Tuesday, May 6, 2025

Etimologi "Relationship

 

ged pollo

oleh: grefer pollo



Kata relationship berasal dari bahasa Inggris, yang terbentuk dari akar kata:

  • "relation": berasal dari bahasa Latin relatio, yang berarti "pembalikan, laporan, atau hubungan", dari kata kerja referre yang berarti "membawa kembali" atau "menghubungkan".
  • Akhiran "-ship": menunjukkan kondisi, status, atau kualitas, seperti dalam friendship atau leadership.

Jadi, relationship secara etimologis berarti kondisi atau kualitas dari keterhubungan antara dua pihak. 

Maknanya berkembang mencakup hubungan pribadi, profesional, emosional, sosial, dan spiritual.

 

Membangun Relasi di Masa Disrupsi Digital

Masa disrupsi digital ditandai dengan kemajuan teknologi yang cepat, kecerdasan buatan, media sosial, dan cara kerja jarak jauh telah mengubah cara berinteraksi. 

Tapi kebutuhan akan relasi yang sehat tetap tak tergantikan.


Berikut prinsip dan langkah membangun relasi di era ini:

1. Kesadaran Digital: Kenali Realitas Baru

  • Dunia maya bisa mendekatkan atau menjauhkan, tergantung cara kita menggunakannya.
  • Penting memiliki digital literacy: paham batasan, risiko, dan etika berkomunikasi digital.

2. Autentisitas di Tengah Filter

  • Tampilkan diri yang otentik, bukan versi ideal di balik layar.
  • Gunakan platform digital bukan untuk membentuk citra, tapi untuk mempererat koneksi nyata.

3. Bangun Kehadiran Digital yang Peduli

  • Luangkan waktu untuk menyapa, mendengar, dan memberi perhatian meski secara daring.
  • Komentar, pesan, atau emoji kecil bisa memperkuat ikatan jika tulus.

4. Komunikasi Multikanal, tapi Konsisten

  • Gunakan berbagai sarana (chat, video call, komunitas online) tapi tetap jaga konsistensi nilai dan sikap.

5. Prioritaskan Interaksi Tatap Muka (jika bisa)

  • Teknologi mendukung, tapi tidak menggantikan kontak manusia yang sejati.
  • Jadwalkan pertemuan fisik saat memungkinkan, karena kehadiran nyata memperdalam ikatan.

6. Berani Mengatur Batas

  • Jangan semua orang diberi akses ke kehidupan pribadi kita hanya karena ada di daftar kontak.
  • Relasi sehat juga berarti tahu kapan memberi ruang.

7. Gunakan Teknologi untuk Menumbuhkan, Bukan Mengalihkan

  • Ikut komunitas daring yang sehat.
  • Kirimkan kata-kata membangun, undangan ibadah daring, atau mentoring via Zoom.

 

 Dalam Cerita: Sinyal dan Sapa

Di era sekarang, semua orang sibuk mencari sinyal. Tapi ironisnya, makin banyak sinyal, makin jarang ada sapa yang tulus.

Dina duduk di pojok taman, earphone terpasang, matanya sibuk scroll layar. Di sekelilingnya, teman-teman berkumpul, tapi tak ada obrolan nyata. Semua tertawa pada layar masing-masing, bukan pada cerita satu sama lain.

"Lucu sekali!" seru salah satu teman, sambil menunjukkan video TikTok. Yang lain mengangguk, lalu kembali tenggelam di dunianya sendiri.

Dina mendesah. Sudah sebulan ia merasa makin jauh dari mereka, padahal tiap hari masih chat, masih tag-an story, masih kirim stiker. Tapi... rasanya kosong.

Malam itu, Dina memutuskan hal kecil: esok, ia akan meninggalkan ponsel di tas. Saat istirahat, ia duduk mendekat ke teman sebelah dan bertanya, “Bagaimana harimu sebenarnya?”

Temannya sempat kaget, lalu tersenyum. "Lumayan... melelahkan, tapi senang ada yang bertanya."

Obrolan itu hanya lima menit, tapi bagi Dina terasa nyata. Hangat. Lebih berharga dari 100 notifikasi.

 

Refleksi Remaja:

  • Apakah relasi digitalku membuatku lebih dekat atau justru lebih jauh?
  • Kapan terakhir kali aku mendengar seseorang tanpa gangguan layar?
  • Apa langkah kecil yang bisa kulakukan hari ini untuk membangun relasi yang nyata?

 

Makna Asli Relatio dalam Bahasa Latin

Kata relatio berasal dari kata kerja Latin referre, yang tersusun dari dua bagian:

  • re- = kembali
  • ferre = membawa

Jadi referre berarti "membawa kembali" atau "mengembalikan sesuatu ke asalnya". Dari kata kerja ini muncullah kata benda relatio, yang pada awalnya digunakan dalam konteks:

  1. Laporan → relatio digunakan di dunia hukum dan pemerintahan Romawi sebagai laporan resmi yang “dibawa kembali” kepada atasan atau penguasa.
  2. Pembalikan arah → dalam konteks logika dan retorika, relatio juga mengandung makna “pengembalian”, yaitu menunjukkan hubungan timbal balik, seperti satu ide yang dikaitkan balik ke ide lain.

