Saturday, November 7, 2020

Kegiatan Membangun jiwa kepemimpinan


Saya berkomitmen untuk terus membangun jiwa kepemimpinan dan integritas diri melalui berbagai kegiatan seperti di bawah ini.




kegiatan first aid. Kerja sama antara Sekolah Dian Harapan Kupang dengan RS Siloam Kupang



kegiatan professioanl development bagi para guru Sekolah Dian Harapan Kupang pada bulan Oktober 2019



melatih siswa SMP dan SMA Dian Harapan Kupang membangun jiwa kepemimpinan melalui kegiatan OSIS dan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2018



saya juga berkomitmen untuk terus mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan PGRI Kota Kupang. Ini sebuah rapat virtual yang dilakukan pada 19 Oktober 2020 untuk menyiapkan kegiatan lomba dalam rangka memperingati hari guru tahun 2020 dan HUT PGRI ke-75 tahun 2020. Ini dilakukan demi menyesuaikan diri dengan pandemi covid-19. 

 

Continue reading Kegiatan Membangun jiwa kepemimpinan

Kegiatan Chapel (Ibadah) siswa dan guru

oleh: Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd


Dalam kapasitas saya sebagai guru mata pelajaran agama (Biblical Studies) dan koordinator chapel di Sekolah Dian Harapan Kupang, setiap hari di sekolah selain mengajar saya bekerja sama dengan rekan-rekan lain menyiapkan kegiatan ibadah (chapel) siswa dan guru di sekolah.





chapel siswa SMP Dian Harapan Kupang tanggal 26 Februari 2020, pembicara dari STEMI



chapel siswa SMP Dian Harapan Kupang 
pada 20 November 2019


chapel guru dan staf Sekolah Dian Harapan Kupang, pembicara Pdt Yahya Millu, S.Th dari kantor Sinode GMIT




chapel siswa SMP Dian Harapan Kupang tanggal 27 November 2019, pembicara Pdt Roni Runtu dari GMIT Jemaat Kaisarea BTN Kolhua Kupang




chapel guru dan staf Sekolah Dian Harapan Kupang tanggal 2 September 2020




chapel siswa SMP Dian Harapan Kupang pada bulan Februari 2020


kami para pelayan chapel guru dan staf 
Sekolah Dian Harapan Kupang pada 29 September 2020. 
Keunikan kali ini adalah para pelayan chapelnya adalah rekan-rekan cleaning service dan security Sekolah Dian Harapan Kupang

Continue reading Kegiatan Chapel (Ibadah) siswa dan guru

Friday, November 6, 2020

TIDAK ADA ORANG YANG TIDAK BERHUTANG

 

apa anda berhutang?

oleh: Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd


Orang yang memiliki hutang akan berusaha untuk melunasinya. Seseorang yang memiliki hutang berarti dia pernah menggunakan milik orang lain yang harus diganti. 


Memiliki hutang berarti pernah ada peranan orang lain dalam hidup kita sehingga hidup kita menjadi seperti ini. Orang yang memiliki hutang tidak akan tenang dalam hidupnya kecuali dia telah membayarnya.

Hutang adalah masa lalu yang harus dibereskan. Ada hutang yang bisa kita bereskan dengan membayar ganti ruginya. Namun, ada yang tidak dapat digantikan karena begitu mahal harganya sampai-sampai hidup kitapun tidak dapat menebusnya kembali.


Mungkin kita pernah berhutang uang kepada teman kita dan sudah kita gantikan. Kita pernah ditraktir makan dan mungkin kita sudah mentraktirnya kembali. Kita pernah dipinjamkan sesuatu dan juga mungkin kita sudah pernah mengembalikannya bahkan ditambah bonus atau bunganya.


Di samping itu, kita berhutang kepada orangtua kita, berhutang kepada guru-guru kita, berhutang kepada teman-teman kita, berhutang kepada semua mereka yang pernah mempengaruhi hidup kita sampai hari ini. Kita berhutang kehidupan dan pengalaman hidup yang sangat sulit kita gantikan. 

