Wednesday, October 11, 2023

Re-thinking Free will (Berpikir kembali tentang Kehendak Bebas)

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Apa yg kita pahami sebagai bebas?

Bisa jadi yg kita pahami sebagai kehendak bebas sangat bertentangan dengan apa yg kita alami

Kehendak bebas adalah konsep filosofis yang mengacu pada kemampuan seseorang untuk membuat pilihan dan tindakan tanpa terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal yang memaksa atau menentukan.

Dalam konteks filosofis, ada beberapa pandangan yang berbeda tentang apa yang dimaksud dengan kehendak bebas, dan ini sering menjadi topik perdebatan dalam filsafat.

 

Beberapa pandangan utama tentang kehendak bebas meliputi:

Determinisme

Menurut determinisme, segala sesuatu dalam alam semesta telah ditentukan oleh sejumlah faktor, seperti sejarah, kondisi awal, dan hukum alam.

Dalam kerangka determinisme, kehendak bebas mungkin tidak ada, karena semua tindakan dan pilihan seseorang telah ditentukan sebelumnya.

 

Indeterminisme

Indeterminisme menjelaskan bahwa ada unsur ketidakpastian dalam alam semesta, dan beberapa kejadian atau pilihan tidak dapat diprediksi sepenuhnya.

Ini memberikan sedikit ruang bagi kehendak bebas, karena seseorang dapat membuat pilihan yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor eksternal.

 

Kehendak Bebas Kompatibilis

Menurut paham ini, kehendak bebas dapat ada dalam kerangka deterministis jika seseorang memiliki kemampuan untuk membuat pilihan sesuai dengan keinginan dan nilai mereka, bahkan jika pilihan mereka telah ditentukan oleh sejarah dan kondisi awal mereka.

 

Jadi, apakah manusia memiliki kehendak bebas?

Beberapa pendapat mengenai hal ini:

1. kita memiliki kehendak bebas jika pilihan kita ditentukan oleh apa yang kita identifikasi berdasarkan pengalaman.

  2. Kehendak bebas, dalam filsafat dan sains, adalah kekuatan atau kapasitas manusia untuk membuat keputusan atau melakukan tindakan secara independen dari peristiwa atau keadaan alam semesta sebelumnya.

   3. kita memiliki kehendak bebas jika pilihan kita ditentukan oleh apa yang kita identifikasi berdasarkan pengalaman.

  4. kehendak bebas hanyalah ilusi. Keinginan kita bukanlah hasil dari diri kita sendiri. Pikiran dan niat muncul dari sebab-sebab yang tidak kita sadari dan tidak kita kendalikan secara sadar. 

   

   Banyak dari kita bahkan sangat banyak yang pikir bahwa kehendak bebas artinya bebas melakukan apapun yang dikehendaki.

    Kita tidak mempunyai kebebasan seperti yang kita kira.


Coba Anda pikirkan bahwa Anda ingin menjadi presiden suatu negara atau suatu perusahaan saat ini. Apakah Anda langsung menjadi demikian?

Atau, Anda ingin sangat kaya saat ini. Anda ingin hari ini juga berpetualang mengelilingi 10 negara. Apakah hal itu langsung terjadi?

Kita berada dalam suatu sistem. Terikat dalam sebuah sistem.

Terpengaruh dan bergantung pada pendapat orang lain. Mungkin itu orang tua kita, teman, pemimpin, ruang, waktu, dsb.


Jadi kita tidak sebebas yang kita kira.

Kita terikat dan bergantung pada sesuatu yang lebih beaar, lebih kuat, lebih berkuasa dari kita.

Dan, Dia, Pribadi itu tidak terikat oleh ruang dan waktu dan apapun.

Kehendak bebas kita ada di dalam kehendak bebasnya Allah

 

Karena itu perhatikan baik-baik siapa orang-orang di sekitar Anda.

 1 Korintus 15:33 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Roma 12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.



Continue reading Re-thinking Free will (Berpikir kembali tentang Kehendak Bebas)

Monday, October 9, 2023

HE Still On Time (Yesus Selalu Tepat Waktu)

 

ged pollo

oleh: grefer pollo

Yohanes 11:40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"

Banyak orang berpikir dan menemukan bahwa konteks Yohanes pasal 11 menceritakan tentang kebangkitan Lazarus dari kematian selama 4 hari.

Tetapi, saya cenderung melihat latar belakang ini dan bahkan tujuannya ada pada Yohanes 11:25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.

