“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi…” (Matius 6:19)
Kita hidup di zaman di mana “bonus” sering dipuja lebih tinggi daripada
pekerjaan itu sendiri. Orang menunggu THR, insentif, atau tambahan gaji seolah
itu inti dari panggilan hidup. Padahal, bonus hanyalah percikan kecil, bukan
api yang menyalakan semangat.
Bonus sering dijadikan ukuran keberhasilan, padahal itu hanya efek
samping dari kerja yang sungguh-sungguh. Jika fokus kita bergeser ke bonus,
maka motivasi akan rapuh.
Begitu bonus kecil atau hilang, semangat pun runtuh.
Bayangkan seorang pelari yang hanya berlari demi medali. Ia akan
berhenti ketika medali tak lagi dijanjikan. Tapi pelari sejati berlari karena
ia mencintai lintasan.
Paulus menulis: “Segala sesuatu yang kamu lakukan, lakukanlah dengan
segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)
Kerja bukan soal tambahan materi, melainkan soal makna. Bonus hanyalah
bayangan, bukan tubuh.
Mari kita balik paradigma:
- Bonus itu
candu. Ia membuat kita lupa bahwa kerja adalah ibadah.
- Bonus itu
fatamorgana. Ia tampak indah, tapi cepat hilang.
- Bonus itu
ujian. Apakah kita bekerja demi angka, atau demi makna?
Bayangkan kamu duduk di warung kopi. Obrolan ringan tentang kerja sering
berujung pada keluhan: “Bonus kecil, bos pelit.” Tapi coba kita balik:
- Kalau kerja itu
ibadah, bonus hanyalah “kopi gratis” setelah doa.
- Kalau kerja itu
panggilan, bonus hanyalah “tepuk tangan” setelah konser.
- Kalau kerja itu pelayanan, bonus hanyalah “senyum tambahan” dari orang yang terbantu.
Tanpa akar, bunga cepat layu.”
0 comments:
Post a Comment