Sunday, February 22, 2026

Berkorban Tidak Sama Dengan Pengorbanan

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Berkorban tidak sama dengan pengorbanan, sebuah pernyataan yang sangat menarik dan tajam secara semantik:

“Berkorban tidak sama dengan pengorbanan. Orang bisa saja berkorban tanpa pengorbanan.”

 

Mari sedikit mengkritisi kalimat ini secara Bahasa Indonesia:

Berkorban kata kerja (aksi). Pengorbanan kata benda (substansi/realitas batin/biaya yang sungguh). 

Secara semantik (cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna dalam bahasa. Fokusnya bukan hanya pada arti kata secara harfiah, tetapi juga bagaimana kata, frasa, dan kalimat membentuk makna dalam konteks tertentu):

Seseorang bisa: melakukan tindakan yang terlihat seperti “berkorban”, tetapi tidak mengalami “loss” atau “cost”/pengorbanan internal.

Contoh:

     · Memberi uang sisa berkorban, tapi tanpa rasa kehilangan

     · Memberi waktu luang tanpa benturan kepentingan

     · Memberi karena citra sosial tanpa risiko

 

Secara filsafat tindakan: Pengorbanan sejati menuntut:

     1. Ada nilai yang dilepas

     2. Ada potensi kehilangan nyata

     3. Ada intensionalitas sadar

Tanpa tiga ini, itu hanya tindakan simbolik.


Korban sejati bukan pada objek, tapi relasi. 

Contoh paling radikal: Kitab Kejadian 22 — Abraham dan Ishak. Di sini:

      · Yang diuji bukan ritual

      · Tetapi keterikatan terdalam (relasi)

Itulah pengorbanan.

 

 Korban ≠ Emosi

Kata korban dalam tradisi Ibrani berasal dari kata qorbān, yang secara harfiah berarti persembahan atau pengorbanan. Akar Kata

  • Korban berasal dari akar kata Ibrani qarab, yang berarti mendekat atau datang dekat.
  • Jadi, korban bukan sekadar persembahan materi (hewan, hasil bumi, dll.), melainkan tindakan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.
  • Dalam teks-teks Alkitab Ibrani, korban dipahami sebagai sarana relasi: manusia membawa sesuatu ke hadapan Tuhan sebagai tanda kesetiaan, pengakuan, atau permohonan.

Makna Teologis

  • Korban = sarana kedekatan: setiap persembahan adalah simbol bahwa manusia ingin qarab (datang dekat) kepada Allah.
  • Berkorban = mendekat: karena akar katanya berarti mendekat, maka tindakan berkorban dipahami sebagai proses menghapus jarak antara manusia dan Allah.
  • Tipologi: dalam tradisi Yahudi, korban binatang, dupa, atau hasil bumi bukan sekadar ritual, tetapi lambang kerinduan manusia untuk berelasi dengan Sang Pencipta.

Pergeseran Makna

  • Ibrani kuno: korban = persembahan suci untuk mendekat kepada Allah (membangun relasi)
  • Penggunaan modern (Indonesia): korban = orang atau benda yang menderita akibat suatu peristiwa (misalnya korban bencana).

 

Korban dalam Taurat bukan tentang penderitaan emosional. 

Ia adalah tindakan kultis, prosedur ritual, dan sistem relasional antara manusia dan Allah.

Seekor lembu tidak “merasa berkorban”. Ia hanya dipersembahkan.

Artinya: “korban” tidak identik dengan penderitaan psikologis.

 

Nabi-Nabi Mengkritik “Berkorban Tanpa Pengorbanan”

Perhatikan kritik para nabi:

Yesaya 1:11

"Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan t  dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.”


 Amos 5:21–24

"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."


Hosea 6:6

Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.

 

Tuhan berkata: Aku muak dengan korbanmu. Mengapa? Karena:

     · Ritual ada

     · Hati tidak ada

     · Keadilan tidak ada

 

Di sinilah muncul konsep yang sering dikatakan orang: Orang bisa melakukan ritual korban, tetapi tanpa pengorbanan batin.

 

Dalam kitab Perjanjian Baru, dalam Markus 12:41–44 ada Persembahan Janda Miskin.

  • Yang kaya memberi banyak — tetapi tidak terasa.
  • Yang miskin memberi sedikit — tetapi itu seluruh hidupnya.

 Di sini Yesus menilai bukan nominal, tapi “cost”/biaya (pengorbanan).

 

 Apakah benar orang bisa berkorban tanpa pengorbanan? Benar, jika:

      · Tidak ada kehilangan nyata

      · Tidak ada nilai yang dikorbankan

      · Tidak ada risiko

      · Tidak ada konflik internal

  

Berkorban = tindakan lahiriah 
Pengorbanan = kehilangan eksistensial

 

Ritual bisa terjadi tanpa relasi.
Relasi tidak mungkin terjadi tanpa cost/biaya/pengorbanan.

 

“Berkorban tanpa pengorbanan” adalah paradoks retoris. Tetapi justru paradoks itu yang dipakai para nabi untuk menelanjangi kemunafikan.


2 comments: