percaya bahwa mereka sedang berada dalam proses tumbuh.

 

Menumbuhkan Resiliensi dan Ketangguhan

Gagal dalam suatu aktivitas di pusat pengembangan anak bukan dianggap masalah besar.

Dengan developmental mindset, partisipan belajar bahwa gagal adalah bagian alami dari proses berkembang.

Sementara itu, re-thinking mengajarkan mereka untuk melihat kegagalan dari sudut pandang yang berbeda—bukan sebagai kekalahan, tapi sebagai umpan balik.

Misalnya, jika seorang mentee gagal menyelesaikan tantangan yang diberikan mentor, mentor dapat mendorongnya untuk bertanya, "Apa yang bisa aku lakukan berbeda lain kali?" atau "Apa yang belum aku coba?" Ini membantu mentee melatih fleksibilitas berpikir dan keuletan mental.

 

Menghargai Perbedaan dan Inklusi

Pusat pengembangan anak yang menerapkan re-thinking akan selalu membuka ruang untuk perspektif yang beragam. Partisipan belajar untuk tidak cepat menghakimi orang lain yang berbeda latar belakang atau pendapat.

Dengan developmental mindset, mereka belajar bahwa kemampuan memahami orang lain adalah sesuatu yang bisa terus dikembangkan.

Mereka tidak merasa canggung jika belum sepenuhnya memahami sudut pandang teman yang berbeda, karena mereka tahu empati itu butuh proses belajar juga.

 

Ruang Tumbuh Anak yang Holistik

Kombinasi re-thinking dan developmental mindset menciptakan budaya belajar yang dinamis, baik bagi mentee maupun bagi mentornya.

Di pusat pengembangan anak, ini berarti:

o   Partisipan belajar berpikir kritis, berpikir ulang, dan membuka diri terhadap perspektif baru.

o   Partisipan dibiasakan untuk melihat potensi mereka sebagai sesuatu yang terus berkembang, bukan tetap.

o   Mentor tidak berhenti belajar dan siap menyesuaikan pendekatan mereka untuk memenuhi kebutuhan perkembangan setiap anak.

o   Lingkungan menjadi ruang aman untuk bertanya, mencoba, gagal, dan tumbuh bersama.

Jika diterapkan secara konsisten, pusat pengembangan anak yang berbasis re-thinking dan developmental mindset akan melahirkan generasi masa depan yang tangguh, adaptif, dan berpikiran terbuka—mereka tidak hanya siap menghadapi perubahan, tapi juga menjadi agen perubahan itu sendiri.






Continue reading Re-thinking dan developmental mindset

Friday, March 14, 2025

100 Tahun Gereja

 


                               oleh: grefer pollo


Konsep perayaan 100 tahun di gereja

Perayaan 100 tahun, atau sering disebut sebagai perayaan "centennial," memiliki makna simbolis dan historis yang mendalam dalam banyak budaya. Apa itu centennial?

Centennial itu berasal dari dua kata Latin: "centum" yang berarti seratus, dan "annus" yang berarti tahun. Jadi, centennial secara harfiah berarti peringatan atau perayaan 100 tahun.

Dalam konteks umum, centennial bisa merujuk pada:

  1. Perayaan 100 tahun sejak sebuah peristiwa atau berdirinya sebuah lembaga.
    Contoh: "The church is celebrating its centennial anniversary." (Gereja itu merayakan ulang tahun ke-100-nya.)
  2. Sesuatu yang berusia 100 tahun.
    Contoh: "This building is a centennial landmark." (Bangunan ini adalah penanda sejarah berusia 100 tahun.)

 

Istilah Terkait:

  • Bicentennial 200 tahun
  • Tricentennial 300 tahun
  • Millennial 1000 tahun

 

Kalau dalam acara gereja, istilah Centennial Celebration kadang dipakai juga untuk menunjukkan Perayaan 100 Tahun.

Di sisi lain, istilah yang lebih umum digunakan untuk peringatan 100 tahun gereja adalah "Yubileum 100 Tahun" atau "Yubileum Seabad". Dalam konteks gereja, kadang juga disebut "Perayaan Seratus Tahun", "HUT ke-100", atau "Jubileum 1 Abad". Untuk nuansa yang lebih formal atau liturgis, biasanya dipakai istilah "Syukur 1 Abad" atau "Pesta Emas Seratus Tahun".

