Sunday, October 5, 2025

KERJA SAMA VS KERJA SALAH

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Premis cerita

Di sebuah desa kecil bernama Mari Kerja, dua tim diberi tugas membangun jembatan kayu menuju kebun bersama. Satu tim bekerja sama dengan doa, tawa, dan pembagian tugas yang jelas. 

Tim lain sibuk menunjukkan siapa yang paling terlihat bekerja, kumpul pujian, dan memotong sudut demi hasil instan. Kedua jembatan akhirnya selesai. Tapi jalan cerita belum tentu berakhir di atas air yang sama.

Tokoh singkat

  • Pak Andre: tukang kayu bijak yang sering omong Amsal sambil mengukur papan.
  • Bapak Ajak: pemimpin tim kerja sama, senyumannya membuat beban kerja terasa ringan.
  • Pose Berwarna: pemimpin tim kerja salah, suka berpose di depan kamera dan update status sambil menyuruh orang lain mengangkat kayu.
  • Tua Adat: pengamat jembatan, tahu kapan harus memberi tahu yang salah sekaligus berbagi kue dan nasihat.

KEJAR YANG KEKAL: Allah yang menjaga | kabar baik bagi yang tidak baik-baik

Narasi

Pagi itu sinar matahari menari di atas papan-papan kayu, seperti undangan untuk orang-orang yang suka kerja nyata. 

Tim Ajak berkumpul seperti orkestra kecil: ada yang mengukur kayu, yang lain menyiapkan paku, yang lain menahan papan sambil menyanyikan lagu kerja. Ketika satu paku bengkok, mereka tertawa bersama dan mengganti strategi. 

Doa singkat sebelum memukul paku membuat palu rasanya lebih bersahabat.

Di seberang lapangan, tim Pose tampil seperti panggung sandiwara. Pimpinannya memberi instruksi seperti sutradara drama: “Kamu angkat, kamu cat, kamu bilang terima kasih padaku nanti.” 

Orang-orang bekerja cepat, kubu Pose memotong sudut agar papan segera tampak rapi. Setiap kali Pose lewat, dia melambai dramatis seolah-olah sedang membuka pameran hasil karyanya sendiri.

Jembatan Ajak jadi dengan suara tepuk tangan saat papan terakhir disatukan. Mereka menguji dengan menyeberang bertiga-sekali, lalu saling menggandeng tangan sampai terlihat seperti barisan penari rakyat.

Jembatan Pose pun selesai; catnya mengkilap seperti panggung akhir musim. Tapi ketika angin menyelinap lewat, suara gemeretak kecil muncul. Paku yang dipasang terburu-buru mulai mengangguk-angguk, terlihat mulai terlepas.

Tua Adat datang menghitung paku seperti membaca doa harian. Ia berjalan ke jembatan Pose, mengetuk satu papan, dan berkata dengan tenang: “Bangun jembatan biar cepat itu hebat, tapi jangan lupa bangun hati biar kuat.” Pose tersipu, sementara Ajak mengundang tim Pose untuk kopi dan berbagi palu.

Kilasan teologis

Kerja sama mengingatkan tubuh Kristus: anggota-anggota berbeda karunia, satu tujuan, saling menopang. Kerja salah mengingatkan menara Babel: bangun tinggi tanpa mengangkat hati ke langit itu mudah roboh ketika yang penting hanya tampak di mata manusia. Menggarap sesuatu dengan hikmat jauh lebih elegan daripada sekadar memamerkan hasil sementara.

Pesan singkat

  • Kerja sama memberi hasil yang tahan lama karena dibangun atas kepercayaan, pembagian beban, dan kasih praktis.
  • Kerja salah bisa cepat dan mencolok, tetapi biasanya bernasib memalukan saat pengujian datang.
  • Jadilah seperti Ajak: bekerja dengan tangan cekatan, hati yang rendah, dan selera humor yang bisa menambal setiap papan bengkok.

