Angin pagi menyapu padang di sekitar Betlehem, mengibaskan jubah para gembala yang berjaga di sekitar Migdal Eder.
Menara batu
itu berdiri sunyi, mengawasi kawanan domba yang merumput dengan tenang. Di
dalamnya, hanya domba-domba tanpa cacat yang boleh dikandangkan karena dipersiapkan
untuk korban suci di Bait Allah.
Elam, gembala muda yang baru ditugaskan, memandangi seekor domba kecil yang pincang, bulunya kusut, matanya redup. Ia tahu domba itu tak layak.
Tapi ia juga tahu bahwa domba itu milik pamannya, Malakh, yang
diam-diam menyelundupkan domba cacat ke dalam kandang kudus demi keuntungan
pribadi.
“Elam,” bisik Malakh suatu malam, “tak ada yang akan
tahu. Domba itu akan bercampur. Kita dapat bagian dari korban, dan tak seorang
pun akan curiga.”
Elam ragu. Ia telah belajar bahwa setiap domba di Migdal Eder harus sempurna karena mereka melambangkan pengharapan Israel, korban yang akan menebus dosa.
Tapi tekanan keluarga dan rasa takut membuatnya
bungkam.
Hingga suatu pagi, seorang tua datang. Jubahnya putih, matanya tajam, dan langkahnya ringan meski usia tampak menekuk punggungnya. Ia memeriksa kandang, satu per satu.
Ketika ia tiba di domba pincang itu, ia
berhenti.
“Siapa yang membawa ini?” tanyanya, suaranya tenang
tapi tegas.
Malakh melangkah maju, senyum tipis di wajahnya.
“Mungkin tersesat, tuan. Kami akan keluarkan.”
Tapi orang tua itu menatap Elam. “Kamu tahu
kebenarannya.”
Elam menunduk. Di dalam dadanya, suara yang selama ini
ia bungkam mulai berseru. Ia mengangkat wajahnya dan berkata, “Domba itu dibawa
dengan sengaja. Ia cacat. Ia tidak layak.”
Keheningan menyelimuti padang. Malakh memucat. Orang
tua itu mengangguk pelan.
“Domba yang cacat tak bisa menggantikan yang kudus.
Tapi pengakuanmu, Elam, adalah korban yang lebih berharga.”
Malakh disingkirkan dari tugasnya. Elam, meski gemetar, diberi tanggung jawab menjaga domba-domba kudus.
Dan pada malam Natal,
ketika langit terbuka dan para malaikat bernyanyi, Elam berdiri di bawah Migdal
Eder, menyaksikan kelahiran Anak Domba Allah yang sempurna, tanpa cacat, dan
lahir di antara domba-domba yang ia jaga.
Ia menangis. Bukan karena takut, tapi karena tahu:
pengorbanan sejati bukan hanya tentang domba, tapi tentang keberanian menjaga
kekudusan di tengah godaan.
Apa itu Migdal Eder?
Migdal Eder adalah menara kawanan domba di Betlehem
yang secara simbolis menghubungkan nubuat Natal dengan pengorbanan Anak Domba
Allah.
Tempat ini diyakini sebagai lokasi khusus di mana
domba-domba yang kelak dipersembahkan di Bait Allah dipelihara, sehingga
kelahiran Yesus di kawasan itu menjadi tanda yang indah: Sang Mesias lahir di
tengah kawanan domba, untuk menjadi korban penebusan bagi dunia.
Bayangkan sebuah menara sederhana di padang sekitar Betlehem, disebut Migdal Eder —“Menara Kawanan Domba”.
Di sanalah para gembala
menjaga domba-domba yang dipilih khusus untuk korban di Bait Allah Yerusalem.
Tempat ini bukan sekadar kandang biasa, melainkan ruang kudus yang menyiapkan
persembahan bagi Tuhan.