Dalam Alkitab sendiri, tidak ada istilah khusus yang secara eksplisit merujuk pada "100 tahun" sebagai sebuah peringatan atau perayaan, seperti yang dikenal sekarang dengan istilah "yubileum" atau "jubileum 100 tahun." Namun, ada beberapa konsep dan angka yang bisa dikaitkan secara makna atau simbolis:

  1. Angka 100 dalam Alkitab sering kali melambangkan kesempurnaan, kelimpahan, atau kepenuhan waktu. Misalnya:
    • Abraham berusia 100 tahun saat Ishak lahir (Kejadian 21:5), melambangkan penggenapan janji Allah setelah penantian panjang.
    • Dalam perumpamaan Yesus, ada hasil panen seratus kali lipat (Matius 13:8), yang menggambarkan kelimpahan dan berkat.
  2. Yobel (Jubilee). Dalam Imamat 25, ada konsep Tahun Yobel, yang dirayakan setiap 50 tahun sebagai waktu kebebasan, pembebasan tanah, dan penghapusan hutang. Tahun Yobel ini adalah waktu sukacita besar, pembaruan, dan pemulihan.

Kadang dalam gereja modern, istilah Yobel atau Jubileum diadopsi untuk merayakan tonggak waktu penting seperti 25 tahun, 50 tahun, 75 tahun, atau 100 tahun.

Jadi, secara alkitabiah, konsep yang mendekati peringatan 100 tahun mungkin dihubungkan dengan makna "Yobel", meskipun secara teknis Yobel itu tiap 50 tahun. Kalau mau membuat istilah rohani atau tema, biasanya gereja mengadaptasi semangat "Yobel" untuk menggambarkan syukur, pemulihan, dan berkat setelah 100 tahun perjalanan pelayanan.

 

Alasan sejarah mengapa orang merayakan 100 tahun

Secara umum, perayaan ini sering kali dianggap sebagai tonggak penting dalam sejarah suatu bangsa, organisasi, atau individu, karena 100 tahun dianggap sebagai suatu periode waktu yang sangat panjang dan menandai perubahan yang signifikan.

Alasan sejarah mengapa orang merayakan 100 tahun berkaitan dengan beberapa faktor:

Siklus Waktu dan Generasi: Dalam banyak kebudayaan, satu abad dianggap sebagai satu siklus penuh dalam sejarah atau kehidupan generasi. Dalam konteks ini, 100 tahun mencakup setidaknya satu generasi manusia, sehingga perayaan ini menjadi cara untuk mengenang dan menghormati perubahan, perkembangan, dan pencapaian yang telah terjadi selama waktu tersebut.

 

Pencapaian dan Progres: Perayaan 100 tahun sering kali digunakan untuk merayakan pencapaian besar, baik itu negara yang merdeka, berdirinya sebuah perusahaan, atau kelahiran organisasi penting. Mengingat bagaimana banyak hal dapat berubah dalam satu abad, merayakan peristiwa ini mengakui transformasi besar dalam politik, ekonomi, teknologi, atau budaya.

 

Peringatan Sejarah: Dalam konteks negara atau peristiwa sejarah, perayaan 100 tahun juga dapat berfungsi sebagai refleksi sejarah, mengingatkan orang tentang pentingnya peristiwa atau keputusan yang membentuk masa depan. Misalnya, negara-negara atau kota-kota mungkin merayakan 100 tahun sejak kemerdekaan atau pendirian mereka, memperingati perjalanan mereka sebagai bangsa atau komunitas.

 

Simbolisme: Angka 100 secara simbolis mewakili kesempurnaan dan pencapaian puncak dalam banyak tradisi. Oleh karena itu, merayakan 100 tahun memberikan kesan pentingnya perjalanan tersebut. Ini juga menciptakan kesempatan untuk melanjutkan tradisi dan memberikan penghargaan terhadap generasi yang telah menyumbang pada perkembangan tersebut.

 

Secara keseluruhan, perayaan 100 tahun lebih dari sekadar angka—ia adalah kesempatan untuk menghargai dan merayakan warisan yang telah dibangun selama satu abad, sambil merenung tentang perjalanan yang telah dilalui dan langkah-langkah yang akan diambil di masa depan.

