Sunday, February 22, 2026

Budaya tanpa “D” hanyalah Buaya

 

ged pollo

oleh: grefer pollo



Bayangkan sebuah kota yang begitu bangga dengan budayanya.
Festival meriah. Musik megah. Diskusi intelektual. Seminar parenting. Talkshow kepemimpinan. Semua tampak berkelas.

Tapi di balik panggung, ada gosip yang menggigit.
Ada korupsi kecil yang dianggap “wajar”.
Ada pengkhianatan yang dibungkus kata “kesempatan”.
Ada ambisi yang tersenyum ramah sambil menelan yang lemah.

Budaya tanpa “d”… perlahan berubah jadi buaya.

Lucu? Iya.
Tapi juga menampar.

Karena satu huruf kecil bisa mengubah arah hidup.

 

Budaya Tanpa “D”

“Budaya” tanpa huruf d menjadi “buaya”.
Budaya adalah peradaban.
Buaya adalah predator.

Budaya membangun.
Buaya menunggu mangsa.

Budaya melahirkan nilai.
Buaya melahirkan ketakutan.

Dan huruf “D” itu bukan sekadar fonetik.
Ia adalah fondasi.


D adalah: Doa. Domini, Deo

Domini berasal dari bahasa Latin, bentuk genetif dari kata Dominus yang berarti Tuhan / Tuan / Penguasa. Secara harfiah: Domini = milik Tuhan / kepunyaan Tuhan / dari Tuhan).

Deo (Deo berasal dari bahasa Latin, bentuk datif/ablativ dari kata Deus yang berarti Allah / Tuhan).

Jika Deo berbicara tentang arah (kepada Tuhan), maka Domini berbicara tentang kepemilikan (milik Tuhan). Domini menegaskan satu hal mendasar:

Aku bukan pemilik. Aku milik.

 

Dalam Mazmur 24:1 tertulis:

“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya.”

Dalam 1 Korintus 6:19–20:
“Kamu bukan milik kamu sendiri… sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.”

Itulah Domini.

Hidup, tubuh, waktu, pelayanan, bahkan masa depan — bukan milik kita.
Kita hanya pengelola.

 

D adalah Doa – Nafas yang Menjaga Nilai

Tanpa doa, budaya hanya jadi sistem.
Dan sistem tanpa doa cepat berubah jadi mesin dingin.

Dalam doa, manusia diingatkan:
aku bukan pusat.
aku bukan Tuhan.

Yesus berkata dalam Injil Yohanes 15:5,
“Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Perhatikan. Bukan “sedikit”.
Bukan “kurang maksimal”.
Tetapi “tidak dapat”.

Budaya tanpa doa akhirnya memuja produktivitas, bukan integritas.
Orang dinilai dari capaian, bukan karakter.

Contoh realistis?
Sebuah organisasi pelayanan yang sibuk sekali—event rapi, branding kuat, keuangan besar—tapi rapatnya tanpa doa yang sungguh.
Akhirnya?
Ego saling bertabrakan.
Pelayanan jadi panggung.

Doa bukan formalitas pembuka.
Doa adalah rem darurat budaya.

 

D adalah Domini – Tuhanlah Pemiliknya

Domini berarti “milik Tuhan”.

Tanpa kesadaran bahwa hidup ini milik Tuhan, budaya berubah jadi perebutan kuasa.
Siapa paling berpengaruh.
Siapa paling didengar.
Siapa paling viral.

Dalam Mazmur 24:1 tertulis,
“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya.”

Kalimat ini revolusioner.

Karena jika Tuhan adalah pemilik, maka:

  • Jabatan bukan milik kita.
  • Anak bukan milik kita.
  • Pelayanan bukan milik kita.
  • Sekolah yang kita bangun bukan milik kita.

Ketika rasa memiliki terlalu besar, budaya berubah jadi buaya:
menggigit demi mempertahankan wilayah.

 

D adalah Deo – Bagi Kemuliaan Tuhan

Soli Deo Gloria.
Hanya bagi Tuhan kemuliaan.

Tanpa “Deo”, budaya menjadi ajang pencitraan.

Orang tidak lagi bertanya: “Apakah ini memuliakan Tuhan?”

Tetapi: “Apakah ini menaikkan namaku?”

Dalam 1 Korintus 10:31, Paulus berkata,
“Jika engkau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

Perhatikan: bahkan makan pun bisa memuliakan Tuhan.
Apalagi memimpin.
Apalagi mendidik.
Apalagi berkarya.

 

Ketika “D” Dicabut

Apa yang terjadi ketika doa hilang?
Orang jadi cemas.

Ketika Domini hilang?
Orang jadi posesif.

Ketika Deo hilang?
Orang jadi haus pengakuan.

Lalu budaya berubah jadi buaya.

Buaya itu sabar.
Ia diam.
Ia tampak tenang di permukaan.

Tapi rahangnya kuat.

Begitu juga budaya tanpa Tuhan.
Kelihatan elegan.
Tapi mematikan secara perlahan.

 

Coba perhatikan:

  • Orang rajin seminar karakter, tapi jarang doa pribadi.
  • Orang bangga “value perusahaan”, tapi tak pernah tanya value Kerajaan Allah.
  • Orang bicara etika publik, tapi kompromi dalam ruang tertutup.

Itu seperti memasang CCTV tapi mematikan lampunya.
Terlihat canggih, tapi tetap gelap.

 

Aplikasi 

Di keluarga:
Tambahkan “D” setiap hari.
Doa sebelum keputusan penting.
Sadari anak adalah milik Tuhan.
Ajarkan mereka hidup untuk kemuliaan Tuhan, bukan sekadar prestasi.

Di organisasi:
Jangan hanya evaluasi target.
Evaluasi hati.

Di pelayanan:
Lebih baik event sederhana dengan hadirat Tuhan
daripada event megah tanpa Dia.

Di dunia pendidikan:
Budaya literasi penting.
Budaya disiplin penting.
Tapi budaya doa lebih penting.

Karena tanpa “D”, budaya hanya menjadi peradaban yang canggih tapi kosong.

 

Penutup 

Kita tidak kekurangan budaya.
Kita kekurangan “D”.

Huruf kecil.
Tapi menentukan arah sejarah pribadi.

Pertanyaannya bukan: Apakah kita berbudaya?

Pertanyaannya adalah: Apakah budaya kita masih memiliki “D”?

Atau…
sudah diam-diam berubah jadi buaya?

 


0 comments:

Post a Comment