Malam itu hujan turun pelan, seperti mengetuk jendela kantor detektif tua yang sudah lama kehilangan kasus besar.
Ia duduk dengan jas lusuh, menatap
berkas yang tak pernah selesai. Tiba-tiba, sebuah surat tanpa nama tergeletak
di meja kayu. Hanya satu kata di sana: “Ingat.”
Detektif itu tersenyum getir. Kata itu sederhana, tapi seperti pintu menuju misteri. Ia tahu, setiap kasus besar selalu dimulai dengan kata kecil yang tampak sepele.
Ia menyalakan lampu, membuka catatan, dan mulai menelusuri
jejak kata itu.
Setelah beberapa waktu lamanya ia mencari dan mencari makna tersembunyi dari kata itu, ia menemukan bahwa kata “ingat” bukan sekadar pesan anonim.
Kata
itu menuntunnya ke dua peristiwa besar dalam sejarah iman: perintah Yesus di
meja perjamuan malam dan permintaan seorang penjahat di kayu salib.
Dua dunia bertemu dalam satu kata yang sama.
Pertemuan di Kata "Ingat"
Yesus, pada malam sebelum Ia diserahkan, berkata kepada murid-murid-Nya: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Kata “peringatan” di sini berasal dari bahasa Yunani anamnesis, yang berarti “membawa kembali ke dalam ingatan, menghadirkan kembali sesuatu yang pernah terjadi.”
Bukan sekadar
mengingat masa lalu, melainkan menghadirkan realitas yang hidup di masa kini.
Di sisi lain, di bukit Golgota, seorang penjahat yang tersalib di samping-Nya berbisik penuh harap: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”
Kata “ingatlah” di sini dalam bahasa Yunani mnemoneuo
berarti “menyimpan dalam ingatan, mengenang dengan kasih.” Permintaan
sederhana, namun penuh iman: agar hidup yang hancur tetap dikenang oleh Sang
Raja.
Kata “menjadi peringatan” di perjamuan malam adalah perintah: sebuah tindakan kolektif, umat yang berkumpul, roti yang dipecah, anggur yang dituang.
Sedang kata “ingatlah” pada peristiwa salib adalah permintaan:
sebuah seruan pribadi, seorang manusia yang tak punya apa-apa selain sisa napas
terakhir.
Di meja perjamuan, Yesus berkata: “Ingatlah Aku bersama-sama.” Di
kayu salib, seorang penjahat berkata: “Ingatlah aku seorang diri.”
Dua arah bertemu: Tuhan memberi perintah, manusia meminta. Dan titik
temu keduanya adalah kata “ingat.”
Anamnesis (peringatan):
bukan sekadar memori, melainkan menghadirkan kembali karya Kristus di
tengah jemaat.
Mnemoneuo (ingatlah):
bukan sekadar mengingat nama, melainkan menyimpan seseorang dalam hati.
Dengan demikian, “ingat” menjadi jembatan antara langit dan bumi.
- Dalam
perjamuan, manusia diundang untuk mengingat Tuhan.
- Dalam salib,
manusia berani meminta agar Tuhan mengingat manusia.
Detektif tua itu menutup berkasnya. Ia sadar, kasus yang ia telusuri
bukanlah misteri kriminal, melainkan misteri iman. Kata “ingat” bukan sekadar
pesan samar, melainkan undangan abadi:
- Tuhan berkata, “Ingatlah
Aku.”
- Manusia
berbisik, “Ingatlah aku.”
Dan di persimpangan kata itu, lahirlah perjumpaan: perintah yang menjadi
peringatan, permintaan yang menjadi pengharapan.
0 comments:
Post a Comment