Nama "Lazarus" (Yunani: Λάζαρος - LAZAROS). Nama ini kemunginan adalah bentuk Yunani dari nama Ibrani: אֶלְ×¢ָזָך - 'ELEAZAR/ 'EL'AZAR, artinya adalah : "Allah ialah penolong"

Rasul Yohanes mencatat peristiwa tentang kematian Lazarus yang kemudian dibangkitkan ini dalam Yohanes pasal 11.

Dalam ayat 5 secara khusus dia menulis bahwa Tuhan Yesus mengasihi Marta, Maria dan Lazarus.

Namun demikian, mengapa Tuhan Yesus sengaja menunda keadatangan-Nya ke Betania?

 

Ayat di atas secara khusus menulis "Empat hari." Bahwa Tuhan Yesus datang di Betania setelah 4 hari kematian Lazarus.

Kebanyakan orang-orang Yahudi percaya bahwa jiwa orang yang meninggal tetap tinggal dekat-dekat dengan jasadnya sampai 3 hari setelah kematian.

Dalam masa 3 hari ini, masih ada kemungkinan dan harapan jiwa orang mati itu kembali ke dalam jasadnya lagi.

Setelah lewat 3 hari tidak akan mungkin orang mati bisa hidup lagi,

Jadi dalam cerita Lazarus ini, kematiannya yang sudah empat hari itu (lewat 3 hari) diyakini sebagai kematian final, mutlak, tak terubahkan! Tidak mungkin bangkit lagi.

Namun kuasa Tuhan kita, Yesus Kristus ternyata berdiri di atas kemustahilan manusia itu.

 

Dalam konteks Alkitab, mati adalah berhentinya semua fungsi kehidupan. Karena itu, mati adalah lawan kehidupan (Ulangan 30:15 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, 19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu).

 

Penyebab kematian pada manusia pertama kalinya kematian disebutkan dalam Alkitab di Kejadian 2:16, 17, sewaktu Allah memberikan perintah kepada manusia yang pertama mengenai makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Jika perintah itu dilanggar akan berakibat kematian.

Sehingga hanya Allah saja yang dapat memulihkan atau menyembuhkan atau membangkitkan kembali manusia dari kematian.

Karena Allah adalah satu-satunya sumber hidup dan sumber kehidupan. Mereka yang percaya kepada-Nya tidak binasa tetapi beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.)

Dalam Yohanes 11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.

Marta seolah “menyalahkan” Yesus karena tidak ada saat Lazarus saudaranya butuh pertolongan-Nya.

Dan, di ayat 24, Marta percaya bahwa Lazarus saudaranya akan dibangkitkan nanti (Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."), meskipun Yesus sudah katakan bahwa Lazarus akan bangkit.)

Dan, kita tahu akhir dari kisah ini bahwa Lazarus dibangkitkan oleh Yesus Kristus.





Yohanes 11:40-45 menuliskan hal ini.

Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 

Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!" Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi." Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.

Sering banyak orang berpendapat bahwa Tuhan terlambat menolong mereka. Mengapa? Karena mereka sudah menentukan kapan waktunya Tuhan harus menolong mereka.

Tetapi, mereka lupa bahwa Allah tidak terbatas waktu. Dia melampaui waktunya manusia.

Allah tidak terbatas oleh dimensi ruang dan waktu.

Dalam pandangan Marta dan kita semua 4 hari adalah waktu terlambatnya Tuhan. Marta melihat sendiri bagaimana saudaranya Lazarus menderita sakit, mungkinmengeluh, berteriak, dan hilang harapan.

Dia melihat sendiri bagaimana saudaranya itu menghembuskan nafas terakhir dan dalam kepercayaan Yahudi saat itu sudah 4 hari.

Tidak ada kemungkinan bangkit lagi. Lazarus bukan mati suri. Dia benar-benar mati dan tidak dapat bangkit lagi.

Tetapi, dalam pandangan Allah 4 hari adalah On Time. Waktu yang tepat.


Itu bukan saja momen tetapi momentum bagi Allah dan merekayang hadir untuk percaya bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Nya, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" (Yohanes 11:25-26).

 




Continue reading HE Still On Time (Yesus Selalu Tepat Waktu)

Sunday, October 8, 2023

Pertobatan yang Alkitabiah - Terobosan Hidup

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Mazmur 51: 5-6 Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

 

Banyak pengajaran di gereja telah membuat jemaat stres, kecewa pada diri sendiri, tidak tahu harus buat apa untuk berubah (bertobat).

