Sunday, January 25, 2026

Kamu Wasit Bola atau Wasit Tinju

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Dentuman dan Peluit

Arena tinju bergetar oleh sorak penonton. Dua petinju saling merangkul, bukan karena kasih, melainkan karena strategi bertahan. Wasit masuk, memisahkan mereka dengan tangan tegas. Ironi pun lahir: ia bukan melerai agar damai, melainkan melerai agar mereka bisa kembali saling pukul.

Di lapangan bola, peluit berbunyi. Wasit berlari ke segala arah, seperti sedang ikut lomba maraton. Ia tidak mengejar bola, tidak mengejar gol, tapi mengejar kesalahan. Satu peluit bisa mengubah sorak menjadi caci, satu kartu kuning bisa mengubah sahabat menjadi musuh.

 

Pertukaran Peran

Suatu hari, dalam pertandingan amal yang penuh humor, wasit tinju dan wasit bola bertukar peran.

  • Wasit tinju mencoba memimpin pertandingan sepak bola. Ia bingung melihat pemain berpelukan saat selebrasi gol, lalu buru-buru memisahkan mereka. Penonton tertawa terbahak-bahak.
  • Wasit bola masuk ke ring tinju. Ia berlari mengitari ring, meniup peluit setiap kali pukulan meleset. Petinju kebingungan, penonton terpingkal.

 

Seorang anak kecil bertanya pada ayahnya di tribun: “Kenapa wasit bola selalu kurus?” Ayahnya menjawab sambil tertawa, “Karena ia berlari lebih banyak daripada pemain.”

“Kenapa wasit tinju selalu tegas?” “Karena ia harus memastikan orang yang berpelukan segera kembali berantem.”

Humor sederhana ini menyimpan ironi: wasit bola mencari kesalahan, wasit tinju mencari kesempatan untuk melanjutkan pertarungan.

 

Filosofi yang Menyelam

Peluit dan tangan wasit bukan sekadar alat olahraga, melainkan simbol kehidupan.

  • Wasit Bola: lambang manusia yang sibuk mencari kesalahan orang lain. Ia berlari, kelelahan, demi menunjuk siapa yang salah. Filosofinya: “Kadang kita terlalu sibuk mengawasi orang lain, sampai lupa menjaga diri sendiri.”
  • Wasit Tinju: lambang manusia yang justru memisahkan kedamaian (pelukan) agar konflik berlanjut. Filosofinya: “Kadang dunia memaksa kita bertarung, bahkan ketika hati ingin beristirahat.”

Keduanya mengajarkan paradoks: damai bisa dipaksa menjadi perang, dan perang bisa dipaksa menjadi damai.

 

Twist Kedua

Di akhir pertandingan amal, kedua wasit duduk bersama di warung kopi. Wasit bola mengeluh, “Aku lelah mencari kesalahan orang lain.” Wasit tinju menjawab, “Aku lelah memisahkan orang yang ingin berpelukan.”

Mereka tertawa, lalu sepakat:

“Mungkin hidup bukan soal siapa salah dan siapa benar, bukan soal siapa menang dan siapa kalah. Hidup adalah soal bagaimana kita menjaga permainan tetap berjalan.”

 

Filsuf di Warung Kopi

Seorang filsuf tua yang duduk di meja sebelah menimpali:

“Peluit wasit adalah suara hati. Kadang ia meniup untuk menghentikan, kadang untuk melanjutkan. Tapi yang paling penting, jangan sampai peluit itu membuat kita lupa bahwa permainan ini hanyalah permainan.”

Anak kecil yang tadi bertanya pun menutup buku catatannya dengan satu kalimat:

“Wasit sejati bukan yang memisahkan atau mencari salah, tapi yang menjaga agar manusia tetap bermain dengan gembira.”

 

Refleksi Humanis

Cerita ini bukan sekadar tentang olahraga. Ia adalah metafora kehidupan:

  • Ada saat kita jadi wasit bola, sibuk mencari kesalahan orang lain.
  • Ada saat kita jadi wasit tinju, memaksa orang bertarung meski ingin damai.
  • Tapi ada juga saat kita bisa jadi wasit kehidupan, yang meniup peluit untuk mengingatkan: “Hei, jangan lupa, hidup ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tapi tentang bermain dengan hati.”

Hidup sebagai Pertandingan

Hidup adalah pertandingan panjang. Kadang kita berlari seperti wasit bola, kadang kita memisahkan pelukan seperti wasit tinju. Namun pada akhirnya, kita semua duduk di warung kopi kehidupan, tertawa bersama, dan menyadari bahwa peluit hanyalah simbol.

“Jangan biarkan peluitmu hanya mencari salah atau memaksa bertarung. Gunakan peluitmu untuk menjaga agar permainan tetap indah.”

 


0 comments:

Post a Comment