 

Cerita di Balik Kata: Dari Forum Roma ke Hubungan Pribadi

Bayangkan seorang warga Romawi kuno—seorang messenger—dikirim ke provinsi jauh. Ia mengumpulkan kabar dari daerah itu: kondisi rakyat, panen, cuaca, atau konflik. Ia lalu “membawa kembali” (referre) informasi itu kepada Senat atau Kaisar. Laporan itu disebut relatio.

Tapi maknanya kemudian berkembang. 

Karena laporan ini menghubungkan dua tempat (pusat kekuasaan dan daerah), orang-orang mulai menggunakan relatio untuk menyebut hubungan atau keterkaitan yang dibawa dari satu pihak ke pihak lain.

Akhirnya, dalam perkembangan bahasa, relatio tak hanya soal laporan formal, tapi menjadi akar dari kata “relation” dan “relationship”—sebuah ikatan timbal balik antara dua pihak.

 

Refleksi Kecil

Relasi bukan sekadar interaksi. Ia adalah sesuatu yang dibawa, dikembalikan, dan dipelihara. Layaknya seorang pembawa pesan di masa Romawi, kita juga “membawa kembali” perhatian, kasih, dan pengertian kepada orang-orang dalam hidup kita.


Continue reading Etimologi "Relationship

Sunday, May 4, 2025

IA DISEBUT PEREMPUAN

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Genre: Narasi Bergaya Novelis, Inspiratif, Reflektif
Setting: Kampung kecil di tanah Timor, masa kini dengan kilas balik sejarah

 

Di sebuah kampung kecil yang terpencil di dataran kering Timor, di antara ladang jagung dan pohon lontar yang menjulang gagah menantang langit biru, hiduplah seorang perempuan bernama Maria Ema. Orang kampung menyapanya hanya sebagai "Ema" – bukan hanya karena ia sudah menjadi ibu, tapi karena namanya berarti sesuatu yang lebih dalam: empu.

Dalam bahasa lama, "empu" berarti yang ahli, yang punya kuasa, yang berpengaruh. Dan dalam diri Ema, semua itu menyatu seperti adonan jagung dan kelapa di atas tungku batu. Dia bukan sekadar ibu rumah tangga, bukan pula hanya penanam ladang atau penunggu dapur. Ema adalah tiang dari rumah yang tidak tampak. Ia berdiri di tengah badai, melindungi keluarganya dari ambruk. Dan orang kampung tahu itu, walau mereka jarang mengakuinya.

Anak bungsunya, Tius, pernah bertanya: “Mama, perempuan itu sebenarnya apa?”

Ema tersenyum sambil menganyam daun lontar. “Perempuan itu... disebut Ezer Kenegdo dalam kitab suci.”

“Ezer apa?”

“Ezer Kenegdo,” ulangnya pelan. “Itu bahasa tua dari kitab, artinya ‘penolong yang sepadan’. Lebih pas lagi teman penolong laki-laki yang berlawanan dengan laki-laki. Bukan pembantu, bukan bawahan. Tapi rekan seperjuangan. Seperti dua pasukan di medan perang, saling lindungi punggung.”

Tius hanya mengangguk, walau wajahnya menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya mengerti. Tapi Ema tahu, suatu saat anak lelaki itu akan paham. Mungkin saat dia terluka, atau saat dia sadar bahwa kekuatan sejati kadang datang dalam bentuk tangan lembut yang tak pernah menyerah.

Namun tidak semua orang di kampung berpikir seperti Ema. Tetua-tetua adat masih memegang teguh satu hal: laki-laki bicara, perempuan diam. Bahkan di gereja, suara perempuan hanya boleh terdengar saat menyanyi, bukan saat memberi pendapat. Ema pernah mencoba berbicara dalam rapat kampung yang dilakukan di gedung gereja tentang hak atas air bersih untuk keluarga-keluarga janda.

“Tutup mulut, Ema! Di kampung ini, perempuan tidak atur perkara umum!” bentak salah satu tetua.

Ema menunduk. Tapi hatinya tidak tunduk. Ia tahu, suara perempuan yang diam akan jadi beban yang ditanggung anak-anak mereka kelak. Jadi malam itu, ia mulai menulis diam-diam—di belakang buku catatan belanja, di sisa-sisa kertas bungkus garam. Ia menulis mimpi, strategi, dan rencana. Dan diam-diam pula, anak-anak muda perempuan mulai mendekat padanya.

“Ema, ajar sa beta cara hitung uang kelompok.”

“Ema, beta pung laki minum terus. Karmana beta bisa jaga anak?”

Ema tidak menjawab dengan ceramah. Ia menjawab dengan waktu, dengan perhatian, dengan kehadiran, dan tentunya dalam doa kepada Tuhan Yesus.

