Saturday, October 10, 2020

Olah Kolaborasi Mengelola Kompetisi (Review tulisan Pak Boy Zanda)

 

 oleh: Grefer Pollo, S.P., M.Pd


Sejak tahun 1990-an internet mulai dikenal oleh publik termasuk Indonesia.  Pengaruh kemajuan teknologi informasi telah berhasil membentuk suatu masyarakat dengan budaya sosial yang baru. 

Gerak transformasi ini kian lama kian cepat dan makin sulit diikuti oleh generasi sebelumnya. Internet sudah menjadi bagian yang menyatu dengan kehidupan masyarakat dan telah menjadi gaya hidup mereka. Internet memudahkan seseorang untuk melakukan komunikasi dengan orang lain, seperti chatting online. Melalui fasilitas beberapa room yang tersedia memungkinkan seseorang dapat berkomunikasi secara bersama pula. Facebook, whatsapp, zoom, google meet, dan sebagainya seolah telah menjadi sebuah kebutuhan dasar di masa kini, dan khusus bagi generasi muda, seolah sulit dibayangkan sebuah kehidupan di masa kini tanpa akses internet yang memadai. 

Awal tahun 2020, Indonesia termasuk salah satu negara terdampak covid-19 yang memaksa sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Berbagai aspek kehidupan mesti berubah dan beradaptasi dengan model kehidupan baru. Berbagai upaya kemudian dikerahkan untuk meminimalisir paparan covid-19. Di antaranya adalah ide bekerja dari rumah, beribadah dari rumah, dan belajar dari rumah. Prasyarat dari penerapan ide tersebut adalah kebutuhan akan teknologi, sedangkan konsekuensi dari hal ini adalah menghadapi tantangan baru yaitu masih banyak siswa, orangtua siswa, dan guru yang belum melek teknologi, banyaknya daerah yang belum dijamah listrik dan jaringan internet yang seharusnya.


baca juga: https://tepijalan.id/juara-1-provinsi-baca-puisi-fls2n-veren-dika-ke-tingkat-nasional/


Menanggapi konsep belajar dari rumah ini, maka pada tanggal 16 Maret 2020 lalu, Kemendikbud menyebut beberapa platform pembelajaran dalam jaringan di Indonesia, seperti Google Indonesia, Kelas Pintar, Microsoft, Quipper, Ruangguru, Sekolahmu, dan Zenius. Platform apa yang akan dipergunakan dalam pembelajaran di sekolah dan bagaimana menerapkannya menjadi kebijakan sekolah bersama siswa dan orangtua siswa.

Kebijakan ini diharapkan mendorong proses pendidikan agar tidak hanya berfokus kepada menyiapkan siswa untuk menguasai ketrampilan tertentu, sebab jika demikian, maka saat teknologi baru sudah muncul maka sangat mungkin ketrampilan yang baru dikuasai itu sudah tidak dapat digunakan lagi. Namun, diharapkan selain menghasilkan lulusan yang memiliki daya sintas (bertahan hidup dalam kondisi yang tidak diinginkan, dalam jangka waktu yang lama), juga dapat memiliki basis penguatan kapabilitas siswa. Jika demikian maka, transformasi pendidikan dapat terjadi melalui pembelajaran efektif dan menyenangkan melalui sistem dalam jaringan.

Pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dapat dilakukan menggunakan berbagai metode belajar yang sesuai dengan gaya belajar siswa (audio, visual, kinestetis), pendekatan sosio-humanis-religius, menuju ketercapaian tujuan pembelajaran, dan holistis (intelligence quotient, emotional quotient, spiritual quotient, dan adversity quotient). Dalam mempersiapkan ini guru harus perlu memperhatikan kualitas pembelajaran, waktu, kurikulum, media yang digunakan, disrupsi kehidupan sebagai akibat dari hadirnya perkembangan artificial intelligence (AI), big data, dan connectivity. Kesemuanya ini menuntut rekonstruksi dari pemikiran akan mengejar spesialisasi dini dan sekedar ketrampilan teknis-taktikal dari seorang siswa. Sejak awal seorang siswa mesti diajar akan pentingnya memiliki wawasan berpikir generalis, strategis, holistis, melalui pembelajaran yang interdisiplin dan transdisiplin. Oleh bantuan big data dan connectivity siswa harus diajar untuk memiliki kemampuan berpikir dan daya analitis-sintetis. Sebagai seorang manusia, siswa harus dipersiapkan untuk mengerjakan apa yang mesin tidak dapat lakukan.

Di samping itu, membangun pendidikan daring perlu berpikir dan bertindak secara bijaksana terhadap budaya individualistis yang mengikuti model fitur-fitur dalam berbagai platform.

Dunia kita cenderung banyak mengajari kita mengenai cara terbaik dalam berkompetisi secara personal dan mengabaikan kolaborasi dalam sebuah komunal. Dalam model pendidikan abad 21 satu poin penting yang dikembangkan adalah membantu siswa untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Artinya, siswa dapat bertahan hidup, memperjuangkan hidup, mengembangkan, dan merencanakan hidupnya di masa depan sesuai konteks zamannya serta prediksi masa depan. Kurikulum tersebut dikemas melalui strategi pembelajaran yang membentuk sikap analitis, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, mengembangkan sikap afektif, dan karakter siswa untuk menjawab tantangan yang ada. Demi mendukung hal ini, peran guru dan orang tua sangat penting, misalnya secara intens memotivasi siswa untuk menghidupi pembelajaran sampai tingkat menganalisa, mengaplikasikan, mencipta, dan mengevaluasi. Kemampuan mensitesis keadaan, menemukan alasan dan tujuan dari keadaan, menerima dan menghargai perbedaan, mengelola apa yang sama dan apa yang beda secara bijaksana akan mendukung para siswa untuk memiliki kecakapan kognitif, afektif, psikomotor, dan penguatan karakter yang beriman. Kesemuanya itu akan membentuk mereka menjadi pribadi yang holistis, unggul, dan kontributif terhadap hidupnya masa kini.

Sebagai insan sosial yang tak mungkin hidup seorang diri, maka model di atas hanya dapat dihidupi melalui sebuah kolaborasi. Siswa perlu diajar dan diajak belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu mandiri yang berkepribadian, dan belajar untuk hidup bersama.

Berbagai fitur yang tersedia dalam berbagai platform pembelajaran daring dapat dimafaatkan bagi terselenggaranya pembelajaran model kolaborasi.

Apa yang dialami dan dihasilkan melalui perjuangan yang berarti oleh siswa bernama Maria F. Veren Dika telah kembali mengharumkan nama almamaternya, SMAK Regina Pacis dan Kabupaten Ngada, yakni meraih juara pertama lomba baca puisi pada event Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Provinsi NTT tahun 2020. Testimoni Veren (demikian disapa), guru pendampingnya atas nama Antonia Meo, dan Kepala SMAK Regina Pacis Hendrianto Emanuel Ndiwa membuktikan sebuah kolaborasi yang sangat baik dan efektif antara pihak sekolah dan orangtua siswa. Kolaborasi demikian mesti menjadi acuan di dalam mengembangkan model pembelaaran daring di tengah sikap individualistis dan kompetitif yang terus menggerus nilai hidup kebersamaan dan bertoleransi.


Continue reading Olah Kolaborasi Mengelola Kompetisi (Review tulisan Pak Boy Zanda)

Thursday, October 8, 2020

,

Sekolah di Padang Gurun

 


oleh: Grefer Pollo, S.P., M.Pd

Pendidikan merupakan “bengkel” bagi kehidupan. Di dalam dan melalui pendidikan banyak kehidupan dipulihkan dan ditebus kembali. 

Pendidikan bukan tempat orang sehat. Bukan tempat orang pintar. Bukan tempat orang berada. Karena jika mereka sehat, pintar, berada maka mereka tidak butuh sekolah, tidak butuh pendidikan. Orang yang kenyang tidak butuh makanan. Orang yang kuat tidak butuh penolong.

