Di zaman ini, ketika pendeta menerima tamu, sering kali tamu itu tidak lagi datang dengan mengetuk pintu ruang konseling atau beranjak menaiki anak tangga menuju kantor gereja.
Banyak dari mereka datang lewat layar kecil: melalui kolom komentar,
pesan pribadi, siaran langsung, atau potongan video pendek yang tersebar begitu
cepat. Media sosial telah menjadi ruang tamu baru, ruang tanpa sekat, tanpa
tembok, tanpa jarak.
Inilah ruang terbuka yang benar-benar dimiliki manusia modern. Lapang, bebas, namun sekaligus penuh risiko.
Di dalamnya, setiap suara bisa terdengar, setiap
respons bisa dinilai, dan setiap ajaran bisa diangkat atau dijatuhkan oleh
ribuan mata yang bahkan tak pernah bertemu muka.
Di ruang seperti inilah hikmat yang benar dan sejati diuji. Tidak cukup bagi seorang pendeta hanya memberitakan kebenaran dari mimbar yang nyaman dan aman.
Karena pada
akhirnya, kebenaran itu akan memasuki aliran percakapan media sosial, tempat
opini bersilangan dan kesabaran sering kali terkikis. Pemberitaan harus siap
diuji, bukan hanya didengar. Ia harus tahan dikritik, diverifikasi, digugat,
dan diperiksa oleh publik yang semakin kritis, bahkan sinis.
Oleh sebab itu, seorang pendeta tidak hanya memikul tanggung jawab untuk menyampaikan firman, tetapi juga menghadirkan kehadiran yang bijak di ruang maya.
Ketika pendeta
menerima tamu lewat media sosial, sebenarnya ia sedang menghadapi dunia yang
lebih luas daripada ruang kerjanya. Dunia di mana jemaat, penonton acak, dan
para pencari kebenaran datang dari segala arah.
Medsos adalah medan ujian integritas yang tidak bisa dihindari. Apa yang diberitakan harus selaras dengan apa yang ditampilkan.
Apa yang diajarkan harus tampak nyata dalam
tanggapan dan cara berinteraksi. Sebab di ruang tanpa tembok itu, suara
pemimpin rohani tidak boleh hanya bergema. Ia harus bertahan.
Pada akhirnya, media sosial bukan ancaman, melainkan kesempatan. Kesempatan untuk menunjukkan bahwa hikmat sorgawi tetap kokoh, bahkan ketika dilayangkan di tengah arus komentar.
Kesempatan untuk menjadikan ruang digital sebagai bagian dari
pelayanan pastoral yang asli: menjawab, mendengar, menegur, menguatkan, dan
menghadirkan terang di tempat di mana manusia modern paling banyak menghabiskan
waktunya.
Di sinilah pendeta kini menerima tamu.
Di ruang terbuka yang menguji, mengasah, dan sekaligus
memperluas jangkauan kasih. Sebab firman tidak pernah dimaksudkan tinggal di
ruang tertutup. Ia harus berjalan ke tempat di mana manusia berada, termasuk ke
ruang tanpa sekat bernama media sosial.
0 comments:
Post a Comment