Sunday, September 3, 2023

,

Gada dan Tongkat

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Di dalam Mazmur 23: 4 tertulis Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari ayat ini termasuk gada dan tongkat.

Gada (rod) dibuat dari akar kayu tua yang sudah keras. Panjangnya sekitar 40-50 cm . 

Bagian bawahnya lebih kecil dari ujung satunya. Bentuknya mirip dengan pemukul bisbol. 


baca juga: pelayanan mengikuti penyembahan


Kegunaannya adalah untuk melawan binatang liar dan untuk menghitung domba serta mengarahkannya. 

Cara menggunakannya adalah dengan melemparkannya, mengayun-ayun. dan memuluk musuh dengan keras. 

Gada (rod) ini juga digunakan untuk menuntun domba kembali ke kandang pada malam hari.


baca juga: siapa orang ini?


Gada (rod) juga digunakan untuk memberi hukuman atau disiplin kepada domba yang melawan dan tidak megikuti arahan gembala.

Gada (rod) juga merupakan alat perlindungan dan lambang kasih dan perhatian.

Tongkat (staff) panjangnya sama seperti tongkat kebanyakan. Namun di bagian atasnya terdapat lekukan seperti lingkaran atau kail (mirip dengan bagian bawah gagang payung yang melengkung).

Bagian yang melengkung itu sering digunakan apabila domba jatuh terperosok atau terjebak di dalam kubangan. 

Gembala akan menarik leher dan menariknya kembali ke sisi gembala. 


baca juga: membangun dari reruntuhan


Sedangkan bagian bawahnya sedikit keras. dan digunakan untuk menepuk-nepuk dengan lembut agar jalannya tidak menyimpang dari kawanan.

Tongkat (staff) juga digunakan oleh gembala untuk berjalan atau menopang diri saat beristirahat sebentar.

Jika diperhatikan lebih mendalam, gada (rod) penggunaannya lebih cenderung secara horisontal diarahkan langsung kepada domba atau musuh domba. 

Sedangkan tongkat (staff) penggunaannya lebih cenderung secara vertikal untuk berjalan dan menopang diri (istirahat).

Kita bisa melihat makna teologis di dalamnya yakni horisontal plus vertikal (salib).

Di dalam dan oleh salib Kristus Yesus kita didisiplinkan, dibentuk, dituntun dan beroleh istirahat yang sempurna.





Continue reading Gada dan Tongkat

Friday, September 1, 2023

,

Pelayanan Mengikuti Penyembahan

 

ged pollo

oleh: grefer pollo

Matius 4: 10

Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"


Sewajarnyalah sebuah pelayanan kepada Tuhan harus mengikuti penyembahan kepada-Nya dan bukan sebaliknya.


Pemikiran ini menunjukkan bahwa sebuah aktivitas pelayanan yang dilakukan oleh individu atau komunitas seharusnya didasarkan pada kerinduan yang mendalam akan sikap dan tindakan penghormatan, kasih, dan pengabdian kepada Tuhan.


Pelayanan bukanlah sebuah kegiatan rutinitas tanpa makna. 

Ataupun ritual tanpa spiritual.

Pada bacaan Alkitab di atas, diambil dari pencobaan yang dilakukan oleh Iblis kepada Yesus setelah Yesus berpuasa 40 hari di padang gurun.


baca juga: Lukas Tanpa Darah


Saat itu, tentunya Yesus lapar, haus, lemah secara manusia, sendiri karena baru menyelesaikan puasanya. 

Bisa jadi, secara manusia, Dia memiliki alasan untuk mendapatkan banyak hal secara instan sesuai tawaran dan cobaan Iblis.

Tetapi, Alkitab mencatat apa yang diharapkan Iblis tidak dilakukan oleh Yesus.


baca juga: Komunikasi


Karena penyembahan-Nya kepada Allah, Dia memiliki melakukan pelayanan yang benar, yakni menolak tawaran dan cobaan dari Iblis.