Hanya orang yang sakitlah yang mengerti dan menikmati arti obat dan pengobatan. Hanya orang yang pernah diobati dan terobatilah yang mengerti dan menikmati arti anugerah. Hanya orang yang pernah bersedih yang mengerti arti hiburan. Mereka yang pernah dihibur yang tahu bagaimana caranya menghibur orang lain.

Kehidupan yang Anda jalani ini penuh dengan kekurangan, kelemahan, kesalahan, kejahatan, terluka, dilukai, di samping hal-hal sebaliknya seperti kelebihan, kekuatan, kebenaran, kebaikan, terobati, diobati, dan sebagainya. Pendidikan adalah upaya untuk memahami semua itu dan mengusahakan hidup sebagaimana seharusnya di dalam apa yang benar. 

Seorang anak membutuhkan waktu satu sampai dua tahun bahkan ada yang lebih untuk belajar berjalan dan berbicara. Untuk menjadi seorang pekerja yang mahir dan trampil seseorang membutuhkan waktu untuk bersekolah umum dan khusus selama jumlah tahun-tahun tertentu. Selama masa-masa itu, belajar bukanlah hal yang mudah bahkan menjenuhkan, membosankan, dan menjengkelkan. Memang, mempelajari sesuatu yang baru tidaklah mudah. Banyak kesalahan terjadi berulang kali dalam sebuah proses pembelajaran. Dari situlah muncul peribahasa: “pengalaman adalah guru yang baik”. Tetapi, jikalau Anda ingin bijak maka, teruskanlah peribahasa itu bersama saya: “pengalaman adalah guru yang baik, tetapi respon yang tepat terhadap pengalaman itu adalah guru yang bijak”.

Ibarat demikian, masa belajar seperti rentang waktu yang dibutuhkan untuk berjalan di padang gurun. Di padang gurun penuh dengan tantangan, kesulitan, mara bahaya, dan ketidakpastian. Karenanya, perjalanan di padang gurun membutuhkan keyakinan yang kuat dan kekuatan fisik yang mumpuni. Jika Anda menempuh perjalanan di padang gurun, Anda mesti siap menghadapi perubahan cuaca yang ekstrim. Anda akan sangat sulit menemukan jejak kaki petualang sebelumnya karena terhapus oleh angin yang bertiup kencang. Jika Anda haus, Anda mesti berjuang keras untuk menemukan oasis. Pada siang hari Anda akan berjuang melawan panasnya terik matahari sedangkan sulit bagi Anda untuk menemukan tempat berteduh. Demikian juga pada malam hari, Anda bergumul dengan pelukan angin malam yang sangat dingin. Kewaspadaan Anda harus benar-benar kuat menghadapi ancaman dan bahaya dari binatang buas berbisa seperti ular dan kalajengking. Sangat mungkin Anda akan kesepian di sana sebab sulit menemukan teman seperjalanan selain yang memulai perjalanan bersama Anda.

Sekolah di padang gurun memiliki para murid yang (hampir) semuanya bermasalah. Mengapa? Karena, Anda dan saya adalah pribadi yang rapuh. Rapuh secara fisik, emosi, dan spiritual. Kebanyakan masalah itu membutuhkan obat yang paling mujarab yakni keampunan. Pengampunan adalah kasih karunia bukan upah. Karena pengampunan adalah sebuah loncatan besar yang jaraknya tidak terjangkau oleh logika umum Anda dan saya.

Jika Anda berhutang 10 ribu talenta (1 talenta = 6 ribu dinar. 1 dinar = upah per hari kerja. Jadi, untuk membayar hutang Anda maka, Anda harus bekerja selama 60 juta hari tanpa digaji. Artinya, Anda harus bekerja selama 164 tahun tanpa digaji) lalu, Anda berusaha untuk membayar hutang Anda. Anda mencoba bekerja selama beberapa bulan awal. Belum setahun Anda sudah mengalami kesulitan yang sangat besar untuk bisa bekerja sampai 164 tahun tanpa digaji. Kemudian, Anda datang kepada orang yang kepadanya Anda telah berhutang. Anda memohon belas kasihannya karena orang itu telah mendesak Anda untuk membayar hutang Anda segera. Jika tidak, maka baik Anda, pasangan Anda, anak-anak Anda akan dijual dan dijadikan budak. Semua harta Anda akan disita. Anda mulai akan menangis memohon kasih sayangnya kepada Anda. Air mata Anda mulai menetes, badan Anda mulai gemetar, lutut Anda mulai tidak kuat menopang berat badan Anda. Anda hampir jatuh tersungkur dan menyembah orang itu memohon belas kasihannya. Suara tangisan Anda mulai terdengar. Orang itu mulai merasa belas kasihan kepada Anda lalu dia berkata bahwa hutang Anda dihapuskan pada saat itu juga. Saya mau bertanya, “apa yang Anda rasakan pada saat itu?”. Itulah yang disebut pengampunan. Anda telah mendapatkan keampunan. Seperti kesehatan bukan warisan demikian juga kasih yang mengampuni mesti digerakkan. Kasih seperti itu bukanlah tanaman liar yang tumbuh tanpa sengaja. Benih kasih datang dari Allah tapi manusia harus mengusahakannya. 


Di padang gurun fatamorgana sangat mudah terlihat di siang hari. Seperti Anda ketahui, fatamorgana bukanlah kejadian sesungguhnya dari apa yang Anda lihat. Tidak semua yang berkilau itu emas. Mengejar prestasi, potensi diri, dan lain-lain itu penting tapi mungkin tidak perlu oleh karena alasan tertentu. Memiliki kemampuan melihat jauh ke depan dan memprediksi masa depan itu baik tapi lebih berguna melihat dan memperhatikan yang di dekat sisi Anda lebih dulu. Sekolah di padang gurun akan membentuk kepribadian dan karakter Anda untuk mengenal siapa Allah yang Anda sembah, siapakah Pencipta Anda serta siapakah Anda di hadapan Allah. Hasil pendidikannya adalah kualitas yang tak dapat dipalsukan. Dunia sekarang banyak memalsukan merk tapi tidak dengan kualitas. Demi membentuk kualitas hidup ketika menjalani sekolah di padang gurun maka beberapa hal ini perlu Anda perhatikan.

 

Waktu

Semua ada waktunya. Dan, semuanya membutuhkan waktu.

Belajar di padang gurun seolah begitu lamanya. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Suasana di padang gurun tidak menyenangkan dan menjemukkan. Namun, hal ini tak dapat dielakkan. Meski demikian lamanya dirasa, tetapi, waktu sangatlah berharga di padang gurun. Segala sesuatu mesti dipelajari dan dilakukan dengan sangat hati-hati supaya waktu tiada sirna percuma.

  

Uang

Jika Anda dapat membeli segala sesuatu dengan uang maka sesungguhnya uang telah membeli hidup Anda

Di padang gurun, uang tiada bernilai. Karena memang, uang bisa membeli banyak hal tetapi uang bukan segalanya. Apa yang dapat dibelanjakan di padang gurun? Jika adapun, akan sangatlah mahal. Kalimat yang begitu akrab didengar bahwa uang dapat membeli segalanya tidak berlaku di padang gurun. Uang tidak diperlukan dalam menjalin pertemanan, keramahan, istirahat, dan rasa nikmat. Mengapa? Karena, sesungguhnya orang membeli segala sesuatu bukan dengan uang tetapi dengan waktu dan hidup mereka. Anda bekerja selama satu bulan lalu menerima gaji atau upah. Upah tersebut Anda belanjakan makanan, minuman, pakaian, membayar tempat olah raga, membeli mobil atau motor, dan sebagainya. Kelihatannya Anda membeli dengan uang tetapi sebenarnya tidak. Anda telah “menjual” satu bulan hidup Anda untuk “menukarnya” dengan sejumlah uang yang Anda gunakan untuk membelanjakan semua itu. Jadi, Anda tidak pernah membeli apapun di dunia ini dalam hidup Anda dengan uang tetapi dengan waktu dan hidup Anda.