Hal seperti ini menjadi celah dan kesempatan bagi Iblis untuk menghancurkan hidup dan kehidupan jemaat.

Mengapa? 

Mereka (jemaat) dipaksa untuk segera bertobat secara sempurna. 

Sekali mendengar pengajaran harus langsung bertobat sempurna dan tidak ulangi lagi selamanya.

Coba bayangkan dan ingat, sebuah kesalahan kecil atau sepele yang sering Saudara lakukan. 

Saudara membutuhkan waktu berapa lama untuk tidak mengulanginya lagi?

Apakah semua orang membutuhkan waktu yang sama untuk berubah dan tidak mengulanginya sama sekali?


Setiap kita membutuhkan seorang accountability partner.

Apa dan siapa itu accountability partner?

Seorang accountability partner (mitra akuntabilitas) adalah seseorang yang Saudara percayai untuk membantu Saudara mengerjakan komitmen atau tujuan yang Saudara sudah buat.

Mereka akan menolong, mengingatkan, meminta Saudara bertanggung jawab atas tindakan dan perilaku yang dapat memengaruhi kemajuan Saudara dalam mencapai suatu tujuan.

Mereka sering kali adalah keluarga atau pasangan hidup atau teman atau kenalan tepercaya yang secara teratur bertanya kepada Saudara tentang kemajuan Saudara atau menerima pengakuan atas kesalahan yang Saudara buat.

Dalam kekristenan, accountability partner sering menjadi alat atau bagian yang menolong jemaat untuk terlepas dan menang atas berbagai godaan, cobaan, dosa-dosa “kesayangan” yang sulit dilepaskan.

Ataupun, untuk pertumbuhan kehidupan spiritual jemaat.


Di luar kekristenan, accountability partner telah digunakan dalam berbagai konteks bagi seseorang yang ingin menjaga komitmen, meningkatkan produktivitas, atau mempertahankan rutinitas pengembangan diri.

Misalnya, dalam hal kesehatan dan kesejahteraan, bisnis, dan akademisi.

 

Berdasarkan beberapa pemikiran di atas, di situlah kita menemukan alasan mengapa gereja perlu menyiiapkan bagi setiap pelayanan seorang accountability partner seperti mentor atau konselor bagi tiap pelayan.

 

Dari konteks bacaan Mazmur 51 (bandingkan dengan 2 Samuel 11:1-27), kita menemukan alasan kejatuhan Raja Daud. 

Meski dia seorang yang dekat kepada Tuhan namun, saat kelalaiannya dia jatuh dalam dosa seksual dengan istri Uria yaitu prajurit setia dan terbaiknya sendiri, pembunuhan berencana terhadap Uria untuk mendapatkan istrinya (Batsheba).


Dalam anugerah Allah, Daud memiliki seorang accountability partner yakni Nabi Natan yang datang menegornya.

Sebagai seorang raja yang berkuasa, sukses, terkenal, dan sebagainya, sangat mungkin bagi Daud untuk membunuh Nabi Natan seperti dia membunuh Uria.

Tetapi, hal itu tidak dia lakukan.

Raja Daud lalu berdoa dan bertobat.

Dosa adalah melanggar hukum Allah, melanggar batasan yang Allah sudah buat

Dosa melawan Allah.

Akibat dosa dirasakan oleh pelaku dosa itu sendiri dan juga orang dekatnya. Dalam kisah Raja daud, konseluensi dosanya dialami oleh dia dan keluarganya.

 

Pertobatan melalui pengakuan dosa adalah mengaku kesalahan sendiri. Tidak menyalahkan orang lain atau keadaan.

Pertobatan adalah cara Allah untuk memulihkan kita dan relasi kita dengan Allah.

Pertobatan yang benar akan membawa pada terobosan hidup.

Pertobatan dilakukan dan terjadi setiap hari.

Pengudusan terjadi setiap hari.

Demikian juga dengan pengharapan dialami setiap hari.

Jemaat dan gereja tidak mampu berjalan sendiri.

Mereka membutuhkan anugerah Allah.

Selama masih dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa, jemaat Tuhan akan jatuh dan jatuh.

Berdosa dan berdosa tiap hari.