Penyembahan yang lahir dari pengenalan yang benar akan Allah yang benar akan menghasilkan atau mendorong tindakan pelayanan menjadi bentuk ekspresi kasih, pengabdian, dan kehendak untuk melayani Allah dalam Kristus Yesus dan gereja-Nya serta sesama manusia.

 

Ketika pelayanan dilakukan sebagai wujud dari tindakan penyembahan akan menolong individu atau komunitas untuk terhindar dari kemungkinan tindakan pelayanan yang  hanya dilakukan demi kepentingan pribadi atau motif yang kurang murni. 


Dari sini pun kita belajar bahwa pelayanan ada karena jemaat atau individu atau komunitas meninggalkan penyembahan.

Pelayanan bukan tujuan tetapi penyembahan.

Yohanes 4:23 berkata bahwa Bapa menghendaki penyembah-penyembah benar bukan pelayan-pelayan benar.

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Sikap dan tindakan pelayanan yang dilakukan sebagai hasil dari pengalaman penyembahan yang mendalam kepada Allah dapat menjadi sarana untuk merayakan kehadiran Tuhan dalam hidup dan menjalankan nilai-nilai spiritual dalam tindakan nyata.


 



 

 

 


Continue reading Pelayanan Mengikuti Penyembahan

Suami Kepala, Istri Tunduk (!?)

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Bisa jadi, telah banyak orang mengetahui atau pun mungkin menjalani frasa ini: "suami kepala dan istri tunduk kepada suami".

Frasa ini adalah ungkapan yang terkait dengan pandangan masyarakat umum dan berjalan sudah lama mengenai peran gender dalam hubungan pernikahan atau keluarga atau rumah tangga.

Pemahaman ini dapat ditemukan dalam berbagai budaya dan agama di seluruh dunia.

Meskipun penafsiran dan penerapannya dapat bervariasi secara signifikan ataupun masih sering diperdebatkan di tingkat komunitas tertentu.


baca juga: menjadi Kristen di tengah-tengah Kristen


Menurut pandangan ini suami dianggap sebagai kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan panduan, perlindungan, dan penghidupan bagi istri dan keluarga.

Sedangkan, istri dipandang sebagai pihak yang tunduk kepada suami. Istri diharapkan untuk menghormati, mendukung, dan mengikuti arahan suami dalam keputusan keluarga.


Diskusi yang oanjang dan mengarah kepada ketidaksetujuan mengenai konsep ini muncul dalam lingkup atau konteks sosial dan budaya modern.

Beberapa orang melihatnya sebagai warisan tradisional yang perlu dilestarikan, sedangkan yang lain mengkritiknya karena dianggap melanggengkan ketidaksetaraan gender dan membatasi kebebasan individu dalam hubungan pernikahan.

Namun, dibanding beberapa dekade yang sudah lampau, pandangan tentang peran suami dan istri dalam pernikahan telah berubah.


baca juga: membangun dari reruntuhan


Banyak pasangan suami istri lebih memilih mengadopsi model kemitraan yang lebih setara, di mana keputusan-keputusan penting diambil bersama-sama dan tanggung jawab dibagi secara adil tanpa memandang gender.

Dalam konteks modern, dengan didukung oleh pandangan postmodern, tekanan hidup, dan sebagainya, cara-cara berinteraksi dan mendefinisikan peran dalam pernikahan dapat sangat beragam dan sangat tergantung pada nilai-nilai, keyakinan agama, budaya, dan pilihan pribadi pasangan yang terlibat.


baca juga: iman, hikmat, penderitaan


Di dalam cara berpikir kristiani (alkitabiah), relasi suami istri ini hanya mungkin berjalan di dalam konteks dan konsep Kristus Yesus dengan Jemaat-Nya, yaitu jika suami dan istri sudah hidup dalam Kristus.


Jika tidak, maka model suami adalah kepala dan istri tunduk pada suami akan menjadi bahaya yang sangat besar bagi rumah tangga itu dan komunitasnya.






Continue reading Suami Kepala, Istri Tunduk (!?)
,

Siapa Orang Ini?