 

Hidup

Hidup itu sebatas rasa, sebatas kata, sebatas kerja, sebatas lidah, sebatas logika, sebatas doa, sebatas tanpa batasnya anugerah Sang Pencipta

Di padang gurun, kehidupan sangatlah dijaga dan amat bernilai. Kesehatan akan sangat diperhatikan selama belajar di sekolah padang gurun. Makanan, minuman, dan apapun yang akan dikonsumsi akan dihitung dan dipertimbangkan matang-matang sebelum dikonsumsi. Bagi mereka yang pernah belajar di padang gurun akan dapat menjelaskan hal ini lebih detail.

 

Keluarga

Anda menyebutnya rindu karena Anda sedang tidak bersamanya

 

Salah satu hal yang sangat dinantikan kehadirannya di padang gurun adalah keluarga. Keluarga adalah tempat di mana kesalahan apa pun dapat diterima dan diperbaiki. Keluarga menjadi pendukung utama dan motivator dan pelatih yang paling berarti dalam sekolah di padang gurun.


Tuhan

Jika Anda dapat mengerti segala sesuatu dan dapat mengerjakan segala sesuatu maka Andalah Tuhannya

 

Tuhan adalah Pribadi dan Guru yang paling handal di padang gurun. Tuhan dapat menuntun setiap murid-Nya melewati padang gurun yang penuh onak dan duri, binatang buas yang tidak terdeteksi, angin badai gurun yang menghanyutkan, meredam panasnya siang hari dengan tiang awan dan dingin serta gelapnya malam hari dengan tiang api. Tuhan adalah juru mudi yang sangat mengenal peta padang gurun menuju kota dan desa terdekat di mana kehidupan dapat diteruskan dengan lebih bijaksana setelah lulus dari sekolah di padang gurun.


Salah satu bagian penting dari kebijaksanaan hidup yang Anda dapatkan setelah melewati sekolah di padang gurun adalah kesadaran dan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan orang dalam masa dan tempat tertentu. Oleh sebab itu, Tuhan tidak pernah salah menempatkan seseorang di samping Anda. Andalah yang sering salah menilai orang tersebut.

 

Kekuatan dan nilai jual sekolah di padang gurun terlihat pada perubahan hidup. Tanpa itu, maka sekolah padang gurun barulah hanya sebuah pemikiran. Kekuatan pendidikan adalah alat untuk membawa tiap orang bergerak dari kegelapan menuju terang yang mengubah hidup mereka.

 

 diambil dari buku: Belajar, Bukan Supaya Pintar


Continue reading Sekolah di Padang Gurun

Wednesday, October 7, 2020

,

Belajar Dimulai dari Keluarga

oleh: Grefer Pollo, S.P., M.Pd

“Nak, kamu harus dengarkan papa. Kamu itu harus belajar yang giat, rajin, supaya kamu punya banyak teman, kamu bisa masuk jurusan IPA”. Kata seorang bapak kepada anaknya. “Tetapi saya tidak suka IPA, papa. Saya suka IPS. Banyak teman saya yang mau masuk IPS. Saya tidak suka biologi, kimia. MENJENUHKAN!!! Saya benci pelajaran itu. Saya juga tidak suka gurunya…”. 

Jika Anda berada di sana, di tengah perdebatan itu, saya yakin, Anda dapat menceritakan ulang perdebatan itu kepada saya dengan baiknya. Begitulah kebanyakan realita dalam kehidupan Anda dan saya setiap hari. Perbedaan cara pandang orangtua dan anak dalam memilih dan menentukan arah masa depan kerap terjadi karena beda pengalaman, beda usia, beda nilai hidup, beda cara berpikir, beda perkembangan teknologi dan informasi, beda generasi. Dalam beberapa kisah, orangtua cenderung mendesak anaknya mengikuti mereka. 

Lebih dari separuh penduduk dunia ini hidup tanpa menyadari bahwa seperti sebuah sekolah, kehidupan memiliki kurikulumnya sendiri. Kurikulum itu ditetapkan oleh Tuhan sebagai Pencipta sekolah kehidupan yang berdaulat atas segala sesuatu. Setiap orang yang belajar dengan baik akan memiliki rapor yang menyenangkan, semakin mengenal dan mengasihi-Nya. Akan sangat mungkin semakin naik dan bukan turun, menjadi kepala dan bukan ekor. 

Sekolah kehidupan menjadi sarana pembentukan manusia secara utuh dan sempurna seperti yang dirancangkan oleh Tuhan sebelumnya. Sekolah kehidupan memiliki ujian-ujian yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Seperti tamu pada malam hari ketika Anda sudah hampir pulas tertidur. Sikap tamu tersebut terkadang di luar etika, di luar logika, di luar kebiasaan, di luar harapan, bersifat menuntut untuk dilayani, menuntut untuk diselesaikan tanpa waktu yang cukup untuk melakukan persiapan, tanpa estetika, dan perhitungan sebelumnya. Bagi hampir seantero manusia tamu ini betul-betul menjengkelkan. Untuk menghadapi tamu ini dan memasak “menunya” membutuhkan keberanian, keyakinan iman, hikmat, pengertian yang benar, kreativitas dalam kebenaran serta kuasa Ilahi. Sayangnya, seringkali manusia berada dalam keadaan tidak siap untuk menghadapi ujian-ujian tersebut. Banyak dari mereka yang sambil memasak “menunya” masih tetap terbawa mimpi tidurnya sehingga banyak yang gagal dalam ujian kehidupan ini. Kurikulumnya belum pernah dipelajari sebelumnya. Biaya untuk memperbaiki kerusakan dan kegagalan akibat ujian kehidupan ini sangat besar. Energi yang sangat besar dibutuhkan untuk mengangkat kembali mereka yang sudah jatuh. Dibutuhkan tangan yang kuat untuk mengangkat yang sudah terjatuh. Dibutuhkan iman yang kokoh serta keberanian untuk berdiri kembali di depan orang banyak. Dibutuhkan “wajah” baru untuk menutup muka yang sudah terlanjur malu. Siapakah yang sanggup melakukannya? Siapakah yang dapat berdiri di samping, mengulurkan tangannya, lalu mengangkat yang sudah jatuh? Dapatkah mereka yang sedang berada bersama dalam lumpur rawa menolong yang lainnya? Kegagalan-kegagalan ini membuat bejana (baca: hidup) itu kemudian menjadi rusak. 

Ketika bejana itu rusak, dalam otoritas dan anugerah-Nya, Sang Penjunan akan memperbaiki dan menjadikannya menjadi bejana lain yang indah dalam pandangan-Nya. Mereka yang telah berhasil dan lulus kriteria ketuntasan belajar dalam sekolah kehidupan akhirnya mendapatkan hadiah berupa upah kekal dari Sang Guru Agung yakni Yesus Kristus. 

Namun, bagaimana pemahaman kebanyakan orangtua dalam relevansinya dengan hal ini? Adakah para orangtua memahami kuriukulum kehidupan ini? Adakah mereka sedang menerapkan model belajar untuk menghadapi ujian dari pascabelajar kurikulum kehidupan ini? Allah telah membentuk keluarga pertama melalui manusia pertama yakni Adam dan Hawa. 

Seluruh aspek kehidupan didesain layaknya sebuah keluarga. 