Terutama berhutang kepada Kristus yang telah mengasihi kita dan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Hutang ini tidak dapat dibayarkan bahkan dengan memberikan nyawa kita sekalipun.

 

Lukas 7:36-50 menceritakan bahwa

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. 

Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 

Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." 

Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru." "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. 

Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." 

Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. 

Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 

Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"


Dua orang yang berhutang itu adalah Simon dan perempuan berdosa. Perempuan itu berhutang 500 dinar dan Simon, 50 dinar. 

Permpuan datang dalam dosa dan pulang sebagai orang yang diampuni dan diselamatkan. Tetapi, Simon yang mengundang Yesus merasa tidak berdosa tetapi, kenyataannya, Yesus tidak mengatakan kepada dia bahwa dosanya diampuni dan bahwa ada keselamatan di dalam rumahnya seeprti yang pernah Yesus katakan kepada Zakeus yang dikunjungi oleh Yesus.


Perempuan berdosa ini menerobos dan melawan kebiasaan sosial dan agama yang membuat dia tidak mungkin datang kepada Yesus. Sangat mungkin dia tidak diundang oleh Simon, tetapi dia datang karena mendengar bahwa Yesus ada di rumah Simon. 

Sedangkan Simon yang mengundang Yesus tidak melakukan kebiasaan sosial dalam menjamu tamu yang telah diundangnya ke rumahnya.

Simon mengundang Yesus dan menerima Yesus secara fisik dan makan bersama Yesus, tetapi dia tidak mengenal kasih sejati dalam Yesus untuk menerima orang berdosa. 

Perempuan berdosa mendengar tentang Yesus dan datang kepada Yesus karena dia mengenal kasih sejati dalam diri Yesus yang menerima orang berdosa. Perempuan ini pulang sebagai orang yang merdeka dari dosa dan sebagai orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus.


Orang yang banyak diampuni, banyak pula berbuat kasih. Mereka berbuat kasih karena mereka sudah diampuni dan sudah diselamatkan dan bukan untuk diampuni dan diselamatkan.


Simon merasa tidak pernah berhutang apa-apa kepada Yesus sehingga dia tidak perlu melayani Yesus sebagaimana layaknya pada saat itu. Sedangkan perempuan berdosa ini yakin bahwa dalam dia memiliki hutang sangat banyak kepada Yesus. Hutangnya adalah begitu banyak dosa yang telah dia lakukan dan tidak mungkin dia gantikan atau bayarkan bahkan dengan memberikan seluruh hidup, reputasi, nama baik, harkat dan martabatnya sekalipun.

 

 

 

 

 

 

 

Continue reading TIDAK ADA ORANG YANG TIDAK BERHUTANG

Thursday, November 5, 2020

 

ini aku orang miskin

oleh: Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd






Matius 5:3: 
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Hineni he'ani mima'as: ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani)


Bangsa Israel mencapai masa kejayaannya pada masa Salomo menjadi raja. Dia berkuasa atas segala kerajaan mulai dari sungai Efrat sampai negeri orang Filistin, dan sampai ke tapal batas Mesir. 

Mereka menyampaikan upeti, dan tetap takluk kepada Salomo seumur hidupnya. Ia membuat banyaknya emas, dan perak di Yerusalem sama seperti batu, dan banyaknya pohon kayu aras sama seperti pohon ara yang tumbuh di Daerah Bukit. 

Kekayaan dan kemashyuran ini tak terasa membuat bangsa Israel dan rajanya menjadi begitu terkenal, bangga, dan sombong lalu membelakangi Tuhan dan menyembah berhala dan patung-patung. Tuhan begitu marahnya, lalu membuang Israel ke Babel pada tahun 586. 

