Saturday, November 7, 2020
Kegiatan Chapel (Ibadah) siswa dan guru
Friday, November 6, 2020
TIDAK ADA ORANG YANG TIDAK BERHUTANG
oleh: Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd
Orang yang memiliki hutang akan berusaha untuk melunasinya. Seseorang yang memiliki hutang berarti dia pernah menggunakan milik orang lain yang harus diganti.
Memiliki hutang berarti pernah
ada peranan orang lain dalam hidup kita sehingga hidup kita menjadi seperti
ini. Orang yang memiliki hutang tidak akan tenang dalam hidupnya kecuali dia
telah membayarnya.
Hutang adalah masa lalu yang
harus dibereskan. Ada hutang yang bisa kita bereskan dengan membayar ganti
ruginya. Namun, ada yang tidak dapat digantikan karena begitu mahal harganya
sampai-sampai hidup kitapun tidak dapat menebusnya kembali.
Mungkin kita pernah
berhutang uang kepada teman kita dan sudah kita gantikan. Kita pernah ditraktir
makan dan mungkin kita sudah mentraktirnya kembali. Kita pernah dipinjamkan
sesuatu dan juga mungkin kita sudah pernah mengembalikannya bahkan ditambah
bonus atau bunganya.
Di samping itu, kita berhutang kepada orangtua kita, berhutang kepada guru-guru kita, berhutang kepada teman-teman kita, berhutang kepada semua mereka yang pernah mempengaruhi hidup kita sampai hari ini. Kita berhutang kehidupan dan pengalaman hidup yang sangat sulit kita gantikan.
Terutama berhutang kepada Kristus yang telah mengasihi
kita dan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Hutang ini tidak dapat dibayarkan
bahkan dengan memberikan nyawa kita sekalipun.
Lukas 7:36-50 menceritakan
bahwa
Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa.
Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.
Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.
Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."
Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru." "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang.
Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."
Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.
Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.
Sebab
itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia
telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia
berbuat kasih." Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah
diampuni." Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati
mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" Tetapi
Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau,
pergilah dengan selamat!"
Dua orang yang berhutang itu adalah Simon dan perempuan berdosa. Perempuan itu berhutang 500 dinar dan Simon, 50 dinar.
Permpuan datang dalam dosa dan pulang sebagai orang yang diampuni dan
diselamatkan. Tetapi, Simon yang mengundang Yesus merasa tidak berdosa tetapi,
kenyataannya, Yesus tidak mengatakan kepada dia bahwa dosanya diampuni dan
bahwa ada keselamatan di dalam rumahnya seeprti yang pernah Yesus katakan
kepada Zakeus yang dikunjungi oleh Yesus.
Perempuan berdosa ini menerobos dan melawan kebiasaan sosial dan agama yang membuat dia tidak mungkin datang kepada Yesus. Sangat mungkin dia tidak diundang oleh Simon, tetapi dia datang karena mendengar bahwa Yesus ada di rumah Simon.
Sedangkan Simon yang
mengundang Yesus tidak melakukan kebiasaan sosial dalam menjamu tamu yang telah
diundangnya ke rumahnya.
Simon mengundang Yesus dan menerima Yesus secara fisik dan makan bersama Yesus, tetapi dia tidak mengenal kasih sejati dalam Yesus untuk menerima orang berdosa.
Perempuan berdosa mendengar
tentang Yesus dan datang kepada Yesus karena dia mengenal kasih sejati dalam
diri Yesus yang menerima orang berdosa. Perempuan ini pulang sebagai orang yang
merdeka dari dosa dan sebagai orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus.
Orang yang banyak diampuni,
banyak pula berbuat kasih. Mereka berbuat kasih karena mereka sudah diampuni dan
sudah diselamatkan dan bukan untuk diampuni dan diselamatkan.
Simon merasa tidak pernah
berhutang apa-apa kepada Yesus sehingga dia tidak perlu melayani Yesus
sebagaimana layaknya pada saat itu. Sedangkan perempuan berdosa ini yakin bahwa
dalam dia memiliki hutang sangat banyak kepada Yesus. Hutangnya adalah begitu
banyak dosa yang telah dia lakukan dan tidak mungkin dia gantikan atau bayarkan
bahkan dengan memberikan seluruh hidup, reputasi, nama baik, harkat dan
martabatnya sekalipun.
Thursday, November 5, 2020
oleh: Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd
Matius 5:3: "Berbahagialah
orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan
Sorga (Hineni he'ani mima'as: ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani)
Bangsa Israel mencapai masa kejayaannya pada masa Salomo menjadi raja. Dia berkuasa atas segala kerajaan mulai dari sungai Efrat sampai negeri orang Filistin, dan sampai ke tapal batas Mesir.
Mereka menyampaikan upeti, dan tetap takluk kepada Salomo seumur hidupnya. Ia membuat banyaknya emas, dan perak di Yerusalem sama seperti batu, dan banyaknya pohon kayu aras sama seperti pohon ara yang tumbuh di Daerah Bukit.
Kekayaan dan kemashyuran ini tak terasa membuat bangsa Israel dan rajanya menjadi begitu terkenal, bangga, dan sombong lalu membelakangi Tuhan dan menyembah berhala dan patung-patung. Tuhan begitu marahnya, lalu membuang Israel ke Babel pada tahun 586.
Nusantara pernah dijajah bangsa asing tetapi tetap hidup di tanah airnya. Israel bangsa kesayangan Tuhan dibuang ke negeri orang selama 70 tahun (3 generasi). Bayangkanlah seorang anak kesayangan yang begitu jahatnya lalu diusir keluar rumah oleh bapa kandungnya sendiri.
Israel, anak kesayangan Tuhan (Keluaran 4: 22-23, Maka
engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah
anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah
anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak
membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.")
menjadi sangat miskin dan menderita karena dibuang keluar tanah airnya.
Mereka
menderita secara fisik dan rohani. Secara fisik karena hidup di daerah jajahan
dan bukan di tanah air sendiri, secara rohani karena tekanan dosa dan tidak dapat
diampuni, tidak dapat pergi ke Yerusalem.
Pada masa itu jika orang berbuat dosa
maka dia harus membawa korban ke Yerusalem bertemu seorang imam untuk melakukan
ibadah pengampunan dosa tapi kini mereka di Babel jauh dari Yerusalem, mereka
merindukan Sion (Mazmur 137). Mereka tidak bisa beribadah di Babel.
Orang Israel mulai berupaya bagaimana mereka bisa
tetap beribadah di tanah pembuangan. Mulai saat itu, di saat mereka ibadah
selalu ada pemimpin pujian yang mengawali ibadah dengan nyanyian HINENI HE'ANI MIMA'AS: ini aku Tuhan
seorang miskin yang melayani. Mereka belajar untuk merendahkan hati
sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. siapakah yang akan dengar? Mereka berharap
Tuhan dengar.
Mereka berperilaku seperti seorang pengemis, peminta-peminta yang
sangat miskin dan tidak bisa hidup jika tidak menerima sedekah jika tidak ada yang
menolong. Itulah nyanyian mereka selama kurang lebih 500 tahun. HINENI HE'ANI MIMA'AS: ini aku Tuhan
seorang miskin yang melayani.
Kurang lebih 50 tahun kemudian, Yesus (firman Allah
menjadi manusia), berkhotbah di atas bukit dengan ucapan bahgia yang pertama: Matius
5:3: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah
yang empunya Kerajaan Sorga.
Dalam bahsa asli: miskin (bahasa Yunani: ptōchos, cara ucapa: pto-khos):
sangat miskinnya sehingga hanya dapat hidup dari meminta-minta. Bukan miskin
karena masih dapat makan sebulan dari gaji, dll.
Mereka adalah peminta-minta.
Hidup dari meminta sedekah orang lain. Meminta sedekah dari Tuhan. mereka
inilah yang diberkati dan empunya kerajaan Allah.
Kiranya mulai hari ini, saat kita beribadah
ingatlah akan hal ini sungguh-sungguh dalam hati dan janganlah menyombongkan
diri di hdapan Tuhan karena alasan apapun, termasuk jerih lelah kita di hadapan
Allah.
Wahyu 2:2-5, Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun
ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang
jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi
yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan
engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal
lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan
kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh!
Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak
demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari
tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat).