Keluarga adalah tempat yang terindah di dalam kehidupan. Tempat yang aman dan tenteram. Tempat di mana setiap kesalahan diterima tanpa di-bully namun, didisiplinkan demi perbaikan. Tempat di mana saat memberi dan saat menerima terjadi. Tempat di mana kasih, keampunan, dan keadilan dalam kebenaran dijalankan sehingga lahirlah kemuliaan dan hormat yang satu dengan lainnya. Tempat di mana ketika Anda memasuki rumah yang sedang dalam kegelapan lalu seseorang akan berlari mengambil sebuah pelita bagi Anda. Tempat di mana saat Anda sedang menggigil kedinginan kemudian yang lainnya mengambil selimut, menutup Anda sambil merangkul Anda. Tempat di mana setiap tetesan airmata Anda memiliki makna dan takkan dibiarkan menetes sia-sia lalu jatuh ke bumi. Tempat di mana kegirangan dan sukacita Anda dirayakan bersama tanpa rasa iri dan dengki. Tempat di mana setiap tertawa bermakna dan takkan pernah dibiarkan seorangpun tertawa sendirian. Keluarga adalah tempat di mana setelah Anda menjadi letih, lelah, sedih, capek, cukup waktu bersuka di luar rumah maka Anda akan rindu untuk pulang kembali. Pulang kembali ke rumah. Selain, Pencipta Anda, maka tak ada yang mengasihi Anda lebih daripada keluarga Anda. Saat Anda bahagia dan berkecukupan, tetangga dan teman bergaul Anda akan menerima Anda apa adanya. Tapi saat Anda sedih dan butuh dimengerti keluarga Anda adalah orang pertama yang akan menerima Anda apa adanya dan bersama Anda. 


diambil dari buku "Belajar, Bukan Supaya Pintar"
Continue reading Belajar Dimulai dari Keluarga

Sunday, October 4, 2020

,

Review tulisan Pak Roni

 

review tulisan pendidikan di pedesaan

oleh: Grefer Pollo, S.P., M.Pd

Menjadi guru di desa mungkin bukan impian banyak orang sekalipun telah mendedikasikan diri sebagai guru. Ya, desa bukan kota meskipun kota adalah desa yang sudah maju. Menjadi guru di desa apakah sebuah tantangan atau penderitaan? Cara kita meresponnya adalah jawabannya.

Pandemic covid-19 ini semakin memberi dampak yang besar bagi kesulitan pembelajaran di daerah pedesaan terutama yang belum memiliki fasilitas dan kualitas teknologi informasi yang memadai.

Sebelum memasuki masa pandemic covid-19 ini beberapa kesulitan pembelajaran di sekolah-sekolah di daerah pedesaan sudah cukup memberatkan roda perjalanan dan kualitas pendidikan daerah pedesaan. Beberapa di antaranya adalah tantangan konektivitas jarak dari rumah-rumah siswa dan guru ke sekolah yang jauh, kesulitan menerima suplai listrik, dan akses internet. Belum lagi melihat ketersediaan sarana-prasarana di sekolah seperti toilet, perpustakaan, buku teks, alat peraga, dan sebagainya.

Selain hal sarana-prasarana di atas, kualifikasi guru, beban mengajar guru, kesejahteraan guru yang dipengaruhi oleh status guru sebagai PNS dan non-PNS turut memberi andil pada kondisi layanan pendidikan dan pengalaman belajar siswa. 


baca juga: https://halobelajarsesuatu.blogspot.com/2020/05/belajar-di-dari-rumah-teknologi.html

Dengan demikian pengalaman belajar yang minim yang didapatkan oleh siswa akan memberikan hasil belajar yang rendah. Hasil belajar yang rendah ini jika diakumulasi dengan tingkat pendidikan yang rendah yang dimiliki oleh orangtua siswa maka akan sulit membentuk wawaasan baru terhadap perubahan dan transformasi hidup bagi keluarga itu dan masyarakat sekitarnya.

Untuk memperbaiki kualitas layanan pendidikan di daerah pedesaan ini, perlu ada unsur kesengajaan dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas, kualifikasi dan ketrampilan guru, serta kemampuan manajerial kepala sekolah. 


baca juga: https://ronibaniblog.home.blog/2020/09/25/balada-gedung-sekolah/


Dari pihak sekolah, perlu membangun kolaborasi dan sinergi antara sekolahd an orangtua siswa demi mendukung pembelajaran yang baik di sekolah dan di rumah. Terutama menyikapi kondisi pandemic covid-19 ini di mana pembelajaran jarak jauh tidak dapat dilakukan maka pengawasan belajar siswa di rumah sangat membutuhkan kerja sama dari orangtua siswa.

Continue reading Review tulisan Pak Roni

Monday, August 17, 2020

,

Didiklah Mereka Sesuai Zaman dan Tantangannya!

 

ged pollo
Oleh: Grefer E. D. Pollo, S.P., M.Pd




Tantangan pendidikan masa kini

Sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan diikuti lahirnya organisasi PGRI pada tahun 1945, bangsa Indonesia terus berkomitmen membangun pendidikan demi tercapainya cita-cita luhur bangsa seperti yang termuat dalam pembukaan UUD 1945. 

Berbagai upaya dilakukan untuk maksud itu, salah satunya adalah adaptasi kurikulum terhadap tantangan zaman agar dapat mendekatkan lulusan kepada kebutuhan masyarakat dan kehidupan yang lebih baik. 

Akan tetapi, meski telah lebih dari 10 kali kurikulum berganti, pendidikan di Indonesia kini justru sedang menghadapi tantangan besar. 

Para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anak mereka dan biaya pendidikan yang makin tinggi. Siswa mengeluhkan kurang relevannya materi yang dipelajari dengan kenyataan sehari-hari. 

Para pemilik perusahaan mengeluhkan kurang berkualitasnya kompetensi pencari kerja. 

Masyarakat luas mengeluhkan cepatnya perubahan teknologi digital yang sulit dijangkau dan dipergunakan oleh mereka. 

Belum lagi ditemukan solusi yang tepat bagi berbagai permasalahan di atas, awal tahun 2020, Indonesia termasuk salah satu negara terdampak covid-19 yang memaksa sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat mesti berubah dan beradaptasi dengan model kehidupan baru.

Berbagai upaya sudah dikerahkan untuk meminimalisir paparan covid-19. Di antaranya adalah ide bekerja dari rumah, beribadah dari rumah, dan belajar dari rumah. 

Prasyarat dari penerapan ide tersebut adalah kebutuhan akan teknologi, sedangkan konsekuensi dari hal ini adalah menghadapi tantangan baru yaitu masih banyak siswa, orangtua siswa, dan guru yang belum melek teknologi, banyaknya daerah yang belum dijamah listrik dan jaringan internet yang memadai.


Menanggapi konsep belajar dari rumah ini, maka pada tanggal 16 Maret 2020 lalu, Kemendikbud menyebut beberapa platform pembelajaran dalam jaringan di Indonesia, seperti Google Indonesia, Kelas Pintar, Microsoft, Quipper, Ruangguru, Sekolahmu, dan Zenius. Platform apa yang akan dipergunakan dalam pembelajaran di sekolah dan bagaimana menerapkannya menjadi kebijakan sekolah bersama siswa dan orangtua siswa.

 

Transformasi pendidikan

Proses pendidikan tidak bisa lagi hanya berfokus kepada menyiapkan siswa untuk menguasai ketrampilan tertentu. Sebab jika demikian, maka saat teknologi baru sudah muncul maka sangat mungkin ketrampilan yang baru dikuasai itu sudah tidak dapat digunakan lagi. 

Pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki daya sintas (bertahan hidup dalam kondisi yang tidak diinginkan, dalam jangka waktu yang lama) saja, tetapi harus dikembangkan dengan berbasis kepada penguatan kapabilitas siswa. Apalagi di tengah dunia VUCA (Volatile: bergejolak, Uncertain: tidak pasti, Complex: kompleks, dan Ambiguity: tidak jelas) ini. 