 

100 tahun Jemaat Koinonia Kupang

"KOINONIA BAHAGIA": Melangkah Bersama Dia

 

Sebuah momentum besar bagi Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Koinonia Kupang (JKK) akan terjadi pada 7 November 2025: Peringatan 100 tahun gereja.

Secara geografis, JKK berada di jalan persimpangan 3 (depan dan belakang gedung gereja). Secara makna psikologis, dalam hidup ini kita selalu di perhadapkan dengan keputusan dan pilihan “simpang tiga”. Kita  membutuhkan intervensi ilahi di dalam Kristus melalui karya Roh Kudus untuk membuat pilihan tepat dan bijak: “Koinonia Melangkah Bersama Dia”

Kata "Dia" menunjuk kepada Tuhan Yesus Sang Dasar dan Kepala Gereja (secara vertikal). Juga "Dia" bisa menunjuk kepada sesama saudara seiman (horisontal). Seperti simbol salib.

Gereja Koinonia dimulai sebagai satu persekutuan yang melangkah bersama saudara seiman dalam Tuhan Yesus dan melangkah bersama Tuhan Yesus sampai Bahagia dalam Perjamuan di Kerajaan-Nya kelak.











Continue reading 100 Tahun Gereja

Monday, January 27, 2025

DEVOSI HARI INI

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Devosi hari ini

27 Januari 2025


MARI KITA KE KAMPUNG HALAMAN

 

Markus 6:1-5

Ayat 2: Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?

 

Seseorang pulang ke kampung halaman karena berbagai alasan, baik yang bersifat emosional, sosial, maupun praktis. Misalnya, rindu kepada keluarga dan teman lama, karena ikatan emosional atau mau bernostalgia, atau mungkin ingin mencari ketentraman, atau mungkin mau bersosial saja, atau mungkin mau membangun koneksi identitas, atau mungkin untuk keperluan ekonomi dan warisan. 

Dan, tentunya, yang diharapkan dari orang-orang di kampung tersebut adalah orang tua atau kerabat mengharapkan waktu bersama, berbagi cerita, dan menjalin kehangatan keluarga, atau tetangga atau teman lama bisa bertemu dan berbincang untuk mempererat hubungan, atau orang-orang di kampung merasa bangga karena yang merantau berhasil dan pulang membawa cerita sukses dan kisah-kisah inspirasi atau pelajaran dari pengalaman orang tersebut, atau mungkin banyak yang menanti oleh-oleh atau hadiah kecil sebagai bentuk perhatian dan tanda kasih. 

Bagi beberapa orang pulang ke kampung halaman adalah bentuk penghormatan pada akar budaya, keluarga, dan identitas seseorang. Orang yang pulang membawa harapan besar, baik sebagai simbol cinta kasih, pereda rindu, maupun sumber motivasi dan inspirasi bagi komunitas di kampung. 

Dalam konteks ini, pulang kampung bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga sebuah penghubung emosional, sosial, dan spiritual yang memperkuat ikatan keluarga dan masyarakat.

Kota Nazaret (Yunani: Ναζαρά - NAZARA, atau: Ναζαρέτ - NAZARET di Galilea tempat tinggal Yusuf dan Maria, juga Yesus kira-kira 30tahun sampai Dia ditolak (Lukas 2:39; 4:16, 28-31). 

Kota Nazaret ditulis dalam ke-4 Injil: Matius 2:23, Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret. 

Lukas 4:16  Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

Karena itulah Dia disebut Yesus dari Nazaret seperti dalam Yohanes 1:45 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret."

Meskipun Yesus disambut gembira di Samaria seperti juga yang terjadi di tempat lain, tetapi tidak di kampung halamannya sendiri.

Kata takjub pada ayat 2 di atas berasal dari bahasa Yunani κπλήσσω (ekplesso). Dalam konteks Yunani kuno, kata κπλήσσω (ekplesso) sering digunakan untuk menggambarkan reaksi yang kuat terhadap sesuatu yang mengejutkan, baik secara positif maupun negatif. 

Atau, menggambarkan pengalaman emosional yang mendalam terhadap kejadian-kejadian luar biasa.

Reaksi takjub oleh mereka yang ada dalam rumah ibadat orang Yahudi dalam bacaan di atas adalah mereka terkagum dari dalam diri mereka terhadap apa yang Yesus ajarkan. 