Kita tak dapat hidup tanpa belaskasihan
Tuhan Yesus.
HINENI HE'ANI MIMA'AS:
ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani.
sumber gambar: Gerd Altmann from Pixabay
Israel, anak kesayangan Tuhan (Keluaran 4: 22-23, Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.") menjadi sangat miskin dan menderita karena dibuang keluar tanah airnya.
Mereka menderita secara fisik dan rohani. Secara fisik karena hidup di daerah jajahan dan bukan di tanah air sendiri, secara rohani karena tekanan dosa dan tidak dapat diampuni, tidak dapat pergi ke Yerusalem.
Pada masa itu jika orang berbuat dosa
maka dia harus membawa korban ke Yerusalem bertemu seorang imam untuk melakukan
ibadah pengampunan dosa tapi kini mereka di Babel jauh dari Yerusalem, mereka
merindukan Sion (Mazmur 137). Mereka tidak bisa beribadah di Babel.
Orang Israel mulai berupaya bagaimana mereka bisa tetap beribadah di tanah pembuangan. Mulai saat itu, di saat mereka ibadah selalu ada pemimpin pujian yang mengawali ibadah dengan nyanyian HINENI HE'ANI MIMA'AS: ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani. Mereka belajar untuk merendahkan hati sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. siapakah yang akan dengar? Mereka berharap Tuhan dengar.
Mereka berperilaku seperti seorang pengemis, peminta-peminta yang
sangat miskin dan tidak bisa hidup jika tidak menerima sedekah jika tidak ada yang
menolong. Itulah nyanyian mereka selama kurang lebih 500 tahun. HINENI HE'ANI MIMA'AS: ini aku Tuhan
seorang miskin yang melayani.
Kurang lebih 50 tahun kemudian, Yesus (firman Allah
menjadi manusia), berkhotbah di atas bukit dengan ucapan bahgia yang pertama: Matius
5:3: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah
yang empunya Kerajaan Sorga.
Dalam bahsa asli: miskin (bahasa Yunani: ptōchos, cara ucapa: pto-khos): sangat miskinnya sehingga hanya dapat hidup dari meminta-minta. Bukan miskin karena masih dapat makan sebulan dari gaji, dll.
Mereka adalah peminta-minta.
Hidup dari meminta sedekah orang lain. Meminta sedekah dari Tuhan. mereka
inilah yang diberkati dan empunya kerajaan Allah.
Kiranya mulai hari ini, saat kita beribadah ingatlah akan hal ini sungguh-sungguh dalam hati dan janganlah menyombongkan diri di hdapan Tuhan karena alasan apapun, termasuk jerih lelah kita di hadapan Allah.
Wahyu 2:2-5, Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat).
Kita tak dapat hidup tanpa belaskasihan Tuhan Yesus.
HINENI HE'ANI MIMA'AS: ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani.
sumber gambar: Gerd Altmann from Pixabay
Wednesday, November 4, 2020
CERITAKU
Gambar oleh yogesh more dari Pixabay
Aku selalu berusaha dan
sekarangpun demikian
Seiring
bayu menggiring awan menjadi benduan
Aku menulis tentang
sebuah harapan
Sejumput kisah
tentang makna rindu yang terakumulasi
Yang kudapati sementara kaki menarik tubuhku berlari
Sedang tangan masih mengajarku menari
Di sebuah telaga yang berkilauan
aku berhenti untuk mencari embun dalam kumpulan
yang
masih tersisa tatkala malam berpamitan
Namun, aku keliru,
cuma
ada sebongkah kisah fana dalam
dekapan badan
Ya, dalam cerita selalu ada narasi
kebajikan
Di
samping alur-alur membosankan
Sebab,
di setiap jalan lurus akan kau temui sedikit belokan
“Janganlah
kau naik untuk mencuri angan!”
Sebab,
itu bukanlah sikap rupawan
“Biarlah
angin berbisik dalam hembusan!”
