Malam itu sunyi. Di tepi kolam Betesda, seorang lelaki terbaring di atas tikar lusuh. Tubuhnya kaku, lumpuh, tak berdaya. Tiga puluh delapan tahun ia menunggu, berharap air kolam berguncang dan seseorang menolongnya masuk.
Tapi
setiap kali air bergolak, orang lain lebih cepat. Ia hanya bisa menatap, pahit,
kecewa, dan semakin yakin bahwa nasibnya dikutuk.
Hari itu berbeda. Seorang asing mendekat, tatapannya tajam namun penuh
belas kasih. Lelaki lumpuh itu bersiap mendengar kata-kata simpati yang biasa:
“Sabar ya, mungkin suatu saat giliranmu.” Tapi yang keluar justru pertanyaan
yang menusuk jantungnya:
“Maukah engkau sembuh?”
Ia terdiam. Pertanyaan itu bukan sekadar tentang fisiknya. Itu seperti
pisau yang membelah lapisan hatinya: apakah ia sungguh ingin sembuh, atau
selama ini ia lebih nyaman menyalahkan keadaan?
Ia sadar, selama puluhan tahun ia tidak hanya lumpuh secara tubuh,
tetapi juga lumpuh secara jiwa. Terikat pada alasan, pada keadaan, pada rasa
tidak berdaya.
Fokus pada eksternal (external locus of control)
Lelaki lumpuh ini menggantungkan harapan pada “alat” (kolam, orang lain,
keadaan). Ini disebut external locus of control, yaitu keyakinan bahwa
hidup ditentukan oleh faktor luar. Akibatnya, ia kehilangan motivasi internal
untuk berubah.
Self-deception (penipuan diri)
Ia tidak jujur pada dirinya sendiri. Ia lebih mudah menyalahkan keadaan
daripada mengakui bahwa ia tidak berusaha. Ini merupakan self-deception,
yaitu mekanisme pertahanan diri agar tidak merasa bersalah, tapi justru membuat
stagnan (tidak berubah).
Pertanyaan Yesus sebagai terapi eksistensial
“Maukah engkau sembuh?” adalah pertanyaan yang memaksa iseseorang menghadapi dirinya sendiri. Pertanyaan ini mengajak manusia untuk memilih secara sadar, bukan sekadar pasrah pada keadaan.
Yesus sebagai pusat pemulihan
Injil Yohanes 5:6 menekankan bahwa kesembuhan bukan berasal dari kolam,
bukan dari ritual, bukan dari alat. Kesembuhan sejati datang dari Yesus.
Teologi Kristen menegaskan bahwa manusia tidak diselamatkan oleh usaha atau
sarana, tetapi oleh anugerah Allah.
Pertanyaan ilahi sebagai panggilan iman
Tuhan tidak langsung menyembuhkan, Ia bertanya dulu. Mengapa? Karena
iman harus lahir dari kejujuran hati. Tuhan menghendaki manusia melihat dirinya
apa adanya, lalu memilih percaya.
Simbol lumpuh 38 tahun
Angka 38 melambangkan waktu yang panjang, stagnasi, dan ketidakberdayaan
manusia. Teologi menafsirkan ini sebagai gambaran kondisi rohani manusia tanpa
Kristus: lumpuh, menunggu, tanpa harapan sejati.
Kisah ini bukan hanya tentang seorang lumpuh di Betesda. Ini tentang
kita semua. Kita sering lumpuh oleh alasan, oleh keadaan, oleh rasa tidak
mampu. Kita menunggu “alat”: kesempatan, orang lain, sistem padahal yang kita
butuhkan adalah Tuhan Yesus sendiri.
Pertanyaan Yesus tetap relevan: “Maukah engkau sembuh?” Itu bukan
sekadar pertanyaan fisik, tetapi panggilan untuk jujur pada diri sendiri,
berhenti menyalahkan keadaan, dan berani percaya bahwa pemulihan sejati datang
dari-Nya.
Trimakasih, renungan yg memberkati
ReplyDelete