Di Alkitab, perempuan pertama diciptakan bukan dari debu, seperti laki-laki. Tapi dari tulang rusuk – dekat dari hati, di bawah lengan untuk dilindungi, di sisi untuk berjalan bersama. Tapi kemudian datang musim gugur di taman. Sebuah kejatuhan, dan sejak itu, perempuan sering dilihat dengan kacamata gelap. Di dunia barat, berabad-abad lamanya perempuan hanya dianggap sebagai penurut, pendiam, penghias ruangan. Mereka dilatih untuk tersenyum ketika hati mereka berdarah.

Namun Alkitab menyimpan kisah lain. Amsal 31 menggambarkan seorang perempuan tangguh. Ia bangun sebelum fajar, mengatur rumahnya, membeli ladang, bekerja dengan tangan terampil, menolong orang miskin, dan berkata bijak. “Perempuan kuat” bukanlah kontradiksi; itu definisi.

Ema hidup seperti itu. Ketika suaminya sakit bertahun-tahun, Ema bukan hanya istri. Ia jadi kepala keluarga, pengambil keputusan, penyambung nyawa. Orang bilang dia terlalu keras, terlalu cerewet. Tapi bila tidak begitu, rumah itu sudah roboh sejak lama.

Di dapur yang penuh asap, Ema merenung tentang kisah di Kejadian 3. Tentang Hawa, yang digoda dan dianggap sumber kejatuhan. Tapi Ema pernah membaca bagian yang menarik – kata yang digunakan saat Tuhan berkata, “keinginanmu akan memerintah atas suamimu,” itu sama dengan kata dalam Kejadian 4, ketika Tuhan berkata kepada Kain bahwa “dosa mengintip di depan pintu dan ingin menguasaimu.”

Itu bukan tentang cinta. Itu tentang dominasi. Perempuan dituduh ingin menguasai, tapi sesungguhnya itu pergulatan batin antara saling mencintai atau saling mengalahkan. Ema tahu, cinta yang sejati bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tapi siapa yang paling berani bertahan. "Cinta sejati bukanlah tentang siapa yang memiliki kendali, melainkan tentang siapa yang memiliki keberanian untuk tetap bertahan meski menghadapi tantangan terbesar."

Twistnya datang saat sebuah bencana alam mengguncang kampung—tanah longsor menutup sumber air utama. Para tetua bingung. Semua pria sibuk berdebat. Tapi justru kelompok perempuan yang dipimpin Ema bergerak duluan. Mereka naik ke hutan, mencari mata air baru, dan membangun jalur bambu untuk menyalurkan air ke rumah-rumah.

Saat air mengalir kembali, anak-anak melompat kegirangan. Dan para tetua hanya bisa berdiri diam, malu bercampur kagum. Satu demi satu, mereka mulai datang ke rumah Ema.

“Ema… boleh kita dengar lu pung ide soal kebun desa?”

Untuk pertama kalinya, suara perempuan didengar, bukan hanya gema. Ema tidak pernah membalas dendam. Ia hanya tersenyum. Ia tahu, perempuan bukan dilahirkan untuk diam, tapi untuk berdiri sejajar. Seperti tulang rusuk—bukan di atas, bukan di bawah. Di sisi.

Di kampung, Ema bukan tokoh penting. Ia tak duduk dalam sidang gereja, tak punya nama di papan RT. Tapi ketika anak-anaknya berbicara tentang kekuatan, mereka selalu menyebut: Mama.

Dan jika suatu saat Tius jadi pemimpin, ia akan tahu bahwa kekuatan yang membentuknya bukan datang dari rotan atau teriakan. Tapi dari tangan tua yang mengusap keningnya saat demam. Dari doa lirih seorang perempuan kuat di ujung malam.

Itulah perempuan. Ia disebut Ezer Kenegdo. Ia disebut empu. Ia disebut prajurit. Dan ia adalah akar yang tak pernah terlihat, tapi menopang seluruh pohon.

Tirai bayangan tertutup. Senja jatuh perlahan di kampung. Di kejauhan, suara lesung menumbuk jagung berpadu dengan nyanyian Ema yang tak pernah benar-benar berhenti.


Continue reading IA DISEBUT PEREMPUAN

"Lu Pung Bodoh" (Karena Kebodohanmu)

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Di kampung kecil di lereng Timor, orang sudah malas bahas Mikael — anak bungsu yang pergi tanpa pamit baik-baik, pulang hanya dalam cerita doa Bapa dan air mata Mama.

Dulu, waktu Mikael bilang mau ke kota, Bapa Lius hanya menatap langit yang merah senja.

“Lu pung bodoh, Mikael. Dunia di luar bukan tempat main-main. Tapi kalau lu sudah niat, pi... Beta tunggu sampe lu pulang. Tapi jangan bikin Beta dan Mama mati karena rindu.”

Mikael hanya tertawa. “Dunia luas, Bapa. Beta mau hidup besar. Di sini... hidup mati di kebun dan kandang.”

Lalu ia pergi — dengan ransel robek, semangat membara, dan hati yang merasa tahu segalanya.