Namun, kemudian mereka membandingkan apa yang mereka dengar dengan latar belakang kelahiran biologis Yesus sebagai anak Yusuf dan Maria. Ketakjuban mereka hanya bersifat lahiriah dan fenomenal. Tidak secara spiritual dari pengenalan akan Allah yang benar.

Model ketakjuban mereka ini menghasilkan kekecewaan dan penolakan mereka kepada Tuhan Yesus (ayat 3). Kata kecewa dan menolak dalam ayat 3 itu diterjemahkan dari kata Yunani "skandalizó" (σκανδαλίζω) yang memiliki arti dasar "menyebabkan seseorang tersandung", baik secara fisik maupun figuratif. 

Kata ini berkaitan dengan konsep "jebakan" atau "penghalang" yang membuat seseorang tersandung dalam tindakan, keyakinan, atau moralitas.

Jika dilihat sekilas dari kronologi Markus 6:1-5, sepertinya mereka yang mendengar pengajaran Yesus telah menjadi sandungan bagi Yesus sehingga Yesus tidak dapat membuat banyak mujizat dan tinggal berhari-hari di kampung halaman-Nya sendiri seperti yang Dia lakukan di daerah lain.

Tetapi, mari kita cermati lebih dalam menurut 1 Petrus 2:6-8 berikut: 2:6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." 2:7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan." 2:8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

Jadi, kehadiran dan perkataan Yesus telah menjadi batu sandungan bagi mereka yang tidak percaya kepada-Nya dan kepada perkataan-Nya.

Bagaimana dengan kita hari ini? Yang sudah membaca tulisan ini. Yang telah menjadi Kristen dan menyebut dirinya Kristen (=pengikut Kristus)?

Berbahagialah mereka yang menerima 1 Petrus 2:7 ini: “Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal”.

Tuhan Yesus sertai selalu. Imanuel. Shalom.




Continue reading DEVOSI HARI INI

Sunday, September 29, 2024

Setia Itu MAHAL

 

ged pollo


Lagu Setia Itu MAHAL Lirik, melodi, aransemen: ged pollo Siapakah yang menemukan Pribadi yang setia di dalam semua hal? tak kenal susah atau pun senang Dia setia sampai di akhirnya. Dia setia. Dia setia. Dia setia sampai di akhirnya. O, setia itu MAHAL. Karena itu tak dapat diraih oleh mereka yang MURAHAN! Bagi mereka yang MURAHAN tak dapat setia tiada dapat setia sebab setia itu MAHAL. Setialah! Sebab TUHAN setia! Dia sudah setia padamu! Dia berikan Kristus menebus hidupmu Setia itu MAHAL! Tetaplah setialah!


Lagu Paduan Suara Setia Itu MAHAL |PS Perempuan GMIT Jemaat Betlehem Oesapa Barat| ged pollo



Continue reading Setia Itu MAHAL

Saturday, August 31, 2024

QUOTES HARI INI

 

grefer pollo
oleh: ged pollo



Kekayaan seseorang bukan diukur dari seberapa yang dia kumpulkan tetapi dari yang dia sudah berikan. Sebab hanya yang tidak punya yang kumpulkan (16 juni 24)


Bernafaslah selagi masih gratis sebelum Anda tidak menikmati karena harus bayar (20 juni 24)


Iman bekerja dalam tindakan. Tindakan minyak (pelumas) bagi iman terwujud (21 juni 24)


Penilaianmu terhadap segala sesuatu bergantung pada 2 hal: pertama, di mana kamu berdiri. Kedua, siapa dirimu (24 juni 24)


Boleh irit uang, jangan irit pujian (25 juni 24)


Orang yang belajar akan pergi ke mana-mana. Belajar mensyaratkan kerendahan hati dan merendahkan diri. Jadi, mereka yang tahu merendahkan diri dan hati yang akan ke mana-mana (25 juni 24)


Belajar dan terpelajar itu hal yang berbeda (25 juni 24)


Jangan bermusuhan dengan orang yang tidak memusuhimu karena nanti engkau akan lelah dengan sendirinya (28 juni 24)


Terkadang kesendirian adalah saat di mana seseorang tahu lebih banyak, lebih paham, lebih kuat dari yang lain (4 juli 24)


Jatuh cinta itu akan mudah jika kamu telah menemukan orang yang tepat untuk dicintai (4 juli 24)


Orang kaya yang tidak siap kaya yaitu mereka yang punya harta tapi kuatir (6 juli 24)


Ada orang-orang yang berproses tetapi tidak berprogres (2022)


Kebahagiaan bukan karena memiliki materi tetapi relasi (8 juli 24)


Terkadang benturan itu membuat rapi, teratur, dan melengkapi (11 juli 24)


Mengapa perlu disiplinkan hidup? Karena hidup itu berharga (16 juli 24)


Jika Anda diterima kerja karena Anda lolos seleksi maka janganlah berbangga dan terlalu berpuas diri sebab perusahaan itu hanya menerima kemampuan Anda dan bukan diri Anda seutuhnya (18 juli 24)


Mereka yang tidak mau mengampuni ibarat minum racun tapi berharap orang lain yang mati (anonimous)


Seperti berjalan di atas tali membutuhkan keseimbangan agar tidak jatuh demikian juga jiwa yang tidak seimbang akan mudah jatuh dalam kesalahan dan dosa (21 juli 24)


Malu bertanya bingung di jalan. Banyak bertanya banyak jalan-jalan. Tidak bertanya tidak jalan-jalan (21 juli 24)


Anak sering gagal mengikuti apa yang mereka dengar tapi hampir tidak pernah gagal mengikuti apa yang kita lakukan (anonimous)


Jangan menjadi gembala tanpa domba (23 juli 24)


Jangan menjadi orang yang biasa-biasa karena kamu dijadikan secara luar biasa (23 juli 24)


Orang yang paling mudah kita sakiti adalah mereka yang dekat dengan kita (2012)


Anda tidak dapat mengubah kenyataan. Tetapi Anda dapat mengubah cara pandang Anda terhadap kenyataan. Dan, kenyataan itu akan berubah (1 Agustus 24)


Orang buta saat bisa melihat pertama kali akan membuang tongkat yang selama ini membantunya berjalan (anonimous)


Segala sesuatu yang tidak berdasar dan tertuju pada tujuan sama dengan tidak berguna (3 Agustus 24)


Hiduplah seperti akan mati besok. Belajarlah seperti akan hidup selama-lamanya (anonimous)


Pengemis tidak iri kepada orang kaya. Mereka iri kepada pengemis lain yang lebih beruntung (anonimous)


Semakin diberkati semakin rendah hati (4 Agustus 24)


Kemerdekaan adalah keadaan bebas melakukan apa yang seharusnya dilakukan sambil mengenal kekurangan dan kelebihan sehingga terus bertumbuh (5 Agustus 24)


Kamu hanya dapat peka terhadap sesuatu jika kamu sudah penuh perhatian sebelumnya terhadap hal itu (6 Agustus 24)


Jika kamu tidak memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, maka saat kamu ada di posisi atas, saat kamu melihat orang hormati kamu, itu karena jabatanmu atau kasihan denganmu. Bukan karena respek kepadamu (9 Agustus 24).


Menjawab "YA" tidak selalu berarti mampu tetapi menerima (17 Agustus 24)


Kamu akan habiskan waktu di tempat di mana kamu anggap itu penting (17 Agustus 24)


Seperti teks hanya bisa dipahami dalam konteks maka untuk hidupi relasi sebelum menilai dan ambil keputusan terhadap seseorang pahamilah konteks orang itu lebih dulu (19 Agustus 24)


Kualitas hidup tertinggi adalah memberi (2021)


Gereja bukan tempat Anda mencari makan. Gereja tempat Anda menemukan kehidupan (25 Agusus 24)


Tawanan menjadi penawan. Penawan sangat menawan (26 Agustus 24)


Komunikasi itu jembatan (29 Agustus 24)


Continue reading QUOTES HARI INI

Monday, August 26, 2024

Memahami Perjanjian Baru dari Perjanjian Lama (Injl Matius)

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Kata "coincidence" sering diartikan sebagai kejadian atau keadaan yang terjadi secara kebetulan dan tidak memiliki keterkaitan sebab-akibat yang bisa dijelaskan. Kata ini menyatakan bahwa sesuatu mungkin terjadi dan terlihat seperti sama atau yang mungkin tampak terkait, tetapi sebenarnya tidak memiliki hubungan kausal yang nyata.

