Sunday, December 14, 2025

,

Sebuah Naskah Film: "1 Kesalahan Yang Ingin Diulang"

ged pollo

oleh: grefer pollo


Film ini dibuka dengan panorama desa kecil yang damai. Kamera menyorot rumah sederhana, di mana seorang bapak bernama Yosua sedang sibuk mencari kunci rumah yang terselip. 

Narasi lembut mengiringi: Yosua dikenal sebagai sosok yang rajin berdoa, setia hadir di gereja, namun ada satu hal yang membuatnya unik—ia sering lupa. 

Kelupaannya bukan sumber marah, melainkan sumber tawa. Adegan-adegan singkat memperlihatkan ia lupa janji dengan tetangga, lupa sedang berpuasa lalu minum kopi di warung, dan semua berakhir dengan senyum hangat orang-orang di sekitarnya.

Suatu Minggu, Yosua ditunjuk menjadi liturgis. Kamera menyorot wajahnya yang penuh semangat saat membuka Alkitab di hadapan jemaat. 

Dengan lantang ia berkata: “Saudara-saudara, mari kita membaca dari Kitab Kejutan!”

Sejenak hening. Jemaat saling berpandangan, ada yang berbisik, “Mungkin maksudnya Kejadian?” Wajah Yosua memerah, namun ia melanjutkan dengan percaya diri: “Ya, Kitab Kejutan… sebab firman Tuhan memang penuh kejutan!”

Tawa pecah. Suasana yang biasanya kaku berubah hangat. Anak-anak yang sering bosan tiba-tiba berseru riang: “Pak, apa lagi kejutan dari Tuhan?” 

Sejak hari itu, istilah Kitab Kejutan hidup di desa. Hal-hal kecil yang tak terduga menjadi ayat baru yang membuat semua tersenyum.

Beberapa bulan kemudian, seorang pendeta tamu hadir dan berkhotbah: “Hidup kita memang seperti Kitab Kejutan. Yesus membuat murid-Nya terheran-heran: air jadi anggur, badai jadi tenang, salib jadi kemenangan. Semua itu kejutan kasih Tuhan.”

Jemaat menoleh ke Yosua. Ia tersipu malu, namun hatinya bangga. Kesalahan kecilnya telah menjadi inspirasi besar. Kamera menyorot wajahnya yang penuh cahaya, lalu perlahan berganti ke senja di beranda rumahnya. 

Di sana, Yosua duduk sendiri, menatap foto istrinya, Marta, yang telah lama pergi. Kesepian menjadi sahabat, doa menjadi pelipur.

Hingga suatu sore, seorang guru baru datang ke desa: Elira. Sederhana, lembut, penuh cahaya. Ia kagum pada keluguan Yosua, yang justru memancarkan ketulusan. 

Malam doa bersama menjadi titik balik. Yosua kembali salah ucap: “Mari kita membaca dari Kitab Ratapan… eh, maksud saya Kitab Harapan.”

Jemaat tertawa, namun Yosua tiba-tiba menangis. Dengan suara bergetar ia berkata: “Saudara-saudara… hidup memang penuh ratapan. Aku pernah kehilangan orang yang paling kucintai. 

Tapi Tuhan mengubah ratapanku menjadi harapan. Mungkin itulah kejutan terbesar dari-Nya.”

Elira ikut menangis. Kamera menyorot mata mereka yang bertemu, penuh luka namun juga penuh pengharapan. Sejak malam itu, Yosua dan Elira sering berbincang. 

Tentang anak-anak sekolah minggu, tentang doa, tentang luka yang mereka simpan. Perlahan, cinta bersemi. Elira berbisik: “Pak Yosua, mungkin Kitab Kejutan bukan hanya tentang hal-hal lucu. Mungkin Tuhan sedang menulis kejutan baru dalam hidup Bapak.”

Montase memperlihatkan mereka melayani bersama, tertawa bersama, dan jemaat yang semakin hangat. Hingga suatu hari, pendeta tamu kembali berkhotbah: “Kasih Tuhan itu seperti Kitab Kejutan. 

Ia tidak hanya memberi tawa, tetapi juga menyembuhkan luka. Ia tidak hanya mengubah air jadi anggur, tetapi juga kesepian jadi persekutuan, kehilangan jadi pengharapan, dan cinta yang hilang jadi cinta yang baru.”

Jemaat menoleh lagi ke Yosua. Kali ini, Elira menggenggam tangannya. Air mata jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena damai. Yosua berbisik: “Tuhan, kalau boleh, biarlah aku salah lagi… asal salahku membawa tawa, harapan, dan cinta yang menyembuhkan.”

