Sunday, January 25, 2026

, , ,

Pendidikan Mau Ke Mana?

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Pendidikan mengalami perubahan drastis pada abad ke-17 api hal ini dianggap berat dan jarang dibahas dengan tenang.

Apa yang berubah sehingga terjadi Pergeseran Besar Abad ke-17? Abad ke-17 bukan sekadar lahirnya ilmuwan, tapi lahirnya cara baru melihat realitas.

 

Abad ke-17 menandai transformasi pendidikan dari orientasi hidup yang sarat makna menuju paradigma ilmiah yang menekankan rasionalitas, eksperimen, dan hukum alam.

Pendidikan tidak lagi sekadar membentuk moralitas, tetapi menjadi sarana memahami dan menguasai realitas.

  • Sebelum abad ke-17: Pendidikan berakar pada tradisi skolastik dan teologi. Kebenaran dipahami sebagai sesuatu yang menuntun hidup secara etis dan spiritual, bukan hanya akurat secara teknis.
  • Abad ke-17: Munculnya Scientific Revolution menggeser orientasi pendidikan. Pengetahuan dipandang sebagai alat untuk menguasai alam, membangun kepastian rasional, dan menjelaskan dunia dengan hukum matematis.

 

Tokoh Kunci dan Kontribusi terhadap Pendidikan

Tokoh

Gagasan Utama

Dampak pada Pendidikan

Francis Bacon (1561–1626)

“Knowledge is power” Pengetahuan sebagai sarana menguasai alam melalui metode induktif dan eksperimen.

Pendidikan diarahkan pada empirical learning: observasi, eksperimen, dan aplikasi praktis. Kurikulum mulai menekankan sains dan teknologi.

René Descartes (1596–1650)

Rasionalisme Kepastian diperoleh lewat akal budi. Cogito, ergo sum.

Pendidikan menekankan logika, metode analitis, dan matematika. Rasionalitas menjadi standar kebenaran, bukan tradisi atau otoritas.

Isaac Newton (1642–1727)

Alam semesta sebagai mesin yang taat hukum matematis.

Pendidikan sains berorientasi pada hukum universal. Matematika dan fisika menjadi pusat kurikulum, melatih siswa melihat dunia sebagai sistem mekanis.

 

 Pergeseran Paradigma Pendidikan

  1. Dari makna ke objek
    • Sebelumnya: dunia dipahami sebagai ciptaan penuh makna, pendidikan membentuk moralitas dan kebijaksanaan hidup.
    • Sesudahnya: dunia dipandang sebagai objek yang bisa diukur, dikalkulasi, dan dikendalikan.
  2. Metode baru
    • Bacon metode induktif, eksperimen.
    • Descartes metode deduktif, rasional.
    • Newton sintesis empiris dan matematis. Pendidikan menggabungkan observasi, analisis, dan formulasi hukum.
  3. Tujuan pendidikan bergeser
    • Dari virtue-centered (membentuk manusia baik) ke knowledge-centered (membentuk manusia rasional dan produktif).
    • Pengetahuan menjadi instrumen kekuasaan, teknologi, dan kemajuan sosial.

 

Bagaimana dunia memahami kebenaran SEBELUM abad ke-17?

Dunia kuno (Yunani–Romawi)

Definisi kebenaran: Aletheia = yang tersingkap. Kebenaran bukan angka, tapi kejelasan makna

Plato & Aristoteles tidak bertanya: “Apakah ini bisa diukur?” Tapi: “Apakah ini membentuk manusia yang baik?”

 

Pendidikan (Paideia):

Tujuan pendidikan: membentuk arete (keutamaan) menghasilkan manusia bijaksana, bukan pekerja efisien.

Mata pelajaran utama:

     · retorika

     · etika

     · musik

     · logika

     · filsafat

Tidak ada ujian pilihan ganda. Yang dinilai: cara hidup.

 

Dunia Ibrani (Alkitab)


Definisi kebenaran: Emet = setia, dapat dipercaya, teguh

  • Kata Ibrani: ’Emet (אֱמֶת)
    • Akar kata: aman berarti teguh, kokoh, dapat diandalkan.
    • Makna: bukan sekadar “benar” secara logis, tetapi “setia, dapat dipercaya, konsisten, teguh.”
    • Konteks: kebenaran dipahami sebagai kualitas relasional — sesuatu yang dapat diandalkan dalam kehidupan bersama, bukan sekadar proposisi intelektual.
  • Implikasi dalam Alkitab
    • ’Emet sering dikaitkan dengan kesetiaan Allah terhadap janji-Nya (Mazmur 119:90).
    • Kebenaran berarti keandalan dalam sejarah, bukan sekadar akurasi teknis.
    • Pendidikan dalam tradisi Ibrani berfungsi untuk menanamkan kesetiaan pada perjanjian, bukan hanya pengetahuan faktual.