Lewat jembatan-jembatan itu, orang-orang Mari Kerja belajar bahwa kerja yang diberkati adalah kerja yang mengangkat sesama, bukan hanya mengangkat diri sendiri.

 


Continue reading KERJA SAMA VS KERJA SALAH

Tuesday, September 30, 2025

Cintamu Membunuhku

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Cintamu Membunuhku

Ada sebuah kebakaran yang memberi kesan membara tetapi lembut dan pasti. 

Bukan menghasilkan kepulan asap dan sirene, melainkan kebakaran yang memakan ruang-ruang ego, menyapu retakan-retakan rasa nyaman palsu, dan meninggalkan satu hal yang benar-benar hangus: aku yang dulu.

Mazmur itu berbicara dengan suara yang gampang dikenali, suara yang bergetar ketika seseorang jatuh cinta bukan pada manusia, melainkan pada Rumah-Nya. “Cinta akan rumahmu menghanguskan aku.”


Api itu tidak untuk menghancurkan tanpa tujuan; api itu membersihkan, memurnikan, menyingkap siapa yang tersisa setelah semua kepasrahan dipanggang dan terpanggang.

Aku pernah membayangkan iman sebagai mantel hangat yang kukenakan di pagi dingin: nyaman, aman, pas di badan. 

Namun kasih Tuhan ternyata lebih mirip oven kaca raksasa yang setelah menyalakannya, membuatku sadar bahwa mantel itu penuh noda—noda ego, ambisi, panggilan palsu, pelayanan palsu penuh obsesi diri sendiri, mencari eksistensi diri palsu yang harus dilebur agar aku muat dalam pakaian baru: kehidupan yang hanya untuk Dia. 

Prosesnya? Menyakitkan, lucu, ironis, serupa orang yang tertawa saat sadar bajunya terbalik di depan cermin.

Kesengsaraan awalnya terasa intolerable: rasa malu karena kebiasaan lama tersingkap, kebiasaan untuk mengambil untung, kepentingan diri sendiri, untuk menuntut, untuk mempertahankan citra. 

Namun ada momen—aneh dan intim—ketika aku menangkap bahwa “mati” yang ditawarkan kasih-Nya bukanlah kehancuran total, melainkan pembebasan dari tirani diriku sendiri. 

Aku mulai mengerti bahwa hidup yang kupegang erat selama ini sebenarnya adalah tiruan: hidup yang dipoles untuk dilihat manusia, bukan untuk memuliakan Tuhan.


Cara Kasih Tuhan Membunuh Keegoanku

  • Pertama, kasih itu menatap langsung ke inti. Ia tidak sibuk dengan kosmetik rohani. Dia melucuti; ia mengajak jujur. Di situlah ego mulai goyah: palu kasih menumbuk satu demi satu alasan kita berkuasa pada diri sendiri.
  • Kedua, kasih itu menuntut pilihan. Ketika engkau dicintai sampai mati oleh Tuhan, engkau dihadapkan pada pertanyaan sederhana: siapa yang memimpin hidupmu? Kalau jawabannya masih “aku”, kasih itu akan bertindak seperti dokter tegas yang menganjurkan operasi.
  • Ketiga, prosesnya seringkali absurd. Ada saat-saat ketika kamu menangis di sudut karena merasa kecil, lalu tertawa di detik berikutnya karena menyadari betapa dramatisnya dirimu selama ini. Humor kecil itu menjadi obat dalam proses yang menembus tulang.

Ada kalanya aku merasa seperti tokoh di drama komedi romantis: diculik oleh cinta Ilahi, dibawa ke tempat tak dikenal, diberi pelajaran-tanpa-syarat tentang bagaimana melepaskan. 

Hanya bedanya, di akhir pertunjukan Tuhan tidak menuliskan nomor telepon baru untuk dihubungi, Ia menuliskan kehidupan baru untuk dijalani.

Surat Galatia menyuguhkan sebuah pernyataan yang tak kalah berani: “Aku telah disalibkan bersama Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

Pernyataan itu menjelaskan konkret apa yang mazmur rasakan secara emosional. 

