Monday, August 14, 2023

, , ,

Pendidikan - Pengembangan Kecerdasan (2)

 


grefer pollo

oleh: grefer pollo


Mengenai pendidikan Kristen, 300 tahun sebelum Yesus Kristus lahir sebagai manusia ke dalam dunia, Aristoteles mengatakan bahwa tujuan pendidikan di sekolah melalui catatannya berikut tidak semua orang memiliki pandangan yang sama tentang apa yang harus dipelajari oleh kaum muda, mengenai kebaikan atau yang terbaik dalam hidup. 


Juga tidak ada pendapat yang jelas apakah pendidikan itu harus terutama diarahkan kepada pemahaman atau pengembangan karakter moral. 

Jika kita melihat kepada praktik sesungguhnya, hasilnya membingungkan, tidak ada pencerahan terhadap masalah apakah harus dilakukan pendidikan dalam upaya mengejar yang berguna dalam kehidupan, atau hal lain yang menghasilkan kebaikan, atau yang akan melampaui kebiasaan (pengetahuan).

Di sisi lain Lawrence Stenhouse berpendapat bahwa pendidikan di sekolah mesti merupakan sebuah transmisi budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

 

Pada tahun 2010, sebuah penelitian yang dilakukan pemerintah di Queensland, Australia, menginvestigasi tujuan sekolah-sekolah yang ada di 16 negara maju di Asia dan Barat.

Mereka menemukan hanaya ada 2 tujuan jelas yang sama dimiliki sekolah-sekolah tersebut yakni: mengembangkan individu dan kewarganegaraan/masyarakat.demokrasi.

 

Tujuan itu berkaitan dengan kemampuan intelektual (berhitung dasar dan baca tulis); kewarganegaraan (asimilasi terhadap kepercayaan dan nilai budaya yang berlaku); ekonomi (persiapan unutk dunia kerja); dan tanggung jawab sosial.

 

Pendidikan tidaklah dapat bersifat netral. 


Karena pendidikan di sekolah bertujuan untuk membentuk anak-anak menjadi waga negara terdidik, sekolah memilih sumber daya, metode pengajaran, dan berbagai pandangan kurikulum guna mencapainya. 

Di sinilah muncul alasan mengapa orang-orang harus menghargai pendidikan.

 

Secara intuitif, orang tua menyadari bahwa penyebaran informasi dan ketrampilan di sekolah seperti berhitung dan baca tulis, tidak dapat dielakkan lagi tercakup dalam paket pembinaan yang membentuk siapa anak itu dan bagaimana mereka memahami dunia.

 

Jamie Smith mengungkapkan hal  tersebut melalui pernyataannya bahwa pendidikan sesungguhnya bukanlah sekedar suatu proyek yang bertujuan untuk menyebarluaskan informasi dan ketrampilan, melainkan merupakan pemeliharaan, yang bertujuan untuk membentuk dan menciptakan manusia jenis tertentu.

 

Sekali lagi di sini dapat dipahami bahwa pendidikan tidak bersifat netral. 


Karena arah dan tujuan pendidikan, kendalinya dipegang oleh mereka yang berkuasa dan berotoritas mengarahkan pendidikan itu ke mana. Semua itu tersimpan dalam nilai dan materi kurikulumnya.

 

Di sinilah menolong kita menyadari bahwa sekolah menjadi mitra terdekat para orang tua dan memberi para guru pengaruh besar atas apa yang akan terjadi pada anak-anak mereka.

 

Yesus menegaskan perspektif ini dalam Lukas 6:39-40 bahwa seorang murid jika benar-benar dilatih akan menjadi seperti guru mereka.


Banyak orang menyebut masa kini adalah masa postmodernisme yakni saat di mana kebenaran metanarasi disangkali.

Meskipun dunia Kristen sudah sewajarnya menolak relativitas posmodernisme, salah satu buah positif etika posmodern adalah tumbuhnya pengakuan atas tidak adanya netralitas.