 

Pendidikan dalam Tradisi Ibrani

  1. Tujuan Pendidikan
    • Membentuk manusia yang hidup dalam kesetiaan kepada Allah dan komunitas.
    • Pengetahuan diarahkan pada hidup yang benar, bukan sekadar pikiran yang tepat.
  2. Metode Pendidikan
    • Oral tradition: pengajaran melalui cerita, hukum Taurat, mazmur, dan nubuat.
    • Ritual dan liturgi: pendidikan melalui praktik keagamaan (Sabat, Paskah, dll.).
    • Keluarga sebagai pusat pendidikan: orang tua bertugas menanamkan hukum dan tradisi (Ulangan 6:7).
  3. Orientasi Kebenaran
    • Kebenaran = hidup dalam kesetiaan pendidikan menekankan karakter, etika, dan relasi.
    • Tidak ada pemisahan tajam antara pengetahuan dan moralitas; keduanya menyatu dalam kehidupan.

Perbandingan dengan Pendidikan Pra-Abad ke-17

Aspek

Dunia Ibrani (’Emet)

Pendidikan Pra-Abad ke-17 (Skolastik, Humanistik)

Definisi Kebenaran

Setia, dapat dipercaya, teguh

Benar untuk hidup, sesuai dengan tujuan moral dan spiritual

Tujuan Pendidikan

Membentuk kesetiaan pada Allah dan komunitas

Membentuk manusia bijak, beretika, dan berbudaya

Metode

Tradisi oral, ritual, keluarga

Dialektika, retorika, teks klasik, teologi

Orientasi

Relasional, eksistensial

Normatif, moral, dan filosofis

 

Kebenaran bukan konsep, tapi relasi yang teruji oleh waktu.

 

“Abraham percaya kepada Tuhan” itu kebenaran, bukan data.

 

Pendidikan: lewat cerita, hukum, praktik hidup, perayaan & ritme harian

 

Anak dinilai bukan dari IQ, tapi dari:

     · takut akan Tuhan

     · hikmat

     · kesetiaan

 

Ulangan 6: ajarkan saat duduk, berjalan, berbaring

 

Pendidikan = formasi hidup, bukan kelas formal.

 

 Abad Pertengahan (Kristen awal–skolastik)

 Ini penting, karena sering disalahpahami.

Definisi kebenaran:

Veritas = kesesuaian hidup dengan kehendak Allah.

 

Pendidikan:

Trivium: tata bahasa, logika, retorika

Quadrivium: musik, aritmatika, geometri, astronomi

 

Tujuannya: membentuk jiwa yang teratur agar mampu mengenal Tuhan & dunia.

 

Definisi Kebenaran dalam Tradisi Kristen-Skolastik

  • Veritas (Latin) kebenaran dipahami sebagai kesesuaian hidup dengan kehendak Allah.
  • Bukan sekadar akurasi intelektual, melainkan orientasi eksistensial: hidup benar berarti hidup selaras dengan tatanan ilahi.
  • Dalam filsafat skolastik (misalnya Thomas Aquinas), kebenaran memiliki dimensi ontologis (ada sesuai dengan akal Allah) dan moral (hidup sesuai dengan kehendak-Nya).

 

Struktur Pendidikan Abad Pertengahan

Pendidikan diwarisi dari tradisi Yunani-Romawi, lalu diintegrasikan dengan teologi Kristen:

1. Trivium (fondasi bahasa dan berpikir)

  • Grammatica tata bahasa, memahami teks Kitab Suci dan klasik.
  • Dialectica (Logika) melatih penalaran, membedakan argumen benar dan salah.
  • Rhetorica seni berbicara dan menulis, untuk menyampaikan kebenaran dengan meyakinkan.

2. Quadrivium (fondasi ilmu alam dan keteraturan kosmos)

  • Musica harmoni, keteraturan jiwa dan kosmos.
  • Aritmetica bilangan sebagai dasar keteraturan.
  • Geometria ruang dan bentuk, keteraturan ciptaan.
  • Astronomia gerak langit sebagai refleksi tatanan ilahi.

 

Trivium membentuk alat berpikir, Quadrivium membentuk alat kontemplasi kosmos. Keduanya dipandang sebagai jalan menuju pengenalan Tuhan.

 

Tujuan Pendidikan

  • Membentuk jiwa yang teratur disiplin intelektual dan moral.
  • Mengenal Tuhan dan dunia ilmu bukan tujuan akhir, melainkan sarana kontemplasi terhadap keteraturan ciptaan.
  • Pendidikan diarahkan pada sapientia (kebijaksanaan), bukan sekadar scientia (pengetahuan teknis).