Salah satu pilar transformasi pendidikan yang dapat dilakukan sekarang adalah melalui pembelajaran efektif dan menyenangkan melalui sistem dalam jaringan.

Pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dilakukan menggunakan berbagai metode belajar yang sesuai dengan gaya belajar siswa (audio, visual, kinestetis), pendekatan sosio-humanis-religius, menuju ketercapaian tujuan pembelajaran, dan holistis (intelligence quotient, emotional quotient, spiritual quotient, dan adversity quotient). 

Dalam mempersiapkan ini guru harus memperhatikan kualitas pembelajaran, waktu, kurikulum, media yang digunakan, disrupsi kehidupan sebagai akibat dari hadirnya perkembangan artificial intelligence (AI), big data, dan connectivity. 

Kesemuanya ini menuntut rekonstruksi dari pemikiran akan mengejar spesialisasi dini dan sekedar ketrampilan teknis-taktikal dari seorang siswa. 

Sejak awal seorang siswa mesti diajar akan pentingnya memiliki wawasan berpikir generalis, strategis, holistis, melalui pembelajaran yang interdisiplin dan transdisiplin. 

Oleh bantuan big data dan connectivity siswa harus diajar untuk memiliki kemampuan berpikir dan daya analitis-sintetis. Sebagai seorang manusia, siswa harus dipersiapkan untuk mengerjakan apa yang mesin tidak dapat lakukan.


baca juga: Belajar (di) dari Rumah (teknologi)


Selanjutnya sebagai institusi, melalui pelatihan atau tutorial, sekolah perlu menyiapkan guru dan siswa agar melek teknologi dan platform pembelajaran yang digunakan. 

Sekolah menetapkan jadwal pembelajaran dan mengkomunikasikan kepada guru, siswa, dan orangtua siswa metode pembelajaran synchronous learning (online chatting dan video call) dan asynchronous learning, dan desain pembelajaran menyenangkan melalui bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain seperti yang ada pada fitur-fitur pada platform yang digunakan. 

Fitur-fitur tersebut akan mendorong siswa terlibat secara aktif dan guru menjadi teman bermain bagi siswa. Hal ini sangat perlu agar guru dapat memahami dan memotivasi siswa untuk mencapai pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, dan perubahan karakter.

Dari sini dapat diketahui bahwa meskipun pembelajaran berlangsung dalam jaringan namun relasi antara guru dan siswa tetap menjadi hal yang utama. 

Karena itu, guru tidak hanya berfokus kepada materi yang akan diajar dan bagaimana siswa belajar tetapi juga perlu memahami kondisi siswa saat belajar. 

Misalnya, guru menanyakan kesehatan siswa, rasa aman dan nyaman siswa terhadap dirinya sendiri, keluarga dan orang-orang dekatnya, atau juga lingkungan eksternal, dan peduli kepada kebutuhan belajar siswa dalam jaringan seperti pasokan listrik dan internet.

Pembelajaran dalam jaringan bukanlah tatap muka langsung sehingga guru cukup sulit mengontrol keberadaan siswa dan proses belajar yang sedang dilakukannya. 

Oleh karena itu, batasan tertentu melalui rules and procedures perlu diatur oleh guru dan disepakati oleh siswa. 

Misalnya, siswa harus mengikuti pembelajaran dengan terarah menurut agenda belajar harian yang disampaikan, tata cara berpakaian saat belajar, dan tempat yang dipakai siswa untuk belajar dari rumah.

Jika siswa tidak mengikuti pembelajaran seperti seharusnya, maka sekolah akan menghubungi mereka setelah sesi pembelajaran selesai. 

Sementara belajar, siswa harus fokus dan tidak boleh melakukan chatting dengan teman atau melakukan hal lain yang tidak berkaitan dengan pembelajaran, dan saat menyalakan video, siswa tidak boleh melakukan gerakan tubuh atau lainnya yang tidak sesuai dengan apa yang sedang dipelajari.

Pembelajaran dalam jaringan yang efektif dan menyenangkan dapat menjadi langkah maju bagi pendidikan di Indonesia

 

baca juga: Penulis Buku Harus Tahu (ini), Supaya Bukunya Laku


Referensi

Cendekiawan, Y. L. (2019, Desember 18). Arah Transformasi Pendidikan. Retrieved from Media Indonesia: https://mediaindonesia.com/read/detail/278423-arah-transformasi-pendidikan. Diakses 17 Agustus 2020

Nn. (2015, April 4). Pengertian Pembelajaran Efektif Menurut Para Ahli. Retrieved from IDTesis: https://idtesis.com/pengertian-pembelajaran-efektif-menurut-para-ahli/. Diakses 17 Agustus 2020

Setyosari, P. (2014). MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN BERKUALITAS. Retrieved from Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran: http://journal2.um.ac.id/index.php/jinotep/article/view/2103#:~:text=Pembelajaran%20yang%20efektif%20dapat%20didefinisikan,)%20ganjaran%20dan%204)%20waktu. Diakses 17 Agustus 2020


Continue reading Didiklah Mereka Sesuai Zaman dan Tantangannya!

Monday, June 29, 2020

,

BUKU BARU: MENGAPA HARUS BODOH

buku baru
Sebuah buku baru yang membahas makna dan esensi pendidikan di dalam kehidupan ibarat sebuah sekolah. 

Pernahkan Anda membayangkan sisi-sisi tertentu dari isi dunia pendidikan formal yang disisir nuansa pembelajarannya, intensitas kontak komunikasi para stakeholder-nya, kemudian dikemas apik nan menggoda dengan karakter soscio-educare dan socio-religious? Fakta-fakta yang terjadi di sekolah dalam titik nada tertentu itulah yang telah tersentuh bagai titik-titik embun yang tiba dan menyiram selembar tisu. Anda sudah dapat memahami bagaimana jadinya tisu itu kemudian? Menyerap seluruh titik embun ke seluruh badannya, lalu ia akan lemas sambil menunggu datangnya angin pengering kelemasannya itu.

Apa yang saya nyatakan di atas merupakan deskripsi tentang isi buku tulisan Ged Pollo berikut ini. Anda tak akan berhenti membaca selama buku ini di tangan. Mengapa? Anda sendiri yang bagai tisu itu. Andalah yang akan terus menarik dan menghisap isi buku ini ke dalam benak olah pikir, disebabkan kerinduan Anda untuk segera mengetahui isi halaman berikutnya dan segera membacanya. Lalu, ketika Anda masih ada kerinduan untuk membaca, justru lembar terakhir hendak berkata, “Halo, telah selesai!” Saat itu Anda terkejut, dan mulai tanpa menunggu lebih lama angin kesegaran baru menerpa untuk berpikir dan berefleksi tentang segala hal yang baru saja Anda baca.

Ged Pollo telah memainkan jemari dan benak olah pikirnya pada sejumlah fakta yang dikompilasikan dengan pengetahuan keagamaan dan lingkungan sosial yang sederhana, namun menarik interpretasi dan improvisasi. Isi buku ini bagai irisan menu makanan tertentu yang sangat khas. Dari kekhasan ini, Anda akan dapat masuk dalam emosi yang turut dihantarkan dalam roh keinginan membaca dan mengetahui lebih dalam.

Dalam pada itu, kesederhanaan isi buku ini ada pada dialog-dialog yang sangat familiar di telinga kita, sekitar   apa yang terjadi di ruang-ruang kelas antarpara guru, siswa-siswi dan orang tua, serta pemangku kepentingan lainnya. Demikian juga yang terjadi di lingkungan di luar ruang-ruang kelas itu.