Hal itu bukan menjadi sebuah alasan untuk berdosa dan jatuh tetapi menjadi alasan untuk membutuh anugerah Allah dan bergantung sepenuhnya kepada anugerah Allah untuk hidup berkenan kepada-Nya dan berjalan bersama-Nya setiap hari.

Ciri pertobatan yg bawa kepada terobosan dalam hidup adalah menyadari akan konsekuensi dosa dan menerimanya dengan berharap akan anugerah Allah.

Dalam Injil Lukas 24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem., Yesus menyampaikan pesan ini sebelum Ia terangkat ke sorga

Jadi gereja yang tidak sepenuh hati dan berjuang dalam memberitakan secara tegas dan benar tentang pertobatan perlu ditanyakan.




Continue reading Pertobatan yang Alkitabiah - Terobosan Hidup

Friday, October 6, 2023

,

Fan Or Fanatic

 

ged pollo - penggemar

oleh: grefer pollo


Kata sifat Latin fanaticus merupakan turunan dari kata benda fanum, yang berarti “kuil”, yang secara origin memiliki arti “berasal dari (of) atau berkaitan dengan kuil”.


Kata ini kemudian digunakan untuk merujuk pada seseorang yang secara rohaniah atau spiritual dianggap terinspirasi oleh dewa atau dewi.

Belakangan, pengertian ”panik, hiruk pikuk, gila” muncul karena ada anggapan bahwa orang yang berperilaku seperti itu kerasukan dewa.

Ini adalah arti pertama dari kata fanatik dalam bahasa Inggris.

Pengertian ini kini sudah tidak berlaku lagi, namun mengarah pada makna “sangat antusias, terutama dalam hal keagamaan”.

Kata tersebut kemudian menjadi kurang spesifik, yang berarti “sangat antusias atau tidak masuk akal”.

Kata benda fan, yang berarti “penggemar”, mungkin merupakan kependekan dari fanatik.

 

Di sini kita dapati bahwa kata “fan” dan “fanatic” adalah dua istilah terkait yang mengacu pada seseorang yang memiliki antusiasme atau dukungan kuat terhadap sesuatu, seperti tim olahraga, musisi, film, hobi, atau minat lainnya atau hal-hal lain yang lebih luas.


Namun, di masa kini terdapat perbedaan antara kedua istilah tersebut dalam hal intensitas antusiasme dan konotasi yang terkait dengannya:

Fan (penggemar):

Istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki minat atau hasrat terhadap subjek atau aktivitas tertentu.

Penggemar bisa berdedikasi dan antusias terhadap apa yang mereka dukung, namun keterlibatan mereka biasanya dalam batas wajar.

Mereka mungkin menghadiri acara, mengikuti berita, mengumpulkan memorabilia, dan terlibat dalam diskusi terkait minat mereka.

Menjadi seorang penggemar umumnya dipandang sebagai bentuk antusiasme yang positif dan dapat diterima secara sosial.

 

Fanatic:

"Fanatik" yang merupakan turunan dari kata "fan" dan memiliki konotasi yang lebih ekstrim.

Seorang fanatik adalah seseorang yang antusiasme atau pengabdiannya telah melewati batas menjadi obsesi atau irasionalitas.

Orang-orang fanatik sering kali dicirikan oleh dedikasi yang berlebihan dan terkadang tidak rasional terhadap kepentingan mereka, seringkali merugikan aspek-aspek lain dalam kehidupan mereka.

Istilah "fanatik" dapat mempunyai konotasi negatif, karena menyiratkan tingkat obsesi yang tidak sehat dan keengganan untuk mempertimbangkan perspektif atau kepentingan lain.

 

 Referensi: https://www.merriam-webster.com/dictionary/fanatic




Continue reading Fan Or Fanatic

Wednesday, October 4, 2023

"Redemptive discipline" - Disiplin penebusan

 

disiplin penebusan - ged pollo

oleh: grefer pollo


Disiplin penebusan adalah suatu pendekatan terhadap disiplin dan koreksi yang menekankan gagasan penebusan dan pertumbuhan pribadi daripada sekadar hukuman atau konsekuensi. 

Hal ini sering digunakan dalam konteks seperti pengasuhan anak, pendidikan, dan konseling.

Fokus dari disiplin penebusan adalah membantu seseorang untuk belajar dari pengalaman perilaku mereka, berefleksi dan berespon yang tepat terhadap kesalahan mereka dan membuat perubahan positif dalam perilaku dan karakter mereka.