 

Hubungan Ilmu dan Iman

  • Ilmu bukan lawan iman: dalam skolastik, akal dan iman saling melengkapi.
  • Ilmu sebagai alat kontemplasi: matematika, musik, dan astronomi dipandang sebagai jendela menuju keteraturan ilahi.
  • Thomas Aquinas menegaskan: akal dapat menuntun manusia pada kebenaran alamiah, sementara wahyu menuntun pada kebenaran ilahi.

 

Perbandingan dengan Era Sesudahnya

Aspek

Abad Pertengahan (Skolastik)

Abad ke-17 (Revolusi Ilmiah)

Definisi Kebenaran

Veritas = kesesuaian hidup dengan kehendak Allah

Kebenaran = akurasi rasional/empiris

Tujuan Pendidikan

Membentuk jiwa teratur untuk mengenal Tuhan

Menguasai alam melalui sains dan teknologi

Ilmu & Iman

Harmonis, saling melengkapi

Mulai dipisahkan, ilmu jadi otonom

Orientasi Ilmu

Kontemplasi kosmos sebagai ciptaan

Analisis dunia sebagai objek mekanis

 

 Jadi… bagaimana MENILAI yang tidak kelihatan sebelum bisa “diukur”?

Degradasi atau kemunduran pendidikan terjadi karena fokus pada menilai apa yang kelihatan, sedangkan hidup ini sangat dipengaruhi oleh yang tidak  kelihatan. Keputusan-keputusan yang diambil sangat ditentukan oleh apa yang tidak kelihatan.

Ini bagian paling penting.

 

Melalui KARAKTER, bukan angka

Orang tidak ditanya: “berapa nilaimu?” Tapi: apakah ia dapat dipercaya? apakah ia setia? apakah ia bijaksana saat krisis?

Jiwa dinilai lewat buah, bukan skor. “Dari buahnyalah kamu mengenal mereka.”

 

Melalui PRAKTIK BERULANG, bukan eksperimen laboratorium

Latihan: puasa, doa, disiplin diri, dialog batin, komunitas.

 

Jika seseorang: makin rendah hati, makin stabil, makin mengasihi, maka jiwanya dianggap bertumbuh.

Ini uji waktu, bukan uji statistik.

 

Melalui KESAKSIAN KOMUNITAS

Penilaian tidak individualistik.

Komunitas bertanya: apakah orang ini membawa damai? apakah kehadirannya menyembuhkan atau merusak?

Jiwa dinilai secara relasional.

 

Melalui KESELARASAN HIDUP

Orang yang: pikirannya jernih, emosinya tertata, tindakannya konsisten, dianggap: “jiwanya sehat” dan tidak perlu ranking.

 

Lalu, mengapa sistem lama ditinggalkan? Karena: lambat, tidak seragam, sulit dikontrol negara, tidak efisien untuk industri.

Revolusi industri butuh:

     · pekerja cepat

     · patuh

     · terukur

     · bisa diganti

 

Pendidikan jiwa terlalu mahal dan terlalu bebas.

 

Dampaknya hari ini (ironis)

Kita punya:

     · sistem ukur paling canggih

     · data melimpah

     · skor tinggi

 

Tapi:

      · krisis makna

      · krisis karakter

      · krisis kesehatan mental

 

Karena: yang dulu dinilai lewat hidup, sekarang digantikan oleh angka.

 

Sebelum abad ke-17, manusia bertanya: “manusia seperti apa yang harus aku jadi?”

Setelah abad ke-17, pertanyaannya berubah: “apa yang bisa aku lakukan dan hasilkan?”

 

Dua-duanya penting. Tapi ketika yang kedua menelan yang pertama, manusia kehilangan dirinya sendiri.

 

Kesimpulan

Pendidikan abad ke-17 bukan sekadar melahirkan ilmuwan, tetapi melahirkan cara baru melihat realitas: dunia sebagai objek yang tunduk pada hukum rasional dan matematis. Bacon, Descartes, dan Newton menggeser pendidikan dari pencarian makna hidup menuju pencarian kepastian ilmiah. Sejak saat itu, pendidikan menjadi motor kemajuan teknologi dan sains, namun sekaligus menimbulkan pertanyaan: apakah kebenaran teknis cukup untuk membimbing hidup manusia?

 

Pendidikan Abad Pertengahan sering disalahpahami sebagai “anti-ilmu” atau “hanya dogmatis.” Padahal, secara ilmiah ia merupakan sintesis antara akal dan iman, dengan struktur Trivium dan Quadrivium yang membentuk jiwa teratur agar mampu mengenal Tuhan dan dunia. Ilmu dipandang sebagai alat kontemplasi, bukan lawan iman.

Dengan demikian, pendidikan skolastik adalah jembatan antara tradisi klasik dan modern, yang menyiapkan fondasi intelektual bagi lahirnya sains, sekaligus menjaga orientasi spiritual.

 


0 comments:

Post a Comment