Ketika Ged Pollo bertanya, “Mengapa harus bodoh?” Tidakkah Anda akan tergoda untuk memberi jawaban? Ged Pollo sendiri melakukan paradoksi pada nuansa pembelajaran dimana interaksi yang kohesif antar guru-siswa mestinya dapat menunjukkan suatu kualitas personal pada siswa. Lembaga Pendidikan manapun jika hanya mampu sampai pada “membengkakkan” kepala siswanya dengan isian pengetahuan, ketrampilan dan seni tanpa menyeimbangkannya dengan rasa keimanan yang bersumber dari nilai-nilai religiousitas yang diyakininya, apakah itu akan membahagiakan dan menjadikannya pribadi yang cerdas?

Oleh karenanya, tidak harus bodoh. Kebodohan hanya milik mereka yang malas belajar, sebab mereka yang belajar dengan isian yang seimbang akan menunjukkan perubahan pada olah pikir, olah rasa, olah kata dan olah akta, dan terlebih lagi pada kecerdasan dan hikmat. Itulah kiranya yang menjadi harapan dari out put satu Lembaga Pendidikan formal pada semua jenjangnya. Dari sana mereka memberikan out come yang membanggakan.

Mari Membaca. Kiranya isi buku ini menginspirasi dan mengantarkan pada refleksi yang menggairahkan rasa orang tua, siswa dan guru dalam komunikasi yang menghidupkan dan menyemangati. Terima kasih telah memberikan kepercayaan ini pada saya untuk menuliskan Pengantar pada isi buku yang luar biasa ini. Tuhan memberkati usaha berliterasi yang menginjeksikan karakter religi agar kiranya pembacanya terberkati pula.


Lelogama, Juni 2020

Heronimus Bani
Guru SD, Penulis, Editor, Penerjemah Alkitab


Semua bisa menjadi guru dan orang tua, tapi tidak semua bisa menjembatani teori dan praktek kehidupan dalam memberikan pelajaran. Melalui buku ini saya juga diingatkan kembali bahwa sumber pengetahuan adalah Sang Pencipta dan bagaimana guru harus berada dalam terang terlebih dahulu sebelum menjadi pelita bagi siswa-siswi mereka.

Dyah Nova, pemerhati isu pendidikan

Continue reading BUKU BARU: MENGAPA HARUS BODOH

Friday, May 22, 2020

Belajar (di) dari Rumah (teknologi)




teknologi dalam belajar

oleh: Grefer Pollo, S.P., M.Pd

Sejak pandemi covid-19 melanda seluruh dunia pada akhir tahun 2019 hingga awal 2020, muncullah ide bekerja dari rumah, beribadah dari rumah, dan belajar dari rumah. Menanggapi konsep belajar dari rumah ini, maka pada tanggal 16 Maret 2020 lalu, Kemendikbud menyebut beberapa platform pembelajaran online atau daring di Indonesia, seperti Google Indonesia, Kelas Pintar, Microsoft, Quipper, Ruangguru, Sekolahmu, dan Zenius



Belajar (di) dari Rumah
Pada masa pandemi seperti sekarang ini, gagasan belajar dari rumah ramai dibicarakan dan dilakukan. Berbagai webinar dengan tema seputar belajar dari rumah bergulir dengan pemateri-pemateri berkelas doktor dan professor serta diikuti oleh ratusan bahkan belasan ribu peserta. Ada yang berbayar dan ada juga yang gratis.
Sebenarnya kapan ide belajar dari rumah atau belajar di rumah ini dilakukan di Indonesia?

Dalam sejarah pendidikan di Indonesia tercatat bahwa pada tahun 1922, Ki Hadjar Dewantara telah mendirikan dan menggerakkan Perguruan Taman Siswa di Jawa Tengah, tahun 1926, Muhammad Sjafei dengan INS Kayutanamnya di Padang Pariaman, Sumatera Barat, sedangkan KH Agus Salim lebih tertarik untuk mendidik anak-anaknya belajar secara otodidak di rumah. Di kalangan pemusik era tahun 1970-an, Said Kelana pun menjadi guru musik bagi anak-anaknya. Anak-anaknya, Idham Noorsaid, Iromy Noorsaid, Lydia Noorsaid, dan Imaniar Noorsaid tidak di sekolahkan seperti biasa, tetapi belajar jadi musisi sejak kecil di rumah.

Ide belajar (di) dari rumah seolah menjadi ide booming pada masa kini di tengah situasi seperti sekarang ini. Tetapi, jika kita melihat kembali pada ribuan tahun lalu, sebenarnya di zaman purba, manusia sudah melakukan belajar di rumah ini. Di zaman itu manusia hidup di goa-goa, lalu berpindah-pindah demi bertahan hidup. Mereka terus mendidik anak-anak mereka untuk bertahan hidup dan berbudaya. Di situlah keluarga menjadi sangat penting dan orangtua menjadi pendidik utama bagi anak-anak mereka jauh sebelum dunia menjadi modern mengenal pendidikan formal yang kemudian bagi sejumlah orang tertentu, justru sekolah itu menjadi candu dan mereproduksi kesenjangan sosial. Karena itu, pada masa kini banyak orangtua yang tidak lagi mempercayai sekolah atau pendidikan formal lagi karena berbagai alasan, salah satu alasannya karena setiap anak memiliki keistimewaan atau keunikannya masing-masing.

Seiring dengan terbukanya akses internet dan akses bersekolah ke luar negeri terutama Amerika Serikat, gagasan belajar di rumah mulai banyak dipraktekkan oleh banyak keluarga.

Pada beberapa negara maju, istilah sekolah rumah atau belajar di rumah (homeschooling) disebut dengan istilah home education, home based learning atau sekolah mandiri yang dilaksanakan secara individu maupun berkelompok. Tanggung jawab utamanya ada pada orangtua dan bukan guru, dan fenomena utamanya adalah belajar tidak di sekolah formal. Bentuk dari model belajar ini adalah school at home (belajar tapi di rumah) dan unschooling (tidak bersekolah). Sebagian besar praktik homeschooling berada di antara kedua rentang itu.

Salah satu perbedaan kuat antara model belajar di rumah (homeschooling) dengan sekolah formal adalah dalam hal peran orangtua. Pada sekolah formal peranan orangtua tidak begitu dominan, sebab ada sistem pendidikan formal yang mengatur dan peranan guru yang cukup dominan. Tetapi, orangtua masih terlibat secara aktif dan proaktif. Sedangkan, pada model homeschooling, peranan orangtua sangat dominan dan turut menentukan kualitas dan keberhasilan pendidikan anaknya.

Kelebihan belajar (di) dari rumah:
1.   Anak-anak lebih terjamin keamanannya dari kenakalan remaja seperti perkelahian, narkotika dan sejenisnya, jajanan yang kurang sehat, dan lain-lain. 
2. Memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang dewasa sebagai model.
3. Anak-anak punya ruang belajar yang sesuai dengan kondisi lingkungan sosialnya
4.   Anak-anak punya banyak waktu belajar sesuai dengan nilai dan budaya di rumah atau keluarganya

Kelemahan belajar (di) dari rumah:
1. Anak kurang memiliki ruang yang lebih untuk bersosialisasi dibanding sekolah (formal) dengan beragam orang dan karakter  
2.   Jika tidak dikelola dengan baik dan bijak, belajar (di) dari rumah akan mendorong anak untuk terisolasi dari lingkungan sosial  
3. Pembelajaran model kerja sama tim lebih rendah dibanding di sekolah formal
4.   Karena perlu perhatian ekstra dari orangtua (dibanding di sekolah formal) sehingga pekerjaan lain orangtua akan mudah ter”ganggu”.

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Juga dijelaskan sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (pasal 1).

