Ada paradoks yang indah sekaligus menyakitkan dalam hidup: ketidakpastian
membuat kita gila, tetapi kepastian membuat kita bodoh.
Ketidakpastian adalah kabut yang menutup jalan. Ia membuat hati gelisah, pikiran berputar tanpa henti, dan langkah terasa ragu.
Dalam ketidakpastian, manusia sering kehilangan
arah, terjebak dalam kecemasan, bahkan merasa hidupnya tak terkendali. Namun,
justru di sanalah ruang untuk tumbuh terbuka.
Ketidakpastian dapat menarik keraguan muncul dan memaksa kita untuk bertanya, mencari, dan berani melangkah meski tak tahu ujungnya.
Ia adalah api
kecil yang membakar rasa ingin tahu, menyalakan kreativitas, dan melatih
keberanian mencari kebenaran.
Kepastian, sebaliknya, adalah batu yang keras dan dingin. Ia memberi rasa aman, cenderung nyaman, menenangkan, dan membuat kita berhenti bertanya.
Tetapi terlalu lama berdiam dalam kepastian
menjadikan kita malas berpikir, menutup pintu kemungkinan, dan membiarkan otak
membeku.
Kepastian yang mutlak sering melahirkan kesombongan: seolah kita sudah tahu segalanya, seolah dunia tak lagi punya misteri. Di titik itu, kepastian menjadikan manusia bodoh.
Bodoh bukan karena kehilangan pengetahuan, tetapi
karena kehilangan kerendahan hati untuk terus belajar.
Maka, hidup adalah tarian di antara dua kutub:
ketidakpastian yang menguji keberanian dan kepastian yang menguji
kerendahan hati.
Kita gila bila hanya tenggelam dalam ketidakpastian, dan kita bodoh bila hanya berpegang pada kepastian.
Keseimbangan ada pada keberanian untuk
merangkul misteri, sambil tetap rendah hati menerima bahwa apa yang kita anggap
pasti bisa runtuh kapan saja.
Pada akhirnya, manusia bijak bukanlah mereka yang mencari kepastian
mutlak, melainkan mereka yang mampu menari di tengah kabut, tertawa dalam
kegelisahan, dan tetap membuka mata pada kemungkinan yang tak pernah selesai.
Ada sebuah keluarga sedang bermain permainan tebak gambar. Ayah
menggambar sesuatu di papan, tapi gambarnya belum selesai. Hanya garis-garis
acak. Anak-anak mulai menebak:
- “Itu kucing!”
- “Bukan, itu
gunung!”
- “Eh, mungkin
kapal!”
Semua tertawa, semua berimajinasi. Dari ketidakpastian gambar yang
belum jelas, lahirlah kreativitas. Anak-anak belajar berpikir kritis:
melihat detail, menganalisis kemungkinan, dan berani mengemukakan ide.
Sekarang bayangkan kalau ayah langsung berkata, “Ini pasti kucing.”
Permainan berhenti. Tidak ada lagi imajinasi, tidak ada lagi analisis. Semua
hanya menerima jawaban. Kepastian membunuh rasa ingin tahu.
Ketidakpastian itu seperti hutan berkabut. Kabut membuat kita bingung, tapi juga memaksa
kita mencari jalan, menyalakan obor, dan bekerja sama. Di kabut, kita belajar
mengamati, mendengar, dan berpikir lebih dalam.
Kepastian itu seperti jalan beton lurus tanpa
cabang. Aman, jelas, tapi
membosankan. Tidak ada pilihan, tidak ada kreativitas, tidak ada pertanyaan.
Anak muda
dan keluarga, perhatikanlah! Ketidakpastian melatih otak kita untuk kreatif,
kritis, dan analitis. Kepastian yang terlalu mutlak membuat kita berhenti
berpikir.
Ketidakpastian ibarat permainan tebak-tebakan yang seru. Sedangkan,
kepastian ibarat jawaban instan yang
membosankan.
KEDIAMAN-MU | Vocal: Sonya Therik | Menurut Mazmur 69:1
0 comments:
Post a Comment