Pendidikan mengalami
perubahan drastis pada abad ke-17 api hal ini dianggap berat dan jarang dibahas
dengan tenang.
Apa yang
berubah sehingga terjadi Pergeseran Besar Abad ke-17? Abad ke-17 bukan sekadar
lahirnya ilmuwan, tapi lahirnya cara baru melihat realitas.
Abad ke-17 menandai transformasi pendidikan dari orientasi hidup yang
sarat makna menuju paradigma ilmiah yang menekankan rasionalitas, eksperimen,
dan hukum alam.
Pendidikan tidak lagi sekadar membentuk moralitas, tetapi menjadi sarana
memahami dan menguasai realitas.
- Sebelum
abad ke-17: Pendidikan berakar pada tradisi skolastik dan
teologi. Kebenaran dipahami sebagai sesuatu yang menuntun hidup
secara etis dan spiritual, bukan hanya akurat secara teknis.
- Abad
ke-17: Munculnya Scientific Revolution
menggeser orientasi pendidikan. Pengetahuan dipandang sebagai alat untuk
menguasai alam, membangun kepastian rasional, dan menjelaskan dunia dengan
hukum matematis.
Tokoh Kunci dan Kontribusi terhadap Pendidikan
|
Tokoh |
Gagasan
Utama |
Dampak
pada Pendidikan |
|
Francis
Bacon (1561–1626) |
“Knowledge
is power” → Pengetahuan sebagai sarana menguasai alam melalui metode induktif dan
eksperimen. |
Pendidikan
diarahkan pada empirical learning: observasi, eksperimen, dan aplikasi
praktis. Kurikulum mulai menekankan sains dan teknologi. |
|
René
Descartes (1596–1650) |
Rasionalisme
→ Kepastian diperoleh lewat akal budi. “Cogito, ergo sum.” |
Pendidikan
menekankan logika, metode analitis, dan matematika. Rasionalitas menjadi
standar kebenaran, bukan tradisi atau otoritas. |
|
Isaac
Newton (1642–1727) |
Alam
semesta sebagai mesin yang taat hukum matematis. |
Pendidikan
sains berorientasi pada hukum universal. Matematika dan fisika menjadi pusat
kurikulum, melatih siswa melihat dunia sebagai sistem mekanis. |
- Dari
makna ke objek
- Sebelumnya:
dunia dipahami sebagai ciptaan penuh makna, pendidikan membentuk
moralitas dan kebijaksanaan hidup.
- Sesudahnya:
dunia dipandang sebagai objek yang bisa diukur, dikalkulasi, dan
dikendalikan.
- Metode
baru
- Bacon
→ metode induktif, eksperimen.
- Descartes
→ metode deduktif, rasional.
- Newton
→ sintesis empiris dan matematis. Pendidikan
menggabungkan observasi, analisis, dan formulasi hukum.
- Tujuan
pendidikan bergeser
- Dari virtue-centered
(membentuk manusia baik) → ke knowledge-centered (membentuk manusia
rasional dan produktif).
- Pengetahuan
menjadi instrumen kekuasaan, teknologi, dan kemajuan sosial.
Bagaimana dunia memahami kebenaran SEBELUM abad ke-17?
Dunia kuno
(Yunani–Romawi)
Definisi
kebenaran: Aletheia = yang tersingkap. Kebenaran bukan angka, tapi kejelasan
makna
Plato &
Aristoteles tidak bertanya: “Apakah ini bisa diukur?” Tapi: “Apakah ini
membentuk manusia yang baik?”
Pendidikan
(Paideia):
Tujuan
pendidikan: membentuk arete (keutamaan) menghasilkan manusia bijaksana, bukan
pekerja efisien.
Mata pelajaran
utama:
· retorika
· etika
· musik
· logika
· filsafat
Tidak ada ujian
pilihan ganda. Yang dinilai: cara hidup.
Dunia Ibrani
(Alkitab)
Definisi
kebenaran: Emet = setia, dapat dipercaya, teguh
- Kata
Ibrani: ’Emet (אֱמֶת)
- Akar
kata: aman → berarti “teguh,
kokoh, dapat diandalkan.”
- Makna:
bukan sekadar “benar” secara logis, tetapi “setia, dapat dipercaya,
konsisten, teguh.”
- Konteks:
kebenaran dipahami sebagai kualitas relasional — sesuatu yang dapat
diandalkan dalam kehidupan bersama, bukan sekadar proposisi intelektual.
- Implikasi
dalam Alkitab
- ’Emet
sering dikaitkan dengan kesetiaan Allah terhadap janji-Nya (Mazmur
119:90).
- Kebenaran
berarti keandalan dalam sejarah, bukan sekadar akurasi teknis.
- Pendidikan
dalam tradisi Ibrani berfungsi untuk menanamkan kesetiaan pada
perjanjian, bukan hanya pengetahuan faktual.