Ketika malaikat menyampaikan kabar kelahiran Kristus kepada para gembala, tidak jauh dari menara ini, pesan itu menjadi simbol surgawi: Anak Domba Allah lahir di tengah kawanan domba, di lokasi yang sejak dahulu menyiapkan korban suci.
Natal bukan hanya perayaan kelahiran,
tetapi juga pengumuman awal tentang pengorbanan Yesus di kayu salib. Sebuah
kisah yang sudah digambarkan sejak Migdal Eder berdiri.
Mikha 5
Kitab Mikha pasal 5 menubuatkan: “Tetapi engkau,
hai Betlehem Efrata, yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan
bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel...” (Mikha 5:2).
- Betlehem Efrata adalah lokasi Migdal
Eder.
- Nubuat ini menegaskan bahwa dari tempat kawanan
domba itu akan lahir Sang Raja, yang sekaligus menjadi Anak Domba Allah.
- Sejarah mencatat bahwa Migdal Eder digunakan pada
abad pertama sebagai tempat pengurungan domba korban. Dengan demikian,
Mikha 5 bukan hanya nubuat tentang kelahiran, tetapi juga tentang fungsi
pengorbanan yang kelak digenapi Yesus.
Sejarah dan Makna
- Asal-usul: Migdal Eder disebut
pertama kali dalam Kejadian 35:21, ketika Yakub mendirikan kemahnya
setelah Rahel wafat.
- Fungsi di zaman Bait Allah:
Menara ini menjadi tempat pengawasan domba korban, sekitar 1,6 km dari
Yerusalem.
- Makna Natal: Yesus lahir di kawasan
yang sama, menegaskan bahwa Ia adalah korban sejati, bukan lagi
domba yang dipersembahkan berulang kali.
- Makna Injil: Natal dan Paskah saling
terhubung: kelahiran di Migdal Eder menunjuk pada salib, di mana Anak
Domba Allah menyerahkan diri-Nya.
Natal di Migdal Eder
Ini adalah kisah yang lembut: gembala sederhana, domba-domba yang tenang, dan langit yang terbuka dengan nyanyian malaikat. Di tengah kesederhanaan itu, lahirlah Sang Mesias.
Seakan Allah berbisik,
“Lihatlah, Anak Domba-Ku ada di sini.” Bandingkan dengan perkataan Yohanes
Pembaptis dalam Yohanes 1:36: "Lihatlah
Anak domba Allah!.
Migdal Eder mengingatkan kita bahwa keselamatan
lahir di tempat yang sederhana, namun dengan tujuan yang agung: Yesus
datang bukan hanya untuk lahir, tetapi untuk mati dan bangkit, agar dunia
memiliki hidup yang kekal.
Migdal Eder adalah jembatan antara nubuat Mikha 5,
kelahiran Yesus di Betlehem, dan pengorbanan-Nya sebagai Anak Domba Allah.
Natal bukan sekadar perayaan kelahiran, melainkan awal
dari karya penebusan yang sudah dirancang sejak menara kawanan domba itu
berdiri.
Adventus dan Migdal Eder
Adventus adalah masa penantian, persiapan, dan
pengharapan akan kedatangan Kristus. Migdal Eder, “Menara Kawanan Domba”,
menjadi simbol yang sangat kuat dalam konteks ini:
- Penantian Mesias: Sama
seperti gembala di Migdal Eder menunggu domba yang siap untuk korban, umat
Tuhan dalam Advent menanti Sang Mesias yang akan menjadi korban sejati.
- Kelahiran dan Pengorbanan:
Natal bukan hanya tentang bayi di palungan, tetapi tentang Anak Domba
Allah yang lahir untuk diserahkan. Advent mengingatkan kita bahwa
kelahiran Yesus di Betlehem sudah mengarah pada salib.
- Nubuat Mikha 5: Mikha menubuatkan bahwa
dari Betlehem akan lahir seorang Raja. Advent adalah masa kita menunggu
penggenapan nubuat itu, sama seperti Israel menanti di bawah bayang-bayang
Migdal Eder.
Catatan Lain Mengenai Migdal Eder dan Hari Natal
Banyak kritikan sering diarahlan kepada peristiwa
hadirnya para gembala di Padang Efrata di hari Natal: mungkinkah ada kawanan
domba yang digembalakan di padang pada waktu malam di musim dingin?
Peneguhan oleh catatan-catan sejarah gereja kuno maupun literatur rabbinik
Yahudi memaksudkan bahwa “padang gembala” itu ternyata bukan padang gembala
biasa.
Sejarawan Eusebius dari Kaisaria (265-340) mengatakan bahwa tempat itu berkaitan dengan מִגְדַּל־עֵ֗דֶר ”Migdal Eder” (Menara Kawanan Domba), yang terletak seribu kaki dari Betlehem.
Di sinilah tempat para
gembala menerima berita kelahiran Yesus.
Dalam Kej. 35:16-22 dikisahkan tentang kematian Rahel pada waktu melahirkan Benyamin, yang kemudian dikuburkan di jalan ke Efrata, yaitu di Betlehem.
Dari situ Yakub menuju Miqdal Eder dan memasang kemahnya di
situ, sebagai tempat Raja Mesiah akan menyatakan diri-Nya pada hari-hari akhir.
Jadi, domba-domba dalam Lukas 2:8 bukan binatang
gembalaan biasa, tetapi domba-domba ini dipersiapkan sebagai kurban untuk Bait
Suci, yang dijaga oleh gembala-gembala yang khusus menurut peraturan para
rabbi, seperti tercatat dalam Talmud.
Menurut Talmud, ada 2 jenis binatang yang digembalakan: (1) אלו הן בייתות “elu hen bayītot”, yaitu ternak piaraan khusus yang dikeluarkan mulai pagi hari untuk merumput di padang yang terletak di batas kota dan kembali ke kota pada malam hari; (2) אלו הן מדבריות “Elu hen midbariyot”, yaitu ternak yang digembalakan di padang.
Jenis ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu (a)
ternak yang digembalakan di padang pada waktu Paskah, merumput di padang siang
dan malam, dan dimasukkan lagi ke kandang waktu hujan pertama, dan (b) ternak
yang keluar merumput di padang dan tidak masuk ke area yang ditentukan, baik
pada musim panas maupun pada musim dingin.
Catatan Lukas 2:8 merujuk kepada domba-domba khusus
untuk upacara korban yang digembalakan di padang tertutup, dan domba-domba
tersebut dilepaskan di sana, baik pada musim panas maupun musim hujan.
Faktanya, Bait Suci selalu mempunyai persediaan
domba-domba sepanjang tahun, karena tidak ada upacara Yahudi yang tanpa kurban
binatang. Dalam lingkaran tahun liturgis Yahudi, perayaan yang jatuh pada 25
Kislev hingga 2 Tevet (Desember/Januari) adalah Perayaan Hanukkah (Penahbisan
Bait Suci).
Selain itu, kita juga harus melihat geografis Israel secara keseluruhan. Hanya di wilayah Israel utara biasanya salju turun dari gunung Hermon setiap musim dingin.
Sedangkan Bethelem Efrata, tempat Malaikat itu bertemu dengan para gembala, bukan wilayah turunnya salju. Wilayah Israel selatan terdiri dari gurun, karena itu bulan Desember suhu Bethelehem hanya berkisar 57-42 derajat Fahrenheit, atau sekitar 13,8 sampai 5,5 derajat Celcius.
Pada suhu tertentu yang disebut titik beku, yaitu 0° Celsius, 32° Fahrenheit, barulah salju bisa turun. Karena itu, tidak ada salju di Betlehem, kecuali pada saat-saat tertentu turun salju tipis kiriman dari wilayah utara.
Sumber: MIGDAL
EDER, NATAL DAN MITOS BETLEHEM BERSALJU - SarapanPagi Biblika Ministry
0 comments:
Post a Comment