Bayangkan sebuah kota
yang begitu bangga dengan budayanya.
Festival meriah. Musik megah. Diskusi intelektual. Seminar parenting. Talkshow
kepemimpinan. Semua tampak berkelas.
Tapi di balik
panggung, ada gosip yang menggigit.
Ada korupsi kecil yang dianggap “wajar”.
Ada pengkhianatan yang dibungkus kata “kesempatan”.
Ada ambisi yang tersenyum ramah sambil menelan yang lemah.
Budaya tanpa “d”…
perlahan berubah jadi buaya.
Lucu? Iya.
Tapi juga menampar.
Karena satu huruf
kecil bisa mengubah arah hidup.
Budaya Tanpa “D”
“Budaya” tanpa huruf d
menjadi “buaya”.
Budaya adalah peradaban.
Buaya adalah predator.
Budaya membangun.
Buaya menunggu mangsa.
Budaya melahirkan
nilai.
Buaya melahirkan ketakutan.
Dan huruf “D”
itu bukan sekadar fonetik.
Ia adalah fondasi.
D adalah: Doa.
Domini, Deo
Domini berasal dari
bahasa Latin, bentuk genetif dari kata Dominus yang berarti Tuhan / Tuan /
Penguasa. Secara harfiah: Domini = milik Tuhan / kepunyaan Tuhan / dari Tuhan).
Deo (Deo berasal dari bahasa Latin, bentuk datif/ablativ dari kata Deus yang
berarti Allah / Tuhan).
Jika Deo
berbicara tentang arah (kepada Tuhan), maka Domini berbicara tentang
kepemilikan (milik Tuhan). Domini menegaskan satu hal mendasar:
Aku bukan pemilik. Aku
milik.
Dalam Mazmur 24:1 tertulis:
“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya.”
Dalam 1 Korintus
6:19–20:
“Kamu bukan milik kamu sendiri… sebab kamu telah dibeli dan harganya telah
lunas dibayar.”
Itulah Domini.
Hidup, tubuh, waktu,
pelayanan, bahkan masa depan — bukan milik kita.
Kita hanya pengelola.
D adalah Doa –
Nafas yang Menjaga Nilai
Tanpa doa, budaya
hanya jadi sistem.
Dan sistem tanpa doa cepat berubah jadi mesin dingin.
Dalam doa, manusia
diingatkan:
aku bukan pusat.
aku bukan Tuhan.
Yesus berkata dalam
Injil Yohanes 15:5,
“Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Perhatikan. Bukan
“sedikit”.
Bukan “kurang maksimal”.
Tetapi “tidak dapat”.
Budaya tanpa doa
akhirnya memuja produktivitas, bukan integritas.
Orang dinilai dari capaian, bukan karakter.
Contoh realistis?
Sebuah organisasi pelayanan yang sibuk sekali—event rapi, branding kuat,
keuangan besar—tapi rapatnya tanpa doa yang sungguh.
Akhirnya?
Ego saling bertabrakan.
Pelayanan jadi panggung.
Doa bukan formalitas
pembuka.
Doa adalah rem darurat budaya.
D adalah Domini –
Tuhanlah Pemiliknya
Domini berarti “milik
Tuhan”.
Tanpa kesadaran bahwa
hidup ini milik Tuhan, budaya berubah jadi perebutan kuasa.
Siapa paling berpengaruh.
Siapa paling didengar.
Siapa paling viral.
Dalam Mazmur 24:1
tertulis,
“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya.”
Kalimat ini
revolusioner.
Karena jika Tuhan
adalah pemilik, maka:
- Jabatan bukan milik kita.
- Anak bukan milik kita.
- Pelayanan bukan milik kita.
- Sekolah yang kita bangun bukan milik kita.
Ketika rasa memiliki
terlalu besar, budaya berubah jadi buaya:
menggigit demi mempertahankan wilayah.
D adalah Deo – Bagi
Kemuliaan Tuhan
Soli Deo Gloria.
Hanya bagi Tuhan kemuliaan.
Tanpa “Deo”, budaya
menjadi ajang pencitraan.
Orang tidak lagi
bertanya: “Apakah ini memuliakan Tuhan?”
Tetapi: “Apakah ini
menaikkan namaku?”
Dalam 1 Korintus
10:31, Paulus berkata,
“Jika engkau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah
semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
Perhatikan: bahkan
makan pun bisa memuliakan Tuhan.
Apalagi memimpin.
Apalagi mendidik.
Apalagi berkarya.
Ketika “D” Dicabut
Apa yang terjadi
ketika doa hilang?
Orang jadi cemas.
Ketika Domini hilang?
Orang jadi posesif.
Ketika Deo hilang?
Orang jadi haus pengakuan.
Lalu budaya berubah
jadi buaya.
Buaya itu sabar.
Ia diam.
Ia tampak tenang di permukaan.
Tapi rahangnya kuat.
Begitu juga budaya
tanpa Tuhan.
Kelihatan elegan.
Tapi mematikan secara perlahan.
Coba perhatikan:
- Orang rajin seminar karakter, tapi jarang
doa pribadi.
- Orang bangga “value perusahaan”, tapi tak
pernah tanya value Kerajaan Allah.
- Orang bicara etika publik, tapi kompromi
dalam ruang tertutup.
Itu seperti memasang
CCTV tapi mematikan lampunya.
Terlihat canggih, tapi tetap gelap.
Aplikasi
Di keluarga:
Tambahkan “D” setiap hari.
Doa sebelum keputusan penting.
Sadari anak adalah milik Tuhan.
Ajarkan mereka hidup untuk kemuliaan Tuhan, bukan sekadar prestasi.
Di organisasi:
Jangan hanya evaluasi target.
Evaluasi hati.
Di pelayanan:
Lebih baik event sederhana dengan hadirat Tuhan
daripada event megah tanpa Dia.
Di dunia pendidikan:
Budaya literasi penting.
Budaya disiplin penting.
Tapi budaya doa lebih penting.
Karena tanpa “D”,
budaya hanya menjadi peradaban yang canggih tapi kosong.
Penutup
Kita tidak kekurangan
budaya.
Kita kekurangan “D”.
Huruf kecil.
Tapi menentukan arah sejarah pribadi.
Pertanyaannya bukan: Apakah
kita berbudaya?
Pertanyaannya adalah: Apakah
budaya kita masih memiliki “D”?
Atau…
sudah diam-diam berubah jadi buaya?
0 comments:
Post a Comment