Monday, December 15, 2025

Migdal Eder - Tempat Khusus Bagi Domba Kurban Pilihan

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Angin pagi menyapu padang di sekitar Betlehem, mengibaskan jubah para gembala yang berjaga di sekitar Migdal Eder. 

Menara batu itu berdiri sunyi, mengawasi kawanan domba yang merumput dengan tenang. Di dalamnya, hanya domba-domba tanpa cacat yang boleh dikandangkan karena dipersiapkan untuk korban suci di Bait Allah.

Elam, gembala muda yang baru ditugaskan, memandangi seekor domba kecil yang pincang, bulunya kusut, matanya redup. Ia tahu domba itu tak layak. 

Tapi ia juga tahu bahwa domba itu milik pamannya, Malakh, yang diam-diam menyelundupkan domba cacat ke dalam kandang kudus demi keuntungan pribadi.

“Elam,” bisik Malakh suatu malam, “tak ada yang akan tahu. Domba itu akan bercampur. Kita dapat bagian dari korban, dan tak seorang pun akan curiga.”

Elam ragu. Ia telah belajar bahwa setiap domba di Migdal Eder harus sempurna karena mereka melambangkan pengharapan Israel, korban yang akan menebus dosa. 

Tapi tekanan keluarga dan rasa takut membuatnya bungkam.

Hingga suatu pagi, seorang tua datang. Jubahnya putih, matanya tajam, dan langkahnya ringan meski usia tampak menekuk punggungnya. Ia memeriksa kandang, satu per satu. 

Ketika ia tiba di domba pincang itu, ia berhenti.

“Siapa yang membawa ini?” tanyanya, suaranya tenang tapi tegas.

Malakh melangkah maju, senyum tipis di wajahnya. “Mungkin tersesat, tuan. Kami akan keluarkan.”

Tapi orang tua itu menatap Elam. “Kamu tahu kebenarannya.”

Elam menunduk. Di dalam dadanya, suara yang selama ini ia bungkam mulai berseru. Ia mengangkat wajahnya dan berkata, “Domba itu dibawa dengan sengaja. Ia cacat. Ia tidak layak.”

Keheningan menyelimuti padang. Malakh memucat. Orang tua itu mengangguk pelan.

“Domba yang cacat tak bisa menggantikan yang kudus. Tapi pengakuanmu, Elam, adalah korban yang lebih berharga.”

Malakh disingkirkan dari tugasnya. Elam, meski gemetar, diberi tanggung jawab menjaga domba-domba kudus. 

Dan pada malam Natal, ketika langit terbuka dan para malaikat bernyanyi, Elam berdiri di bawah Migdal Eder, menyaksikan kelahiran Anak Domba Allah yang sempurna, tanpa cacat, dan lahir di antara domba-domba yang ia jaga.

Ia menangis. Bukan karena takut, tapi karena tahu: pengorbanan sejati bukan hanya tentang domba, tapi tentang keberanian menjaga kekudusan di tengah godaan.

 

Apa itu Migdal Eder?

Migdal Eder adalah menara kawanan domba di Betlehem yang secara simbolis menghubungkan nubuat Natal dengan pengorbanan Anak Domba Allah.

Tempat ini diyakini sebagai lokasi khusus di mana domba-domba yang kelak dipersembahkan di Bait Allah dipelihara, sehingga kelahiran Yesus di kawasan itu menjadi tanda yang indah: Sang Mesias lahir di tengah kawanan domba, untuk menjadi korban penebusan bagi dunia.

Bayangkan sebuah menara sederhana di padang sekitar Betlehem, disebut Migdal Eder —“Menara Kawanan Domba”. 

Di sanalah para gembala menjaga domba-domba yang dipilih khusus untuk korban di Bait Allah Yerusalem. Tempat ini bukan sekadar kandang biasa, melainkan ruang kudus yang menyiapkan persembahan bagi Tuhan.

