Di tepi sebuah sungai yang tenang, seorang pemuda duduk termenung. Ia
baru saja gagal dalam proyek yang selama ini ia impikan.
Hatinya penuh dengan pertanyaan: “Mengapa tindakanku tidak
menghasilkan makna? Apa yang salah dengan langkahku?”
Seorang tua yang bijak datang menghampirinya.
Dengan senyum lembut, ia berkata: “Air sungai ini mengajarkan tiga
hal: cara mengalir, waktu mengalir, dan alasan mengalir. Jika kau memahami
ketiganya, tindakanmu akan bermakna.”
Pemuda itu menatap air yang terus bergerak, lalu bertanya: “Apa
maksudnya, Guru?”
Metode: Cara yang Benar
Sang bijak menunjuk arus sungai. “Lihatlah, air selalu mencari
jalannya. Kadang ia berliku, kadang ia lurus, tetapi selalu ada metode untuk
mencapai laut.
Begitu juga hidupmu. Tanpa metode yang benar, tindakanmu akan tersesat.”
Ia mengutip Amsal 16:9: “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya,
tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.”
Metode yang bermakna adalah metode yang selaras dengan hikmat Allah.
Momen: Waktu yang Tepat
Sang bijak kemudian mengambil segenggam air dan melepaskannya. “Air
ini jatuh tepat pada waktunya. Jika kau menanam benih, tetapi tidak menunggu
musim hujan, benih itu akan mati. Begitu juga tindakanmu. Bahkan hal yang benar
akan kehilangan makna bila dilakukan di waktu yang salah.”
Ia mengingatkan kata-kata Pengkhotbah 3:1: “Untuk segala sesuatu ada
waktunya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”
Motivasi: Dorongan yang Murni
Sang bijak menatap pemuda itu dengan penuh kasih. “Air sungai
mengalir karena dorongan dari sumbernya. Begitu juga manusia. Jika motivasimu
hanya keuntungan sesaat, tindakanmu akan cepat kering. Tetapi jika motivasimu
murni, tindakanmu akan mengalir tanpa henti.”
Ia mengutip Kolose 3:23: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah
dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Pemuda itu akhirnya mengerti. Metode memberi arah, Momen memberi
konteks, dan Motivasi memberi energi.
Ketiganya membentuk segitiga makna yang menuntun manusia pada tindakan
yang bukan hanya efektif, tetapi juga bernilai rohani dan sosial.
Ia menatap sungai sekali lagi, lalu berkata: “Aku ingin hidupku
mengalir seperti air ini—dengan cara yang benar, di waktu yang tepat, dan
dengan dorongan yang murni.”
Sang bijak tersenyum, “Jika kau memegang 3M ini, setiap tindakanmu
akan menjadi sungai yang membawa kehidupan, bukan sekadar arus yang hilang
ditelan waktu.”
0 comments:
Post a Comment