Unsur-unsur coincidence antara lain:

1. Terjadi tanpa adanya niat: artinya terjadi tanpa perencanaan, tanpa disengaja, dan sebagainya. Terjadi begitu saja.

 

2. Tidak terduga: karena tidak direncanakan sebelumnya maka kejadiannya tidak diduga dan menimbulkan keheranan, kekaguman, keterkejutan, dan sebagainya.

 

3. Adanya unsur keterkaitan: hal yang membuat ini menarik karena meskipun tidak terduga dan tanpa rencana tetapi adanya unsur keterkaitan.


Contoh-contoh peristiwa coincidence:

pertemuan lama yang tak terduga, prediksi yang tepat, tanggal ulang tahun yang sama, mendapatkan nomor yang sama, kesamaan nama, mimpi yang sama, kejadian historis dengan tanggal yang sama dan atau jarak waktu yang tidak jauh, pilihan keputusan yang sama.


Selain coincidence, ada yang disebut sebagai synchronicity.

Synchronicity ini, sebuah konsep yang disampaikan oleh psikolog Swiss, Carl Gustav Jung. Ini merujuk kepada peristiwa-peristiwa yang tampaknya kebetulan tetapi memiliki makna yang mendalam bagi individu yang mengalaminya. Peristiwa-peristiwa ini tidak memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung, tetapi terjadi secara bersamaan atau dalam waktu yang dekat dengan cara yang tampaknya signifikan secara pribadi atau simbolis.

Selanjutnyan, mari kita lihat Perjanjian Baru dari sisi Perjanjian Lama dari sudut pandang Injil Matius.

Jika kita mencermati baik-baik peristiwa yang terjadi dalam kitab Kejadian 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Tuhan Allah sudah berpesan bahwa akan hadir seorang keturunan. Bukan keturunan-keturunan.

Di dalam Matius 1 dimulai dengan penjelasan mengenai silsilah Yesus Kristus. Bagi orang Yahudi bicara mengenai silsilah ini sangat penting.

Matius 2 menceritakan mengenai kelahiran Yesus Kristus. Kisah kelahiran ini diwarnai dengan pembunuhan anak-anak berusia 2 tahun ke bawah, pengungsian Yesus ke Mesir, dan kembali ke Israel.

Dalam kisah pada kitab Keluaran, di situ diceritakan kelahiran Musa. Kisah lahir Musa terjadi saat Firaun memerintahkan kepada bidan-bidan demikian: "Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup." (Keluaran 1:16).

Jika Firaun ingin mengurangi populasi orang Ibrani (Keluaran 1:9-10 Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: "Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan--jika terjadi peperangan--jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini."), maka seharusnya yang dibunuh itu anak perempuan karena mereka akan melahirkan. Mengapa laki-laki? Karena janji Allah dalam Kejadian 3:15 itu “keturunan”. Ini merujuk kepada Yesus Kristus.

Juga dalam kisah Musa, dia pernah hidup di Mesir dan kemudian meninggalkan  Mesir. Sekali lagi, dalam Matius 2, selain kisah kelahiran Yesus, juga ada kisah Yesus diasingkan oleh Yusuf dan Maria ke Mesir dan juga kembali ke Israel.

Dalam Matius 3 diceritakan Yesus setelah kembali dari Mesir, setelah berusia 30 tahun dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan.

Saat Musa memimpin Israel keluar dari Mesir, mereka semua dibaptis di laut Teberau (1 Korintus 10:2 Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.).

Dalam Matius 4, Yesus dicobai di padang gurun setelah berpuasa 40 hari 40 malam.

Bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun mereka mengalami berbagai pencobaan, kesulitan makan dan minum dan bergantung penuh kepada Tuhan Allah.

Di gunung Sinai, Musa, setelah bertemu dengan Tuhan menerima 10 hukum dan mengajarinya kepada Israel.

Dalam Matius 5, diceritakan Yesus naik ke atas bukit dan mengajari mereka yang datang untuk mendengar-Nya.

Matius 26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.


Dalam ayat ini Yesus katakan penggenapan perjanjian Allah. Jika Musa mengajarkan bahwa segala sesuatu dikuduskan menggunakan darah demikian juga pengampunan dosa melalui penumpahan darah maka Yesus katakan dalam Matius 26:28 bahwa darah-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

 


Continue reading Memahami Perjanjian Baru dari Perjanjian Lama (Injl Matius)