Mazmur berteriak karena rindu Rumah-Nya; Galatia menyatakan bahwa rindu itu berbuah radikalitas hidup: “aku mati” supaya “Kristus hidup.” Lebih tepatnya: “Kristus mati supaya aku hidup”. Dan, Dia hidup selama-lamanya.

Di sini ada kesejajaran yang jelas: mazmur menunjukkan gejolak cinta yang “menghanguskan”, Galatia memberi teologi pada pengalaman itu, mati secara simbolis terhadap diri sendiri agar hidup bagi Kristus.

Ego kita tidak dihapus karena kecelakaan; ia dikubur sebagai konsekuensi logis dari hubungan yang sungguh-sungguh dengan Tuhan. Ketika aku merespons kasih itu, aku tidak berusaha lagi melakukan pertunjukan kepahlawanan rohani. 

Sebaliknya, ada kebebasan menakjubkan: kalau bukan aku yang memimpin, maka kesalahan dan kekonyolan yang kubuat tidak lagi menjadi pusat drama.

Tapi berhati-hatilah: ada godaan untuk menginventarisasi kebajikan baru: sebuah ego versi rohani yang berkata, “Lihat, aku telah mati bagi diriku.” 

Galatia memberi teguran halus: jika kita mulai memanfaatkan kematian diri itu sebagai alat untuk menaikkan citra diri, maka kita meniadakan kasih yang memanggil kita mati untuk hidup. Kasih yang sejati menghasilkan kerendahan hati, bukan trofi moral.




Humor dalam Api yang Menyala

Bayangkan momen ketika Tuhan membongkar “playlist” hidupmu. Lagu-lagu yang tadinya kau pasang untuk menegaskan siapa dirimu—lagu populer, lagu ambisi, bahkan lagu “aku-lah-pahlawan”—semua diputar ulang di hadapan-Nya. Dia menekan tombol next. Kau protes: “Tunggu, itu lagu kemenangan saya!” 

Tuhan hanya menatap sambil tersenyum lalu memutar lagu baru: “Hidup bagi Kristus.” Ternyata lagu baru itu mudah dinyanyikan; liriknya sederhana: “Bukan aku, tetapi Kristus.”

Humornya juga muncul dalam kebiasaan kita memikirkan ‘bagaimana’ mengorbankan diri. Kita merancang skenario heroik, tapi kenyataannya pengorbanan seringkali sepele: memberi kursi di transportasi umum, mengakui kesalahan kecil, melewatkan kesempatan mendapatkan pujian. 

Banyak dari momen-momen suci itu tampak keterlaluan biasa. Sebuah ironi: kematian besar sering terjadi lewat hal-hal yang paling kecil.

 

Penutup

Cintamu membunuhku bukanlah ancaman; itu adalah undangan paling lembut untuk berubah. Seperti mazmur yang terbakar oleh rindu akan rumah Tuhan, dan seperti Galatia yang menegaskan kematian diri untuk kehidupan Kristus, panggilan ini membawa kita dari sandbox ego kepada taman kehidupan yang lebih besar. 

Kematian ego bukan akhir; itu adalah kelahiran ulang yang membuat setiap nafas menjadi doa, setiap kegagalan menjadi bahan komedi yang menumbuhkan belas kasih, dan setiap keberhasilan menjadi kesempatan untuk menunjuk ke arah lain, ke Hadirat yang menghanguskan segala yang menghalangi kasih-Nya.

Kalau kau masih ingin mempertahankan sedikit ruang untuk dirimu sendiri, pahamlah: Tuhan mungkin akan mengirimkan kebakaran kecil lagi. Jangan khawatir, ada selimut keselamatan yang cukup besar untuk menahanmu saat kamu belajar menari di antara bara, dan ada juga humor ilahi yang membuatmu tersenyum ketika bajumu akhirnya benar-benar pas.

