Thursday, February 26, 2026

Percaya Buta vs Orang Buta Percaya

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Mungkin Anda sering mendengar atau Anda sendiri mengatakan kalimat pendek ini dengan nada sinis: “percaya buta.”

Biasanya dipakai untuk menyindir orang yang ikut-ikutan tanpa berpikir. Apa lagi pikir panjang. Tanpa cek fakta. Tanpa nalar. Pokoknya asal yakin. Asal percaya.

Lucunya, dalam Alkitab justru ada kisah tentang orang buta yang percaya dan imannya jauh dari kata “buta”.

Namanya Bartimeus. Kisahnya dicatat dalam Injil Markus 10:46–52.

 

Percaya Buta: Yakin Tanpa Arah

Percaya buta itu seperti:

  • Share berita tanpa baca isinya.
  • Investasi karena “katanya teman”.
  • Ikut tren diet viral tanpa tahu efek sampingnya.
  • Beli barang flash sale karena takut ketinggalan, padahal tidak butuh.

Secara psikologis, ini disebut herd mentality (kecenderungan orang untuk berpikir dan bertindak mengikuti perilaku atau keyakinan kelompok, alih-alih mengambil keputusan secara independen. Dalam psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan konformitas sosial, di mana individu menyesuaikan diri agar tidak berbeda dari mayoritas).

Percaya buta tidak butuh kedalaman. Ia hanya butuh emosi dan keramaian. Dan jujur saja… kita semua pernah melakukannya. Anda juga pernah melakukannya.

 

Orang Buta yang Percaya: Bartimeus

Sekarang kita lihat Bartimeus.

Seorang pengemis. Ia duduk di pinggir jalan. Ya, di pinggir jalan. Secara sosial? Tidak dianggap. Secara ekonomi? Tidak punya daya. Secara fisik? Tidak bisa melihat.

Namun ia mendengar bahwa Yesus lewat. Dan ia berteriak: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”

Menariknya, orang banyak justru menyuruhnya diam. Mereka itu bisa melihat. Tidak buta.

Biasanya kita ikut suara mayoritas. Bartimeus? Tidak. Ia justru berteriak semakin keras.

Ini bukan percaya buta. Ini percaya dengan keberanian. Dia melawan mayoritas.

 

Yang Melihat Tapi Tidak Percaya

Ironisnya, di sekitar Yesus banyak orang yang:

  • Bisa melihat secara fisik,
  • Menyaksikan mujizat,
  • Mendengar pengajaran langsung,

Tetapi tetap ragu. Secara mata mereka tidak buta. Tetapi, secara hati? Bisa jadi. Mereka buta. Percaya buta.

Kadang yang paling berbahaya bukanlah kebutaan fisik.

Tapi kebutaan batin: terlalu sinis, terlalu berlagak logis, sok tahu tanpa iman, terlalu nyaman tanpa harap.

 

Bartimeus Tidak Asal Percaya

Perhatikan satu detail penting. Yesus bertanya:

“Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”

Pertanyaan itu bukan formalitas. Bukan asal bunyi. Itu undangan kesadaran.

Bartimeus menjawab spesifik: “Supaya aku dapat melihat.”

Ia tahu kebutuhannya. Ia tidak teriak tanpa arah.

Ia tidak berkata, “Ya pokoknya terserah Tuhan.” Imannya terfokus.

Banyak orang berdoa seperti pesan broadcast: umum, kabur, multitafsir.
Bartimeus? Langsung to the point.

 

Fakta Realita Sehari-hari

Di dunia modern, kita sering terjebak dua ekstrem:

Ekstrem 1: Terlalu skeptis

Semua dicurigai. Semua dianggap manipulasi. Akhirnya hati jadi keras.

Ekstrem 2: Terlalu gampang percaya

Hoaks rohani, janji instan, teologi sukses cepat kaya. Padahal iman yang sehat bukan anti-akal, dan bukan juga anti-kepekaan.

Melalui kisah Bartimeus kita belajar sesuatu yang elegan: Ia buta mata, tapi tidak buta hati.

Ia miskin secara materi, tapi kaya secara pengenalan.

 

Percaya Buta vs Orang Buta Percaya

Percaya Buta

Orang Buta Percaya

Ikut arus

Melawan arus

Dipengaruhi keramaian

Dipimpin keyakinan

Tidak tahu apa yang dicari

Tahu persis kebutuhannya

Mudah goyah

Semakin ditekan, semakin kuat

 

Yang pertama emosional tanpa dasar. Yang kedua iman yang lahir dari pengenalan.

 

Kadang kita seperti ini:

  • Waktu diskon 80% → iman langsung aktif.
  • Waktu doa 5 menit → sinyal WiFi mendadak hilang.

Atau:

  • Percaya ramalan zodiak.
  • Tapi ragu pada janji Tuhan.


Penutup Reflektif

Yesus berkata kepada Bartimeus: “Imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Bukan matanya dulu yang disembuhkan. Imannya dulu yang disebut.

Mungkin hari ini kita tidak buta secara fisik. Tapi apakah kita sungguh-sungguh melihat?

Jangan sampai kita memiliki mata, tetapi kehilangan penglihatan rohani.
Dan jangan sampai kita menyebut iman orang lain “percaya buta”, padahal kita sendiri tidak pernah benar-benar percaya.

Karena kadang, yang paling jelas melihat terang adalah mereka yang paling sadar akan gelapnya hidup mereka.

Dan di situlah iman mulai bertumbuh.


0 comments:

Post a Comment