Ia pernah berjalan
di lorong hidup yang sepi. Lorong yang tak memiliki pintu, tak ada jendela, dan
tak ada suara selain gema langkahnya sendiri.
Setiap hari ia
merasa seperti melewati bayangannya sendiri; sebuah diri yang tak pernah
benar-benar hadir, hanya melayang di antara harapan lama yang padam dan
kenyataan yang tak dimengerti.
Ada masa ketika ia
merasa dirinya hilang, LOST, bukan karena tak tahu arah, tetapi karena
tak mengenal lagi siapa dirinya. Ia hilang di tengah puing kesalahan, luka
hati, pilihan yang keliru, dan kelelahan yang tak mampu dijelaskan.
Seperti domba yang
terpisah dari kawanan, ia berjalan tanpa tujuan, sampai-sampai lupa bahwa ia
sebenarnya dirindukan.
Namun Tuhan, yang
tak pernah berhenti mengasihi, tak pernah berhenti mencari, tak pernah berhenti
menelusuri jejak langkah manusia, menemukan dirinya di titik paling sunyi itu.
Bukan karena ia memanggil, tetapi karena KASIH itu mencari.
Bukan karena ia
layak, tetapi karena ANUGERAH itu datang lebih dulu.
baca juga: Jejak Kata "Ingat"
Momen itu seperti
sebuah cahaya lembut yang menembus kabut gelap. Bukan sorotan yang menyilaukan,
tetapi hangat, tepat, dan mengangkat. Ia tiba-tiba memahami lirik yang sejak
kecil ia dengar tetapi tak pernah masuk ke hati:
Amazing grace, how
sweet the sound
That saved a wretch
like me.
I once was lost,
but now am found,
Was blind, but now
I see.
Bukan sekadar lirik
lagu, tetapi pengakuan universal setiap manusia yang pernah disentuh rahmat
Tuhan.
Dalam pemulihan
itu, ia menemukan sesuatu yang tak pernah lewat di pikirannya:
bahwa orang yang
dulu hilang kini justru dipanggil menjadi tempat kembali bagi yang lain.
FROM THE LOST TO
THE HOST.
Dari seseorang yang
dulu mencari tempat aman, menjadi seseorang yang menyediakan keamanan bagi
orang lain.
Dari seseorang yang
dulu tak punya rumah dalam hatinya, menjadi seseorang yang menyediakan rumah
bagi banyak jiwa.
baca juga: MengapaMemberitakan Firman Tuhan Sebelum Engkau Mempelajarinya?
Pemulihan Tuhan
mengubahnya menjadi:
Host bagi cerita —>
tempat orang lain bisa jujur tanpa takut dihakimi.
Host bagi air mata —>
ruang bagi mereka yang belum menemukan kata untuk luka mereka.
Host bagi
perjalanan —> bahu untuk berjalan bersama, bukan untuk memerintah dari jauh.
Host bagi anugerah —>
karena ia sendiri menerima anugerah yang tak ia mengerti, maka ia pun
membagikannya tanpa syarat.
Ia sadar: pemulihan
bukan tujuan, tetapi panggilan.
Ia dipulihkan bukan
untuk duduk diam, tetapi menjadi tempat di mana kehidupan orang lain dapat
bertumbuh.
Ia menjadi tuan
rumah bagi kasih, bukan karena ia ahli, tetapi karena ia pernah menjadi tamu
yang kelaparan akan kasih itu.
Dan di setiap
langkahnya, gema lagu itu tak pernah padam, seperti nafas yang lembut namun
pasti:
I once was lost,
but now am found.”
Kini, ia berjalan
dengan mata yang melihat dan hati yang mengerti:
bahwa mereka yang
pernah ditemukan Tuhan Yesus, akan selalu menjadi pembawa cahaya bagi yang
masih mencari jalan pulang.
Ia tidak sempurna,
tetapi ia dipulihkan.
Ia tidak selalu
kuat, tetapi ia ditopang.
Ia tidak memiliki
semua jawaban, tetapi ia mengenal Dia yang menemukan dirinya.
Dan di situlah ia
berdiri:
dulu tersesat, kini
menjadi rumah —> from the lost to the host,
dari yang hilang
menjadi yang menuntun,
dari yang hampa
menjadi tempat bagi banyak jiwa,
dari seorang tamu
tanpa arah menjadi penyedia meja di mana kasih Tuhan Yesus dapat dinikmati oleh
siapa saja yang datang.
Sebab kasih karunia
itu bukan hanya menyelamatkan,
tetapi juga
membentuk:
lost but found (hilang namun ditemukan),
found but sent (ditemukan lalu diutus),
sent but hosting
grace for others (diutus namun
menjadi tuan rumah bagi anugerah bagi sesama).
Amin! Terima kasih
ReplyDelete