Ketika malaikat menyampaikan kabar kelahiran Kristus kepada para gembala, tidak jauh dari menara ini, pesan itu menjadi simbol surgawi: Anak Domba Allah lahir di tengah kawanan domba, di lokasi yang sejak dahulu menyiapkan korban suci. 

Natal bukan hanya perayaan kelahiran, tetapi juga pengumuman awal tentang pengorbanan Yesus di kayu salib. Sebuah kisah yang sudah digambarkan sejak Migdal Eder berdiri.

 

Mikha 5

Kitab Mikha pasal 5 menubuatkan: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel...” (Mikha 5:2).

  • Betlehem Efrata adalah lokasi Migdal Eder.
  • Nubuat ini menegaskan bahwa dari tempat kawanan domba itu akan lahir Sang Raja, yang sekaligus menjadi Anak Domba Allah.
  • Sejarah mencatat bahwa Migdal Eder digunakan pada abad pertama sebagai tempat pengurungan domba korban. Dengan demikian, Mikha 5 bukan hanya nubuat tentang kelahiran, tetapi juga tentang fungsi pengorbanan yang kelak digenapi Yesus.

 

Sejarah dan Makna

  • Asal-usul: Migdal Eder disebut pertama kali dalam Kejadian 35:21, ketika Yakub mendirikan kemahnya setelah Rahel wafat.
  • Fungsi di zaman Bait Allah: Menara ini menjadi tempat pengawasan domba korban, sekitar 1,6 km dari Yerusalem.
  • Makna Natal: Yesus lahir di kawasan yang sama, menegaskan bahwa Ia adalah korban sejati, bukan lagi domba yang dipersembahkan berulang kali.
  • Makna Injil: Natal dan Paskah saling terhubung: kelahiran di Migdal Eder menunjuk pada salib, di mana Anak Domba Allah menyerahkan diri-Nya.

 

Natal di Migdal Eder

Ini adalah kisah yang lembut: gembala sederhana, domba-domba yang tenang, dan langit yang terbuka dengan nyanyian malaikat. Di tengah kesederhanaan itu, lahirlah Sang Mesias. 

Seakan Allah berbisik, “Lihatlah, Anak Domba-Ku ada di sini.” Bandingkan dengan perkataan Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 1:36: "Lihatlah Anak domba Allah!. 

Migdal Eder mengingatkan kita bahwa keselamatan lahir di tempat yang sederhana, namun dengan tujuan yang agung: Yesus datang bukan hanya untuk lahir, tetapi untuk mati dan bangkit, agar dunia memiliki hidup yang kekal.

Migdal Eder adalah jembatan antara nubuat Mikha 5, kelahiran Yesus di Betlehem, dan pengorbanan-Nya sebagai Anak Domba Allah.

Natal bukan sekadar perayaan kelahiran, melainkan awal dari karya penebusan yang sudah dirancang sejak menara kawanan domba itu berdiri.


Adventus dan Migdal Eder

Adventus adalah masa penantian, persiapan, dan pengharapan akan kedatangan Kristus. Migdal Eder, “Menara Kawanan Domba”, menjadi simbol yang sangat kuat dalam konteks ini:

  • Penantian Mesias: Sama seperti gembala di Migdal Eder menunggu domba yang siap untuk korban, umat Tuhan dalam Advent menanti Sang Mesias yang akan menjadi korban sejati.
  • Kelahiran dan Pengorbanan: Natal bukan hanya tentang bayi di palungan, tetapi tentang Anak Domba Allah yang lahir untuk diserahkan. Advent mengingatkan kita bahwa kelahiran Yesus di Betlehem sudah mengarah pada salib.
  • Nubuat Mikha 5: Mikha menubuatkan bahwa dari Betlehem akan lahir seorang Raja. Advent adalah masa kita menunggu penggenapan nubuat itu, sama seperti Israel menanti di bawah bayang-bayang Migdal Eder.