Supaya
kehidupan merasuk dan membangun insan
Sebab,
duka dan suka selalu bercumbuan
Berteriak
dari dalam kehampaan hingga keabadian
Dan,
aku selalu merindukan keabadian
Seperti
kamu, aku rindu berpadanan
Supaya
kamu dan aku menuju keabadian
dalam
kepribadian yang dirindukan
oleh: grefer e. d. pollo_
kupang-NTT
untuk Lomba Nulis Puisi Bareng
Tingkat Nasional
10 Mei 2020
video puisi "Ceritaku"
Tuesday, November 3, 2020
Novel: JIKA WAKTU ITU TIBA
karya: Grefer E. D. Pollo, S. P., M.Pd
Satu
BEBERAPA
masa telah berlalu, namun keadaannya tidak banyak berubah. Avram d’ Brain memiliki kebiasaan tenang, sedikit berbicara
bahkan sangat sedikit sehingga banyak orang penasaran tentang dirinya.
“Tapi, dari mana kamu mengetahuinya?”
“Beberapa saudara dan sepupuku memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dariku meski mereka tidak mengenyam pendidikan formal dan latihan-latihan formal yang cukup dan perlu.”
“Apakah itu sebuah kerendahan hati atau karena tidak mau dikenal?”
“Menurutku kerendahan hati berarti berlaku apa adanya. Tidak menambahkan dan mengurangi apapun. Tidak berbangga diri serta rendah diri apalagi mempermalukan diri sendiri. Mereka cukup bahkan lebih dari cukup terkenal di kalangan mereka.”
“Kalangan mereka?”
“Ya, kalangan mereka”
“Apa maksudmu?”
“Deorote. Mereka bergerak dalam sebuah komunitas yang mereka sebut Komunitas Deorote.” Tiba-tiba Avram d’ Brain melihat ke jam tangannya “O, maaf El, aku kira kita harus melanjutkan pembicaraan ini nanti. Ada pertemuan yang harus aku hadiri. See you, later”
bersambung . . .
Sunday, November 1, 2020
Membaca dan Menulis
oleh: Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd
Seperti tidak semua orang suka membaca, demikian pula halnya dengan menulis. Tidak banyak orang yang mau menulis. Menulis membutuhkan keberanian, ketekunan, dan gairah tersendiri. Tapi, memang sulit jika orang tidak suka membaca tetapi mau menulis. Sebab, dengan membaca, akan menambah kosa kata dan membentuk cara berpikir.
Cara berpikir ini juga dapat terbentuk dari adanya kemampuan matematika, yakni cara berpikir logis. Jadi, sebenarnya ada keterkaitan antara belajar membaca dan menulis (pelajaran bahasa) dengan belajar matematika.
Dengan belajar matematika, seorang anak akan belajar berpikir logis, sistematis, dan terstruktur.
Dalam pengalaman sehari-hari baik sebagai seorang pendidik maupun yang pasti sudah pernah sekolah sebelumnya, tidak banyak siswa suka belajar matematika. Apakah ini ada korelasi dengan ketidaksukaan membaca dan menulis? Ini bisa menjadi sebuah tema atau topik penelitian.
Tetapi, mengapa para siswa kurang tertarik belajar matematika? Apakah karena cara gurunya mengajar? Atau, karena kurang suka berhitung? Atau, mengapa?
Juga mengapa mereka kurang suka membaca dan menulis? Apakah karena tidak semua daerah di Indonesia memiliki budaya baca tulis alias hanya memiliki budaya tutur? Tapi, ada juga daerah di Indonesia yang mempunyai budaya baca tulis tetapi siswanya tidak suka membaca dan menulis.
Memang ini masih menjadi kendala dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Dilihat dari hasil PISA pun, Indonesia masih berada di posisi bawah. Apa itu PISA?
PISA merupakan singkatan dari Programme for International Student Assessment (Program Penilaian Pelajar Internasional). Program ini diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic CO-operation and Development) untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah secara rata-rata di setiap negara. Mengikutsertakan para siswa atau anak-anak berusia 15 tahun. Bahan yang diuji adalah Matematika, Sains, dan Kemampuan Membaca.
sumber: https://www.zenius.net/blog/23169/pisa-20182-2019-standar-internasional
Jadi, masih ada pekerjaan rumah bagi pendidikan dasar dan menengah Indonesia untuk memperbaiki model belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya bahasa dan matematika.




