Pendidikan dalam Tradisi Ibrani
- Tujuan
Pendidikan
- Membentuk
manusia yang hidup dalam kesetiaan kepada Allah dan komunitas.
- Pengetahuan
diarahkan pada hidup yang benar, bukan sekadar pikiran yang
tepat.
- Metode
Pendidikan
- Oral
tradition: pengajaran melalui cerita, hukum Taurat,
mazmur, dan nubuat.
- Ritual
dan liturgi: pendidikan melalui praktik keagamaan (Sabat,
Paskah, dll.).
- Keluarga
sebagai pusat pendidikan: orang tua bertugas menanamkan hukum dan
tradisi (Ulangan 6:7).
- Orientasi
Kebenaran
- Kebenaran
= hidup dalam kesetiaan → pendidikan menekankan karakter, etika, dan
relasi.
- Tidak
ada pemisahan tajam antara pengetahuan dan moralitas; keduanya menyatu
dalam kehidupan.
Perbandingan dengan Pendidikan Pra-Abad ke-17
|
Aspek |
Dunia
Ibrani (’Emet) |
Pendidikan
Pra-Abad ke-17 (Skolastik, Humanistik) |
|
Definisi
Kebenaran |
Setia,
dapat dipercaya, teguh |
Benar
untuk hidup, sesuai dengan tujuan moral dan spiritual |
|
Tujuan
Pendidikan |
Membentuk
kesetiaan pada Allah dan komunitas |
Membentuk
manusia bijak, beretika, dan berbudaya |
|
Metode |
Tradisi
oral, ritual, keluarga |
Dialektika,
retorika, teks klasik, teologi |
|
Orientasi |
Relasional,
eksistensial |
Normatif,
moral, dan filosofis |
Kebenaran bukan
konsep, tapi relasi yang teruji oleh waktu.
“Abraham
percaya kepada Tuhan” → itu kebenaran, bukan data.
Pendidikan: lewat
cerita, hukum, praktik hidup, perayaan & ritme harian
Anak dinilai
bukan dari IQ, tapi dari:
· takut
akan Tuhan
· hikmat
· kesetiaan
Ulangan 6: ajarkan
saat duduk, berjalan, berbaring
Pendidikan =
formasi hidup, bukan kelas formal.
Definisi
kebenaran:
Veritas =
kesesuaian hidup dengan kehendak Allah.
Pendidikan:
Trivium: tata
bahasa, logika, retorika
Quadrivium:
musik, aritmatika, geometri, astronomi
Tujuannya: membentuk
jiwa yang teratur agar mampu mengenal Tuhan & dunia.
Definisi Kebenaran dalam Tradisi Kristen-Skolastik
- Veritas
(Latin) → kebenaran dipahami sebagai kesesuaian
hidup dengan kehendak Allah.
- Bukan sekadar akurasi
intelektual, melainkan orientasi eksistensial: hidup benar berarti hidup
selaras dengan tatanan ilahi.
- Dalam filsafat skolastik
(misalnya Thomas Aquinas), kebenaran memiliki dimensi ontologis (ada
sesuai dengan akal Allah) dan moral (hidup sesuai dengan
kehendak-Nya).
Struktur Pendidikan Abad Pertengahan
Pendidikan
diwarisi dari tradisi Yunani-Romawi, lalu diintegrasikan dengan teologi
Kristen:
1. Trivium (fondasi bahasa dan berpikir)
- Grammatica → tata
bahasa, memahami teks Kitab Suci dan klasik.
- Dialectica
(Logika) → melatih penalaran, membedakan argumen benar dan
salah.
- Rhetorica → seni
berbicara dan menulis, untuk menyampaikan kebenaran dengan meyakinkan.
2. Quadrivium (fondasi ilmu alam dan keteraturan kosmos)
- Musica →
harmoni, keteraturan jiwa dan kosmos.
- Aritmetica →
bilangan sebagai dasar keteraturan.
- Geometria → ruang
dan bentuk, keteraturan ciptaan.
- Astronomia → gerak
langit sebagai refleksi tatanan ilahi.
Trivium
membentuk alat berpikir, Quadrivium membentuk alat kontemplasi kosmos.
Keduanya dipandang sebagai jalan menuju pengenalan Tuhan.
Tujuan Pendidikan
- Membentuk
jiwa yang teratur → disiplin intelektual dan moral.
- Mengenal
Tuhan dan dunia → ilmu bukan tujuan akhir, melainkan sarana
kontemplasi terhadap keteraturan ciptaan.
- Pendidikan diarahkan pada
sapientia (kebijaksanaan), bukan sekadar scientia
(pengetahuan teknis).
Hubungan Ilmu dan Iman
- Ilmu
bukan lawan iman: dalam skolastik, akal dan iman saling
melengkapi.