 

Catatan Lain Mengenai Migdal Eder dan Hari Natal

Banyak kritikan sering diarahlan kepada peristiwa hadirnya para gembala di Padang Efrata di hari Natal: mungkinkah ada kawanan domba yang digembalakan di padang pada waktu malam di musim dingin?
Peneguhan oleh catatan-catan sejarah gereja kuno maupun literatur rabbinik Yahudi memaksudkan bahwa “padang gembala” itu ternyata bukan padang gembala biasa.

Sejarawan Eusebius dari Kaisaria (265-340) mengatakan bahwa tempat itu berkaitan dengan מִגְדַּל־עֵ֗דֶר ”Migdal Eder” (Menara Kawanan Domba), yang terletak seribu kaki dari Betlehem. 

Di sinilah tempat para gembala menerima berita kelahiran Yesus.

Dalam Kej. 35:16-22 dikisahkan tentang kematian Rahel pada waktu melahirkan Benyamin, yang kemudian dikuburkan di jalan ke Efrata, yaitu di Betlehem. 

Dari situ Yakub menuju Miqdal Eder dan memasang kemahnya di situ, sebagai tempat Raja Mesiah akan menyatakan diri-Nya pada hari-hari akhir.

Jadi, domba-domba dalam Lukas 2:8 bukan binatang gembalaan biasa, tetapi domba-domba ini dipersiapkan sebagai kurban untuk Bait Suci, yang dijaga oleh gembala-gembala yang khusus menurut peraturan para rabbi, seperti tercatat dalam Talmud.

Menurut Talmud, ada 2 jenis binatang yang digembalakan: (1) אלו הן בייתות “elu hen bayītot, yaitu ternak piaraan khusus yang dikeluarkan mulai pagi hari untuk merumput di padang yang terletak di batas kota dan kembali ke kota pada malam hari; (2) אלו הן מדבריות “Elu hen midbariyot”, yaitu ternak yang digembalakan di padang. 

Jenis ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu (a) ternak yang digembalakan di padang pada waktu Paskah, merumput di padang siang dan malam, dan dimasukkan lagi ke kandang waktu hujan pertama, dan (b) ternak yang keluar merumput di padang dan tidak masuk ke area yang ditentukan, baik pada musim panas maupun pada musim dingin.

Catatan Lukas 2:8 merujuk kepada domba-domba khusus untuk upacara korban yang digembalakan di padang tertutup, dan domba-domba tersebut dilepaskan di sana, baik pada musim panas maupun musim hujan.

Faktanya, Bait Suci selalu mempunyai persediaan domba-domba sepanjang tahun, karena tidak ada upacara Yahudi yang tanpa kurban binatang. Dalam lingkaran tahun liturgis Yahudi, perayaan yang jatuh pada 25 Kislev hingga 2 Tevet (Desember/Januari) adalah Perayaan Hanukkah (Penahbisan Bait Suci).

Selain itu, kita juga harus melihat geografis Israel secara keseluruhan. Hanya di wilayah Israel utara biasanya salju turun dari gunung Hermon setiap musim dingin. 

Sedangkan Bethelem Efrata, tempat Malaikat itu bertemu dengan para gembala, bukan wilayah turunnya salju. Wilayah Israel selatan terdiri dari gurun, karena itu bulan Desember suhu Bethelehem hanya berkisar 57-42 derajat Fahrenheit, atau sekitar 13,8 sampai 5,5 derajat Celcius. 

Pada suhu tertentu yang disebut titik beku, yaitu 0° Celsius, 32° Fahrenheit, barulah salju bisa turun. Karena itu, tidak ada salju di Betlehem, kecuali pada saat-saat tertentu turun salju tipis kiriman dari wilayah utara.


Sumber: MIGDAL EDER, NATAL DAN MITOS BETLEHEM BERSALJU - SarapanPagi Biblika Ministry

 



0 comments:

Post a Comment