Mungkin Anda sering mendengar atau Anda sendiri mengatakan kalimat
pendek ini dengan nada sinis: “percaya buta.”
Biasanya dipakai untuk menyindir orang yang ikut-ikutan tanpa berpikir. Apa
lagi pikir panjang. Tanpa cek fakta. Tanpa nalar. Pokoknya asal yakin. Asal
percaya.
Lucunya, dalam Alkitab justru ada kisah tentang orang buta yang
percaya dan imannya jauh dari kata “buta”.
Namanya Bartimeus. Kisahnya dicatat dalam Injil Markus
10:46–52.
Percaya Buta: Yakin Tanpa Arah
Percaya buta itu seperti:
- Share berita
tanpa baca isinya.
- Investasi
karena “katanya teman”.
- Ikut tren diet
viral tanpa tahu efek sampingnya.
- Beli barang
flash sale karena takut ketinggalan, padahal tidak butuh.
Secara psikologis, ini disebut herd mentality (kecenderungan orang untuk berpikir dan bertindak mengikuti perilaku
atau keyakinan kelompok, alih-alih mengambil keputusan secara independen. Dalam
psikologi, fenomena ini sering dikaitkan dengan konformitas sosial, di mana
individu menyesuaikan diri agar tidak berbeda dari mayoritas).
Percaya buta tidak butuh kedalaman. Ia hanya butuh emosi dan keramaian. Dan
jujur saja… kita semua pernah melakukannya. Anda juga pernah melakukannya.
Orang Buta yang Percaya: Bartimeus
Sekarang kita lihat Bartimeus.
Seorang pengemis. Ia duduk di pinggir jalan. Ya, di pinggir jalan.
Secara sosial? Tidak dianggap. Secara ekonomi? Tidak punya daya. Secara fisik?
Tidak bisa melihat.
Namun ia mendengar bahwa Yesus lewat. Dan ia berteriak: “Yesus,
Anak Daud, kasihanilah aku!”
Menariknya, orang banyak justru menyuruhnya diam. Mereka itu bisa
melihat. Tidak buta.
Biasanya kita ikut suara mayoritas. Bartimeus? Tidak. Ia justru
berteriak semakin keras.
Ini bukan percaya buta. Ini percaya dengan keberanian. Dia melawan
mayoritas.
Yang Melihat Tapi Tidak Percaya
Ironisnya, di sekitar Yesus banyak orang yang:
- Bisa melihat
secara fisik,
- Menyaksikan
mujizat,
- Mendengar
pengajaran langsung,
Tetapi tetap ragu. Secara mata mereka tidak buta. Tetapi, secara hati?
Bisa jadi. Mereka buta. Percaya buta.
Kadang yang paling berbahaya bukanlah kebutaan fisik.
Tapi kebutaan batin: terlalu sinis, terlalu berlagak logis, sok tahu
tanpa iman, terlalu nyaman tanpa harap.
Bartimeus Tidak Asal Percaya
Perhatikan satu detail penting. Yesus bertanya:
“Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”
Pertanyaan itu bukan formalitas. Bukan asal bunyi. Itu undangan
kesadaran.
Bartimeus menjawab spesifik: “Supaya aku dapat melihat.”
Ia tahu kebutuhannya. Ia tidak teriak tanpa arah.
Ia tidak berkata, “Ya pokoknya terserah Tuhan.” Imannya terfokus.
Banyak orang berdoa seperti pesan broadcast: umum, kabur, multitafsir.
Bartimeus? Langsung to the point.
Fakta Realita Sehari-hari
Di dunia modern, kita sering terjebak dua ekstrem:
Ekstrem 1: Terlalu skeptis
Semua dicurigai. Semua dianggap manipulasi. Akhirnya hati jadi keras.
Ekstrem 2: Terlalu gampang percaya
Hoaks rohani, janji instan, teologi sukses cepat kaya. Padahal iman yang
sehat bukan anti-akal, dan bukan juga anti-kepekaan.
Melalui kisah Bartimeus kita belajar sesuatu yang elegan: Ia buta mata,
tapi tidak buta hati.
Ia miskin secara materi, tapi kaya secara pengenalan.
Percaya Buta vs Orang Buta Percaya
|
Percaya Buta |
Orang Buta Percaya |
|
Ikut arus |
Melawan arus |
|
Dipengaruhi keramaian |
Dipimpin keyakinan |
|
Tidak tahu apa yang dicari |
Tahu persis kebutuhannya |
|
Mudah goyah |
Semakin ditekan, semakin kuat |
Yang pertama emosional tanpa dasar. Yang kedua iman yang lahir dari
pengenalan.
Kadang kita seperti ini:
- Waktu diskon
80% → iman langsung aktif.
- Waktu doa 5
menit → sinyal WiFi mendadak hilang.
Atau:
- Percaya ramalan
zodiak.
- Tapi ragu pada
janji Tuhan.
Penutup Reflektif
Yesus berkata kepada Bartimeus: “Imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Bukan matanya dulu yang disembuhkan. Imannya dulu yang disebut.
Mungkin hari ini kita tidak buta secara fisik. Tapi apakah kita sungguh-sungguh
melihat?
Jangan sampai kita memiliki mata, tetapi kehilangan penglihatan rohani.
Dan jangan sampai kita menyebut iman orang lain “percaya buta”, padahal kita
sendiri tidak pernah benar-benar percaya.
Karena kadang, yang paling jelas melihat terang adalah mereka yang
paling sadar akan gelapnya hidup mereka.
Dan di situlah iman mulai bertumbuh.
0 comments:
Post a Comment