- Ilmu
sebagai alat kontemplasi: matematika, musik, dan astronomi dipandang
sebagai jendela menuju keteraturan ilahi.
- Thomas Aquinas
menegaskan: akal dapat menuntun manusia pada kebenaran alamiah, sementara
wahyu menuntun pada kebenaran ilahi.
Perbandingan dengan Era Sesudahnya
|
Aspek |
Abad
Pertengahan (Skolastik) |
Abad
ke-17 (Revolusi Ilmiah) |
|
Definisi
Kebenaran |
Veritas = kesesuaian hidup dengan kehendak Allah |
Kebenaran = akurasi rasional/empiris |
|
Tujuan
Pendidikan |
Membentuk jiwa teratur untuk mengenal Tuhan |
Menguasai alam melalui sains dan teknologi |
|
Ilmu
& Iman |
Harmonis, saling melengkapi |
Mulai dipisahkan, ilmu jadi otonom |
|
Orientasi
Ilmu |
Kontemplasi kosmos sebagai ciptaan |
Analisis dunia sebagai objek mekanis |
Degradasi atau
kemunduran pendidikan terjadi karena fokus pada menilai apa yang kelihatan,
sedangkan hidup ini sangat dipengaruhi oleh yang tidak kelihatan. Keputusan-keputusan yang diambil
sangat ditentukan oleh apa yang tidak kelihatan.
Ini bagian
paling penting.
Melalui KARAKTER, bukan angka
Orang tidak
ditanya: “berapa nilaimu?” Tapi: apakah ia dapat dipercaya? apakah ia setia? apakah
ia bijaksana saat krisis?
Jiwa dinilai
lewat buah, bukan skor. “Dari buahnyalah kamu mengenal mereka.”
Melalui PRAKTIK BERULANG, bukan eksperimen
laboratorium
Latihan: puasa,
doa, disiplin diri, dialog batin, komunitas.
Jika seseorang:
makin rendah hati, makin stabil, makin mengasihi, maka jiwanya dianggap
bertumbuh.
Ini uji waktu,
bukan uji statistik.
Melalui KESAKSIAN KOMUNITAS
Penilaian tidak
individualistik.
Komunitas
bertanya: apakah orang ini membawa damai? apakah kehadirannya menyembuhkan atau
merusak?
Jiwa dinilai
secara relasional.
Melalui KESELARASAN HIDUP
Orang yang: pikirannya
jernih, emosinya tertata, tindakannya konsisten, dianggap: “jiwanya sehat” dan
tidak perlu ranking.
Lalu, mengapa
sistem lama ditinggalkan? Karena: lambat, tidak seragam, sulit dikontrol negara,
tidak efisien untuk industri.
Revolusi
industri butuh:
· pekerja
cepat
· patuh
· terukur
· bisa
diganti
Pendidikan jiwa
terlalu mahal dan terlalu bebas.
Dampaknya hari ini (ironis)
Kita punya:
· sistem
ukur paling canggih
· data
melimpah
· skor
tinggi
Tapi:
· krisis
makna
· krisis
karakter
· krisis
kesehatan mental
Karena: yang
dulu dinilai lewat hidup, sekarang digantikan oleh angka.
Sebelum abad
ke-17, manusia bertanya: “manusia seperti apa yang harus aku jadi?”
Setelah abad
ke-17, pertanyaannya berubah: “apa yang bisa aku lakukan dan hasilkan?”
Dua-duanya
penting. Tapi ketika yang kedua menelan yang pertama, manusia kehilangan
dirinya sendiri.
Kesimpulan
Pendidikan
abad ke-17 bukan sekadar melahirkan ilmuwan, tetapi melahirkan cara baru
melihat realitas: dunia sebagai objek yang tunduk pada hukum rasional dan
matematis. Bacon, Descartes, dan Newton menggeser pendidikan dari pencarian
makna hidup menuju pencarian kepastian ilmiah. Sejak saat itu, pendidikan
menjadi motor kemajuan teknologi dan sains, namun sekaligus menimbulkan
pertanyaan: apakah kebenaran teknis cukup untuk membimbing hidup manusia?
Pendidikan
Abad Pertengahan sering disalahpahami sebagai “anti-ilmu” atau “hanya
dogmatis.” Padahal, secara ilmiah ia merupakan sintesis antara akal dan iman,
dengan struktur Trivium dan Quadrivium yang membentuk jiwa teratur agar mampu
mengenal Tuhan dan dunia. Ilmu dipandang sebagai alat kontemplasi, bukan
lawan iman.
Dengan
demikian, pendidikan skolastik adalah jembatan antara tradisi klasik dan
modern, yang menyiapkan fondasi intelektual bagi lahirnya sains, sekaligus
menjaga orientasi spiritual.
0 comments:
Post a Comment