Monday, December 8, 2025

"Uncertainty Makes You Crazy, Certainty Makes You Stupid": ketidakpastian membuat kita gila, tetapi kepastian membuat kita bodoh.

ged pollo

oleh: grefer pollo


Ada paradoks yang indah sekaligus menyakitkan dalam hidup: ketidakpastian membuat kita gila, tetapi kepastian membuat kita bodoh.

Ketidakpastian adalah kabut yang menutup jalan. Ia membuat hati gelisah, pikiran berputar tanpa henti, dan langkah terasa ragu. 

Dalam ketidakpastian, manusia sering kehilangan arah, terjebak dalam kecemasan, bahkan merasa hidupnya tak terkendali. Namun, justru di sanalah ruang untuk tumbuh terbuka.

Ketidakpastian dapat menarik keraguan muncul dan memaksa kita untuk bertanya, mencari, dan berani melangkah meski tak tahu ujungnya. 

Ia adalah api kecil yang membakar rasa ingin tahu, menyalakan kreativitas, dan melatih keberanian mencari kebenaran.

Kepastian, sebaliknya, adalah batu yang keras dan dingin. Ia memberi rasa aman, cenderung nyaman, menenangkan, dan membuat kita berhenti bertanya. 

Tetapi terlalu lama berdiam dalam kepastian menjadikan kita malas berpikir, menutup pintu kemungkinan, dan membiarkan otak membeku.

Kepastian yang mutlak sering melahirkan kesombongan: seolah kita sudah tahu segalanya, seolah dunia tak lagi punya misteri. Di titik itu, kepastian menjadikan manusia bodoh. 

Bodoh bukan karena kehilangan pengetahuan, tetapi karena kehilangan kerendahan hati untuk terus belajar.

Maka, hidup adalah tarian di antara dua kutub: ketidakpastian yang menguji keberanian dan kepastian yang menguji kerendahan hati.

Kita gila bila hanya tenggelam dalam ketidakpastian, dan kita bodoh bila hanya berpegang pada kepastian. 

Keseimbangan ada pada keberanian untuk merangkul misteri, sambil tetap rendah hati menerima bahwa apa yang kita anggap pasti bisa runtuh kapan saja.

Pada akhirnya, manusia bijak bukanlah mereka yang mencari kepastian mutlak, melainkan mereka yang mampu menari di tengah kabut, tertawa dalam kegelisahan, dan tetap membuka mata pada kemungkinan yang tak pernah selesai.

ged pollo


Ada sebuah keluarga sedang bermain permainan tebak gambar. Ayah menggambar sesuatu di papan, tapi gambarnya belum selesai. Hanya garis-garis acak. Anak-anak mulai menebak:

  • “Itu kucing!”
  • “Bukan, itu gunung!”
  • “Eh, mungkin kapal!”

Semua tertawa, semua berimajinasi. Dari ketidakpastian gambar yang belum jelas, lahirlah kreativitas. Anak-anak belajar berpikir kritis: melihat detail, menganalisis kemungkinan, dan berani mengemukakan ide.

Sekarang bayangkan kalau ayah langsung berkata, “Ini pasti kucing.” Permainan berhenti. Tidak ada lagi imajinasi, tidak ada lagi analisis. Semua hanya menerima jawaban. Kepastian membunuh rasa ingin tahu.

Ketidakpastian itu seperti hutan berkabut. Kabut membuat kita bingung, tapi juga memaksa kita mencari jalan, menyalakan obor, dan bekerja sama. Di kabut, kita belajar mengamati, mendengar, dan berpikir lebih dalam.

Kepastian itu seperti jalan beton lurus tanpa cabang. Aman, jelas, tapi membosankan. Tidak ada pilihan, tidak ada kreativitas, tidak ada pertanyaan.

Anak muda dan keluarga, perhatikanlah! Ketidakpastian melatih otak kita untuk kreatif, kritis, dan analitis. Kepastian yang terlalu mutlak membuat kita berhenti berpikir.

Ketidakpastian ibarat  permainan tebak-tebakan yang seru. Sedangkan, kepastian ibarat  jawaban instan yang membosankan.


 


 




0 comments:

Post a Comment