Jalan yang Penuh Luka

Di kota, hidup tidak seindah lagu-lagu di radio. Ia sempat sukses jadi kru acara musik, lalu ikut teman bangun bisnis makanan. Tapi semuanya runtuh saat orang yang ia percaya melarikan semua uang dan meninggalkan hutang atas namanya.

Mikael hidup di emper toko. Pernah tidur di terminal Bolak, makan dari nasi bungkus sisa.

Suatu malam, dalam dingin dan hujan, Mikael menengadah: “Bapa... Mama... Beta pung bodoh... Beta mau pulang.”


Pulang dengan Luka, Disambut dengan Sunyi

Ia pulang naik truk barang. Tiga hari perjalanan, luka di kaki tak terasa karena hatinya sudah lebih sakit.

Sampai di kampung, rumah itu masih ada. Tapi sepi. Jendela tertutup, halaman tak terurus.

“Bapa... Mama...” bisiknya, hampir tak terdengar.

Seorang tetangga melihat dari jauh, lalu datang menghampiri.

“Ade... rumah itu kosong sejak dua minggu lalu. Bapa dan Mama pi tinggal di rumah tua di atas bukit. Mereka pikir lu su mati. Bapa sempat sakit baraat. Mama? Setiap pagi manangis di dapur.”

Mikael hampir roboh di tanah. Tapi dia bangkit, langkahnya tertatih mendaki bukit — menuju rumah tua tempat harapan terakhir itu mungkin masih menyala.


Di Bukit Sunyi

Rumah di bukit itu berdinding papan tua. Lampunya redup, hanya lilin kecil menyala di meja.

Mikael mengetuk pelan. Tidak ada jawaban. Ia dorong pintu.

Di dalam... Mama Nera duduk tertidur di kursi. Matanya sembab. Di sudut ruangan, Bapa Lius terbaring — lemah, tapi belum pergi.

Langkah Mikael membangunkan Mama. Ia menoleh perlahan, matanya tak percaya.

“Mikael? … Beta mimpi ni ko?”

Mikael jatuh berlutut.

“Mama… Bapa… Beta pung bodoh… ampun…”

Air mata Mama pecah seperti hujan pertama di musim kering. Ia peluk anaknya seperti hendak meremas seluruh luka keluar dari tubuhnya.

Bapa Lius membuka mata perlahan. Lemah, tapi tegas. Ia mengangkat tangan dan berkata:

“Beta bilang apa? Walaupun lu pung bodoh, Bapa tunggu lu… Sampai napas terakhir, Bapa tunggu.”


Kasih yang Tak Pernah Pergi

Sejak malam itu, Mikael tinggal di rumah bukit. Ia rawat Bapa, temani Mama, dan pelan-pelan, ia kembali membangun rumah lama. Ia tidak ke kota lagi. Ia tidak butuh panggung besar. Cukup tanah, keluarga, dan Tuhan Yesus yang tak pernah tinggalkan.

Orang-orang kampung mulai hormati dia kembali. Anak-anak kecil belajar gitar darinya. Ia mulai berkotbah di gereja — bukan sebagai orang suci, tapi sebagai orang yang pernah jatuh lalu bangkit kembali, dan tahu bagaimana rasanya ditunggu dalam doa.

Kadang, saat senja datang dan cahaya jatuh di ladang, Mikael duduk di bale-bale, memandang jalan seperti dulu Bapa.

Dan kalau ada anak muda yang keras kepala mau lari dari kampung, ia cukup berkata:

“Lu pung bodoh. Tapi kalau lu su sadar, jangan malu pulang. Karena kasih sejati... selalu tunggu.”


Dalam versi naskah drama

Judul: Lu Pung Bodoh

Genre: Drama Keluarga (Konflik, Pertobatan, Kasih Orang Tua)
Setting: Desa kecil di lereng Timor dan kota besar di luar pulau


DAFTAR TOKOH:

  • Mikael: Anak bungsu, keras kepala, cerdas, tapi sombong.

  • Bapa Lius: Ayah Mikael, keras luar lembut hati, sederhana.

  • Mama Nera: Ibu Mikael, penyayang, rapuh tapi tegar.

  • Tetangga: Narator sekaligus penyampai informasi.

  • Orang Kota: Teman yang menipu Mikael.

  • Warga Desa: Figuran


ADEGAN 1 – DEPAN RUMAH, SUASANA PAGI

(Dekorasi panggung menunjukkan rumah kampung sederhana. Matahari pagi menyinari bale-bale. Mikael bersiap dengan ransel. Bapa Lius duduk di bale-bale. Mama Nera di ambang pintu dapur, wajah sedih.)

MIKAEL:
(Berdeham) Bapa, Mama… Beta pi kota. Beta tidak tahan di sini. Di kota ada banyak peluang.

MAMA NERA:
(Parau, memegang lengan Mikael) Anak… kampung ini mungkin kecil, tapi hati orang tua besar. Beta takut lu ilang di sana.

