You Have Paid What I Cannot Pay
Ekemole, seorang pemuda di sebuah desa kecil hidup dengan hutang yang tak mungkin ia lunasi. Ia bekerja siang dan malam, namun setiap kali ia menghitung, jumlahnya tetap tak terjangkau. Suatu hari, seorang dermawan datang.
Tanpa syarat, ia membayar seluruh hutang Ekemole itu. Orang-orang desa
terheran-heran: mengapa seseorang mau menanggung beban yang bukan miliknya?
Ekemole menangis, bukan karena hutangnya lunas, tetapi karena dia merasakan kasih yang tak pernah ia bayangkan. Kasih yang melebihi batas kemampuan manusia mengukurnya, kasih yang tak mungkin dapat dibalas.
Dia pulang
ke rumah dengan hati yang bebas, dan setiap langkahnya terasa ringan. Dia tahu:
hidupnya kini bukan lagi miliknya sendiri, melainkan sebuah kesaksian tentang
kasih yang membebaskan.
Tiba di rumahnya, Ekemole menulis di jurnal pribadinya.
"Engkau telah membayar apa yang tak sanggup kubayar. Hutangku bukan sekadar angka, melainkan beban dosa yang menutup jalan pulang.
Aku berdiri di
hadapan keadilan yang tak bisa kuhindari, dan di sana aku tahu: tak ada
kekuatan, tak ada amal, tak ada perbuatan baik, tak ada usaha yang mampu
melunasi. Namun Engkau, Sang Anak Domba, datang dengan kasih yang melampaui
segala pengertian.
Seperti tertulis: ‘Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran’ (1 Petrus 2:24). Apa yang mustahil bagiku, telah Kau genapkan.
Apa
yang tak mungkin kulunasi, Kau bayar lunas dengan darah-Mu yang kudus. (1 Korintus 6:20). Hutang dosa,
upah dosa yaitu maut sudah Kau bayar lunas. Kutuk itu sudah Kau patahkan.
Aku teringat pada gambaran anak yang hilang, yang pulang dengan pakaian compang-camping, membawa rasa malu dan penyesalan.
Namun sang bapa berlari,
memeluk, dan mengadakan pesta. Begitulah Engkau menyambutku: bukan dengan
hukuman, melainkan dengan pelukan anugerah. Kasih karunia.
Kini aku bebas. Bebas bukan karena aku layak, melainkan karena Engkau telah menanggung yang tak sanggup kutanggung.
Bebas bukan karena aku kuat,
melainkan karena Engkau telah membayar dengan kasih yang tak terbatas. Hutangku
terhapus, rantai terlepas, dan aku berdiri sebagai anak yang dikasihi.
Engkau telah membayar apa yang tak sanggup kubayar. Dan aku hanya bisa bersyukur, hidup dalam terang kasih-Mu, serta bersaksi bahwa anugerah-Mu lebih besar daripada segala kesalahan.
Aku berjalan bukan lagi dengan rasa takut,
melainkan dengan keyakinan: salib-Mu adalah tanda lunas, dan kebangkitan-Mu
adalah jaminan hidupku.
Segala kemuliaan bagi-Mu, Yesus Kristus, yang telah menebusku dengan
harga yang tak ternilai."
Ekemole, di hari ini, di waktu yang tak terhitung.
You Have Paid What I Cannot Pay
I stood before a debt too heavy,
a burden written in ink I could never erase.
Every effort, every striving,
was like pouring water into a broken jar.
But then— You stepped in.
You carried the weight I could not lift,
You paid the price I could not afford.
It was not silver, nor gold,
but love poured out,
a sacrifice beyond measure.
And so I stand free,
not because I earned it,
but because You gave it.
You have paid what I cannot pay,
and in that gift, I find life.
0 comments:
Post a Comment