 

ged pollo

oleh: grefer pollo

Markus 4:41: Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

 

Ada beberapa alasan terbesar orang bertanya: (1) tidak tahu, (2) mau menyamakan persepsi, (3) menguji, (4) ingin memastikan bahwa jawabannya, (5) cari perhatian, (6) ada maunya, (7) senagaja cari topik pembicaraan, (8) benar-benar tidak tahu jawabannya.


baca juga: membangun dari reruntuhan


Dari alasan-alasan di atas, yang mana yang cocok dengan konteks bacaan di atas? Untuk sedikit memahami konteksnya saya paparkan beberap hal di bawah ini.

 

Menurut Kitab Injil Markus, Yesus baru selesai mengajarkan Kerajaan Sorga kepada banyak orang melalui berbagai perumpamaan. Ketika hari sudah petang, Yesus mengajak para murid-Nya untuk bertolak ke seberang menggunakan perahu.


baca juga: pundak para raksasa


Ketika taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air, Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam.

Para murid yang panik dan mengira mereka akan binasa, membangunkan Yesus.

Yesus terbangun dan menegur para murid sebagai orang “yang kurang percaya”.

Ia kemudian menghardik angin dan danau.

Seketika danau itu menjadi teduh kembali.


baca juga: terbentur lalu terbentuk


Di saat itulah para murid menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

 

Tentunya, saat peristiwa ini terjadi para murid sudah sekian waktu lamanya berjalan bersama Yesus: makan, minum, tidur, melayani, berjalan, menyelesaikan banyak masalah, bercakap-cakap, berdiskusi, dan sebagainya.

 

Namun, mereka belum secara utuh mengenal siapa Yesu situ.


baca juga: pendidikan - pengembangan kecerdasan


Ada banyak cara dalam hidup kita untuk mengenal orang lain di sekitar kita dan juga untuk kita dikenal oleh orang lain.

 

Yesuslah yang mengajak para murid untuk bertolak ke seberang. Yesus ingin mereka mengenal siapa Dia. Dia adalah Allah yang sejati yang mampu mengendalikan alam dan melakukan banyak mujizat.

 

Markus 15:39 menuliskan pernyataan seorang kepala pasukan yang memimpin prosesi penyaliban Yesus: Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!"

 

Konteks bacan Markus 15 ini adalah Yesus sedang menjalani jalan sengsara sampai kepada penyaliban di kayu salib. Dia menghadapi semua itu dengan kepasrahan penuh kepada Bapa-Nya di sorga.


Hingga dengan cara mati-Nya menjadi kesaksian bagi orang lain.


baca juga: pendekatan psikologi teologi Kristen


Salah satu kekuatan Kristen yang amat kuat dan menjadi kesaksian bagi orang lain tentang siapa kita di hadapan mereka dan di hadapan Allah adalah cara kita menghadapi kesulitan dan penderitaan hidup.


Cara Yesus menghadapi angin dan danau yang mengamuk dan juga cara Dia menghadapi penderitaan dan kematian membuktikan kepada orang lain Siapa Dia sebenarnya tanpa Dia sendiri mengatakan secara verbal (kata-kata dari mulut-Nya sendiri) dan itu menjadi kalimat kesaksian (testimoni) dari orang lain yang berhadapan dengan Dia.


Bagaimana dengan kita?

Apa kesulitan dan penderitaan yang sedang kita hadapi dan bagaimana caranya kita menghadapinya?

Apakah itu menjadi kesaksian bagi orang lain tentang kita? 


Ikuti: "Kamu adalah Apa yang Kamu Cintai"




Continue reading Siapa Orang Ini?

Tuesday, August 29, 2023

,

Membangun dari Reruntuhan

 

ged pollo

oleh: grefer pollo

Lebih mudah mana, membangun di atas lahan atau tanah baru atau membangun di atas reruntuhan?

Setiap kita tentu memiliki jawabannya masing-

masing.

Sangat mungkin membangun di atas reruntuhan jauh lebih sulit karena ada material yang tertinggal ataupun ada masa lalu yang terus mengikuti.


"Membangun di atas reruntuhan" merupakan ungkapan yang memiliki makna yang dalam dan luas.

Ungkapan ini bisa diartikan konteks penggunaannya.

Secara harfiah, ini merujuk pada tindakan membangun struktur atau bangunan baru di lokasi yang sebelumnya hancur atau rusak. 

Sangat mungkin bukan hal yang mudah untuk membangun kembali dari sesuatu yang pernah ada, seperti rumah, gedung, atau infrastruktur lainnya, di atas sisa-sisa yang masih ada dari struktur yang sebelumnya hancur.

Secara metaforis (kehidupan atau karier) bisa diartikan sebagai usaha untuk membangun kembali, memulai kembali, menumbuhkan, atau mencapai prestasi setelah mengalami kegagalan, keterpurukan, atau tantangan berat.

Ini melibatkan kemampuan untuk bangkit dari situasi sulit dan membangun sesuatu yang positif di atas pengalaman negatif sebelumnya.

Ini membutuhkan pemulihan dari Tuhan terhadap hati dan pikiran yang sudah jatuh dalam dosa. 

Dipulihkan untuk bangkit kembali.

Dalam hubungan dan perjalanan emosional ini merujuk pada proses membangun kembali hubungan atau perasaan setelah mengalami konflik atau keretakan.

Ini mencerminkan usaha untuk merestorasi koneksi yang rusak dan mengembalikan kepercayaan.

Memulihkan relasi yang pernah ada. 

Dan, ini bisa jauh lebih sulit untuk memulihkan relasi antara orang-orang dekat bahkan keluarga.


Orang yang hebat bukan orang yang tidak pernah jatuh tetapi bangkit kembali setelah jatuh.


Continue reading Membangun dari Reruntuhan

Sunday, August 27, 2023

,

Pundak Para Raksasa

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Mungkin Anda pernah mendengar pernyataan ini: “tidak ada satu kerajaan atau negara yang mengutus tentaranya berperang tanpa memperlengkapi mereka.”

Setiap tentara yang akan berperang pasti telah diperlengkapi untuk maksud itu.


Demikian pula, mungkin Anda pernah mendengar atau membaca frasa "kita berdiri di atas pundak para raksasa".


Frasa ini memiliki latar berpikir bahwa prestasi manusia sering kali dibangun di atas sumbangan pengetahuan, pengalaman, dan karya-karya yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya.

Pernyataan ini memiliki korelasi atau kaitan dengan gagasan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dalam konteks sejarah.

Ada yang mengaitkan frasa di atas dengan pernyataan dalam bahasa Latin Nanos Gigantum Humeris Insidentes yang difrasakan pada abad XII oleh Bernard Chartres, filsuf dan cendekiawan Neo-Platonis Perancis. meskipun, mengenai hal ini banyak pendapat lain tentang siapa penutur pertamanya.

Apapun itu, frasa ini mau mengajarkan kepada kita untuk rendah hati dan terus belajar rendah hati.

Seperti kata Pengkhotbah bahwa tidak ada yang baru di bawah matahari.

Kita seperti anak-anak yang berdiri di atas bahu para raksasa masa lalu.

Kemajuan dalam pemikiran, kerja, dan pencapaian manusia terjadi berkat kontribusi dan karya-karya yang telah dibuat oleh orang-orang di masa lalu. Kita hanya meneruskan apa yang telah mereka kerjakan dalam sejarah.

Pesan penting lain dari frasa ini adalah pengakuan terhadap kontribusi kolektif dalam pembangunan ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban manusia.

Dengan demikian, seharusnya kita tidak hanya berfokus pada pencapaian individual, tetapi juga menghargai dan belajar dari apa yang telah dicapai oleh mereka yang datang sebelum kita.


Karena tidak pernah ada pencapaian individual tanpa kerja atau dampak dari komunal (kolektif).


Continue reading Pundak Para Raksasa
,

Luka Tanpa Darah

 

ged pollo

oleh: grefer pollo



Banyak dari kita yang mengetahui dan mungkin memahami bahwa manusia terdiri dari roh, jiwa, dan tubuh.