BAPA LIUS:
(Lambat, dalam)
Lu pung bodoh, Mikael. Dunia luar bukan tempat main-main. Tapi kalau lu sudah niat, pi… Tapi ingat, jalan pulang selalu ada.

(Mikael memeluk Mama singkat, lalu jalan. Mama menangis. Bapa diam memandangi jalan.)


ADEGAN 2 – KOTA, SET MULTIFUNGSI DENGAN LAMPU TEMARAM

(Panggung berganti suasana kota: musik cepat, lampu warna-warni. Mikael tertawa, bekerja, pesta. Lalu berubah jadi konflik. Cahaya berubah suram.)

ORANG KOTA:
(Sinis) Tandatangan sa! Ini investasi masa depan.

(Mikael tanda tangan. Musik berhenti. Lampu fokus ke Mikael sendirian. Tertipu. Dipukuli. Tidur di jalan. Hujan turun.)

MIKAEL:
(Meringkuk, menangis) Bapa… Mama… Beta pung bodoh… Beta mau pulang…


ADEGAN 3 – KEMBALI KE DESA, JALAN DUSUN

(Suasana desa. Jalan merah, rumput tinggi. Mikael berjalan dengan pakaian compang-camping. Ketemu Tetangga.)

TETANGGA:
(Antara kaget dan kasihan) Mikael? Astaga... Lu masih hidup? Bapa Lius dan Mama pi tinggal di rumah tua di bukit. Mereka pikir lu sudah mati.

MIKAEL:
(Suara pelan) Beta mau ketemu mereka...


ADEGAN 4 – RUMAH TUA DI BUKIT

(Rumah kecil, lampu lilin. Mama tidur di kursi. Bapa di dipan, lemah. Mikael masuk perlahan.)

MIKAEL:
(Suara patah, menangis) Mama… Bapa… Beta pulang…

MAMA NERA:
(Terbangun, suaranya tercekat) Mikael… Astaga... (Langsung peluk Mikael erat.)

BAPA LIUS:
(Membuka mata, pelan) Beta bilang apa… Walaupun lu pung bodoh… Bapa tunggu lu...

(Pelukan bertiga. Musik lembut masuk. Cahaya hangat.)


ADEGAN 5 – DEPAN RUMAH, SENJA

(Dekorasi seperti Adegan 1. Mikael kini duduk di bale-bale. Anak-anak desa bermain. Warga menyapa.)

MIKAEL (MONOLOG):
Dulu beta pikir dunia besar itu segalanya. Tapi ternyata, cinta yang beta buang jauh... tetap tunggu beta pulang.

(Lampu redup. Musik penutup. Tirai tertutup.)

Continue reading "Lu Pung Bodoh" (Karena Kebodohanmu)

"Ketika Budaya Duduk di Atas Mimbar – Catatan dari Tanah Timor"

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Di sebuah desa kecil di perbukitan Kupang, lonceng gereja berdentang kencang dari menara yang sudah menghitam dimakan cuaca. 

Angin Timor yang kering membawa debu dan bau tanah, menari-nari di halaman gereja tempat para ibu dengan kebaya dan kain tenun duduk menunggu ibadah dimulai.

Aku duduk di bawah pohon asam, memandangi anak-anak muda yang datang tergesa-gesa, beberapa masih pakai kaos dan sandal jepit. 

Beberapa orang tua menoleh, ada yang menggeleng pelan. “Anak-anak sekarang… tidak tahu sopan santun,” gumam seorang bapak.

Tapi aku bertanya dalam hati: Apakah Tuhan lebih peduli pada jenis kain yang kami pakai, atau pada hati yang kami bawa ke hadapan-Nya?

Di Tanah Timor, budaya itu kuat — dan itu indah. Tenun punya makna. Duduk bersila saat upacara adat bukan sekadar gaya, tapi lambang hormat. 

Namun, aku mulai merasa cemas ketika yang warisan budaya ini perlahan mulai mendikte cara orang mengasihi Tuhan.

Ketika model berdoa yang tidak "keras" dianggap kurang rohani.
Ketika orang yang tidak menyanyi dengan nada daerah dinilai kurang beriman.
Ketika suara Roh disaring dulu oleh adat dan tata cara — bukan lagi oleh hati yang peka.

Pelan-pelan, budaya tidak lagi berdampingan dengan iman, tapi duduk di atasnya, memegang mikrofon, memberi pengajaran dan khotbah dalam nama Tuhan.

Padahal... Yesus tidak lahir di rumah adat. Ia tidak berbicara dalam tatanan liturgi rumit. 

Ia duduk makan dengan pemungut cukai, berjalan kaki di debu jalanan, dan mengundang orang untuk mengenal Bapa. Tanpa syarat kostum atau tata cara tertentu.

Kita mencintai warisan nenek moyang, betul. 

Kita jaga dengan hormat. Tapi jangan sampai kita menukar Roh yang hidup dengan aturan yang kaku. 

Jangan sampai anak muda takut datang ke gereja bukan karena dosa, tapi karena mereka tidak tahu caranya berdoa sesuai “gaya kampung”.