Nusantara pernah dijajah bangsa asing tetapi tetap hidup di tanah airnya. Israel bangsa kesayangan Tuhan dibuang ke negeri orang selama 70 tahun (3 generasi). Bayangkanlah seorang anak kesayangan yang begitu jahatnya lalu diusir keluar rumah oleh bapa kandungnya sendiri.

 

Israel, anak kesayangan Tuhan (Keluaran 4: 22-23, Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.") menjadi sangat miskin dan menderita karena dibuang keluar tanah airnya. 

Mereka menderita secara fisik dan rohani. Secara fisik karena hidup di daerah jajahan dan bukan di tanah air sendiri, secara rohani karena tekanan dosa dan tidak dapat diampuni, tidak dapat pergi ke Yerusalem. 

Pada masa itu jika orang berbuat dosa maka dia harus membawa korban ke Yerusalem bertemu seorang imam untuk melakukan ibadah pengampunan dosa tapi kini mereka di Babel jauh dari Yerusalem, mereka merindukan Sion (Mazmur 137). Mereka tidak bisa beribadah di Babel.

 

Orang Israel mulai berupaya bagaimana mereka bisa tetap beribadah di tanah pembuangan. Mulai saat itu, di saat mereka ibadah selalu ada pemimpin pujian yang mengawali ibadah dengan nyanyian HINENI HE'ANI MIMA'AS: ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani. Mereka belajar untuk merendahkan hati sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. siapakah yang akan dengar? Mereka berharap Tuhan dengar. 

Mereka berperilaku seperti seorang pengemis, peminta-peminta yang sangat miskin dan tidak bisa hidup jika tidak menerima sedekah jika tidak ada yang menolong. Itulah nyanyian mereka selama kurang lebih 500 tahun. HINENI HE'ANI MIMA'AS: ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani.

 

Kurang lebih 50 tahun kemudian, Yesus (firman Allah menjadi manusia), berkhotbah di atas bukit dengan ucapan bahgia yang pertama: Matius 5:3: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

 

Dalam bahsa asli: miskin (bahasa Yunani: ptōchos, cara ucapa: pto-khos): sangat miskinnya sehingga hanya dapat hidup dari meminta-minta. Bukan miskin karena masih dapat makan sebulan dari gaji, dll. 

Mereka adalah peminta-minta. Hidup dari meminta sedekah orang lain. Meminta sedekah dari Tuhan. mereka inilah yang diberkati dan empunya kerajaan Allah.

 

Kiranya mulai hari ini, saat kita beribadah ingatlah akan hal ini sungguh-sungguh dalam hati dan janganlah menyombongkan diri di hdapan Tuhan karena alasan apapun, termasuk jerih lelah kita di hadapan Allah.

Wahyu 2:2-5, Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat). 


Kita tak dapat hidup tanpa belaskasihan Tuhan Yesus. 

HINENI HE'ANI MIMA'AS: ini aku Tuhan seorang miskin yang melayani.

sumber gambar: Gerd Altmann from Pixabay 

Continue reading

Wednesday, November 4, 2020

,

CERITAKU

ini ceritaku






Gambar oleh yogesh more dari Pixabay  


Aku selalu berusaha dan sekarangpun demikian

Seiring bayu menggiring awan menjadi benduan

Aku menulis tentang sebuah harapan

 

Sejumput kisah tentang makna rindu yang terakumulasi

Yang kudapati sementara kaki menarik tubuhku berlari

Sedang tangan masih mengajarku  menari

 

Di sebuah telaga yang berkilauan

aku berhenti untuk mencari embun dalam kumpulan

yang masih tersisa tatkala malam berpamitan

Namun, aku keliru,

cuma ada sebongkah kisah fana dalam dekapan badan

 

Ya, dalam cerita selalu ada narasi kebajikan

Di samping alur-alur membosankan

Sebab, di setiap jalan lurus akan kau temui sedikit belokan

“Janganlah kau naik untuk mencuri angan!”

Sebab, itu bukanlah sikap rupawan

 

 

“Biarlah angin berbisik dalam hembusan!”