 

Beberapa pakar pendidikan memberikan pendapat mereka tentang tidak adanya netralitas dalam pendidikan.

Cooling dalam tulisannya tahun 2005 berjudul Curiosity: Vice or virtue for the Christian teacher? Promotion faithfulness to Scripture in teacher formation mengatakan bahwa guru-guru…mengajarkan fakta-fakta dan nilai-nilai bersama, tetapi mereka melakukannya dalam konteks interpretasi tertentu yang berasal dari kepercayaan mereka masing-masing tentang apa yang dimaksud atau apa makna menjadi manusia.

 

Pada tahun 2003, Johnson menuliskan sebuah tulisan berjudul Dutch reformed philosophy in North America: Threevarieties in the late twentieth century mengatakan bahwa semua pembelajaran dan pendidikan di setiap bidang studi, entah filsafat atau matematika, teologi atau fisika, terjadi dalam ranah adanya seprangkat komitmen dan asumsi yang dibawa seseorang ke dalam tugas pembelajaran… entah seseorang membawa asumsi Marxis, Darwinis, atau iman Kristen ke dalam asumsi pembelajaran mereka, asumsi religius selalu membentuk pembelajaran.

 

Cukup sering banyak pihak salah kaprah dengan berusaha menyatakan adanya netralitas dalam kehidupan. Misalnya dengan memisahkan antara gereja dengan pemerintah, menolak membicarakan nama Tuhan atau karya-Nya di sekolah. 

Ataupun, dengan mengatakan atau mengajarkan bahwa Tuhan hanya relevan saja dengan hal-hal rohani atau spiritual dan tidak dengan hal-hal pengalaman hidup atau pembelajaran di kelas. 


Menghilangkan pandangan hidup alkitabiah bukanlah netralitas.

 

Posisi pembelajaran agama di sekolah perlu mendapat perhatian. 

Jika di suatu sekolah ada pembelajaran agama Kristen maka seolah-olah hanya di pembelajaran itulah iman Kristen perlu dan harus diajarkan sedangkan dalam pembelajaran lainnya tidak boleh atau tidak perlu diajarkan. 

Ini sebuah kemustahilan. Sebab, justru mata pelajaran lain merupakan alat peraga atau sarana untuk mengajarkan iman Kristen. 

Bukankah banyak saintis atau ilmuwan Kristen yang menemukan karya Tuhan di alam semesta melalui pengenalan mereka akan Allah di dalam Alkitab?

 

Tuhan tidak saja menciptakan alam semesta dan manusia, tetapi juga menciptakan kita semua sebagai pencari Tuhan. 


Rasul Paulus menyatakan bahwa semua orang, Israel dan Yunani secara bersama-sama, adalah Pencari Tuhan (seperti yanga da dalam cerita di Atena dalam Kisah 17:16-34), entah mereka mengakuinya atau tidak. 

Jika menjadi religius diartikan sebagai mencari Tuhan maka kita semua adalah religius entah diakui ataupun tidak.

 

 

 

Sumber: Hakikat Pendidikan Kristen, Richard J Edlin 2015


8 comments:

  1. Tks Ged sdh mnjelaskan

    ReplyDelete
  2. Thx pak ged atas penjelasanx TYM

    ReplyDelete
  3. mesry.modok@gmail.comAugust 15, 2023 at 7:27 AM

    Demikianlah negara kita dengan pergantian kurikulum sesuai dengan pergantian pemimpin. Tidak ada netralitas dalam pendidikan, harus ada pilihan. Kurikulum boleh berubah tapi perlu ada nilai-nilai utama yang harus dipegang dan terus diwariskan dan diajarkan dari waktu ke waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Pak Mesry. Setuju untuk mengajarkan nilai-nilai utama dalam pendidikan. Nilai-nilai dari kebenaran yang sejati

      Delete
  4. tulisan yang baik dan mencerahkan. Bisa di submit ke harian Pos Kupang atau harian lainnya pak guru. tks

    ReplyDelete