Sunday, April 5, 2026

Mungkinkah Daerah Kristen di Dunia ini Tanpa Kejahatan?

 

ged pollo

oleh: grefer pollo

Seringkali pertanyaan ini muncul dalam berbagai percakapan ringan sampai serius: Mengapa di daerah mayoritas Kristen justru sering banyak masalah dan kejahatan?

Mungkin pertanyaan ini disampaikan dengan nada canda atau mungkin serius. Tetapi, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tajam dan justru membongkar ilusi yang sering tidak disadari: kita ingin “daerah Kristen” tanpa kejahatan, tapi lupa bahwa Injil justru lahir di tengah kejahatan.


Berikut beberapa pemikiran penting mengenai hal tersebut.

 

“Daerah Kristen” tidak sama dengan “Daerah Tanpa Dosa”

Secara data sosial dan sejarah, negara/daerah dengan mayoritas Kristen (misalnya di Amerika Serikat, Brasil, bahkan sebagian wilayah Indonesia seperti NTT) tetap memiliki kriminalitas, korupsi, kekerasan, dan ketidakadilan.

Bahkan sepanjang sejarah Gereja ada Perang Salib, Inkuisisi (memerangi ajaran sesat) dilakukan oleh orang yang mengaku membawa Tuhan.

Label “Kristen” tidak otomatis mengubah natur manusia. Karena masalahnya bukan agama di KTP, tapi hati yang belum diperbarui.

 

Manusia Itu Ambigu — Religius Sekaligus Rusak

Filsafat sejak Plato sampai Friedrich Nietzsche melihat manusia sebagai makhluk kontradiktif: Punya rasio sehingga bisa tahu yang baik. Punya hasrat karenanya bisa tetap melakukan yang jahat. Dalam konteks ini, agama bisa menjadi alat transformasi atau justru topeng moral. Daerah “Kristen” sering jatuh pada bahaya ini, yakni secara budaya Kristen, tapi secara eksistensial: tetap egois, rakus, penuh kuasa.

Itulah ironi: semakin religius suatu daerah, semakin canggih cara menyembunyikan dosa.

 

Injil Tidak Dikirim ke Orang Baik

Yesus sendiri tidak pernah punya misi membuat “zona steril dosa”. Justru, Ia lahir di bawah kekuasaan Herodes Agung yang membunuh bayi. Ia melayani di tengah pemungut cukai (koruptor zaman itu), pelacur, orang sakit, najis, tertolak.

Dan pernyataan paling keras dari Yesus adalah “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa.” (Markus 2:17).

Bahkan pusat Injil terjadi di Golgota. Tempat eksekusi kriminal. Orang yang pertama kali bersama Yesus di Firdaus adalah penjahat yang tersalib bersama Yesus. Artinya, Injil tidak takut kejahatan. Injil justru berfungsi di tengah kejahatan.

 

“Daerah Kristen Tanpa Kejahatan” Itu Mitos Berbahaya

Kalau suatu daerah terlihat “bersih”, bisa jadi karena dosa disembunyikan, bukan dihilangkan. Orang berdosa disingkirkan, bukan diselamatkan. Gereja jadi klub orang baik, bukan rumah orang berdosa.

Yesus justru dikritik karena “Ia makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa.” Lukas 15:1-2 berbunyi: Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka

Kalau Yesus datang ke banyak “daerah Kristen” hari ini, kemungkinan Dia akan dianggap mengganggu moral publik. Karena terlalu dekat dengan orang “bermasalah”

 

Paradoks Injil

Ini inti yang sering tidak dipahami: kalau tidak ada kejahatan maka Injil tidak relevan. Tapi kalau Injil hadir maka kejahatan seharusnya berkurang. Jadi yang benar bukan “Daerah Kristen tanpa kejahatan” tapi, daerah di mana kejahatan dihadapi, diakui, dan ditransformasi oleh Injil.

 

Kesimpulan

Dunia tanpa kejahatan adalah utopia (belum terjadi, bahkan dalam sejarah gereja). Injil bukan alat menciptakan citra sosial bersih. Injil adalah kekuatan untuk membongkar dosa, memanggil orang kepada pertobatan, memulihkan manusia. Gereja bukan museum orang suci, tapi rumah sakit bagi orang berdosa.

 

Pertanyaan Balik

Pertanyaan yang mengganggu tapi penting adalah kalau suatu daerah tidak ada orang jahat yang datang ke gereja, tidak ada pertobatan nyata, hanya orang “baik-baik” berkumpul, apakah itu tanda Injil bekerja atau justru tidak bekerja?

 


6 comments:

  1. Terima kasih Pak Ge
    Sangat memberkati

    ReplyDelete
  2. Tks untuk pembelajaran hari ini K' Get.selama kita masih hidup didunia mk kejahatan dan kebaikan selalu hidup bersama sama.meskipun ditempat mayoritas kristen.Peranan kita sebagai gereja adalah fungsikan tanggungjawab kita sebagai garam yg dapat menggarami dunia yg semakin tawar dan terang yg menerangi dunia yg gelap .Dgn tutunan dan kuasa ROH KUDUS kita pasti bisa..Itulah panggilan kita .... Shalom

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Perlu penginjilan kembali di tanah yang sudah pernah menerima Injil.

      Delete