Supaya kehidupan merasuk dan membangun insan

Sebab, duka dan suka selalu bercumbuan

Berteriak dari dalam kehampaan hingga keabadian

 

 

Dan, aku selalu merindukan keabadian

Seperti kamu, aku rindu berpadanan

Supaya kamu dan aku menuju keabadian

dalam kepribadian yang dirindukan

 

 

 

 

oleh: grefer e. d. pollo_ kupang-NTT

untuk Lomba Nulis Puisi Bareng Tingkat Nasional

10 Mei 2020


video puisi "Ceritaku"



Continue reading CERITAKU

Tuesday, November 3, 2020

Novel: JIKA WAKTU ITU TIBA

jika waktu itu tiba

 karya: Grefer E. D. Pollo, S. P., M.Pd


Satu

BEBERAPA masa telah berlalu, namun keadaannya tidak banyak berubah. Avram d’ Brain  memiliki kebiasaan tenang, sedikit berbicara bahkan sangat sedikit sehingga banyak orang penasaran tentang dirinya. 


Hanya segelintir orang saja yang dekat dengannya, dan meski demikian, hampir dari mereka semua tidak ada yang mengenal Avram d’ Brain seperti yang mereka ingin ketahui. 

Beberapa dari mereka menyimpulkan pribadi Avram d’ Brain sebagai orang yang tertutup, tidak suka bergaul, hidup dengan dunianya sendiri, cerdas dan cerdik tapi tidak berempati, tidak peka, emosinya datar, dan cuek, tetapi dia tidak merasa terganggu dengan semua itu. 

Hidupnya terus berjalan apa adanya. Biasa dan biasa saja. Aku adalah salah satu dari mereka yang cukup dekat dengan dia, setidaknya itu pendapatku, dan tertarik untuk mengenalnya lebih dekat lagi. 

Aku mencoba beberapa cara untuk membangun komunikasi dengan dia meski beberapa kalipun dia seolah ingin menghindarinya. Kesimpulan sementaraku tentang dia adalah dia hidup tanpa keluarga dan kerabat dekat, atau dia orang asing di daerah ini, yatim piatu, tidak ada satupun dari keluarganya yang masih hidup, atau apapun itu. Namun, suatu waktu, sesuatu berbicara lain.   

  
Sore itu, sambil menikmati senja dan terbenamnya surya, kami baru saja selesai memesan teh dan pembicaraanpun dimulai (salah satu sifat Avram d’ Brain  yang aku tahu ialah dia kurang tertarik untuk memulai sebuah pembicaraan. 

Namun, untuk beberapa orang dengan alasan tertentu dia akan melakukannya tanpa ragu). Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari wabah yang sedang melanda banyak negeri, realita politik dan reaksi para politikus serta pergerakkan massa, hobi masing-masing, sampai kepada masalah silogisme dan unsur hereditas yang turut berpengaruh di dalamnya. 

Kami baru saja memulai pembicaraan dan harus terhenti sejenak karena teh yang telah kami pesan tiba di depan kami.

“Bagaimana dengan dirimu?” kataku setelah pengantar teh pergi, “dari apa yang kamu ceritakan tadi terlihat bahwa kamu memiliki kemampuan akurasi yang tinggi dalam mengelola sebuah silogisme”.

“Kamu bisa saja berkata demikian, aku tidak dilahirkan dan dibesarkan di negeri ini demikianpun dengan nenek moyangku. Mereka adalah orang-orang hebat di zamannya yang berusaha hidup apa adanya di bagian Timur negeri ini. 

Ya, kamu tahu, El, setiap orang punya masa dan sejarahnya masing-masing. Mereka suka berbagi bahkan di saat yang sulit sekalipun. Pendidikan mereka cukup terbatas tetapi bakat yang mengalir dalam diri mereka sangat luar biasa terutama dalam menganalisa sebuah keadaan dan mengambil keputusan yang tepat serta akurat”.