Gereja di Tanah Timor punya kekuatan besar — warisan iman, budaya yang kaya, dan semangat komunitas. Tapi kekuatan itu harus disandarkan pada kasih Kristus, bukan pada kebiasaan semata. Bukan pada budaya semata.

Karena kalau tidak hati-hati, kita sedang menciptakan agama baru — bukan berdasarkan Injil, tapi berdasarkan adat yang disakralkan. Berdasarkan budaya yang ditakuti.

Dan itu... bukan kabar baik.

 


Continue reading "Ketika Budaya Duduk di Atas Mimbar – Catatan dari Tanah Timor"

Saturday, May 3, 2025

Materi Pendalaman Alkitab: Yesus Membarui Praktek Budaya Yang Tidak Adil

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Ibadah Presbiter Lingkungan 1 Jemaat Koinonia Kupang

 

Bacaan Alkitab: Yohanes 20:11-18

Tema: Yesus Membarui Praktek Budaya Yang Tidak Adil


Yesus membawa perubahan

Kita baru saja memperingati peristiwa Paskah. Di kesempatan ini, mari melihat kembali perubahan prosesi Paskah dan maknanya.

 

Lukas 22:8 Lalu Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, kata-Nya: "Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan." 22:9 Kata mereka kepada-Nya: "Di manakah Engkau kehendaki kami mempersiapkannya?"

 

Tabel Perbandingan: Paskah Pertama vs Perjamuan Malam Terakhir. Tabel ini menunjukkan bagaimana keduanya terhubung secara simbolis dan profetik, tetapi ada perbedaan di antaranya:

 

Elemen

Paskah Pertama di Mesir (Keluaran 12)

Perjamuan Malam Terakhir (Injil-injil Sinoptik & Yohanes)

Waktu

Malam sebelum pembebasan dari Mesir

Malam sebelum Yesus disalibkan (menjelang Paskah Yahudi)

Pemimpin Perjamuan

Kepala keluarga Israel

Yesus, Sang Mesias dan Guru

Korban utama

Anak domba jantan tak bercela

Yesus, “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29)

Roti tidak beragi

Dimakan sebagai tanda kesiapan pergi

Yesus memecahkan roti: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu”

Darah anak domba

Dibalurkan di ambang pintu, tanda perlindungan

Darah Yesus dicurahkan “bagi banyak orang untuk pengampunan dosa”

Sayur pahit

Simbol kepahitan perbudakan

Tidak disebut eksplisit, tapi konteks pengkhianatan dan penderitaan ada

Arahan dari Tuhan

Harus dimakan dengan tergesa-gesa, siap untuk berangkat

Yesus bersabda bahwa Ia akan “tidak makan lagi sebelum tergenapi”

Makna spiritual

Pembebasan dari perbudakan fisik

Penebusan dari dosa dan kematian rohani

Perintah untuk mengenang

“Rayakan ini turun-temurun sebagai peringatan”

“Lakukan ini sebagai peringatan akan Aku” (Luk. 22:19)

Hasil/tujuan

Keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian

Jalan salib menuju kebangkitan dan Kerajaan Allah

 

 Yesus Membarui Praktik Budaya yang Tidak Adil

Setiap orang pasti dipengaruhi oleh budaya tertentu. Budaya adalah keseluruhan cara hidup, kebiasaan, nilai, norma, kepercayaan, seni, bahasa, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam suatu kelompok masyarakat. Budaya dipengaruhi oleh alam dan zaman.

Dengan kata lain, budaya mencerminkan siapa kita, bagaimana kita berpikir, merasa, dan bertindak sebagai bagian dari komunitas tertentu.

 

Etimologi kata “Budaya”

Asal kata "budaya" dalam Bahasa Indonesia berasal dari kata Sanskerta: buddayah (bentuk jamak dari buddhi) yang berarti: akal, budi, atau pikiran. Jadi, secara harfiah, budaya = hasil dari akal atau budi manusia.

Dalam bahasa Inggris: "Culture". Dari Latin cultura, yang berasal dari colere artinya "mengolah" atau "memelihara", terutama berkaitan dengan tanah → berkembang menjadi arti "mengolah kehidupan manusia".

 

Budaya = hasil olah budi dan pikiran manusia yang tercermin dalam cara hidup bersama. Meliputi hal-hal tampak (seperti pakaian, makanan, seni) dan tak tampak (seperti nilai, keyakinan, dan bahasa).

 

Ada banyak hal positif dari budaya. Namun tidak dapat disangkali pula bahwa di dalam budaya, terdapat praktik-praktik ketidakadilan. Misalnya, budaya belis yang pada awalnya merupakan penghargaan kepada perempuan, justru menjadi praktik yang merendahkan martabat perempuan menjadi setara dengan sejumlah ternak atau barang. Pada kesempatan ini kita belajar pada tindakan Yesus yang menyentuh langsung praktik budaya khususnya terhadap kaum perempuan pada masa kebangkitan-Nya dari kematian.