Disiplin penebusan dimaknai dari istilah dalam bahasa Inggris: redemptive dicipline.


Redemptive discipline sendiri terdiri dari 2 kata yakni:

kata sifat redemptive. 

Kata ini berasal dari kata Latin redemptus yang memiliki arti "redeeming, serving to redeem,". 

Dapat diartikan sebagai  "to redeem, buy back" = menebus atau membeli kembali.

Dalam Efesus 1:20 tertulis 

yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga.

Melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, Dia sudah menebus kita (milik-Nya).


Kata yang berikut adalah Discipline.

Dalam Kitab Ibrani 12:5-6 tertulis Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: 

"Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."


Roma 8:1 berkata Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.


Mereka yang ada dalam Yesus Kristus tidak lagi dihukum tetapi, jika mereka berbuat kesalahan maka mereka akan mengalami disiplin penebusan dari Allah di dalam Yesus Kristus.

 

Beberapa prinsip utama disiplin penebusan sebagai berikut.

Pendekatan Restoratif

Disiplin penebusan berupaya memulihkan individu ke keadaan perilaku dan karakter positif, bukan sekadar menghukum mereka atas tindakan mereka. 

Ini menekankan perbaikan hubungan dan mengatasi kerugian yang disebabkan oleh perilaku tersebut.

 

Pengajaran dan Pembelajaran

Tujuan utamanya adalah untuk mengajarkan orang tersebut dampak dari tindakan mereka dan membantu mereka belajar dari kesalahan mereka. 

Ini melibatkan bimbingan dan pendidikan, mendorong pertumbuhan dan perkembangan pribadi.

 

Empati dan Pemahaman

Disiplin penebusan mempertimbangkan emosi, kebutuhan, dan alasan mendasar perilaku seseorang. 

Hal ini melibatkan upaya untuk memahami perspektif mereka dan mengatasi masalah mendasar apa pun.

 

Akuntabilitas

Meskipun disiplin penebusan berfokus pada pertumbuhan pribadi, disiplin ini tetap meminta pertanggungjawaban individu atas tindakan mereka. 

Konsekuensi mungkin merupakan bagian dari proses, namun dirancang untuk bersifat instruktif dan bukan hukuman.

 

Komunikasi

Komunikasi yang terbuka dan penuh hormat sangat penting dalam disiplin penebusan. 

Ini melibatkan mendengarkan secara aktif, membiarkan orang tersebut mengekspresikan diri, dan memberikan umpan balik yang konstruktif.

  

Penguatan Positif

Disiplin penebusan mencakup mengakui dan memperkuat perilaku positif. 

Ketika seseorang menunjukkan perilaku yang diinginkan, mereka dipuji dan diberi semangat.

 

Pengampunan dan Kesempatan Kedua

Disiplin penebusan ditandai dengan kesediaan untuk memaafkan dan menawarkan kesempatan kedua. 

Hal ini mengakui bahwa orang dapat melakukan kesalahan dan memberikan peluang untuk penebusan dan perubahan.

 

Perspektif Jangka Panjang

Dibutuhkan pandangan jangka panjang terhadap perubahan perilaku, memahami bahwa pertumbuhan dan transformasi pribadi mungkin memerlukan waktu.

 

Disiplin penebusan sering kali dikontraskan dengan disiplin hukuman, yang fokus utamanya pada hukuman dan pencegahan.


Disiplin penebusan dipandang sebagai cara yang lebih konstruktif dan penuh kasih sayang untuk mengatasi masalah perilaku, khususnya dalam kasus yang melibatkan anak-anak, siswa, atau individu yang membutuhkan bimbingan dan dukungan untuk membuat perubahan positif dan berdampak signifikan dalam hidup mereka.


Tujuan Disiplin Penebusan 

Membangun karakter, meningkatkan kesadaran diri dan tanggung jawab, serta membina hubungan yang sehat dengan menekankan pertumbuhan, pembelajaran, dan penebusan daripada hukuman.


Disiplin penebusan mengajarkan seseorang untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama.



Continue reading "Redemptive discipline" - Disiplin penebusan

Sunday, October 1, 2023

,

(Masuk) Jebakan Iblis?

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Metafora Iblis bekerja dalam formasi ular (Kejadian 3:1) dan singa (1 Petrus 5:8).

Ular,  hewan bersisik dalam kelompok reptil. Ular memiliki otot-otot yang panjang dan fleksibel di tubuhnya. 

