Friday, January 16, 2026

FROM THE LOST TO THE HOST

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Ia pernah berjalan di lorong hidup yang sepi. Lorong yang tak memiliki pintu, tak ada jendela, dan tak ada suara selain gema langkahnya sendiri.

Setiap hari ia merasa seperti melewati bayangannya sendiri; sebuah diri yang tak pernah benar-benar hadir, hanya melayang di antara harapan lama yang padam dan kenyataan yang tak dimengerti.

Ada masa ketika ia merasa dirinya hilang, LOST, bukan karena tak tahu arah, tetapi karena tak mengenal lagi siapa dirinya. Ia hilang di tengah puing kesalahan, luka hati, pilihan yang keliru, dan kelelahan yang tak mampu dijelaskan.

Seperti domba yang terpisah dari kawanan, ia berjalan tanpa tujuan, sampai-sampai lupa bahwa ia sebenarnya dirindukan.

Namun Tuhan, yang tak pernah berhenti mengasihi, tak pernah berhenti mencari, tak pernah berhenti menelusuri jejak langkah manusia, menemukan dirinya di titik paling sunyi itu. Bukan karena ia memanggil, tetapi karena KASIH itu mencari.

Bukan karena ia layak, tetapi karena ANUGERAH itu datang lebih dulu.

baca juga: Jejak Kata "Ingat"

Momen itu seperti sebuah cahaya lembut yang menembus kabut gelap. Bukan sorotan yang menyilaukan, tetapi hangat, tepat, dan mengangkat. Ia tiba-tiba memahami lirik yang sejak kecil ia dengar tetapi tak pernah masuk ke hati:

Amazing grace, how sweet the sound

That saved a wretch like me.

I once was lost, but now am found,

Was blind, but now I see.

 

Bukan sekadar lirik lagu, tetapi pengakuan universal setiap manusia yang pernah disentuh rahmat Tuhan.

 

Dalam pemulihan itu, ia menemukan sesuatu yang tak pernah lewat di pikirannya:

bahwa orang yang dulu hilang kini justru dipanggil menjadi tempat kembali bagi yang lain.

 

FROM THE LOST TO THE HOST.

Dari seseorang yang dulu mencari tempat aman, menjadi seseorang yang menyediakan keamanan bagi orang lain.

Dari seseorang yang dulu tak punya rumah dalam hatinya, menjadi seseorang yang menyediakan rumah bagi banyak jiwa.


baca juga: MengapaMemberitakan Firman Tuhan Sebelum Engkau Mempelajarinya?


Pemulihan Tuhan mengubahnya menjadi:

Host bagi cerita —> tempat orang lain bisa jujur tanpa takut dihakimi.

Host bagi air mata —> ruang bagi mereka yang belum menemukan kata untuk luka mereka.

Host bagi perjalanan —> bahu untuk berjalan bersama, bukan untuk memerintah dari jauh.

Host bagi anugerah —> karena ia sendiri menerima anugerah yang tak ia mengerti, maka ia pun membagikannya tanpa syarat.

 

Ia sadar: pemulihan bukan tujuan, tetapi panggilan.

Ia dipulihkan bukan untuk duduk diam, tetapi menjadi tempat di mana kehidupan orang lain dapat bertumbuh.

Ia menjadi tuan rumah bagi kasih, bukan karena ia ahli, tetapi karena ia pernah menjadi tamu yang kelaparan akan kasih itu.

 

Dan di setiap langkahnya, gema lagu itu tak pernah padam, seperti nafas yang lembut namun pasti:

I once was lost,

but now am found.”

 

Kini, ia berjalan dengan mata yang melihat dan hati yang mengerti:

bahwa mereka yang pernah ditemukan Tuhan Yesus, akan selalu menjadi pembawa cahaya bagi yang masih mencari jalan pulang.

 

Ia tidak sempurna, tetapi ia dipulihkan.

Ia tidak selalu kuat, tetapi ia ditopang.

Ia tidak memiliki semua jawaban, tetapi ia mengenal Dia yang menemukan dirinya.

 

Dan di situlah ia berdiri:

dulu tersesat, kini menjadi rumah —> from the lost to the host,

dari yang hilang menjadi yang menuntun,

dari yang hampa menjadi tempat bagi banyak jiwa,

dari seorang tamu tanpa arah menjadi penyedia meja di mana kasih Tuhan Yesus dapat dinikmati oleh siapa saja yang datang.

 

Sebab kasih karunia itu bukan hanya menyelamatkan,

tetapi juga membentuk:

lost but found (hilang namun ditemukan),

found but sent (ditemukan lalu diutus),

sent but hosting grace for others (diutus namun menjadi tuan rumah bagi anugerah bagi sesama).






1 comment: