Sunday, February 1, 2026

Wedding March: Selamat Berperang

 

ged pollo

oleh: grefer pollo



Di sebuah gereja tua yang berdiri kokoh di tengah kota, jemaat berkumpul untuk ibadah Minggu. Pendeta Samuel, sosok yang dikenal bijak namun penuh kejutan, berdiri di mimbar. Suaranya bergetar, bukan karena gugup, melainkan karena ia hendak membuka sebuah kisah yang jarang ia ceritakan.

“Saudara-saudara,” katanya, “ada satu peristiwa yang tak pernah saya lupakan. Hari itu saya memimpin pemberkatan nikah kudus sepasang pengantin muda. Semua berjalan indah—doa, janji suci, dan berkat Tuhan turun dengan damai.”

Pendeta berhenti sejenak, menatap jemaat dengan sorot mata penuh misteri. “Namun setelah ibadah selesai, saya menjabat tangan kedua mempelai dan berkata: Selamat berperang.

Ruangan hening. Jemaat menatapnya dengan bingung. Bahkan dalam kisahnya, pengantin yang ia ceritakan pun sempat terkejut, wajah mereka pucat, seolah kata-kata itu adalah nubuat yang menakutkan.

Pendeta Samuel tersenyum tipis. “Mereka bertanya, mengapa saya berkata begitu? Saya menjawab: karena tadi, saat kalian masuk, kalian diiringi lagu perang.”

Jemaat mulai berbisik. Lagu perang? Bukankah itu Bridal Chorus yang megah?

Pendeta melangkah turun dari mimbar, suaranya semakin dalam. “Tahukah kalian, Bridal Chorus karya Wagner bukan sekadar musik romantis. Dalam operanya, lagu itu mengiringi Elsa menuju kamar pengantin—sebuah prosesi yang sarat simbol perjuangan. 

Bukan sekadar cinta, melainkan pertempuran mempertahankan kesetiaan, melawan godaan, melawan dunia yang ingin merobek janji suci.”

Tiba-tiba, pintu gereja berderit keras. Seorang jemaat muda berlari masuk, wajahnya panik. “Pendeta! Ada keributan di luar, sekelompok orang bersenjata datang!”

Suasana berubah tegang. Jemaat berdiri, beberapa berdoa dengan suara gemetar. Pendeta Samuel menatap mereka dengan tenang. “Inilah maksud saya. Pernikahan, iman, hidup—semuanya adalah medan perang. 

Bukan dengan senjata, melainkan dengan keberanian, kesetiaan, dan kasih.”

Ia mengangkat Alkitab tinggi-tinggi. “Hari itu saya berkata selamat berperang kepada pengantin. Hari ini saya berkata hal yang sama kepada kalian semua. Karena setiap orang yang berjanji setia pada Tuhan dan sesamanya, sedang berperang melawan kegelapan.”

Di luar, suara gaduh semakin dekat. Jemaat menahan napas. Namun di dalam gereja, kata-kata pendeta itu berubah menjadi api semangat. Mereka sadar: kisah pernikahan itu bukan sekadar cerita, melainkan panggilan.

Dan sejak hari itu, jemaat mengenang ucapan sang pendeta bukan sebagai keanehan, melainkan sebagai deklarasi perang rohani.

 

Wedding march adalah musik prosesi pernikahan. Biasanya dimainkan saat: pengantin masuk (processional), atau pengantin keluar gereja (recessional)

Yang paling terkenal:

      a. Bridal Chorus – Richard Wagner (Here Comes the Bride)

      b. Wedding March” – Felix Mendelssohn

Ciri khasnya:

   o   ritme tegas dan teratur

   o   tempo maju ke depan

   o   nuansa agung, khidmat, dan penuh kemenangan

 

Lalu, kenapa disebut “lagu perang”?

Secara sejarah musik, march (mars) bukan lagu cinta, tapi: berasal dari musik militer dan dipakai untuk:

·       mengiringi pasukan berjalan

·       menaikkan keberanian

·       menandai *kemenangan setelah pertempuran*

 

Ciri musik perang/mars:

·       ketukan kuat (2/4 atau 4/4)

·       ritme stabil → untuk langkah kaki

·       nada megah → simbol kekuasaan & kemenangan

 

Jadi secara asal-usul, wedding march memang berakar dari musik perang / kemenangan.

 

Di sinilah makna simboliknya dalam pernikahan jadi dalam (dan indah) bahwa pernikahan dipandang sebagai:

·       bukan akhir dongeng, tapi awal perjuangan

·       dua orang masuk ke dalam perjanjian

dan siap menghadapi:

·       konflik

·       pengorbanan

·       tanggung jawab

·       kesetiaan jangka panjang

 

Maka wedding march melambangkan:

   Ø  “Kami melangkah maju—bukan mundur.

   Ø  Kami siap berjuang bersama.”

 

Dalam konteks iman Kristen:

·       pernikahan = perjanjian (covenant), bukan sekadar perasaan

·       musik mars = keseriusan, tekad, dan kemenangan yang diharapkan

 

Jadi… pantaskah wedding march dipakai dalam ibadah pemberkatan nikah kudus?

Bukan soal “lagu perang = salah”, tapi soal makna yang dipahami.

 

Wedding march bukan:

romantis manis

lagu perasaan

 

Melainkan:

lagu komitmen

lagu keberanian

lagu *perjalanan hidup*

 

Wagner- Bridal Chorus from Lohengrin

Lirik Asli (Bahasa Jerman)

Treulich geführt ziehet dahin,

wo euch der Segen der Liebe bewahr'!

Siegreicher Mut, Minnegewinn

eint euch in Treue zum seligsten Paar.

 

Streiter der Tugend, schreite voran!

Zierde der Jugend, schreite voran!

Rauschen des Festes seid nun entronnen,

Wonne des Herzens sei euch gewonnen!

 

Duftender Raum, zur Liebe geschmückt,

nehm' euch nun auf, dem Glanze entrückt.

Treulich geführt ziehet nun ein,

wo euch der Segen der Liebe bewahr'!

 

Siegreicher Mut, Minne so rein

eint euch in Treue zum seligsten Paar.

Wie Gott euch selig weihte,

zu Freude weihn euch wir.

In Liebesglücks Geleite

denkt lang’ der Stunde hier!

 

Treulich bewacht bleibet zurück,

wo euch der Segen der Liebe bewahr'!

 

Terjemahan Bahasa Inggris

Faithfully guided, draw near

where the blessing of love shall preserve you!

Victorious courage, love’s reward

unites you in faithfulness as the happiest pair.

 

Champion of virtue, step forward!

Adornment of youth, step forward!

The noise of the feast is now behind you,

the bliss of the heart be now yours!

 

Fragrant chamber, adorned for love,

receives you now, away from the splendor.

Faithfully guided, enter therein,

where the blessing of love shall preserve you!

 

Victorious courage, love so pure

unites you in faithfulness as the happiest pair.

As God has blessed you,

so do we consecrate you to joy.

In the escort of love’s happiness

remember long this hour here!

 

Faithfully guarded, remain behind,

where the blessing of love shall preserve you!

 

 Penting untuk Dipahami

 

Banyak versi lirik Here Comes the Bride yang beredar, tetapi *tidak ada lirik resmi yang universal* — karena ini pada awalnya *musik instrumental atau paduan suara dalam opera*, bukan lagu pop dengan lirik populer.



Bridal Chorus / Here Comes the Bride (Wagner)








Continue reading Wedding March: Selamat Berperang