Luka pada tubuh umumnya mengeluarkan darah. Tetapi luka secara psikologi dan spiritual tidak.

Banyak penyebab luka pada tubuh dan kebanyakan kita pun pernah mengalaminya, terutama pada masa kecil, saat belajar berjalan, berlari, dan sebagainya.


Luka psikologis dapat terjadi sebagai akumulasi dari berbagai pengalaman dan situasi yang mengganggu kondisi mental seseorang.


Beberapa penyebab umum dan dampak dari luka psikologis pada seseorang:

Trauma: dapat berupa pengalaman kecelakaan, kekerasan fisik atau seksual, bencana alam, perang, dsb.

Kehilangan: ditinggalkan oleh orang yang dicintai, seperti kematian keluarga atau teman dekat, perpisahan, perceraian, dsb

Perundungan (Bullying): mengalami perundungan di sekolah atau tempat kerja dapat merusak harga diri dan menyebabkan luka emosional yang serius.

Kehancuran Hubungan: akhir dari hubungan romantis atau hubungan penting lainnya

Kondisi Kesehatan Mental: depresi, kecemasan, PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), atau yang serupa itu.

 

Dampak Luka Psikologis:

Gangguan Mental: luka emosional yang parah dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan PTSD.

Gangguan Fisik: dapat berdampak pada kesehatan fisik, seperti sistem imunitas tubuh yang melemah, masalah tidur, dan risiko penyakit jantung.

Penurunan Diri: karena merasa rendah diri, kurang berharga, dan meragukan dirinya sendiri.

Isolasi Sosial: membuat seseorang menarik diri dari interaksi sosial, merasa sulit untuk berhubungan dengan orang lain.

Kesulitan dalam Hubungan: memengaruhi kemampuan seseorang untuk membina dan mempertahankan hubungan yang sehat dan harmonis.

Gangguan Fungsional: mengganggu kemampuan seseorang untuk bekerja, bersekolah, atau menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik dan berkualitas.

Perilaku Maladaptif: beberapa orang mungkin mengatasi luka emosional dengan perilaku merugikan seperti penyalahgunaan zat, perilaku agresif, atau self-harm.


Setiap orang sangat mungkin mengalami penyebab dan dampak luka psikologis yang berbeda. 

Sangat penting untuk memiliki rekan atau sahabat atau keluarga atau saudara yang menjadi teman bercerita atau berbagi. 

Jika dalam kondisi tertentu sangat baik berkomunikasi dengan seorang konselor.


Terutama menyampaikan cerita dan pergumulan hidup kepada Tuhan Sang Pencipta kehidupan.

 

Luka spiritual mengacu pada kerentanan atau ketidakseimbangan dalam dimensi spiritual seseorang. 

Ini bisa timbul dari berbagai pengalaman atau situasi yang merusak atau mengganggu hubungan seseorang dengan makna, tujuan hidup, nilai-nilai, keyakinan, dan pandangan mereka tentang dunia.


Beberapa penyebab umum dan dampak dari luka spiritual pada seseorang:

Krisis Kepercayaan: kehilangan orang yang dicintai atau penderitaan yang tidak dapat dijelaskan dapat menjadi munculnya keraguan dalam keyakinan dan pandangan spiritual seseorang

Konflik Nilai: konflik antara nilai-nilai hidup yang dipegang seseorang dengan nilai-nilai yang diterima atau dihadapi dalam lingkungan sosial atau budaya memunculkan konflik nilai.

Kehilangan Makna: ketidakmampuan untuk menemukan arti atau tujuan dalam hidup, terutama saat menghadapi tantangan atau penderitaan yang besar.

Krisis Spiritual: pengalaman yang mengguncang dasar-dasar keyakinan spiritual, seperti pertanyaan tentang adanya Tuhan atau keberadaan kehidupan setelah kematian.

Isolasi Spiritual: kehilangan koneksi dengan komunitas atau kelompok spiritual yang mendukung, yang dapat mengakibatkan perasaan terisolasi secara spiritual.

 

Dampak Luka Spiritual:

Perasaan Hampa: luka spiritual sangat mungkin menimbulkan rasa kehilangan, hampa, atau kosong tanpa memiliki arah yang jelas dalam hidup.

Ketidakstabilan Emosional: perubahan emosional yang signifikan, seperti depresi, kecemasan, atau kemarahan.

Kehilangan Harapan: mengalami hidup yang hampa membuat seseorang merasa terluka secara spiritual. 

Luka ini mengantar kepada kehilangan harapan dalam hal makna dan tujuan hidup.

Kekacauan Hubungan: memengaruhi hubungan dengan orang lain, karena perasaan negatif atau perubahan sikap.

Pencarian Makna: beberapa individu mungkin mulai mencari makna baru atau menjalani pencarian spiritual yang lebih mendalam.

Ketidakpuasan Diri: rasa tidak puas terhadap diri sendiri dan kehidupan

Rasa Kehilangan Identitas: kehilangan jati diri spiritualnya atau mengalami perubahan dalam cara mereka melihat diri mereka sendiri dan Pencipta mereka.


Penyebab dan dampak luka spiritual berbeda pada tiap orang. 


Ada baiknya jika mereka yang mengalami ini berusaha mengambil waktu tenang (silence dan solitude). 


Berbagi dengan pemimpin spiritual yang bisa dipercaya. Ataupun keluarga dan teman dekat yang hidup takut Tuhan dan tinggal dalam kebenaran yang sejati.


Bagi mereka yang sudah terluka - dan memang banyak dari kita telah mengalami luka psikologis dan spiritual – proses menyembuhkan luka-luka ini adalah proses yang kompleks dan memerlukan perhatian yang serius.


Beberapa tips berikut bisa diperhatikan dan dilakukan:

Terima dan sadari realita Anda: akui perasaan dan emosi yang Anda alami. Jangan menekan atau mengabaikan perasaan tersebut. 

Memahami dan mengakui perasaan adalah langkah awal yang penting dalam penyembuhan.

Cari dukungan: Jangan ragu untuk mencari dukungan dari teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental, konselor, pelayan Tuhan yang dapat dipercaya.

Latihan relaksasi: relaksasi dan pernapasan dapat membantu meredakan kecemasan, stres, dan gangguan tidur yang seringkali terkait dengan luka psikologis.

Aktivitas fisik: berolahraga secara teratur dapat membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan, serta merangsang pelepasan endorfin yang dapat meningkatkan suasana hati.

Pentingnya rutinitas: terus berusaha bekerja dan produktif meskipun mungkin ini bukanlah hal yang mudah. 

Namun, ini dapat memberikan rasa kontrol dan stabilitas dalam kehidupan Anda.

Hindari diri dari pemicu: identifikasi apa yang memicu atau memperburuk luka psikologis dan spiritual Anda. 

Jika mungkin, hindari situasi atau lingkungan yang bisa memicu perasaan negatif.

Praktikkan penghargaan diri sendiri: Berlatih menghargai diri sendiri dan mengubah pola pikir yang merendahkan diri dapat membantu meningkatkan harga diri dan pemahaman diri.

Anda berharga di mata Allah (Yesaya 43:4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau)

Luangkan waktu untuk kesenangan, hobi, atau minat dan bakat: lakukan kegiatan atau hobi atau minat dan bakat yang memberikan Anda sukacita dan kenikmatan. Ini dapat membantu mengalihkan pikiran dari rasa sakit emosional.

Sabar dan bertahan: proses ini butuh waktu. Sabar dan bertahan dapat menolong Anda mengalami perubahan dan pertumbuhan.

Lakukan aktivitas silence dan solitude: mencari waktu tenang atau diam dan menyendiri bersama Allah dalm Kristus Yesus

 

Ingat bahwa penting untuk berdiam diri dalam kesendirian (solitude) dan bukan kesepian (lonliness).


Continue reading Luka Tanpa Darah