 

Continue reading Cintamu Membunuhku

Thursday, September 25, 2025

Seperti pohon ditanam

 

ged pollo

oleh: grefer pollo

Seperti pohon ditanam

Seperti pohon dan gedung yang akarnya dalam atau pondasinya dalam dan kuat maka gedung itu atau pohon itu tinggi dan kuat.

Orang yang ditanam itu tidak enak. Prosesnya berat. Tapi ujungnya tinggi. Pengaruhnya besar.

Jika seseorang sedang berada di bawah pandangannya terbatas. Tapi jika dia berada di atas pandangannya luas. 

Saat berada di bawah dan di atas beban masalahnya sama tapi karena pandangannya beda maka jika berada di atas cenderung lebih leluasa dan tenang.

Mazmur 75: 7-8 berbicara tentang peninggian atau promosi: Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.

Mereka yang ditanam atau mengalami proses pemondasian tidak kelihatan. Dan, apa yang tidak kelihatan dan semakin dalam semakin sulit dan butuh ketekunan.

Tuhan yang akan tinggikan. Proses pertumbuhan tanaman bukan hasil kerja manusia. Promosi itu dari Tuhan. Mereka yang tidak berakar dalam, tidak bertumbuh ke dalam dan lebih dalam akan mudah runtuh.

Bayangkan pohon atau bangunan yang kurang dalam akar atau pondasinya. Pohon atau gedung yang tinggi tapi akar atau pondasinya kurang dalam maka jika diterpa badai gampang roboh.

Suatu saat, dalam doa pagi di Oebobo, 24 Desember 23)









Continue reading Seperti pohon ditanam

Wednesday, September 24, 2025

Ketika Etika Tak Berestetika

 

ged pollo

oleh: grefer pollo



Etika itu ibarat fondasi rumah: kokoh, penting, tapi kalau cuma fondasi tanpa dinding dan taman, siapa yang betah tinggal? 

Nah, di situlah estetika masuk mengambil perannya, memberi keindahan, harmoni, dan rasa nyaman.

Masalahnya, kadang kita terlalu sibuk jadi “benar” sampai lupa jadi “indah.” 

Hasilnya? Etika yang kaku, seperti papan pengumuman larangan yang ditulis dengan huruf kapital semua: DILARANG MASUK! Itu memang benar, tapi bikin orang merasa dihardik, bukan diingatkan.

Alkitab sendiri sering mengingatkan bahwa kebenaran tanpa kasih itu kosong. 

Paulus menulis, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang atau canang yang gemerincing.” (1 Korintus 13:1). 

Artinya, etika tanpa estetika kasih hanyalah bunyi nyaring yang bikin telinga sakit.



Bayangkan kalau Yesus menegur orang Farisi dengan gaya “caps lock” tanpa kelembutan. Mungkin mereka langsung kabur, bukan bertobat. Tapi karena ada keindahan dalam cara-Nya tegas tapi penuh kasih. Teguran itu justru menembus hati.

Jadi, etika tanpa estetika itu seperti kopi tanpa gula bagi yang tak terbiasa: pahit, bikin meringis, dan akhirnya ditinggalkan. 

Tapi ketika etika dibungkus estetika kasih, ia jadi seperti kopi dengan aroma harum, tetap kuat, tapi mengundang orang untuk duduk, menyeruput, dan merenung.

Hidup ini bukan hanya soal benar atau salah, tapi juga soal bagaimana kebenaran itu dihidupi dengan indah. 

Karena dunia tidak hanya butuh aturan, tapi juga teladan yang memikat hati.


Dunia ini tidak "butuh" orang pintar tetapi butuh pintar-pintar jadi orang (_ged pollo).










Continue reading Ketika Etika Tak Berestetika

Kebencian: Sampah yang Bisa Disulap Jadi Kedamaian

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Kebencian itu seperti sisa makanan di kulkas yang sudah lupa asal-usulnya. Kamu tahu itu ada, kamu tahu baunya mulai aneh, tapi kamu juga tahu: kalau dibiarkan, bisa bikin kulkas (dan hidupmu) berantakan.

