Friday, January 23, 2026

Bonus Bukan Fokus

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi…” (Matius 6:19)

Kita hidup di zaman di mana “bonus” sering dipuja lebih tinggi daripada pekerjaan itu sendiri. Orang menunggu THR, insentif, atau tambahan gaji seolah itu inti dari panggilan hidup. Padahal, bonus hanyalah percikan kecil, bukan api yang menyalakan semangat.

Bonus sering dijadikan ukuran keberhasilan, padahal itu hanya efek samping dari kerja yang sungguh-sungguh. Jika fokus kita bergeser ke bonus, maka motivasi akan rapuh.

Begitu bonus kecil atau hilang, semangat pun runtuh.

Bayangkan seorang pelari yang hanya berlari demi medali. Ia akan berhenti ketika medali tak lagi dijanjikan. Tapi pelari sejati berlari karena ia mencintai lintasan.

Paulus menulis: “Segala sesuatu yang kamu lakukan, lakukanlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Kerja bukan soal tambahan materi, melainkan soal makna. Bonus hanyalah bayangan, bukan tubuh.

Mari kita balik paradigma:

  • Bonus itu candu. Ia membuat kita lupa bahwa kerja adalah ibadah.
  • Bonus itu fatamorgana. Ia tampak indah, tapi cepat hilang.
  • Bonus itu ujian. Apakah kita bekerja demi angka, atau demi makna?

Bayangkan kamu duduk di warung kopi. Obrolan ringan tentang kerja sering berujung pada keluhan: “Bonus kecil, bos pelit.” Tapi coba kita balik:

  • Kalau kerja itu ibadah, bonus hanyalah “kopi gratis” setelah doa.
  • Kalau kerja itu panggilan, bonus hanyalah “tepuk tangan” setelah konser.
  • Kalau kerja itu pelayanan, bonus hanyalah “senyum tambahan” dari orang yang terbantu.


“Kerja adalah akar, bonus hanyalah bunga. 
Tanpa akar, bunga cepat layu.”

0 comments:

Post a Comment