Berdasarkan definisi di atas, maka meski dalam kondisi pandemi covid-19 ini pembelajaran mesti tetap berjalan dengan memastikan kualitasnya sambil menyesuaikan diri dengan keadaan realita dan tantangannya. Usaha pencapaian fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tetap dilakukan. Oleh sebab itu, fasilitas tekonologi yang ada menjadi salah satu ujung tombak atau media utama tetapi bukan tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Teknologi dalam Pembelajaran

google classroom
16 Maret 2020 lalu, pemerintah melalui kemdikbud menyebutkan bahwa aplikasi google classroom adalah salah satu dari beberapa aplikasi lain, seperti Google Indonesia, Kelas Pintar, Microsoft, Quipper, Ruangguru, Sekolahmu, dan Zenius yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran daring. Aplikasi ini dapat digunakan oleh guru dan siswa yang sudah memiliki akun google. Jika telah memiliki akun tersebut maka mereka dapat terhubung dalam pembelajaran. Google classroom sendiri bagian dari G Suite for Education yang dapat diakses juga menggunakan aplikasi seluler. Oleh karena bagian dari G Suite for Education, google classroom memiliki fitur-fitur Drive, Calender, Form, Jamboard, Hangouts Meet, Docs, Sheets, Slide, termasuk Gmail yang dapat dipakai dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran melalui google classroom Dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja dan bukan hanya di kelas. Google Classroom yang terhubung dengan  gmail, drive, hangout, youtube dan calendar membuat pembelajaran semakin mudah, menyenangkan, dan menarik serta atraktif. Setelah memiliki akun dan dapat akses ke akun google classroom, maka pemilik akun akan diperhadapkan pada tiga menu utama yaitu stream /aliran, classwork/aktifitas siswa dan people. Stream dimaksudkan untuk membuat pengumunan, berdiskusi atau melihat aliran tugas, kuis, dan materi yang sudah diberikan guru. Menu people dapat digunakan oleh guru untuk mengundang siswa dengan memberikan kode kelas. Guru yang bersangkutan juga dapat mengundang guru lain sebagai kolaborator mealui email. Aktivitas siswa atau classwork digunakan oleh guru untuk membuat soal tes, pretes, kuis, menggunggah materi dan mengadakan refleksi.

Kelebihan google classroom:
1.  Persiapan pembuatan akun Google Classroom mudah dilakukan demikian juga dengan persiapan pembelajarannya.
2.  Setelah guru sudah menyiapkan kelasnya dapat mengundang siswa serta asisten pengajar untuk masuk
3.    Pembelajaran dengan google classroom menghemat kertas dan waktu
4. Informasi, tugas, pertanyaan, dan penyajian materi dapat dibagi dalam halaman tugas kelas tersendiri, lalu memulai komunikasi, pengelolaan kelas, dan lain-lain di tempat yang sama
5.  Menggunakan google classroom kegiatan belajar mengajar menjadi lebih sederhana, menyenangkan, dan bermakna tanpa meniadakan kualitas pembelajaran serta meningkatkan kolaborasi antara guru dan siswa.
6. Pengajar dapat membuat tugas, mengirim pengumuman, dan memulai diskusi kelas secara langsung. Setiap siswa dapat melihat tugas di halaman tugas, di aliran kelas, atau di kalender kelas, dan untuk mendukung ini, alur komunikasi antara pengajar dengan murid atau antar-murid dibuat lebih efektif. Misalnya, antar siswa dapat berbagi materi serta berinteraksi dalam aliran kelas atau melalui email.
7.   Untuk mengontrol pengumpulan tugas siswa dan memberikan umpan balik kepada siswa, disiapkan fitur agar pengajar dapat melihat dengan cepat siapa siswa yang sudah dan belum menyelesaikan tugas, serta langsung memberikan nilai dan masukan real-time.
8.    Sekolah dan lembaga nonprofit mendapatkan Google Classroom sebagai layanan inti G Suite for Education dan G Suite for Nonprofits secara gratis.
9.    Setiap orang yang memiliki akun Google pribadi juga dapat menggunakan Classroom secara gratis.
10.Untuk organisasi, Google Classroom adalah layanan tambahan dalam produk G Suite seperti G Suite Enterprise atau G Suite Business.
11. Semua materi kelas otomatis disimpan dalam folder Google Drive.
12. Tak ada iklan dalam Google Classroom dan konten pengguna atau data siswa tidak digunakan untuk tujuan periklanan
13.Perangkat yang Mendukung Google Classroom dapat diakses menggunakan internet di komputer dengan browser apa pun, seperti Chrome, Firefox, Internet Explorer, termasuk Safari.



zoom
Aplikasi zoom menjadi salah satu pilihan yang digunakan untuk melakukan online meeting akibat kebijakan bekerja dari rumah sebagai dampak covid-19. Aplikasi ini sendiri telah didirikan sejak 2011 di Amerika Serikat oleh Eric Yuan. Sejak itu, telah digunakan oleh berbagai organisasi dan perusahaan untuk mengakomodir para karyawan dari jarak jauh. Komunikasi melalui zoom adalah komunikasi audio video yang dapat digunakan dalam berbagai perangkat seluler, desktop, telepon, dan sistem ruang. Kebanyakan para pengguna menggunakan zoom untuk conference meeting audio dan video.

Kelebihan dalam fitur-fitur zoom:
1.  Aplikasi zoom telah disokong dengan high definition (HD) sehingga kualitas gambar dan audio yang dihasilkan sangat baik. Aplikasi Zoom juga dapat menampung 1000 peserta dan 49 video di layar.
2. Zoom memiliki alat kolaborasi bawaan untuk berbagi layar di antara beberapa pengguna dan menulis catatan pertemuan
3.    Secara keamanan terjamin karena zoom telah disokong dengan end-to-end encryption untuk seluruh rapat yang telah diagendakan melalui aplikasi Zoom. Selain itu ada pula perlindungan kata sandi hingga keamanan pengguna menjadi lebih aman.
4. Rekaman rapat yang dilakukan dengan Zoom dan menyimpanya di perangkat masing-masing yang digunakan atau pada akun cloud
5. Fitur penjadwalan juga tersedia sehingga penjadwalan dapat dilakukan dengan mudah.
6. Mengobrol dengan grup dapat juga dilakukan tanpa kerumitan. Riwayat percakapan mudah dicari, berbagi file terintegrasi, dan arsip dapat disimpan selama sepuluh tahun.

edmodo
Nic Borg dan Jeff O'Hara, dua orang yang mencintai pendidikan dan mendirikan edmodo pada tahun 2008 dengan tujuan awal mengembangkan ruang privasi yang memungkinkan guru, siswa, dan sekolah agar diantara satu dengan yang lain lebih terhubung namun tetap menjaga murid aman dan terlindungi. Jadinya Edmodo, sebuah perusahaan teknologi pendidikan yang menawarkan alat komunikasi, kolaborasi, dan pembinaan untuk guru dan sekolah secara gratis. Di dalam jaringan Edmodo guru dapat berbagi konten, mendistribusikan kuis, tugas, baik dalam bentuk teks, gambar, link, audio, serta video, dan mengelola komunikasi dengan siswa, kolega, dan orang tua. Menurut pendirinya, edmodo memiliki beberapa kelebihan, seperti:
1.    Akses Mobile - edmodo dapat diakses dimana saja dan kapan saja. Artinya, pembelajaran dapat terjadi di mana saja dan kapan saja menggunakan gadget yang dimiliki.
2.   Management kelas yang lebih mudah– melalui edmodo, kelas dapat dengan mudah ditata, membuat kelompok belajar, memberikan pekerjaan rumah, penilaian setiap individu, penanggalan dan perpustakaan.
3. Manfaat area/kota – edmodo memberikan berbagai kemudahan untuk menghubungkan sekolah dalam wilayah yang diinginkan sehingga tercipta komunikasi efektif dan tentu administrator yang bertugas mengaturnya.

Fitur-Fitur Edmodo
Assignment
Digunakan oleh guru untuk memberikan penugasan kepada siswa. Dalam fitur tersedia waktu deadline dan attach file. Siswa dapat mengirimkan file kepada guru dalam bentuk file dn setelah itu menekan tombol “turn in” yang menandakan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas mereka. Pada bagian ini juga guru dapat mengoreksi dan memberikan skor kepada siswa yang langsung dapat dilihat oleh siswa karena secara otomatis akan tersimpan dalam fitur gradebook.