Tapi tunggu dulu. Sebelum kamu buang mentah-mentah, coba pikir: bisa tidak, kebencian itu diolah ulang? Bukan untuk dimakan. Tapi untuk jadi sesuatu yang lebih bergizi secara emosional.

Kebencian muncul karena luka. Luka dari kata-kata yang tajam, sikap yang dingin, atau janji yang cuma numpang lewat. Tapi luka itu, kalau dirawat, bisa sembuh. Dan kebencian, kalau diolah, bisa jadi bahan bakar untuk perubahan.

Bayangkan kamu punya blender emosi. Masukkan kebencian, tambahkan sedikit kesadaran, sejumput humor, dan segelas besar pengertian. Tekan tombol “maafkan” dan “lepaskan.” Hasilnya? Smoothie kedamaian. Rasanya mungkin pahit di awal, tapi efeknya bikin hati adem.

Karena hidup bukan tempat sampah. Hidup itu taman dan kamu berhak menanam damai, bukan menyimpan dendam.

Jadi, kalau kamu merasa hatimu penuh sampah emosional, jangan panik. Ambil napas. Ambil pelajaran. Dan mulai daur ulang.

Siapa tahu, dari situ kamu bisa jadi versi terbaik dari dirimu yang tidak hanya bersih dari kebencian, tapi juga wangi dengan ketenangan.

 

Kamu bisa jadi seniman. Seniman daur ulang emosi.

Ambil kebencian itu. Potong-potong jadi pelajaran. Lipat jadi pengertian. Warnai dengan empati. Tempelkan di dinding hati sebagai pengingat: “Aku pernah marah, tapi aku memilih damai.”

Karena damai itu bukan hadiah dari semesta. Damai itu berasal dari Yesus Kristus dan muncul dari hasil memilah, mengolah, dan menyadari bahwa memaafkan bukan berarti kalah. Itu berarti kamu cukup kuat untuk tidak membawa sampah ke masa depan.

Jadi, kalau kamu punya kebencian yang masih menyangkut, jangan dibuang ke sembarang tempat. Daur ulang saja. Siapa tahu, dari situ kamu bisa bikin taman hati yang subur tempat tumbuhnya ketenangan, bukan dendam.




Continue reading Kebencian: Sampah yang Bisa Disulap Jadi Kedamaian

1 Gamber 7 Cerita

 

ged pollo
oleh: grefer pollo

Di dinding ruang tamu, tergantung satu gambar. Bukan lukisan mahal, bukan foto pemenang Nobel. 

Hanya satu jepretan sederhana: seorang pria duduk di bangku taman, mengenakan kaus polos, celana jeans, dan ekspresi yang entah antara bingung atau sedang menghitung jumlah daun gugur.

Tapi jangan tertipu. Gambar itu punya tujuh cerita. Tujuh versi, tujuh sudut pandang, tujuh kemungkinan yang membuat kita bertanya-tanya: “Sebenarnya, apa yang terjadi?”

1. Cerita Sang Fotografer

Ia bilang itu momen spontan. Katanya, “Saya cuma mau foto burung merpati, tapi, pria itu duduk pas di frame. Bonus!” Elegan? Mungkin. Profesional? Meragukan.

2. Cerita Sang Pria

“Lagi berpikir tentang hidup,” katanya. Tapi rumor beredar, ia sebenarnya sedang menunggu tukang bakso lewat. Filosofis dan lapar, kombinasi yang tak terduga.

3. Cerita Sang Bangku

Bangku itu sudah lelah. Katanya, “Sudah 12 tahun menopang manusia dengan berbagai beban, dari patah hati sampai kejaran penagih hutang koperasi.” Ia ingin pensiun, tapi taman belum punya anggaran.

4. Cerita Daun Gugur

Daun-daun itu merasa dramatis. Mereka jatuh perlahan, berharap ada yang menulis puisi tentang mereka. Sayangnya, pria di bangku lebih tertarik pada bakso.

