Wednesday, January 14, 2026

“Tiga Puluh Delapan Tahun Menunggu”

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Malam itu sunyi. Di tepi kolam Betesda, seorang lelaki terbaring di atas tikar lusuh. Tubuhnya kaku, lumpuh, tak berdaya. Tiga puluh delapan tahun ia menunggu, berharap air kolam berguncang dan seseorang menolongnya masuk. 

Tapi setiap kali air bergolak, orang lain lebih cepat. Ia hanya bisa menatap, pahit, kecewa, dan semakin yakin bahwa nasibnya dikutuk.

Hari itu berbeda. Seorang asing mendekat, tatapannya tajam namun penuh belas kasih. Lelaki lumpuh itu bersiap mendengar kata-kata simpati yang biasa: “Sabar ya, mungkin suatu saat giliranmu.” Tapi yang keluar justru pertanyaan yang menusuk jantungnya:

“Maukah engkau sembuh?”

Ia terdiam. Pertanyaan itu bukan sekadar tentang fisiknya. Itu seperti pisau yang membelah lapisan hatinya: apakah ia sungguh ingin sembuh, atau selama ini ia lebih nyaman menyalahkan keadaan?

Ia sadar, selama puluhan tahun ia tidak hanya lumpuh secara tubuh, tetapi juga lumpuh secara jiwa. Terikat pada alasan, pada keadaan, pada rasa tidak berdaya.

 

Fokus pada eksternal (external locus of control)

Lelaki lumpuh ini menggantungkan harapan pada “alat” (kolam, orang lain, keadaan). Ini disebut external locus of control, yaitu keyakinan bahwa hidup ditentukan oleh faktor luar. Akibatnya, ia kehilangan motivasi internal untuk berubah.


Self-deception (penipuan diri)

Ia tidak jujur pada dirinya sendiri. Ia lebih mudah menyalahkan keadaan daripada mengakui bahwa ia tidak berusaha. Ini merupakan self-deception, yaitu mekanisme pertahanan diri agar tidak merasa bersalah, tapi justru membuat stagnan (tidak berubah).


Pertanyaan Yesus sebagai terapi eksistensial

“Maukah engkau sembuh?” adalah pertanyaan yang memaksa iseseorang menghadapi dirinya sendiri. Pertanyaan ini mengajak manusia untuk memilih secara sadar, bukan sekadar pasrah pada keadaan.

 

Yesus sebagai pusat pemulihan

Injil Yohanes 5:6 menekankan bahwa kesembuhan bukan berasal dari kolam, bukan dari ritual, bukan dari alat. Kesembuhan sejati datang dari Yesus. Teologi Kristen menegaskan bahwa manusia tidak diselamatkan oleh usaha atau sarana, tetapi oleh anugerah Allah.


Pertanyaan ilahi sebagai panggilan iman

Tuhan tidak langsung menyembuhkan, Ia bertanya dulu. Mengapa? Karena iman harus lahir dari kejujuran hati. Tuhan menghendaki manusia melihat dirinya apa adanya, lalu memilih percaya.


Simbol lumpuh 38 tahun

Angka 38 melambangkan waktu yang panjang, stagnasi, dan ketidakberdayaan manusia. Teologi menafsirkan ini sebagai gambaran kondisi rohani manusia tanpa Kristus: lumpuh, menunggu, tanpa harapan sejati.


Kisah ini bukan hanya tentang seorang lumpuh di Betesda. Ini tentang kita semua. Kita sering lumpuh oleh alasan, oleh keadaan, oleh rasa tidak mampu. Kita menunggu “alat”: kesempatan, orang lain, sistem padahal yang kita butuhkan adalah Tuhan Yesus sendiri.

Pertanyaan Yesus tetap relevan: “Maukah engkau sembuh?” Itu bukan sekadar pertanyaan fisik, tetapi panggilan untuk jujur pada diri sendiri, berhenti menyalahkan keadaan, dan berani percaya bahwa pemulihan sejati datang dari-Nya.


1 comment: