Berkorban
tidak sama dengan pengorbanan, sebuah pernyataan yang sangat menarik dan tajam
secara semantik:
“Berkorban
tidak sama dengan pengorbanan. Orang bisa saja berkorban tanpa pengorbanan.”
Mari sedikit mengkritisi kalimat ini secara Bahasa Indonesia:
Berkorban → kata kerja (aksi). Pengorbanan → kata benda (substansi/realitas batin/biaya yang sungguh).
Secara
semantik (cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna dalam bahasa.
Fokusnya bukan hanya pada arti kata secara harfiah, tetapi juga bagaimana kata,
frasa, dan kalimat membentuk makna dalam konteks tertentu):
Seseorang bisa: melakukan tindakan yang terlihat seperti “berkorban”, tetapi tidak mengalami “loss” atau “cost”/pengorbanan internal.
Contoh:
· Memberi
uang sisa → berkorban, tapi tanpa rasa
kehilangan
· Memberi
waktu luang → tanpa benturan kepentingan
· Memberi
karena citra sosial → tanpa risiko
Secara filsafat tindakan: Pengorbanan sejati menuntut:
1. Ada
nilai yang dilepas
2. Ada
potensi kehilangan nyata
3. Ada
intensionalitas sadar
Tanpa tiga
ini, itu hanya tindakan simbolik.
Korban sejati bukan pada objek, tapi relasi.
Contoh paling radikal: Kitab Kejadian 22 —
Abraham dan Ishak. Di sini:
· Yang
diuji bukan ritual
· Tetapi
keterikatan terdalam (relasi)
Itulah
pengorbanan.
Korban ≠
Emosi
Kata korban dalam tradisi Ibrani berasal dari kata qorbān, yang secara harfiah berarti persembahan atau pengorbanan.
Akar Kata
- Korban
berasal dari akar kata Ibrani qarab, yang berarti mendekat
atau datang dekat.
- Jadi, korban
bukan sekadar persembahan materi (hewan, hasil bumi, dll.), melainkan
tindakan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.
- Dalam
teks-teks Alkitab Ibrani, korban dipahami sebagai sarana relasi: manusia
membawa sesuatu ke hadapan Tuhan sebagai tanda kesetiaan, pengakuan, atau
permohonan.
Makna Teologis
- Korban
= sarana kedekatan: setiap persembahan adalah simbol bahwa manusia
ingin qarab (datang dekat) kepada Allah.
- Berkorban
= mendekat: karena akar katanya berarti mendekat,
maka tindakan berkorban dipahami sebagai proses menghapus jarak
antara manusia dan Allah.
- Tipologi:
dalam tradisi Yahudi, korban binatang, dupa, atau hasil bumi bukan sekadar
ritual, tetapi lambang kerinduan manusia untuk berelasi dengan Sang
Pencipta.
Pergeseran Makna
- Ibrani
kuno: korban = persembahan suci untuk mendekat kepada
Allah (membangun relasi)
- Penggunaan
modern (Indonesia): korban = orang atau benda yang menderita akibat
suatu peristiwa (misalnya korban bencana).
Korban dalam Taurat bukan tentang penderitaan emosional.
Ia adalah tindakan kultis, prosedur ritual, dan sistem relasional antara manusia dan Allah.
Seekor lembu
tidak “merasa berkorban”. Ia hanya dipersembahkan.
Artinya: “korban”
tidak identik dengan penderitaan psikologis.
Nabi-Nabi
Mengkritik “Berkorban Tanpa Pengorbanan”
Perhatikan
kritik para nabi:
Yesaya 1:11
"Untuk
apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN;
"Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan
lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan t dan
domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.”
"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."
Hosea 6:6
Sebab Aku
menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan
Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.
Tuhan
berkata: Aku muak dengan korbanmu. Mengapa? Karena:
· Ritual
ada
· Hati
tidak ada
· Keadilan
tidak ada
Di sinilah muncul konsep yang sering dikatakan orang: Orang bisa melakukan ritual korban, tetapi tanpa pengorbanan batin.
Dalam kitab
Perjanjian Baru, dalam Markus 12:41–44 ada Persembahan Janda Miskin.
- Yang kaya memberi banyak — tetapi tidak terasa.
- Yang miskin memberi sedikit — tetapi itu seluruh hidupnya.
· Tidak
ada kehilangan nyata
· Tidak
ada nilai yang dikorbankan
· Tidak
ada risiko
· Tidak
ada konflik internal
Terima kasih Pak Ge
ReplyDeleteTerima kasih kembali
Delete