5. Cerita Seekor Kucing

Kucing liar di taman mengaku pernah duduk di bangku itu dulu. “Tempat strategis untuk mengintai ayam goreng dari pengunjung,” katanya. Kini ia merasa tergusur.

6. Cerita Seorang Anak Kecil

Anak itu melihat gambar dan berkata, “Itu ayahku waktu belum punya aku.” Ibunya tersenyum, ayahnya panik. Cerita berkembang jadi sesi tanya jawab yang panjang.

7. Cerita Kita

Kita melihat gambar itu dan menciptakan cerita sendiri. Mungkin tentang cinta yang tertunda, atau tentang seseorang yang akhirnya menemukan ketenangan. Atau mungkin… tentang bakso.

Gambar boleh satu, tapi cerita bisa tujuh—atau tujuh puluh tujuh. Karena setiap mata punya tafsir, dan setiap hati punya versi.







Continue reading 1 Gamber 7 Cerita

Sunday, September 21, 2025

“Do your best and let God take the rest”. Apakah seharusnya demikian?

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Ungkapan “Do your best and let God take the rest” populer sebagai motivasi: kita berusaha maksimal, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. 

Namun dari perspektif teologi Kristen, kalimat ini memuat sejumlah implikasi problematis yang perlu dikritisi.


1. Pemisahan Antara Usaha Manusia dan Peran Allah

Menurut pepatah ini, ada “porsi” usaha manusia dan “sisa” yang menjadi tanggung jawab Allah. 

Padahal dalam ajaran Alkitab, segala hal bermula dan berakhir pada tindakan Allah. Yesus katakan Akulah Alfa dan Omega. Yang Awal dan Yang Akhir (Wahyu 22:13).

  • Allah sudah menyelenggarakan alam semesta jauh sebelum manusia berusaha sedikit pun.
  • Menyiratkan Allah hanya mengerjakan “sisa” proyek kita justru membalik paradigma: seolah Allah menunggu sampai kita selesai baru kemudian bertindak, padahal Dia terus-menerus memelihara ciptaan-Nya.

2. Ketergantungan Allah pada Kualitas Usaha Kita

Ungkapan tersebut membuat Allah seakan bergantung pada seberapa baik dan banyak kita bekerja:

  • “The rest” dinilai sebagai bagian yang Allah lakukan setelah kita semaksimal mungkin.
  • Konsekuensinya, jika usaha kita kurang, porsi Allah pun “tersisa” sedikit. Padahal Alkitab menegaskan kasih karunia dan kuasa Tuhan tidak terbatas oleh keterbatasan manusia.

3. Menyederhanakan Kerja Allah yang Melampaui Manusia

Dengan menyatakan Allah hanya menuntaskan “berserakan” dari pekerjaan kita, ungkapan ini meremehkan kuasa dan kedaulatan-Nya. Sebaliknya, kita perlu mengingat bahwa:

  • Allah lah yang memulai karya keselamatan dan memelihara hidup setiap saat.
  • Manusia berpartisipasi dalam karya Allah, bukan sebaliknya.


Ungkapan Alternatif


“Do the rest, because God does all—and the best.”

Artinya:

  • Allah sudah, sedang, dan akan selalu mengerjakan yang terbaik menurut hikmat-Nya.
  • Manusia hanya “mengambil sisa” partisipasi yang memang Allah sudah sediakan bagi kita.


Implikasi Praktis dalam Kehidupan Iman

Mengadopsi ungkapan yang lebih teologis akurat membantu kita:

  • Menguatkan sikap bergantung penuh pada kasih karunia Tuhan.
  • Menghilangkan kecenderungan mengukur keberhasilan rohani hanya dari hasil usaha manusia.
  • Menghayati bahwa partisipasi kita sesungguhnya adalah respons atas inisiatif Allah yang tak pernah terputus.


Continue reading “Do your best and let God take the rest”. Apakah seharusnya demikian?