Ular bergerak dengan cara merapatkan dan melepaskan otot-otot tubuhnya secara bergantian. 

Gerakan ini memungkinkan ular untuk meluncur, merayap, dan berkelok-kelok dengan lancar. Amsal 30:18-19, menuliskan bahwa tidak ada yang mengerti jalan ular di atas cadas.

Ular bergerak begitu tenang, tidak terdeteksi, sampai tiba-tiba dia berhadapan dengan mangsanya.

 

Singa, hewan besar yang termasuk dalam keluarga Felidae (kucing besar).

Singa adalah pemangsa karnivora. 

Mereka biasanya berburu hewan herbivora seperti rusa, zebra, dsb. 

Cara singa berburu adalah dengan bekerja sama dalam kelompok yang disebut "kelompok singa" atau "pride." 

Biasanya, singa jantan berperan dalam melindungi wilayah mereka, sementara singa betina dan anak-anaknya bertanggung jawab atas berburu.

Singa memiliki sistem pencernaan karnivora yang kuat. 

Gigi mereka yang tajam digunakan untuk memotong daging dan mengunyah makanan mereka. 

Setelah mereka memburu mangsa, mereka merobek daging dengan gigi taring mereka.

Kerja Iblis seperti singa yaitu menggunakan kekuatan, pengaruh orang lain untuk menekan, menakuti, dan memburu.

Ada satu hal yang unik dalam 1 Petrus 5:8. Di situ tertulis bahwa Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 

Kata ditelannya dalam bahasa Yunani: katapinō (dibaca: kat-ap-ee'-no). Dalam beberapa terjemahan Alkitab King James Version didefinisikan sebagai swallow, drown, devour.

Seolah memberi gambaran bahwa singa ini tidak memiliki gigi. Iblis ibarat singa tanpa gigi. 

Dia hanya menakuti (teror) dan seolah akan menelan (menelan justru cara memangsa dari ular).

Jebakan Iblis ada dalam area materi. Orang yang hidup dan berfokus kepada materi akan mudah masuk dalam perangkap dan jebakan Iblis.

Beberapa contoh berkaitan dengan hal ini.

   1. Iblis menipu Hawa untuk dapat posisi sama seperti Allah (Kejadian 3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."). Iblis menggunakan akses masuk melalui buah pohon

    2. Iblis berupaya menghancurkan iman Ayub kepada Allah menggunakan penyakit (tubuh), merampok materi, dan kehidupan anak-anak Ayub (Ayub 1:13-22). 

   Tetapi, Ayub tetap setia kepada Allah. Iblis berubah peran menjadi singa. 

   Dia menggunakan istri Ayub untuk meneror Ayub (Ayub 2:9 Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"). 

  Ayub tetap setia kepada Allah (Ayub 2:10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.)

   3. Dalam Matius 4:1-11, dikisahkan bahwa Iblis berusaha mencobai Yesus untuk meninggalkan dan menggagalkan rencana Allah. Iblis menggunakan materi, ketenaran, dan masalah kelaparan (perut). Yesus menolak semua cobaan itu.

Hawa menempatkan dirinya tidak lebih tinggi dari persoalan materi dan posisi. 

Ayub menempatkan dirinya di atas persoalan kesehatan, materi, dan sejenisnya sehingga dia tidak jatuh dalam jebakan Iblis dan tetap percaya kepada rencana Allah dalam hidup dan keluarganya (Ayub 42:2).

Yesus menaati secara utuh rencana Allah atas hidupnya. Sehingga di saat Dia sedang membutuhkan makanan (baru menyelesaikan puasa 40 hari), Dia tidak mengikuti cobaan Iblis untuk membuktikan diri-Nya Anak Allah dan mengisi perut-Nya yang lapar. 

Dia pun tidak mengikuti cobaan Iblis untuk memperoleh kekayaan dunia dengan menyembah Iblis dan membuktikan perlindungan Allah dengan meloncat dari bubungan bait Allah.

Yesus pernah mengingatkan para pendengar dan pengikut-Nya sebagai berikut:

"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. 

Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?  

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. 

Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 

Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 

Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 

Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. T

etapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:25-34).

Bagaimana dengan kita dan hidup kita …? Apakah kita menempatkan diri kita di bawah urusan materi, ketenaran, dan pembuktian diri atau di atas semua itu?



 


Continue reading (Masuk) Jebakan Iblis?