Bacaan Yohanes 20:11-18, berkisah tentang penampakkan Yesus untuk pertama kalinya setelah Dia bangkit. Mari kita lihat 3 hal penting dalam peristiwa ini yang mengubah praktik budaya saat itu.

Pertama, Yesus menampakkan diri untuk pertama kalinya bukan kepada kaum laki-laki, melainkan kepada seorang perempuan yang bernama Maria Magdalena. Hal ini bertolak belakang dengan budaya pada masa itu di mana kaum laki-laki selalu dinomorsatukan. Mengapa? Oleh sebab budaya patriakal yang berlaku saat itu.

Secara etimologi, kata patriarkal berasal dari bahasa Yunani:

"Patri-" dari kata patēr (πατήρ) → berarti "bapa" dan "-arkal" dari kata archē (ἀρχή) → berarti "awal", "asal", atau "otoritas/kepemimpinan"

Jadi, secara harfiah: Patriarkal = sistem yang berpusat pada kepemimpinan bapa atau laki-laki sebagai otoritas utama.

 

Dalam Konteks Sosial:

Patriarki adalah sistem sosial di mana laki-laki (terutama bapa) memegang otoritas utama dalam keluarga, masyarakat, atau pemerintahan. Biasanya ditandai dengan:

  • Hak waris melalui garis laki-laki
  • Pemimpin keluarga adalah ayah/suami
  • Laki-laki dominan dalam struktur kekuasaan sosial, agama, dan budaya

 

Dalam Alkitab:

Tokoh-tokoh seperti Abraham, Ishak, dan Yakub disebut sebagai para patriark (bapa leluhur iman), yang juga memberi dasar pada istilah “patriarkal” dalam konteks rohani dan sejarah.

 

Kedua, Yesus memulihkan martabat Maria Magdalena. Hal ini terlihat dari bagaimana Yesus menyapa Maria Magdalena dengan namanya sendiri. Yesus tidak mengaitkan Maria Magdalena dengan laki-laki mana pun sebagaimana lazimnya pada zaman itu. Yesus tidak bilang, “Maria bin/anak si A, atau Maria saudara si B”. Maria Magdalena disapa dengan namanya sendiri dengan cara yang tegas dan jelas. Hal inilah yang kemudian membuat Maria Magdalena mengenali Yesus dan membalas sapaan Yesus dengan bahasa ibunya sendiri yaitu bahasa Ibrani.

Jika dibandingkan dengan Yohanes 21:15-17, Yesus memanggil Petrus dengan nama Simon anak Yohanes. Padahal Yesus sendiri yang memberi nama Simon sebagai Petrus (Matius 16:18).

 

Ketiga, Maria Magdalena diutus menjadi saksi kebangkitan Yesus. Dalam budaya zaman Alkitab, kesaksian perempuan umumnya tidak dianggap sah atau kurang dipercaya, terutama dalam konteks hukum atau pengadilan. Ini adalah bagian dari sistem patriarkal di mana peran dan suara perempuan seringkali dipinggirkan.

Berikut adalah bukti budaya dan ayat Alkitab yang menunjukkan kenyataan ini:

 

Bukti Budaya Zaman Alkitab:

  1. Tradisi Yahudi Rabinik (Talmud). Talmud adalah kumpulan teks rabinik Yahudi yang terdiri dari dua bagian utama: Mishnah (kumpulan hukum lisan Yahudi yang dibukukan sekitar tahun 200 M) dan Gemara (komentar dan diskusi rabinik tentang Mishnah, disusun antara abad ke-3 hingga ke-6).

Talmud, Rosh Hashanah 1:8 (Rosh Hashanah adalah Tahun Baru Yahudi, salah satu hari raya paling suci dalam kalender Ibrani. Secara harfiah, "Rosh Hashanah" berarti "kepala tahun" atau "permulaan tahun") bagian ini membahas siapa saja yang sah untuk memberi kesaksian tentang penampakan bulan baru, karena kalender Yahudi bergantung pada itu.

 

Potongan penting (terjemahan ringkas): "Kesaksian tentang bulan baru tidak boleh diterima dari perempuan, budak, atau anak-anak..." Artinya: Dalam hukum Yahudi kuno, kesaksian hanya dianggap sah jika datang dari pria Yahudi dewasa yang merdeka. Ini menunjukkan bahwa perempuan tidak diakui sebagai saksi resmi, bahkan dalam hal sederhana seperti melihat bulan—sebuah nilai budaya patriarkal yang juga memengaruhi konteks sosial zaman Perjanjian Baru.

 

  1. Budaya Timur Dekat Kuno

Di banyak masyarakat Timur Dekat, termasuk Mesir dan Babilonia, laki-laki adalah pusat hukum dan warisan, dan perempuan dianggap sebagai pendamping, bukan pemberi keputusan atau keterangan hukum.