Film tampak seolah berakhir bahagia. Namun twist datang. Musim berganti, badai tiba. Elira jatuh sakit. Kamera menyorot Yosua yang menemaninya setiap hari, membacakan ayat-ayat dari Kitab Kejutan yang dulu mereka ciptakan bersama. 

Di hari-hari terakhirnya, Elira berkata pelan: “Pak Yosua… kalau aku tak bisa sembuh, jangan biarkan luka ini jadi ratapan. Biarlah ia menjadi lagu, seperti What a Friend We Have in Jesus—ditulis dari kehilangan, tapi menyentuh dunia dengan pengharapan.”

Yosua menangis, namun ia mengangguk. Ia tahu, cinta sejati bukan tentang memiliki, melainkan tentang tetap setia, meski harus melepaskan. Elira pun berpulang. 

Desa berduka, anak-anak menangis, jemaat terdiam. Kamera menyorot wajah Yosua yang tetap berdiri di mimbar, dengan suara lebih pelan, lebih dalam, lebih penuh kasih. Ia menulis sebuah lagu, bukan untuk panggung besar, melainkan untuk hati yang hancur:

“Dalam kehilangan, aku tetap percaya. Dalam kesepian, aku tetap berseru. Sebab Tuhan tak pernah pergi, Ia sahabat yang setia, bahkan ketika dunia tak lagi sama.”

Lagu itu tak pernah diberi judul, namun anak-anak menyebutnya: Nyanyian Elira.

Film ditutup dengan adegan gereja desa. Jemaat duduk hening, mendengarkan Yosua. Kamera perlahan zoom out, cahaya matahari masuk lewat jendela kaca berwarna. Narasi terakhir mengalun:

“Kitab Kejutan bukan sekadar istilah lucu. Ia menjadi simbol perjalanan iman: bahwa kesalahan bisa menjadi pintu, tawa bisa menjadi obat, dan cinta bisa lahir kembali dari luka. 

Yosua, si bapak pelupa, kini dikenal sebagai penjaga nyala kasih, yang tetap setia kepada Tuhan, meski harus berjalan sendiri lagi.”

Fade out. Musik lembut mengalun.

Layar perlahan terbuka kembali. Langit pagi membentang di atas padang rumput yang sunyi. Kabut tipis bergelayut di antara pohon-pohon kecil. Yosua berjalan sendirian, mengenakan jubah abu-abu yang sederhana. 

Langkahnya pelan, namun mantap. Ia tampak lebih tua, lebih tenang, lebih ringan.

Suara narator mengalun lembut: “Setelah semua tawa dan tangis, Yosua memilih berjalan lebih jauh. Ia ingin tahu, apakah Kitab Kejutan masih menyimpan satu bab terakhir.”

Di tengah padang, Yosua berhenti. Ia menunduk, berdoa dalam diam. Lalu, dari arah cahaya pagi, seorang Pria muncul. Berpakaian putih, wajah-Nya bersinar lembut. 

Ia tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum dan mengulurkan tangan.

Yosua menatap-Nya. Matanya membesar, lalu perlahan berkaca-kaca. Ia tahu siapa yang berdiri di hadapannya. Ia tahu, ini bukan mimpi. Ini bukan khayalan. Ini adalah pertemuan yang dijanjikan.

Yesus berjalan di sampingnya. Langkah mereka menyatu. Tak ada kata-kata, hanya keheningan yang penuh makna.

Kamera mengikuti dari belakang, menyorot dua bayangan yang memanjang di tanah. Bayangan seorang pelupa, dan bayangan Sang Sahabat Sejati.

Yosua akhirnya berbicara, suara pelan seperti angin pagi:

“Tuhan… kalau boleh, biarlah aku salah lagi. Asal salahku membuatku lebih dekat kepada-Mu.”

Yesus menoleh, tersenyum. Dan Yosua tersenyum kembali, senyum yang tak lagi menyimpan luka, melainkan damai yang tak bisa dijelaskan.

Kamera kembali ke gereja desa. Bangku-bangku kosong, namun cahaya matahari tetap masuk dari jendela kaca berwarna. Di mimbar, Alkitab terbuka. Halaman terakhir bertuliskan tangan: “Kitab Kejutan – Ditulis oleh Yosua, dibaca bersama Tuhan.”

Narasi terakhir mengalun: “Kadang, kesalahan membawa kita ke pelukan kasih. Kadang, tawa membuka pintu pengharapan. Dan kadang, cinta yang hilang membawa kita berjalan bersama Sang Sahabat Sejati.”

Layar perlahan gelap. Musik lembut mengalun. Bait terakhir dari Nyanyian Elira terdengar samar:

“Ia berjalan bersamaku, di padang yang sunyi, dan aku tahu, aku tak sendiri.”

Fade out. Teks muncul: Untuk semua yang pernah salah, dan tetap percaya.

 

0 comments:

Post a Comment