File and Links
Fitur ini dapat dipakai oleh para guru dan siswa untuk mengirimkan pesan pada grup kelas, siswa atau guru lainnya dengan melampirkan file dan link. Format file yang dilampirkan berlaku untuk semua jenis ekstensi seperti .doc, .pdf, .ppt, .xls, dll.

 Quiz
Jika guru ingin memberikan evaluasi secara dalam jaringan dengan menggunakan model kuis, dapat menggunakan fitur ini. Jenis kuis yang dapat diberikan berupa pilihan ganda, isian singkat, maupun soal uraian. Fitur ini tekah datur sehingga hanya guru yang dapat membuat kuis, sedangkan siswa hanya mengerjakannya saja. Informasi tentang kuis yang akan dibuat, batas waktu pengerjaan, judul kuis dan tampilan kuis juga disediakan sehingga membantu siswa dalam mengerjakannya. Untuk model soal pilihan ganda dan isian singkat, perhitungan skornya dilakukan secara otomatis sedangkan, untuk model soal uraian harus diperiksa oleh guru secara manual.

Polling
Fitur ini hanya dapat dibuat oleh guru untuk dibagikan kepada siswa umumnya, para guru menggunakan poling untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan.

Gradebook
Untuk mencatat nilai siswa atas tugas (assignment) atau kuis yang sudah diberikan, guru dapat menggunakan fitur ini yang dapat diisi secara manual atau otomatis. Tugas dan kuis dapa dinilai secara otomatis. Penilaian pada gradebook dapat di-export menjadi file.csv. Pengaturan penilaian hasil belajar seluruh siswa dapat diatur oleh guru pada fitur ini. Tampilan fitur ini pada siswa hanya berupa rekapan nilai dalam bentuk grafik dan penilaian langsung.

Library
Seeprti namanya, fitur ini dapat digunakan oleh guru untuk menyimpan beragam konten pembelajarannya baik berupa file materi presentasi, sumber referensi, gambar, video, audio dan konten digital lainnya. Semua file itu dapat dibagikan kepada siswa secara perorangan ataupun grup dan siswa juga dapat menyimpan file yang dibagikna guru ke dalam library-nya.

Award Badges
Jika guru ingin memberikan apresiasi kepada siswa secara individu ataupun kelompok, dapat menggunakan fitur ini.  

Parents Codes
Mengingat bahwa orangtua mempunyai andil besar dalam pendidikan anak, maka edmodo menyediakan fitur bagi keterlibatan orangtua dalam pembelajaran anak. Untuk orangtua dapat mengaksesnya, guru akan memberikan kode kepada orangtua siswa.

Selain beberapa beberapa catatan kelebihan di atas, edmodo memiliki beberapa kekurangan seperti:
1.  Tidak memiliki akses terintegrasi dengan sosial media, seperti twitter, facebook, atau google plus. Hal seperti ini cukup menyulitkan karena banyak pengguna internet akan terbantu dengan fitur yang saling memiliki koneksi dengan media sosial lainnya.
2.    Bahasa program yang ada hanya dalam bahasa Inggris sehingga bagi siswa dan guru yang masih kesulitan dalam berbahasa Inggirs akan hadapi kendala dalam penggunaanya.
3.    Belum ada fitur video conference sehingga jika siswa atau guru berhalangan hadir maka tidak dapat dilakukan e-learning sinkron atau pembelajaran online (dalam jaringan).


Google Trends
Google menyediakan sebuah fitur yang mempresentasikan grafik dari statistik pencarian web bernama google trends. Pada google trends, pengguna dapat mengetahui berapa banyak orang yang telah mencari sebuah kata kunci dan di daerah atau wilayah asal mana saja orang-orang yang mencari kata kunci itu. Bagi seorang blogger, google trends bisa menjadi alternative yang sangat baik untuk mencari topik-topik yang terbaik untuk ditulis.

Pada google trends juga akan terlihat topik-topik atau berita-berta sehubungan topik-topik yang popular pada pencarian untuk waktu tertentu. Statistik tersebut dapat menampilkan kota atau wilayah atau bahasa tertentu. Pengguna yang menggunakan google trends dapat juga melihat dan membandingkan topik-topik yang dicari dengan topik-topik yang diminati di seluruh dunia dan di wilayah mana topik-topik itu memiliki frekuensi pencarian tertinggi dan juga intensitas suatu topik muncul di google news.


Statistik Google Trends

Berikut ini adalah data statistik google trends untuk penggunaan aplikasi google classroom, edmodo, dan zoom pada beberapa negara per 9 Mei 2020.

























Makna edukasi
Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan edukasi sebagai sesuatu yang berkaitan dengan perihal pendidikan yang di dalamnya terjadi proses pengubahan kehidupan seseorang akibat terjadinya transformasi sikap dan perilaku seseorang atau kelompok sehingga bertumbuh ke arah pendewasaan diri melalui upaya pendidikan, pengajaran, pelatihan, dan lainlain. Oleh sebab itu, dampak yang seharusnya dihasilkan dari sebuah edukasi adalah perubahan tingkat kecerdasan ke arah yang lebih baik, terjadi transformasi perilaku dan karakter, adanya pengendalian diri, ketrampilan dan kreativitas yang meningkat khususnya dalam bidang yang dipelajari dan ditekuni.



Peranan Orangtua, Lingkungan, dan Teknologi


Orangtua
Orangtua adalah pendidik utama anak, merekalah yang melahirkan, memperanakkan, dan mengajari anak mereka berjalan, makan, minum, bertanggung jawab, dan sebagainya, sebab itu, peranan penting dalam pendidikan anak ada dalam tanggung jawab orangtua. Dengan demikian, dalam proses pembelajaran dari rumah, orangtua kembali mengambil porsi besar dari pembelajaran dan pendidikan anaknya itu. Anak berada di rumah berarti berada dalam pengawasan orangtua secara langsung di dalam segala aktivitas anaknya itu.

Lingkungan
Dalam proses pembelajaran seorang anak tidak terlepas dari pengaruh dan eksistensi lingkungan belajarnya. Anak berada di rumah berarti dia akan mendapat pengaruh lingkungan sosial vertikal dan horisontal. Vertikal artinya relasi sosial dengan orang yang lebih tua dari dia dan horisontal berarti yang sebaya dengan dia. Keadan ini akan sangat berpengaruh dalam kedewasaan pemikiran, perkataan, dan perilakunya serta berkembang menurut usia dan psikologinya.

Teknologi  
Dalam proses pembelajaran dari rumah dan jarak jauh, teknologi sangat berperan penting dan memberikan pengaruh yang besar. Meski demikian, peranan teknologi seharusnya tidak menggantikan peranan dan kehadiran guru dan orangtua. Sebab, teknologi hanyalahalat untuk mencapai tujuan pembelajaran dan bukan tujuan itu sendiri.

Kreativitas dan Inovasi
Dengan demikian, keativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran jarak jauh atau belajar dari rumah membutuhkan dan mengharuskan adanya kreativitas dan inovasi dari sekolah dalam hal ini guru dan orangtua yang mendampingi anaknya belajar. Kedua hal ini akan membuat anak tidak bosan dalam belajar serta membantu untuk memahami apa yang dipelajari, demikian juga guru dan orangtua akan sangat terbantu dalam menguasai dan menggunakan teknologi yang ada dalam pembelajarannya. Untuk maksud ini, maka tidak saja siswa atau anak yang perlu menguasai teknologi dalam mengikuti pembelajaran tetapi guru dan orangtuapun harus trampil menggunakannya.

R e f e r e n s i



Continue reading Belajar (di) dari Rumah (teknologi)