 

Ayat-ayat Alkitab yang Terkait:

  1. Lukas 24:10–11 – Kesaksian perempuan tentang kebangkitan Yesus tidak langsung dipercaya oleh para murid laki-laki:

“Perempuan-perempuan itu adalah Maria Magdalena dan Yohana dan Maria ibu Yakobus, dan perempuan-perempuan lain yang bersama-sama dengan mereka memberitahukan semuanya itu kepada rasul-rasul. Tetapi perkataan mereka itu bagi rasul-rasul terdengar seperti omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.”

➤ realitas budaya: kesaksian perempuan dipandang tidak kredibel, bahkan oleh orang percaya.

  1. Yohanes 4:27 – Reaksi murid-murid Yesus ketika Ia berbicara dengan perempuan Samaria:

“Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran bahwa Ia berbicara dengan seorang perempuan…”

➤ berbicara dengan perempuan secara terbuka dianggap tidak biasa atau mengejutkan dalam budaya Yahudi saat itu.

  1. 1 Korintus 14:34 – Pernyataan keras dalam konteks ibadah:

“Perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat…”

➤ norma sosial dan keagamaan saat itu yang membatasi peran perempuan dalam konteks publik, termasuk dalam penyampaian kesaksian atau pengajaran.

 

Yesus melawan norma itu dengan memberi tempat terhormat bagi perempuan, misalnya:

  • Ia menampakkan diri pertama kali kepada Maria Magdalena setelah kebangkitan-Nya.
  • Ia berdialog teologis dengan perempuan Samaria (Yohanes 4).
  • Ia membela perempuan yang dituduh berzina (Yohanes 8).

 

Sebuah catatan dalam Injil Thomas (: Tidak ditemukan dalam Injil Kanonik, Tidak diakui sebagai doktrin gereja arus utama, Dianggap sebagai teks apokrif dan gnostik, bukan ajaran resmi gereja).

Logion 114 – Injil Thomas

Simon Petrus berkata kepada mereka:

“Biarlah Maria pergi dari antara kita, karena perempuan tidak layak untuk hidup.”

 Yesus berkata:

“Lihatlah, Aku akan membimbingnya agar Kujadikan laki-laki, supaya juga ia menjadi roh yang hidup, serupa laki-laki. Sebab setiap perempuan yang menjadikan dirinya laki-laki akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”

Logion 114 adalah ucapan terakhir dalam Injil Thomas, dan juga salah satu yang paling kontroversial.

 

Penutup

Alkitab memberikan peran yang penting bagi kaum perempuan untuk menjadi pemberita-Injil Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus hadir ke dunia sebagai seorang yang bergender laki-laki. Ia memilih murid-murid-Nya yang utama yang semuanya adalah para laki-laki. Namun dalam hal untuk menjadi pemberita Injil. Tuhan Yesus juga memberikan kesempatan-kesempatan bagi kaum perempuan untuk menjadi pemberita-Injil-Nya.

Dengan otoritas-Nya, Allah memilih seorang perempuan menjadi saksi-Nya yang pertama untuk menyaksikan kebangkitan-Nya dari kematian.

Melalui pembahasan kali ini kita diingatkan agar tidak mengagungkan wujud dan praktik budaya tanpa sikap kritis sama sekali. Memang, budaya perlu dihargai, dipelihara dan dilestarikan. Namun, perlu disadari bahwa budaya sudah terkontaminasi dosa. Karena itu kita mesti bisa melihat praktik-praktik yang tidak sesuai kehendak Tuhan dalam budaya, khususnya praktik-praktik ketidakadilan untuk ditransformasi sebagaimana yang Tuhan Yesus teladankan.


Pertanyaan diskusi:

1.   Mengapa Yesus tampakkan diri kepada Maria Magdalena?

2.   Maria Magdalena diberi kehormatan/ hak istimewa untuk menjadi pemberita kabar baik (Injil) tentang kebangkitan-Nya, bahkan kepada murid-murid Kristus yang utama yang semuanya adalah para laki-laki. Apakah Maria Magdalena cukup layak dengan kepercayaan ini?

3.   Berikan tanggapan Saudara terhadap kondisi berikut:

a. Pada mulanya, ada seorang perempuan (Hawa) pertama di Taman Eden menyebarkan berita tentang kejahatan terhadap kemanusiaan, dan dari situ Adam mengkonfirmasi "dosa manusia" yang pertama.

b.  Nubuat keselamatan yang sudah dicanangkan Allah dalam Kejadian 3:15 itu digenapi melalui seorang perempuan (Maria).

c.   Berita Injil kebangkitan disampaikan melalui perempuan (Maria Magdalena) bahwa Yesus Kristus Raja orang Yahudi telah bangkit, dan Allah Israel telah mendamaikan umat manusia di dunia dengan diri-Nya.

Diskusikan pendapat Saudara mengenai hal di atas!

4.  Jika dihubungkan dengan berita Paskah Yesus Kristus, apakah yang dapat atau akan Saudara lakukan sebagai seorang Kristen dalam kaitan dengan transformasi budaya di lingkungan Saudara dan dalam bergereja?


Continue reading Materi Pendalaman Alkitab: Yesus Membarui Praktek Budaya Yang Tidak Adil