Tuesday, January 5, 2021

,

Pendidikan Membangun Kehidupan yang Holistis

grefer pollo
oleh Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd


Seorang pemuda sewaktu masih berada di sekolah dasar dan sekolah menengah selalu didesak oleh orangtuanya untuk memiliki peringkat terbaik di sekolah. Jika tidak, dia akan dihukum. Jika mendapat peringkat baik, maka dia akan mendapatkan hadiah. 


Akibatnya, dia terus belajar segiat-giatnya dan mendapatkan prestasi tinggi. Dia bahkan tidak sempat menikmati masa anak-anaknya untuk bermain dengan teman sebaya karena sepulang sekolah dia harus mengikuti bimbingan belajar dan juga mengerjakan PR.

 

Hasilnya, dia mendapatkan prestasi kognitif yang tinggi di sekolah. Lalu, dia melanjutkan ke perguruan tinggi dan, kebiasaan itu terbawa. 


Di perguruan tinggi dia benar-benar berpusat kepada materi kuliah tanpa memberikan waktu untuk berkecimpung dalam dunia kemahasiswaan, keorganisasian, dan sejenisnya. Setelah lulus dari perguruan tinggi dengan nilai sangat memuaskan, dia segera mencari pekerjaan. 


Dalam tahapan wawancara, pewawancara membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengenal profil dan kepribadian pemuda ini. Dia diterima dengan beberapa catatan khusus. Kemudian pemuda tersebut mulai bekerja. 


Selama masa-masa bekerja dia menghadapi proses penyesuaian yang sulit dengan teman sejawat dan pimpinan. 


Beberapa kali dia menunjukkan sikap dan perilaku tertekan akibat beban kerja. Melalui beberapa kali teguran dan peringatan akhirnya dia diberhentikan dari pekerjaannya.

 

Dari kisah ini, kesimpulan apa yang dapat Anda buat?

Apakah dengan Anda memiliki kecerdasan intelegensi (IQ) yang tinggi sudah cukup untuk membangun kehidupan yang baik? 

2 comments:

  1. Terima kasih,sangat memberkati.Karena seringkali orang berpikir bahwa pintar itu akan membawa kesuksesan namun kenyataannya tidak,malah pintar membawa kita dalam kesombongan dan kehancuran.🙏

    ReplyDelete