          “Apakah kamu yakin bahwa kemampuanmu itu didapatkan dari berbagai pendidikan dan latihan yang telah kamu sebutkan tadi atau pengaruh turunan yang mengalir dalam dirimu?”
          “Mungkin saja.”
          “Tapi, dari mana kamu mengetahuinya?”

          “Beberapa saudara dan sepupuku memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dariku meski mereka tidak mengenyam pendidikan formal dan latihan-latihan formal yang cukup dan perlu.”

          “Apakah itu sebuah kerendahan hati atau karena tidak mau dikenal?”
          “Menurutku kerendahan hati berarti berlaku apa adanya. Tidak menambahkan dan mengurangi apapun. Tidak berbangga diri serta rendah diri apalagi mempermalukan diri sendiri. Mereka cukup bahkan lebih dari cukup terkenal di kalangan mereka.”

          “Kalangan mereka?”
          “Ya, kalangan mereka”
          “Apa maksudmu?”

          “Deorote. Mereka bergerak dalam sebuah komunitas yang mereka sebut Komunitas Deorote.” Tiba-tiba Avram d’ Brain  melihat ke jam tangannya “O, maaf El, aku kira kita harus melanjutkan pembicaraan ini nanti. Ada pertemuan yang harus aku hadiri. See you, later”

bersambung . . .

Continue reading Novel: JIKA WAKTU ITU TIBA

Sunday, November 1, 2020

,

Membaca dan Menulis

belajar membaca dan menulis
Gambar: DarkmoonArt_de dari Pixabay

oleh: Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd

Seperti tidak semua orang suka membaca, demikian pula halnya dengan menulis. Tidak banyak orang yang mau menulis. Menulis membutuhkan keberanian, ketekunan, dan gairah tersendiri. Tapi, memang sulit jika orang tidak suka membaca tetapi mau menulis. Sebab, dengan membaca, akan menambah kosa kata dan membentuk cara berpikir. 


Cara berpikir ini juga dapat terbentuk dari adanya kemampuan matematika, yakni cara berpikir logis. Jadi, sebenarnya ada keterkaitan antara belajar membaca dan menulis (pelajaran bahasa) dengan belajar matematika.

Gambar oleh marker_photography dari Pixabay 


Dengan belajar matematika, seorang anak akan belajar berpikir logis, sistematis, dan terstruktur. 

Dalam pengalaman sehari-hari baik sebagai seorang pendidik maupun yang pasti sudah pernah sekolah sebelumnya, tidak banyak siswa suka belajar matematika. Apakah ini ada korelasi dengan ketidaksukaan membaca dan menulis? Ini bisa menjadi sebuah tema atau topik penelitian. 

Tetapi, mengapa para siswa kurang tertarik belajar matematika? Apakah karena cara gurunya mengajar? Atau, karena kurang suka berhitung? Atau, mengapa? 

Juga mengapa mereka kurang suka membaca dan menulis? Apakah karena tidak semua daerah di Indonesia memiliki budaya baca tulis alias hanya memiliki budaya tutur? Tapi, ada juga daerah di Indonesia yang mempunyai budaya baca tulis tetapi siswanya tidak suka membaca dan menulis.

Memang ini masih menjadi kendala dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Dilihat dari hasil PISA pun, Indonesia masih berada di posisi bawah. Apa itu PISA?


PISA merupakan singkatan dari Programme for International Student Assessment (Program Penilaian Pelajar Internasional). Program ini diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic CO-operation and Development) untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah secara rata-rata di setiap negara. Mengikutsertakan para siswa atau anak-anak berusia 15 tahun. Bahan yang diuji adalah Matematika, Sains, dan Kemampuan Membaca.

sumber: https://www.zenius.net/blog/23169/pisa-20182-2019-standar-internasional


Jadi, masih ada pekerjaan rumah bagi pendidikan dasar dan menengah Indonesia untuk memperbaiki model belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya bahasa dan matematika.




Continue reading Membaca dan Menulis